NovelToon NovelToon
Jerat Sentuhan Berbahaya

Jerat Sentuhan Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Harem
Popularitas:909
Nilai: 5
Nama Author: Lily Quinza

"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"

"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."

"Hentikan! Jangan sentuh aku!"

"Jika aku tak mau?"

"Kau tidak waras!"

Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.

Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.

Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Terbongkar

"Jared, di mana Rodrigo? Sesibuk apa dia sampai tidak menemuiku?" suara Sera terdengar tenang, tetapi ujung jarinya mencengkeram tasnya terlalu kuat.

Jared berdiri tegak di hadapannya. Wajahnya kaku seperti biasa.

"Maaf, Nona. Tuan Rodrigo sedang berada di luar kota."

Alis Sera terangkat tipis. "Luar kota?" Ia tertawa kecil, tanpa humor. "Apa kau serius? Bukan karena mantan kekasihnya itu, kan?"

Jared menghela napas tertahan. "Tidak, Nona. Dia sedang sibuk pekerjaan. Bukan karena wanita lain."

Kata-kata itu terdengar seperti jawaban yang sudah dihafal. Dan Sera membencinya. Ia mengenal Rodrigo terlalu baik. Ketika pria itu menghindar, ia akan menghilang tanpa jejak. Tidak mengangkat telepon. Tidak membalas pesan. Hanya diam seolah dunia tidak berhak menuntut penjelasan darinya.

Sera melangkah pergi dengan hati berdebar tak menentu. Hari ini ia hanya ingin ditemani. Itu saja. Bukan permintaan besar untuk seorang tunangan sekaligus calon suami.

Sialan, di mana dia?

Beberapa menit kemudian.

Ddrrrtt.

Ponselnya bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Kau ingin tahu di mana tunanganmu itu?

Jantung Sera berdegup lebih cepat. Jemarinya terasa dingin saat membuka pesan berikutnya. Sebuah foto. Pengaturan satu kali lihat. Ia menatap layar. Dan dunia seperti membeku.

Toko kue itu.

Ia tidak mungkin salah. Etalase kaca dengan hiasan pita krem, papan nama bergaya klasik, dan pot bunga lavender di sisi pintu. Tempat yang dulu Rodrigo kunjungi hampir setiap minggu. Dan terakhir saat ia pergi bersama Rodrigo.

Toko milik Valeria. Giginya bergemeletuk. Rahangnya menegang.

"Jika dia berani ke tempat itu tanpa aku," gumamnya pelan, suara berubah serak karena marah. "Aku akan membuat perhitungan pada gadis sialan itu." Namun, ada satu hal yang tidak ia tahu.

Rodrigo memang ada di sana. Bukan untuk nostalgia. Bukan untuk cinta lama.

Tetapi karena ia tidak punya pilihan lain, ia sakit.

Di dalam toko kue itu, aroma roti manis dan kayu manis memenuhi udara. Lampu gantung kuning hangat menyinari ruangan kecil.

Rodrigo duduk di kursi kayu dekat dapur belakang. Wajahnya pucat. Kemeja hitamnya sedikit terbuka di bagian perut, memperlihatkan balutan perban yang mulai memerah. Luka tusukan itu belum benar-benar kering. Setiap ia bergerak, nyeri menjalar seperti bara yang disulut kembali.

Valeria berdiri di depannya dengan tangan gemetar. "Aku sudah bilang kau tidak boleh banyak bergerak," desisnya pelan. "Luka itu belum sembuh, Rodrigo."

Rodrigo tersenyum tipis. Senyum keras kepala yang selalu membuat Valeria kesal.

"Aku tidak punya tempat lain."

Valeria menatapnya tajam. "Kau punya tunangan."

"Dan aku tidak ingin dia melihatku seperti ini."

Sunyi. Hanya detak jam dinding yang terdengar. Valeria menghela napas panjang, lalu berlutut perlahan untuk mengganti perban. Tangannya cekatan, tetapi sorot matanya penuh konflik.

