Bayu Alexander adalah seorang karyawan rendahan yang sedang berada di titik terendah hidupnya setelah difitnah dan gajinya dipotong semena-mena oleh atasannya. Nasib miskinnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia memindai sebuah barcode misterius di halte bus yang diam-diam menginstal Aplikasi Toko Ajaib di ponselnya.
Berbekal sisa saldo lima puluh ribu rupiah, Bayu memanfaatkan fitur diskon kilat aplikasi tersebut untuk membeli kacamata ajaib penilai barang antik, yang menjadi batu loncatan pertamanya meraup ratusan juta rupiah dari pasar loak.
Dari seorang budak korporat yang diinjak-injak, Bayu perlahan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, menggunakan item-item tak masuk akal dari sistem untuk menghancurkan karir musuh-musuhnya, mendominasi pasar saham, hingga menumpas mafia kejam yang mencoba mengusiknya, semuanya ia lakukan dalam diam sebagai miliarder baru Jakarta yang rahasianya tidak akan pernah terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Minggu pagi di Kafein Nusantara selalu menjadi waktu sibuk yang menyenangkan. Aroma biji kopi yang baru digiling bercampur dengan manisnya mentega dari roti panggang memenuhi udara. Pelanggan keluar masuk silih berganti, membawa kehangatan di tengah sejuknya udara pagi Jakarta.
Namun bagi Bayu, pagi ini terasa sedikit berbeda. Insting militernya yang tertanam dari sistem berbunyi pelan seperti alarm yang tak kasat mata.
Bayu duduk di meja sudut favoritnya, pura-pura fokus pada layar laptop. Matanya sesekali melirik ke arah seorang pegawai kebersihan baru yang sedang mengelap meja kosong di seberang ruangan. Pemuda itu bernama Riko. Ia direkrut oleh Tari dua hari yang lalu karena kafe kekurangan tenaga harian.
Secara kasat mata, Riko terlihat seperti pemuda putus sekolah yang butuh pekerjaan. Namun, mata Bayu menangkap detail yang lolos dari pandangan orang biasa. Cara Riko melangkah sangat sunyi, memindahkan berat badannya dari ujung kaki ke tumit seperti seorang pemburu. Tangan Riko saat memegang lap kain memperlihatkan kapalan tebal di area telunjuk dan ibu jari, kapalan khas orang yang terbiasa menarik pelatuk senjata api, bukan kapalan karena mengangkat galon air.
"Tari mungkin pintar mengelola uang dan jadwal, tapi dia belum bisa melihat serigala berbulu domba," batin Bayu.
Bayu memutuskan untuk menguji kecurigaannya. Ia berdiri, membawa cangkir kopinya yang masih penuh dan sangat panas, lalu berjalan melewati Riko. Tepat saat ia berada di dekat pemuda itu, Bayu sengaja menyenggol ujung kursi hingga kakinya tersandung, membuat cangkir kopi itu terlepas dari tangannya dan melayang ke udara, mengarah tepat ke wajah Riko.
Syuut.
Dalam seperseribu detik, tangan kiri Riko melesat memotong udara. Ia menangkap cangkir panas itu tepat di bagian bawahnya tanpa tumpah setetes pun. Sebuah refleks yang mustahil dimiliki oleh pegawai kebersihan biasa.
Riko segera menyadari kesalahannya. Wajahnya menegang sejenak sebelum ia memaksakan sebuah senyuman canggung.
"Hati-hati, Bos. Kopinya masih panas banget nih, sayang kalau tumpah," kata Riko dengan nada merendah.
Bayu tersenyum tipis. Sangat tipis.
"Refleks yang sangat bagus, Riko. Taruh kopinya di meja saya. Lalu, ikut saya ke ruang manajer di belakang. Ada berkas gaji yang harus kamu tanda tangani," perintah Bayu dengan nada tenang yang tidak menerima penolakan.
Riko mengangguk pelan. Keringat dingin mulai merembes di kerah kemejanya.
