"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: BLITZKRIEG DIGITAL DAN FAKTA DUA HATI
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
Dunia digital adalah medan perang yang paling jujur. Di sini, tidak ada pangkat yang bisa menyembunyikan kebodohan, dan tidak ada dinding beton yang bisa melindungi dari algoritma yang haus darah. Aku duduk di depan konsol pusat, cahaya biru dari delapan monitor memantul di lensa kacamata anti-radiasiku. Di luar, fajar mulai mengintip dari balik gedung-gedung Jakarta, namun di ruang kendali ini, waktu hanyalah sekumpulan data yang terus mengalir.
"Keamanan siber London beraroma seperti keju tua yang sudah berjamur. Terlalu banyak lubang, terlalu sombong, dan sangat tidak efisien," gumamku sambil menyesap susu cokelat hangat yang sudah mulai mendingin.
Jari-jariku menari di atas keyboard mekanik dengan ritme yang bisa membuat komposer klasik manapun merasa rendah diri. Aku baru saja melepaskan virus 'Viper-Strike', sebuah program otonom yang tidak menyerang data, melainkan menyerang protokol energi. Aku tidak ingin mencuri uang klan pusat—setidaknya tidak sekarang. Aku ingin membuat mereka buta, tuli, dan bisu selama dua puluh empat jam.
"Leo, status infiltrasi?" suara Damian terdengar dari pintu.
Aku tidak menoleh. "Seluruh server klan pusat di London, Zurich, dan Paris baru saja mengalami total blackout. Aku telah mengunci sistem pendingin server mereka. Jika mereka mencoba menyalakan ulang secara paksa, perangkat keras seharga jutaan dolar itu akan meleleh dalam tiga detik."
Damian melangkah mendekat, berdiri di belakangku. Aku bisa merasakan aura beratnya, aura seorang pria yang baru saja menyadari bahwa senjata paling mematikan di rumahnya bukan berada di brankas baja, melainkan duduk di atas kursi tinggi sambil memegang cangkir susu.
"Kau melumpuhkan seluruh operasional internasional mereka hanya untuk memberi pelajaran?" tanya Damian, suaranya sedikit bergetar.
"Ini bukan pelajaran, Papa. Ini adalah pembersihan jalur logistik. Aku butuh London sibuk menangani kebakaran digital mereka sendiri agar mereka tidak sempat mengirimkan 'hadiah' dokter lainnya ke sini," aku menekan satu tombol terakhir. Enter. "Sekarang, klan pusat sedang berada dalam kegelapan total. Mereka bahkan tidak bisa membuka pintu lift di kantor pusat mereka sendiri."
Aku memutar kursi, menatap Damian lurus ke mata. "Sekarang, tugas Papa adalah bagian yang paling sulit. Papa harus bicara pada Mama. Tanpa filter, tanpa kebohongan mafia, dan tanpa variabel tersembunyi. Jika Papa gagal melakukan sinkronisasi emosional dengan Mama sekarang, seluruh strategiku untuk menjadikan klan ini legal akan runtuh."
Damian terdiam. Sang Raja Mafia itu tampak lebih takut menghadapi pembicaraan dengan istrinya daripada menghadapi tentara bayaran London. "Aku mengerti, Jenderal kecil."
“Lea, bagaimana dengan 'tamu' kita di ruang interogasi?” tanyaku lewat Shadow Talk.
“Dia sedang mengalami 'Sensory Deprivation' yang sangat menyenangkan, Kak. Aku sudah mematikan semua lampu dan menyalakan frekuensi suara tinggi yang hanya bisa didengar oleh telinga manusia yang sedang stres. Dia sudah siap untuk dibedah,” suara Lea berdesir di benakku, manis namun mematikan.
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
Ruang isolasi itu gelap gulita, kecuali satu lampu sorot kecil yang mengarah tepat ke wajah 'Dr. Adrian'—pria yang kemarin mencoba menyerang Mama. Dia sudah terikat di kursi medis, wajahnya masih menyisakan bekas cat biru yang belum bersih sempurna.
Aku melangkah masuk, tidak mengenakan gaun putih imutku, melainkan setelan jas hitam kecil yang kurancang khusus. Aku membawa sebuah kotak kecil berisi jarum suntik dan sensor detak jantung.
"Paman Dokter," ucapku, suaraku datar dan rendah, meniru nada interogasi FBI tingkat tinggi. "Detak jantungmu berada di 110 bpm. Pupil matamu dilatasi secara maksimal. Kau sedang dalam fase 'Fight or Flight', tapi sayangnya, kau tidak bisa melakukan keduanya."
Pria itu mendongak, matanya merah. "Kirim... kirim Damian ke sini. Aku tidak akan bicara dengan anak kecil."
Aku tertawa—tawa yang tidak memiliki sedikit pun kehangatan anak delapan tahun. Aku mendekat, meletakkan sensor di pergelangan tangannya. "Paman, Papa sedang sibuk. Dia memiliki hal yang lebih penting daripada sampah sepertimu. Sekarang, mari kita bicara tentang klan pusat. Siapa yang memberimu kunci bypass biometrik itu? Alexander? Atau ada orang lain di dewan?"
