NovelToon NovelToon
Dunia Akan Hancur Lagi Dan Aku Sudah Pernah Mati

Dunia Akan Hancur Lagi Dan Aku Sudah Pernah Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Ruang Ajaib
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: DRR_LOVE

Aku sudah mati sekali di hari kiamat.

Sekarang aku kembali—3 hari sebelum semuanya dimulai.

Aku tahu siapa yang akan mati.
Aku tahu monster apa yang akan muncul.
Aku tahu dunia ini tidak bisa diselamatkan.

Jadi kali ini…
aku akan mengubah semuanya.

Atau menghancurkannya dengan caraku sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arc Gerbang kedua

Setelah mendengar kabar tentang gerbang kedua, mereka benar-benar memutuskan untuk pergi kewilayah Utara.

Meskipun perasaan campur aduk, takut tetapi mereka tetap optimis.

Selama diperjalanan mereka terus berlatih untuk menjadi semakin hebat, kuat dan melebihi batas.

Selain berlatih mandiri, melawan monster yang menyerang selama perjalanan juga dijadikan latihan untuk mengasah memampuan mereka.

"akhirnya kita sampai dipinggiran Utara." kata Prisma sambil duduk didepan api yang telah mereka nyalakan.

Andri hanya menoleh sedikit, dan terus meneliti peninggalan kuno yang mereka temukan dibeberapa tempat reruntuhan kuno.

Semenjak kepergian Reina, sifat, sikap dan kemampuan mereka berubah.

Prisma menjadi pemimpin baru dan merasa paling terpukul karena merasa "seharusnya aku bisa melindunginya."

Andri menjadi lebih dingin, ia menyalahkan diri sendiri. "seharusnya aku bisa menghentikannya." Andri mulai meneliti gerbang, teknologi dunia lama, eksperimen monster bahkan senjata terlarang.

Sedangkan Santo menjadi seseorang yang mengetahui kebenaran. Dan Dandi menjadi penjaga harapan tim.

Malam semakin dingin. Angin membawa serpihan salju tipis melewati reruntuhan gedung tempat mereka bermalam. Setelah mendengar tentang gerbang kedua, tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa tidur.

Prisma duduk sendirian di dekat jendela pecah sambil menatap pita merah milik Reina. Pikirannya kacau. Setiap kali mendengar tentang “Pembawa Tanda”, “jiwa dewi”, atau “siklus kehancuran”— bayangan Reina selalu muncul di kepalanya.

Namun sekarang… ia mulai takut. Takut kalau suatu hari Reina benar-benar kembali sebagai sesuatu yang bukan manusia lagi.

“Masih belum tidur?”

Prisma menoleh.

Dandi berjalan mendekat sambil membawa dua gelas kopi pahit hasil racikan seadanya.

Prisma menerimanya pelan. “Terima kasih.”

Dandi duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat mereka hanya diam mendengarkan suara angin malam. Lalu Dandi bicara pelan. “Kau percaya wanita itu?”

“Lyra?” Dandi mengangguk.

Prisma menatap langit retak merah di kejauhan. “…Aku tidak tahu.” “Tapi dia tahu terlalu banyak tentang Reina.”

Dandi menggenggam gelasnya pelan. “Aku cuma takut semua ini benar.”

“Maksudmu?”

“Kalau Reina memang terhubung dengan kehancuran dunia.”

Kalimat itu membuat Prisma terdiam. Namun beberapa detik kemudian ia tertawa kecil. “Memangnya kenapa kalau benar?”

Dandi menoleh kaget.

Prisma bersandar ke dinding. “Kalau dunia ingin menjadikan Reina monster…” Tatapannya perlahan mengeras. “…berarti dunia yang akan kulawan.”

Mata Dandi membesar kecil. Lalu tanpa sadar ia tersenyum tipis. “Kadang aku lupa kenapa Reina selalu keras kepala melindungimu.”

Prisma mendecih kecil. “Harusnya aku yang bilang begitu.”

Namun suasana hangat kecil itu tidak bertahan lama. Karena tiba-tiba Santo berdiri dari sudut ruangan. Tatapannya tajam ke luar gedung. “Bangun.”

Andri langsung membuka matanya. “Apa?”

Santo perlahan mencabut pedangnya. “Ada sesuatu mendekat.”

Dalam sekejap suasana berubah tegang. Prisma segera berdiri sambil meraih palunya. Dandi memegang tombaknya. Andri bergerak ke jendela rusak.

Lalu mereka melihatnya. Di luar gedung… di tengah jalanan gelap yang dipenuhi salju puluhan sosok berdiri diam.

Tidak bergerak. Tidak bersuara. Namun seluruh tubuh mereka dipenuhi simbol merah menyala.

Mata Andri langsung menyipit. “…Manusia?”

Lyra yang sejak tadi diam di sudut ruangan perlahan berdiri. Dan untuk pertama kalinya wajah wanita itu terlihat tegang. “Tidak…” “Mereka para pendengar gerbang.”