Begitu mereka masuk ke dalam ruang manajer yang kedap suara, Bayu mengunci pintu dari dalam. Ia tidak langsung menoleh. Ia merogoh saku celananya, membuka aplikasi Toko Ajaib, dan masuk ke Katalog Keajaiban VIP.
Pilihannya jatuh pada Tetes Mata Kejujuran Absolut seharga tiga ribu koin.
Transaksi selesai. Sebuah botol kaca kecil seukuran jari kelingking berisi cairan bening bercahaya keperakan muncul di telapak tangan Bayu. Ia memutar tutupnya, menengadahkan wajahnya sedikit, dan meneteskan cairan itu ke masing-masing matanya.
Rasa dingin yang sangat menyegarkan menjalar ke saraf optiknya.
Bayu berbalik menatap Riko. Di mata Riko, kedua bola mata Bayu kini memancarkan pendaran cahaya perak yang berputar seperti galaksi kecil. Cahaya itu tidak menyilaukan, namun mengunci pikiran Riko seketika. Pemuda itu mematung, pupil matanya membesar, mulutnya sedikit terbuka seolah jiwanya baru saja ditarik keluar dari raganya.
"Duduk," perintah Bayu.
Riko menjatuhkan dirinya ke kursi dengan gerakan kaku seperti robot. Obat itu bekerja dengan sempurna. Tetes mata ini memaksa membengkokkan hukum alam dan menundukkan kesadaran target secara absolut.
"Siapa yang mengirimmu ke sini?" tanya Bayu dengan suara rendah yang menggema di dalam tengkorak Riko.
"Saya... saya dikirim oleh dewan operasional Konsorsium Sembilan," jawab Riko dengan suara monoton tanpa emosi. Rahangnya bergerak kaku, dipaksa oleh kebenaran absolut untuk berbicara.
"Konsorsium Sembilan. Jadi surat misterius kemarin malam memang bukan gertakan kosong," batin Bayu.
"Apa itu Konsorsium Sembilan?"
"Sebuah perkumpulan bayangan dari sembilan konglomerat lintas industri di Asia Tenggara. Kami menguasai pasar gelap, manipulasi saham tingkat tinggi, dan penyingkiran kompetitor secara sistematis. Tidak ada bisnis besar di Jakarta yang bisa berjalan tanpa restu kami."
"Kenapa kalian mengawasiku?"
"Anda sudah menghancurkan Baskoro. Baskoro adalah salah satu pion rendahan yang menyetorkan dana pencucian uang ke Konsorsium. Menghilangnya uang dua triliun rupiah miliknya secara digital tanpa jejak telah memicu alarm di dewan operasional. Kami melacak sisa jejak server dan menemukan koneksi tipis ke PT Delta Sekuritas yang baru Anda akuisisi. Tugas saya adalah menyusup, memetakan aset Anda, dan mencari tahu apakah Anda bekerja sendiri atau menjadi agen untuk pemerintah."
Bayu mengerutkan kening. Musuh yang ia hadapi kini bukan lagi preman yang bisa ia patahkan kakinya. Ini adalah gurita raksasa yang memiliki mata dan telinga di mana-mana.
"Apa rencana Konsorsium terhadapku?"
"Jika Anda terbukti menjadi ancaman, mereka akan melakukan akuisisi paksa terhadap PT Mandiri Alexander Investama dengan cara menghancurkan nilai saham Anda di pasar terbuka besok lusa. Jika Anda menolak, mereka akan menggunakan cara yang sama seperti yang mereka lakukan pada kompetitor lain. Kecelakaan tragis."
Bayu menarik napas panjang. Waktu baginya sangat sempit. Operasi sabotase finansial sudah di depan mata. Ia tidak bisa melawan sembilan naga raksasa sekaligus hanya dengan mengandalkan koin sistemnya yang kini tersisa empat ribu dua ratus lima puluh. Ia butuh sekutu yang memiliki kekuatan finansial setara.
