Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.
Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.
Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.
“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”
Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Rencana Licik
Samudra masih berdiri di ruang tamu dengan pakaian kerjanya yang belum sempat ia ganti. Dasi masih terpasang rapi, lengan kemejanya sedikit kusut karena perjalanan.
Binar berada dalam gendongannya, tangan kecilnya melingkar di leher sang ayah.
Di dapur, Samira yang sedang menyusun piring perlahan menoleh.
Tatapan mereka bertemu beberapa detik.
Canggung.
Namun tidak sedingin biasanya.
“Maaf, Mas… aku sudah makan dulu sama Binar,” ucap Samira akhirnya, memecah keheningan. “Kamu mau makan? Biar aku hangatkan dulu.”
Samudra mengangguk pelan. “Iya.”
Suaranya datar, tapi tidak sekeras dulu. Ia kemudian menurunkan Binar dari gendongannya.
“Binar, Papa mau mandi dulu. Habis itu baru main, oke?”
Binar mengangkat wajahnya yang bulat. “Janji ya, Pa? Habis ini main sama Binar?”
Nada suaranya menggemaskan sekaligus penuh harap.
Samudra menatap anaknya sejenak, lalu tersenyum tipis.
“Iya. Papa janji.”
Binar tersenyum lebar. “Yeay!”
Samira hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus menghangatkan makanan di atas kompor. Gerakannya tenang. Seolah semua ini biasa saja.
Padahal bagi Samudra, semuanya terasa berbeda.
@@@
Beberapa menit kemudian, Samudra keluar dari kamar mandi dengan kaos rumahan sederhana. Rambutnya masih sedikit basah.
Aroma sabun segar ikut terbawa. Ia duduk di meja makan.
Samira meletakkan sepiring nasi dan lauk di hadapannya tanpa banyak bicara.
“Terima kasih,” ucap Samudra pelan.
Samira sempat terdiam sepersekian detik. Jarang sekali ia mendengar kata itu keluar dari mulut suaminya.
“Iya,” jawabnya singkat.
Samudra mulai makan. Hening kembali mengisi ruang makan.
Hanya suara sendok beradu dengan piring.
Binar duduk di kursi ruang keluarga, memperhatikan ayahnya dengan sabar. Sesekali ia bertanya, “Udah belum, Pa?”
“Sebentar lagi,” jawab Samudra sambil tersenyum kecil.
Samira memperhatikan dari sudut mata.
Ada sesuatu yang menghangat di dadanya… tapi ia buru-buru menekannya.
Jangan terlalu percaya. Jangan terlalu berharap.
@@@
Setelah makan selesai, Samudra benar-benar menepati janjinya.
Ia duduk di lantai bersama Binar. Mereka bermain boneka dan balok lagi.
“Papa suara kelincinya kayak gini,” kata Binar menirukan suara aneh.
Samudra tertawa kecil, lalu ikut menirukan dengan versi yang lebih dramatis.
Binar terbahak.
Tawa anak kecil itu memenuhi rumah yang selama ini terasa terlalu sunyi.
Samira berdiri tak jauh dari sana, menyandarkan tubuh di dinding. Ia memperhatikan tanpa ingin mengganggu.
Hatinya terasa hangat.
Namun juga rapuh.
Karena ia tahu betul perubahan seperti ini bisa saja hanya sementara.
@@@
Waktu menunjukkan hampir pukul sembilan malam ketika Binar mulai menguap berkali-kali.
“Sudah, waktunya tidur,” ujar Samira lembut.
Biasanya Binar akan menolak. Tapi kali ini ia menoleh ke ayahnya.
“Papa yang anterin Binar tidur.”
Samudra terdiam sejenak. Kemudian mengangguk.
“Oke.”
Samira sedikit terkejut, tapi tidak berkata apa-apa.
Di kamar Binar, Samudra membantu menyelimuti tubuh kecil itu.
“Papa…” panggil Binar pelan saat lampu sudah diredupkan.
“Iya?”
“Papa jangan lama-lama di kantor ya. Jangan lupa main sama Bibi.”
Kalimat sederhana. Tapi langsung menembus pertahanan Samudra.
Ia mengusap rambut anaknya perlahan.
“Iya. Papa usahakan ya, Nak."
Binar tersenyum puas, lalu memejamkan mata.
Beberapa menit kemudian, napasnya sudah teratur.
Samudra duduk di tepi ranjang lebih lama dari yang seharusnya.
Menatap wajah kecil yang begitu tenang. Hatinya terasa berat.
Karena ia tahu…
Keputusan yang ingin ia ambil bukan hanya tentang dirinya dan Samira.
Tapi juga tentang anak yang sedang tidur ini.
Ia bangkit perlahan dan keluar kamar.
Di ruang tengah, Samira sedang melipat pakaian.
Ia menoleh saat mendengar langkah kaki.
“Sudah tidur?” tanyanya pelan.
“Sudah.”
Hening lagi.
Namun kali ini heningnya berbeda.
Bukan kosong.
Melainkan penuh kata-kata yang tak terucap.
Samudra berdiri beberapa langkah darinya.
Seolah ingin mengatakan sesuatu.
Tentang sore tadi.
Tentang orang tuanya.
Tentang niat cerai itu.
Tapi melihat Samira yang duduk tenang melipat pakaian dengan wajah lelah namun sabar…
Mendadak ia ragu.