"Kalau kau disini terlalu lama dan Sera tahu, dia akan salah paham."

Rodrigo menutup mata saat perban dilepas. Nyeri menusuk membuat rahangnya mengeras. "Biarkan dia salah paham."

"Kenapa kau selalu seperti ini?" bisik Valeria. "Menyimpan semuanya sendiri."

Rodrigo membuka mata, menatap langit-langit. "Karena jika orang tahu aku lemah, mereka akan menyerang lagi."

Valeria terdiam. Ia tahu luka itu bukan kecelakaan biasa. Seseorang memang mengincarnya.

Dan jika Sera tahu, mungkin situasinya akan jauh lebih rumit. Rodrigo menggerakkan tangannya, hampir kehilangan keseimbangan saat nyeri kembali menghantam. Valeria spontan menopangnya.

"Jangan sok kuat," gumam Valeria kesal.

Rodrigo menatapnya. Untuk sesaat, tidak ada tunangan. Tidak ada masa lalu. Tidak ada pertengkaran.

Di sisi lain, Sera sudah berada di dalam mobilnya. Mesin menyala. Tangannya mencengkeram kemudi.

"Aku ingin lihat sendiri," bisiknya.

Kabut pagi mulai menipis ketika mobil itu melaju menuju toko kue yang selama ini menjadi bayang-bayang dalam hubungannya.

Ia tidak tahu apa yang akan ditemukannya. Pengkhianatan Kebohongan? Atau sesuatu yang jauh lebih berbahaya?

Di dalam toko, Rodrigo tiba-tiba menegang. Seolah merasakan firasat buruk. Valeria mengerutkan kening.

"Ada apa?"

Rodrigo menatap pintu depan yang masih tertutup.

"Ada yang akan datang."

Dan tepat saat itu—

Bel pintu toko berbunyi.

Ting.

Langkah sepatu hak tinggi terdengar di lantai kayu. Sera berdiri di ambang pintu.

Bel pintu itu masih bergetar pelan ketika suasana di dalam toko membeku.Aroma roti yang baru matang mendadak terasa pengap. Sera berdiri di ambang pintu. Matanya tajam. Terlalu tajam untuk sekadar kunjungan biasa.

Tatapannya turun perlahan.

Rodrigo. Duduk di kursi kayu. Wajah pucat. Kemeja sedikit terbuka. Perban putih tampak jelas dari balik kain gelap.

Dan Valeria berdiri begitu dekat, jarinya masih memegang ujung kain kasa.

Sunyi.

Tidak ada yang bernapas dengan normal.

“Sera!” suara Rodrigo serak.

Sera tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah mencapai matanya. “Jadi ini luar kota yang kau maksud?” Suaranya lembut, tapi setiap kata terasa seperti pisau tipis.

Jared berdiri beberapa langkah di belakang Sera, wajahnya berubah tegang. Ia jelas tidak menyangka ini akan terjadi.

Valeria berdiri tegak. Tangannya perlahan menjauh dari Rodrigo.

“Kau salah paham,” ucap Valeria pelan.

Sera menoleh cepat. “Aku tidak berbicara denganmu wanita murahan.”

Deg!

Jantung Valeria mencelos perih.

Rodrigo mencoba berdiri. Dan nyeri itu langsung menghantam. Tubuhnya sedikit oleng. Valeria refleks menahan lengannya.

Gerakan kecil itu seperti bensin yang disiram ke api.

“Jangan sentuh dia!” suara Sera meninggi.

Rodrigo menggertakkan gigi. “Cukup, Sera!”

“Cukup?” Sera tertawa pendek. “Aku mendapat foto anonim, Rodrigo. Foto toko ini. Dan sekarang aku menemukanmu di sini bersama mantan kekasihmu. Kau ingin aku diam saja?”

Rodrigo terdiam. Foto anonim. Tatapannya langsung berubah gelap.

Valeria menyadari perubahan itu. “Foto apa?”