"Aku tidak tahu!" teriaknya.
Aku menekan sebuah tombol di tabletku. Seketika, frekuensi suara di ruangan itu berubah, menjadi dengungan rendah yang membuat sarafnya terstimulasi secara paksa.
"Analisis mikro-ekspresi: Kau menatap ke arah kiri atas saat menyebut nama Alexander. Itu berarti kau sedang mengakses memori visual, bukan membuat kebohongan. Jadi, Alexander memang terlibat," aku mencondongkan tubuh, menatapnya dengan mata yang seolah-olah bisa melihat menembus tengkoraknya. "Tapi... bibir bawahmu sedikit bergetar saat aku menyebut kata 'dewan'. Ada orang lain, kan? Seseorang yang lebih dekat dengan Papa?"
Pria itu mulai berkeringat dingin. Dia menatapku seolah-olah aku adalah monster dari dimensi lain. "Kau... kau bukan manusia."
"Aku adalah Profiler-mu hari ini, Paman. Dan aku tidak butuh pukulan untuk membuatmu bicara. Aku hanya butuh waktu lima menit lagi untuk menghancurkan kewarasanmu," aku mengeluarkan sebuah foto dari sakuku. Foto keluarganya di London yang baru saja dikirim oleh tim intelijen Leo. "Lihat putri kecilmu, Paman. Namanya Sarah, kan? Dia baru saja masuk sekolah dasar hari ini. Sayang sekali jika ayahnya dianggap sebagai pengkhianat klan dan keluarganya harus menanggung akibatnya."
Itu adalah The Final Blow. Di duniaku dulu, menggunakan keluarga sebagai pengungkit adalah hal yang kotor, tapi di dunia Xavier, itu adalah efisiensi murni.
"Bicara," perintahku.
"Namanya... Julian," desisnya, suaranya hancur. "Salah satu direktur di Vipera Corp yang baru... dia yang memberikan aksesnya. Dia bekerja untuk London."
Aku menyeringai. Satu variabel pengkhianat lagi terdeteksi. “Kak, target bernama Julian. Dia ada di dalam struktur korporasi kita yang baru. Lakukan eliminasi digital sekarang,” lapor kuku lewat pikiran.
“Diterima, Lea. Julian akan kehilangan seluruh hak aksesnya dalam lima detik. Dan unit Ghost sedang menuju rumahnya,” balas Leo.
Aku bangkit, merapikan jas miniku. "Terima kasih, Paman Dokter. Kau sudah sangat membantu. Sekarang, tidurlah. Aku akan memastikan Sarah tetap aman... selama kau tetap diam di sel ini selamanya."
POV: DAMIAN XAVIER
Aku berdiri di balkon kamar kami, menatap punggung Qinanti yang sedang menatap ke arah taman yang masih basah oleh sisa hujan semalam. Suasana pagi ini begitu sunyi, namun di dalam dadaku, badai kecemasan berkecamuk. Kata-kata Leo benar: ini adalah saatnya sinkronisasi total.
"Qin," panggilku pelan.
Qinanti tidak berbalik, namun bahunya sedikit menegang. "Apa Leo sudah selesai dengan monitorku? Apa Lea sudah selesai dengan 'tamu' itu?"
Aku melangkah mendekat, berdiri di sampingnya namun tetap memberikan ruang. "Mereka melakukan apa yang harus dilakukan, Qin. Tapi aku di sini untuk melakukan apa yang seharusnya kulakukan sembilan tahun lalu."
Aku menarik napas panjang, menatap lurus ke cakrawala. "Klan Xavier bukan sekadar keluarga bisnis. Kami adalah klan yang dibangun di atas darah. London tidak pernah ingin aku lari. Mereka ingin aku menjadi alat, dan ketika aku menemukanmu, mereka melihatmu sebagai kelemahan yang harus dimusnahkan."
Qinanti akhirnya menoleh. Matanya yang jernih menatapku dengan tatapan yang kini jauh lebih kuat. "Dan anak-anak itu? Mengapa mereka tidak tampak seperti anak-anak, Damian? Mengapa Leo bicara tentang taktik perang seolah dia pernah memimpin tentara?"
Inilah saatnya. Kebenaran yang paling gila yang pernah ada.
"Karena mereka memang bukan anak-anak biasa, Qin. Mereka... mereka mengingat kehidupan mereka sebelumnya," aku bicara dengan nada yang sangat rendah. "Leo adalah seorang jenderal perang dalam jiwanya. Lea adalah seorang ahli psikologi kriminal. Mereka kembali ke dunia ini bukan untuk bermain, tapi untuk melindungimu. Mereka memilihku sebagai pion karena mereka tahu hanya aku yang memiliki kekuatan fisik untuk menjadi perisai bagi rencana mereka."