Salah satu sosok di luar perlahan mengangkat kepalanya. Wajahnya pucat seperti mayat. Namun mulutnya tersenyum terlalu lebar. Lalu seluruh sosok itu berbicara bersamaan dengan suara yang sama.

“Sang Dewi telah bangun.”

“Bawakan kami Pembawa Tanda.”

Suara mereka menggema bersamaan di tengah malam bersalju.

Tidak seperti manusia. Tidak seperti monster. Terlalu kosong. Namun justru itu yang membuat bulu kuduk merinding.

Prisma melangkah maju sambil memutar palunya perlahan. “Aku sedang tidak ingin bicara.”

DUUUMM!!

Energi biru langsung menyebar dari kakinya, membuat lantai gedung bergetar. Tetapi puluhan “Pendengar Gerbang” itu tetap berdiri diam. Tersenyum.

Santo menyipitkan mata. “Mereka bukan ancaman biasa.”

Lyra langsung berkata cepat: “Jangan dengarkan suara mereka terlalu lama.”

“Mereka bisa memengaruhi pikiran.”

Belum selesai ia bicara salah satu Pendengar tiba-tiba bergerak.

CRAAKK!!

Tubuhnya patah secara tidak normal sebelum melesat ke arah gedung seperti laba-laba.

“DATANG!” teriak Dandi.

BRAAAKK!!

Monster-manusia itu menabrak jendela. Namun Prisma langsung menghantamnya dengan palu.

DUUUUMM!!

Tubuhnya hancur seketika. Tetapi tidak ada darah. Di dalam tubuhnya hanya ada kabut hitam dan simbol merah berputar.

Andri langsung menembak kepala Pendengar lain di luar.

DOR! DOR! DOR!!

Dua tubuh jatuh. Namun perlahan mereka berdiri lagi. Leher mereka bergerak patah-patah sambil tertawa kecil.

“Pembawa Tanda…”

“Kami bisa merasakan aromanya…”

Lyra membelalakkan mata. “Mereka menemukan jejak Reina!”

Santo langsung menoleh. “Apa maksudmu?”

“Jiwa dewi yang bangkit meninggalkan resonansi.”

“Semakin kuat Reina… semakin mudah gerbang menemukan keberadaannya.”

Prisma mengepalkan tangannya. “Itu berarti mereka akan terus memburunya.”

Lyra menatap dingin ke arah kerumunan di luar. “Bukan hanya mereka.” “Semua makhluk yang terhubung dengan gerbang akan mulai bergerak.”

Tiba-tiba—

SCREEEEAAAKKKK!!

Suara jeritan panjang terdengar dari langit. Semua langsung menoleh ke atas. Dan wajah mereka berubah. Di balik awan merah sesuatu sedang terbang.

Makhluk raksasa dengan sayap hitam robek.

Tubuhnya seperti kerangka yang dibungkus es. Dan di dadanya terdapat simbol gerbang kedua.

Dandi langsung mundur setengah langkah. “…Monster apa lagi itu?”

Lyra menatap langit dengan wajah pucat. “Utusan Gerbang Kedua.”

Makhluk itu perlahan membuka mulutnya. Dan dari dalam tenggorokannya cahaya merah mulai terkumpul.

Mata Santo langsung membesar. “SEMUANYA MENUNDUK!”

BOOOOOOMMMM!!

Sinar merah raksasa menghantam bagian atas gedung. Ledakan besar langsung mengguncang seluruh area.

Beton runtuh.

Api menyebar.

Dan seluruh bangunan mulai ambruk.

Prisma segera membuat dinding energi. “Keluar dari sini!”

Mereka melompat keluar tepat sebelum gedung runtuh sepenuhnya. Debu dan salju memenuhi udara. Namun masalahnya belum selesai.

Karena puluhan Pendengar Gerbang kini mulai mendekat dari segala arah. Dan di atas langit makhluk bersayap itu masih mengawasi mereka.

Mata merahnya perlahan tertuju pada Prisma. Lalu pada pita merah di tangan pria itu. Dan untuk pertama kalinya monster itu berbicara dengan suara berat menyeramkan:

“Pewaris sang dewi…”

“Kembalilah kepada gerbang.”

Angin dingin langsung berputar liar setelah suara itu menggema dari langit. Salju hitam mulai turun perlahan. Begitu serpihan salju menyentuh tanah aspal membeku.

Gedung-gedung tua dipenuhi lapisan es merah gelap. Andri menatap langit dengan wajah serius. “Lingkungannya berubah hanya karena keberadaannya…”

Lyra mengepalkan tangannya. “Utusan gerbang memiliki sebagian kekuatan bencana.” “Kalau dibiarkan hidup… kota ini akan membeku sepenuhnya.”

Prisma melangkah maju. Palu besarnya mulai dipenuhi retakan cahaya biru. “Kalau begitu kita jatuhkan sekarang.”

Dandi langsung berdiri di sampingnya. “Jangan maju sendirian.”

Sementara itu Santo terus menatap monster bersayap di atas. Tatapannya berubah semakin tajam. “…Ada yang aneh.”

“Aneh bagaimana?” tanya Andri.