Sera mengangkat ponselnya. “Seseorang mengirimkan foto. Satu kali lihat. Seolah-olah ingin memastikan aku datang dan melihat sendiri.”

Rodrigo berdiri lebih tegak meski wajahnya menahan sakit. “Siapa pun itu, dia ingin kita bertengkar.”

Sera mendekat beberapa langkah. Kini jaraknya hanya beberapa meter. Baru sekarang ia melihat jelas wajah Rodrigo.

Pucat,berkeringat, napasnya tidak stabil.

Dan noda merah samar di perban itu.

Kemarahannya goyah, hanya sesaat.

“Apa itu?” suaranya berubah lebih pelan.

Rodrigo tidak menjawab. Valeria yang lebih dulu bicara. “Dia ditusuk, saat membantuku.”

Sunyi. Kata itu jatuh seperti batu. Sera menatap Rodrigo tak percaya. “Apa?”

Rodrigo menghela napas. “Bukan masalah besar.”

“Bukan masalah besar?” suara Sera pecah. “Kau hampir mati dan kau bilang itu bukan masalah besar?”

“Karena jika kau tahu, kau akan panik.”

“Aku memang panik!” Sera berteriak.

Valeria mundur satu langkah. Ia tidak ingin menjadi pusat konflik ini. Namun, situasi sudah terlanjur kacau.

“Kenapa di sini?” Sera bertanya lagi, suaranya kini lebih rendah tapi jauh lebih berbahaya. “Kenapa bukan di apartementmu? Kenapa bukan di rumah sakit?”

Rodrigo menatapnya lurus. Lidahnya terasa keluh untuk berucap. Ia terdiam membisu.

“Kau pikir aku tidak bisa menjagamu?”

“Ini bukan tentang itu.”

Sera menelan ludah. “Lalu tentang apa?”

Rodrigo terdiam beberapa detik. Tatapannya mengarah ke jendela depan. Ke jalan yang tampak sepi, tetapi terlalu sepi.

“Orang yang menusukku belum tertangkap.”

Jared langsung menegang. Valeria membeku. Dan Sera merasakan dingin menjalar di tulang punggungnya.

Rodrigo melanjutkan, “Seseorang ingin aku terlihat lemah. Ingin aku keluar dari persembunyian. Dan pesan anonim itu, kemungkinan besar dari orang yang sama.”

Ruangan itu mendadak terasa lebih kecil.

Sera menggenggam ponselnya erat-erat. “Jadi aku dipancing?”

“Kemungkinan besar.”

Valeria menyela pelan, “Dan kalau orang itu tahu kau datang ke sini.”

Kalimatnya menggantung. Karena pada saat yang sama, di luar jendela. Sebuah mobil hitam berhenti perlahan. Mesinnya tidak dimatikan. Rodrigo melihatnya lebih dulu. Tatapannya berubah tajam.

“Jared,” ucapnya pelan.

Jared mengikuti arah pandang Rodrigo. Wajahnya langsung pucat.

“Itu mobil yang sama,” gumam Jared.

Sera merasakan jantungnya melonjak. “Mobil apa?”

Rodrigo tidak menjawab. Ia melangkah maju satu langkah dan hampir roboh lagi.

Valeria dan Jared serempak menopangnya. Sera membeku di tempat.

Di luar, pintu mobil hitam itu terbuka perlahan.

Seseorang turun. Wajahnya tidak terlihat jelas dari balik kaca yang sedikit berkabut.

Langkahnya tenang. Terlalu tenang.

Bel pintu toko belum berbunyi. Namun semua orang di dalam ruangan tahu

Badai yang tadi hanya berupa kecemburuan. Kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Dan kali ini, bukan hanya hati yang terancam hancur.

1
Agus Tina
mampir thor bagus kayaknya 😍
Lilyyy: halo say silahkan yah jangan lupa nanti rating 😍🙏
total 1 replies
Dewi wijayanti Ryan setiawan
lanjut thor😍
Lilyyy: ih makasih kak komentar kakak semangat aku 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!