Apa benar ia tak mencintainya?
Atau ia hanya tak pernah memberi dirinya kesempatan untuk mencoba?
“Samira.”
Wanita itu menoleh.
“Iya, Mas?”
Napas Samudra terasa sedikit berat.
“Aku… besok pulang cepat lagi. Tolong sampaikan sama Bibi."
Samira terdiam.
Ia tidak tersenyum.
Tidak juga menunjukkan kecewa.
Hanya mengangguk kecil.
“Iya.”
Jawaban sederhana.
Namun di dalam hatinya—
Ia mulai takut.
Takut jika hatinya yang hampir mati perlahan hidup kembali.
Karena kalau sampai ia berharap lagi…
Dan semua ini ternyata hanya sementara…
Ia tidak yakin masih punya kekuatan untuk bangkit sekali lagi.
@@@
Raka masuk ke kamar menyusul istrinya.
Sebagai suami, ia sangat mengenal Sinta. Di depan Samudra tadi, istrinya memang terlihat tegar. Bahkan terkesan mendukung perceraian itu.
Tapi Raka tahu betul—di balik sikap tenangnya, hati Sinta pasti sedang berantakan.
Sebenarnya Raka sendiri cukup terkejut mendengar keputusan anaknya. Namun berbeda dengan Sinta, ia terbiasa menyembunyikan ekspresi. Lagi pula, jauh di dalam hati, ia sudah memprediksi hal ini akan terjadi.
Selama ini ia bukan tidak memperhatikan rumah tangga Samudra.
Justru sebaliknya.
Raka sadar pernikahan itu tidak sehat.
Samira terlalu banyak diam. Terlalu banyak menahan. Terlalu sering terlihat lelah.
Dan Samudra… terlalu dingin.
“Mah…” panggil Raka pelan.
Sinta berdiri di dekat jendela, menatap ke halaman yang mulai gelap. Lampu taman menyala redup, tapi tatapannya kosong.
Ia tidak langsung menoleh.
Melihat itu, Raka mendekat lalu merangkul pundaknya dari samping.
“Ada apa?” tanyanya lembut.
Nada selembut itu hanya ia gunakan pada orang-orang yang benar-benar ia sayangi. Dan yang paling utama tentu saja istrinya.
Sinta akhirnya menoleh. Matanya sudah berkaca-kaca.
“Mas… apa Samudra benar-benar akan menceraikan Samira?” suaranya sendu.
Air mata perlahan jatuh di pipinya.
Raka mengusapnya dengan ibu jari.
“Ssst… jangan nangis. Aku nggak suka lihat kamu nangis begini.”
“Lalu aku harus bagaimana?” suara Sinta bergetar. “Aku nggak mau Samira keluar dari keluarga kita. Aku sudah anggap dia seperti anak sendiri.”
Raka terdiam beberapa detik.
“Kamu tenang saja,” ucapnya pelan tapi pasti. “Kalau memang itu yang kamu mau… aku pastikan Samudra tidak akan menceraikan Samira.”
Sinta mengerutkan dahi. “Maksud kamu?”
Raka tersenyum tipis.
“Ada banyak cara supaya dia mengurungkan niatnya. Tapi sepertinya kita nggak perlu repot.”
Sinta menatapnya bingung.
“Kamu cukup teruskan saja cerita tentang anak temanmu yang sekarang duda itu.”
Sinta semakin tidak mengerti. “Terus?”
“Provokasi saja sedikit. Buat seolah-olah kamu serius ingin menjodohkan Samira dengan dia setelah bercerai.”
Sinta terdiam.
Lalu perlahan mengingat kembali ekspresi Samudra tadi.
Wajahnya yang mendadak mengeras.
Nada suaranya yang berubah tajam.
Dada yang naik turun lebih cepat saat ia menyebut ada pria lain yang bisa lebih menghargai Samira.
Raka melanjutkan, “Kamu lihat sendiri bagaimana ekspresi Samudra waktu tahu ada laki-laki lain yang mungkin dekat dengan Samira. Dia kelihatan kesal. Marah.”
Sinta mulai mengerti.
“Menurut kamu… Samudra sebenarnya cinta?”
Raka mengangguk pelan.
“Bukan nggak cinta. Dia cuma terlalu lama hidup dengan egonya sendiri sampai lupa caranya merasa.”
Sinta terdiam.
Kalimat itu masuk akal.
“Kadang,” lanjut Raka, “orang baru sadar nilai sesuatu ketika merasa akan kehilangan.”
Sinta menghela napas panjang.
“Jadi… kita biarkan saja dia merasa terancam?”
“Bukan merasa terancam,” jawab Raka tenang. “Biarkan dia sadar.”
Sinta perlahan tersenyum kecil di tengah sisa air matanya.
“Mas ini licik juga ya.”
Raka terkekeh pelan. “Aku cuma nggak mau kamu kehilangan menantu yang sudah kamu sayang.”
Sinta memukul pelan lengan suaminya.
“Tapi jangan sampai kebablasan,” katanya kemudian, sedikit khawatir. “Kalau Samudra benar-benar keras kepala dan malah makin nekat cerai?”
Raka menatap istrinya yakin.
“Percaya sama aku.”
@@@
Hai Semuanya!
Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!
Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.
Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!
Terima Kasih!