“Itu tidak menyerang penuh.” Seolah monster itu sedang mencari sesuatu. Atau seseorang.

Tiba-tiba mata merah makhluk itu menyala terang. Kepalanya perlahan menoleh ke arah utara. Lalu seluruh tubuhnya bergetar.

SCREEEEAAAKKK!!

Monster itu meraung keras seperti ketakutan. Semua membeku. Makhluk setingkat utusan gerbang…

takut?

Angin hangat mendadak berhembus. Berbeda dengan hawa dingin monster tadi.

Hangat. Lembut. Namun menyesakkan.

Simbol merah di tubuh para Pendengar Gerbang mulai berkedip liar. Mereka mundur perlahan sambil gemetar.

“Dia datang…”

“Pembawa Tanda…”

“Sang Dewi…”

Prisma langsung membelalakkan mata. “...Reina?”

Langit malam tiba-tiba retak merah.

CRAAAAKKK!!

Cahaya merah hitam turun dari celah langit seperti meteor.

Utusan gerbang langsung meraung marah lalu menembakkan sinar merah ke arah cahaya itu.

BOOOOMMM!!

Ledakan besar mengguncang udara. Namun sinar itu terbelah dua. Seseorang muncul dari dalam ledakan. Melayang di udara.

Rambut hitam panjangnya bergerak pelan diterpa angin. Matanya merah menyala. Simbol hitam terlihat jelas hingga lehernya.

Dan di belakang punggungnya retakan cahaya berbentuk sayap terbuka samar.

Reina.

Namun auranya kini sangat berbeda. Monster-monster di sekitar langsung berlutut ketakutan. Bahkan Utusan Gerbang mulai mundur di udara.

Prisma terpaku beberapa detik. Karena meski wajah itu benar-benar Reina kehadirannya terasa seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia manusia.

Reina perlahan menatap ke bawah. Matanya berhenti pada Prisma dan yang lain. Dan untuk sesaat tatapan dingin itu melembut. “…Kalian selamat.”

Suara Reina masih sama. Namun ada gema aneh di baliknya. Seolah dua suara berbicara bersamaan.

Dandi langsung hampir maju. “Reina!”

Namun sebelum ia mendekat Utusan Gerbang meraung marah lalu melesat turun.

SCREEAAAKK!!

Cakar raksasanya mengarah langsung ke Reina.

Prisma spontan bergerak. Tapi Reina hanya mengangkat satu tangan pelan.

BRAKKK!!

Tubuh monster raksasa itu langsung berhenti di udara. Seperti dicekik kekuatan tak terlihat.

Mata Andri membesar. “…Mustahil.”

Utusan Gerbang mengamuk mencoba lepas. Namun Reina perlahan menggenggam tangannya.

CRAAASSSHHH!!

Tubuh monster itu hancur seketika menjadi hujan pecahan es hitam dan darah. Keheningan langsung turun.

Tidak ada yang bicara. Karena semua orang menyadari satu hal yang sama. Reina sekarang…

jauh lebih mengerikan daripada monster mana pun yang pernah mereka lawan.

1
EN (Hater No1 Maple)
Semangat ibukk!
EN (Hater No1 Maple)
NOOOO 4 TAHUN LAGI/Scare/
Ibu Rasyidd
Keren loh, wajib dibaca..
Ellasama
cari referensi Thor supaya tau dan bisa bikin novel yang bagus apalagi reader gak suka type karakter yang lemah apalagi untuk si fl
Ibu Rasyidd: tentu kak, terimakasih
total 1 replies
Ellasama
gak heran makin dikit yg kasih like
Ellasama
alah ternyata type fl menyek-menye please paling gak suka kalau karakter ny gitu, katanya terlahir kembali dan sudah pernah ngalamin gitu aja gak bisa ngatasin
Ibu Rasyidd: halo kak, maaf kalau tidak sesuai dengan pemikiran kakak ya.. karena murni hasil dari imajinasi 🙏🙏
total 1 replies
Ellasama
kukira ada zombie ny ternyata dewa-dewi alurnya,,,, agak aneh tp suka kalau ada space entah seterusnya kek mana/NosePick/
Ellasama
Dewi Sinta? film India kah,,,, ada ada aja ni author. pasti ni ada benang merahnya ni🤭
Anime aikō-kā
.
ᵏᵘᶜᶦⁿᵍ 𝓈𝒶𝓂𝑔𝑒
semngat💪
Ibu Rasyidd: terimakasih suportnya kak😍💪🙏
total 1 replies
ᵏᵘᶜᶦⁿᵍ 𝓈𝒶𝓂𝑔𝑒
hus sana pergi
ᵏᵘᶜᶦⁿᵍ 𝓈𝒶𝓂𝑔𝑒
hmm
Ibu Rasyidd: halo kak, terimakasih sudah suport😍🙏
total 1 replies
Andira Rahmawati
lanjuttt trusss semangat💪💪💪
Ibu Rasyidd: terimakasih sudah support kak🙏😍
total 1 replies
Andira Rahmawati
hadir thorrr
Ibu Rasyidd: Terimakasih kak 😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!