Qinanti tertegun. Wajahnya menunjukkan campuran antara tidak percaya, ngeri, dan kesadaran yang mendalam. Ia terdiam cukup lama, membiarkan angin pagi menerpa wajahnya.
"Jadi... selama ini aku tidak sedang membesarkan dua bayi kembar yang manis?" suaranya bergetar, namun tidak ada nada benci di sana.
"Kau membesarkan dua penguasa bayangan yang sangat mencintaimu, Qin," jawabku sambil menggenggam tangannya. "Mereka menjadi monster agar kau tidak perlu menyentuh kegelapan. Tapi hari ini, aku memohon padamu... jangan lari lagi. Jangan tinggalkan aku dan monster-monster kecil ini. Mari kita hadapi London bersama. Jadilah ratu di sampingku, karena dengan strategimu dan kekuatanku, kita bisa memberikan masa depan yang benar-benar bebas bagi mereka."
Qinanti menatap tanganku yang menggenggamnya, lalu menatap mataku. Air mata perlahan turun di pipinya, namun ia tersenyum. Sebuah senyum yang melambangkan pakta baru di antara kami.
"Aku tidak akan lari, Damian. Jika anak-anakku bersedia menjadi monster demi aku, maka aku akan menjadi alasan bagi mereka untuk tetap memiliki hati," Qinanti membalas genggamanku. "Beritahu Leo... aku ingin dia mengajariku cara membaca peta strateginya. Dan beritahu Lea... aku ingin tahu bagaimana cara membedah kebohongan para pengkhianat itu."
Aku merasa beban seberat gunung terangkat dari pundakku. Aku menarik Qinanti ke dalam pelukanku, mencium keningnya dengan penuh rasa syukur. Kami bukan lagi sekadar pelarian dan pengejar. Kami adalah satu unit. Sebuah pakta dua hati yang akan mengguncang pondasi klan Xavier pusat.
POV: QINANTI (Mama)
Di dalam pelukan Damian, aku merasa sebuah kekuatan baru mengalir di nadiku. Selama sembilan tahun aku mengira dunia ini adalah tempat persembunyian. Ternyata, dunia ini adalah papan catur. Dan aku baru saja memutuskan untuk berhenti menjadi bidak yang hanya bisa pasrah dipindahkan.
Aku melepaskan pelukan Damian, menghapus air mataku dengan gerakan tegas. "Ayo kita temui mereka. Aku ingin melihat apa yang dilakukan 'Marsekal' dan 'Profiler' kita di pagi yang indah ini."
Kami turun menuju ruang kendali bawah tanah. Saat pintu lift terbuka, pemandangan di depan kami sungguh unik. Leo sedang duduk di meja panjang dengan lima layar yang menampilkan grafik kehancuran digital London, sementara Lea sedang asyik mencoret-coret papan tulis dengan profil psikologis anggota dewan klan pusat.
"Papa, Mama, kalian terlambat lima menit untuk pengarahan pagi," ucap Leo tanpa menoleh, namun ada nada lega yang tersirat dalam suaranya.
"Mama ingin belajar taktik, Leo," ucapku sambil berjalan ke sampingnya.
Leo berhenti mengetik. Ia mendongak, matanya yang abu-abu menatapku dengan takjub. "Benarkah, Ma?"
"Ya. Mama tidak ingin hanya menjadi orang yang kalian lindungi. Mama ingin menjadi orang yang memastikan kalian tidak kehilangan sisi manusia kalian di tengah semua strategi ini," aku mengacak rambutnya yang rapi—sebuah tindakan yang biasanya membuatnya merasa 'tidak efisien', tapi kali ini ia membiarkannya.
Lea melompat dari kursinya dan memeluk kakiku. "Hore! Mama resmi masuk ke dalam 'Unit Bayangan'! Lea akan mengajari Mama cara mendeteksi kebohongan dalam tiga detik!"
Damian berdiri di belakang kami, merangkul bahuku. Aku menatap layar besar yang menampilkan logo klan Xavier yang kini sedang berkedip merah—tanda serangan Leo berhasil total.
"Jadi, apa langkah kita selanjutnya, Leo?" tanya Damian.
Leo menyeringai, sebuah seringai yang kini tidak lagi terasa mengerikan bagiku, melainkan terasa seperti janji keselamatan.
"Langkah selanjutnya adalah 'Operasi Pembersihan Dewan'. Kita akan membuat London berlutut sebelum mereka sempat menyadari siapa yang menyerang mereka," Leo menekan sebuah tombol, dan peta dunia mendadak berubah menjadi koordinat target di seluruh Eropa. "Checkmate, Papa. Dan selamat datang di tim, Mama."
Malam itu, di bawah atap mansion yang tampak tenang dari luar, sebuah kekuatan baru lahir. Bukan kekuatan mafia, bukan kekuatan korporasi, tapi kekuatan sebuah keluarga yang tidak memiliki rahasia lagi satu sama lain. Kami adalah Xavier. Dan bagi dunia yang mencoba menghancurkan kami... kalian baru saja mengundang badai yang tidak akan pernah bisa kalian padamkan.