"Lupakan semua interogasi ini. Lupakan mataku yang menyala. Ingatan terakhirmu adalah aku memarahimu karena menjatuhkan lap kotor. Kembali bekerja dan lapor pada bosmu bahwa Bayu Alexander hanyalah pemuda beruntung yang tidak memiliki bekingan apa-apa," Bayu menanamkan perintah sugesti sebelum efek tetes matanya memudar.
Bayu mengedipkan matanya beberapa kali. Cahaya perak itu lenyap. Matanya kembali normal.
Riko tersentak kaget, bernapas dengan terengah-engah seolah baru saja terbangun dari mimpi buruk. Ia menatap Bayu dengan bingung.
"Sudah saya bilang, jangan sampai meja di depan itu masih lengket. Kembali bekerja sebelum saya potong gaji kamu," gertak Bayu memainkan perannya.
"B-baik, Bos. Maafkan saya," Riko menunduk cepat dan bergegas keluar dari ruangan, sama sekali tidak mengingat bahwa ia baru saja membocorkan rahasia terbesar organisasinya.
Bayu berdiri sendirian di dalam ruangan. Ia melirik jam tangannya. Pukul dua siang. Ia memiliki janji yang tidak boleh dilewatkan hari ini. Janji yang mungkin menjadi kunci keselamatannya dari incaran Konsorsium Sembilan.
Tiga jam kemudian, sebuah taksi premium menurunkan Bayu di depan gerbang baja hitam yang menjulang tinggi di kawasan elit Pantai Indah Kapuk.
Ini bukan sekadar rumah. Ini adalah istana. Dinding batunya dikelilingi oleh pepohonan rimbun yang menutupi pandangan dari jalan raya.
Gerbang terbuka perlahan. Bayu melangkah masuk menyusuri jalan masuk berlapis batu alam. Di ujung jalan, berdirilah Victoria Lin.
Wanita itu mengenakan gaun sutra berwarna biru laut yang jatuh pas di tubuh langsingnya. Rambutnya disanggul elegan, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya. Penampilannya memancarkan pesona dari dunia yang sama sekali tidak tersentuh oleh debu jalanan Jakarta.
Jantung Bayu berdetak lebih cepat satu ketukan. Ada daya tarik magnetis dari Victoria yang membuat pria mana pun akan merasa tertantang sekaligus terintimidasi. Berbeda dengan Tari yang memberikan rasa nyaman seperti rumah, Victoria adalah lautan lepas yang menjanjikan petualangan berbahaya.
"Tepat waktu. Kakekku benci orang yang terlambat meski hanya satu menit," sapa Victoria sambil tersenyum menyambut Bayu.
"Aku belum pernah terlambat untuk pertemuan yang bisa mengubah hidupku, Victoria," balas Bayu santai. Ia menyebut nama depan wanita itu tanpa ragu, sebuah langkah berani yang membuat senyum Victoria semakin lebar.
Tap. Tap. Tap.
Langkah kaki mereka bergema di aula utama rumah tersebut. Dindingnya dihiasi oleh kaligrafi kuno dan lukisan asli dari maestro dunia. Di tengah ruangan yang luas, duduklah seorang pria tua di atas kursi roda bermaterial serat karbon.
Pria itu adalah Lin Zhen. Tuan Besar dari Lin Group.
Meski tubuhnya terlihat rapuh dan harus bersandar di kursi roda, matanya setajam pedang yang baru diasah. Ada aura kekuasaan mutlak yang terpancar darinya, aura seseorang yang telah memimpin kerajaan bisnis melewati puluhan krisis ekonomi dan pergantian rezim pemerintahan.
Di atas meja kayu jati di depannya, tergeletak Stempel Giok Kelam yang Bayu temukan tempo hari.
"Jadi, ini pemuda yang mempermalukan keluarga Richard dan memberiku pusaka leluhur ini," suara Lin Zhen terdengar serak, namun penuh wibawa.
Bayu menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat. "Nama saya Bayu Alexander, Tuan Lin. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda."