akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 – Waktu yang Berjalan di Kota Runtuh
Kekuatan Deva berkembang dengan kecepatan yang membuat semua orang terkejut.
Di dalam ruang dimensi Rey, udara penuh energi kosmik mengalir lembut seperti angin sejuk yang tak pernah berhenti. Deva berdiri di tengah lapangan kosong yang diciptakan Rey khusus untuk latihan. Di sekelilingnya, waktu seakan bergetar.
“Coba lagi,” ujar Rey tenang.
Deva mengangguk. Wajah bocah itu serius, jauh dari kesan anak lima tahun biasa. Ia mengangkat tangan kecilnya, jari-jarinya sedikit gemetar.
Dalam sekejap, suara angin berhenti.
Daun yang melayang di udara membeku. Bayangan Leoni yang sedang melangkah terhenti di tengah gerakan. Api kecil yang dibuat Boy untuk latihan menggantung seperti patung cahaya.
Waktu berhenti.
Deva terhuyung sedikit. Keringat mengalir di dahinya, tapi matanya bersinar penuh semangat.
“duapuluh detik…” gumam Rey sambil menghitung dalam hati.
Sila menatap dengan mata terbelalak. “Waktunya semakin lama tiap hari…”
Leoni menyeringai kagum. “Kalau begini terus, bukan mustahil dia bisa mengendalikan area luas.”
Waktu kembali berjalan. Deva terduduk di tanah, terengah-engah.
“Maaf… capek…” katanya lirih.
Rey segera menghampirinya dan berjongkok. “Bagus sekali. Jangan memaksa. Kamu sudah jauh lebih kuat dari kemarin.”
Boy mengacak kepala Deva pelan. “Kau ini pahlawan kecil, tahu.”
Deva tertawa kecil, lalu menempel di sisi Rey.
Hari itu, Rey memutuskan mereka keluar dari ruang dimensi untuk berpatroli. Kota sudah jauh berbeda dibanding beberapa minggu lalu.
Gedung-gedung runtuh. Jalanan retak. Kendaraan terbengkalai seperti bangkai besi. Bau debu dan karat bercampur dengan kesunyian.
Tim Rey berjalan perlahan menyusuri distrik yang dulu merupakan kawasan pemukiman.
“Sunyi banget…” gumam Sila.
“Biasanya daerah begini sudah kosong,” ujar Leoni. “Kalau masih ada manusia…”
Mereka mendengar suara pelan.
Tangisan kecil.
Rey mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti.
Mereka menyusuri suara itu hingga menemukan sebuah bangunan setengah roboh. Di dalamnya, sekitar dua puluh orang berkumpul.
Anak-anak kecil duduk di dekat dinding. Seorang nenek memeluk bayi yang tertidur. Dua pria dewasa berdiri berjaga dengan tongkat besi dan pisau dapur.
Wajah mereka tegang saat melihat tim Rey.
“Jangan mendekat!” teriak salah satu pria.
Rey segera mengangkat kedua tangannya. “Kami tidak berniat menyakiti. Kami hanya lewat.”
Seorang wanita paruh baya melangkah maju dengan ragu. “Kalian… superhuman?”
“Iya,” jawab Rey jujur. “Kami berpatroli.”
Suasana hening sejenak. Lalu seorang anak kecil keluar dari balik selimut robek.
“Om… apa ada monster kesini?”
Sila menelan ludah.
“Tidak, kalian aman disini,” jawab Rey lembut.
Mereka baru menyadari kondisi kelompok itu.
Makanan mereka hanya beberapa kaleng penyok. Air disimpan dalam botol bekas. Selimut mereka dari potongan kain.
Tapi mereka duduk berdekatan. Anak-anak tidak terpisah. Lansia tidak ditinggalkan.
Mereka tetap bersama.
Boy berbisik, “Mereka bertahan cuma dengan itu?”
Leoni mengepalkan tangan. “Kalau monster datang…”
Rey merasakan sesuatu menggerakkan dadanya. Ingatan tentang masa lalunya, tentang hari-hari kelaparan setelah zaman akhir, kembali muncul.
Ia melangkah maju.
“Sudah berapa lama kalian di sini?”
“Dua minggu,” jawab pria penjaga itu. “Kami pindah tiap kali terdengar monster mendekat.”
“Kami tidak punya tempat lain,” tambah wanita itu.
Rey menoleh ke timnya. Tanpa bicara, mereka semua mengerti.
Rey pergi menjauh lalu membuka sedikit celah ruang dimensinya.
Udara beriak seperti kaca pecah.
Sila terbelalak. “Rey…”
“Tenang. Tidak ada orang luar di sini,” katanya pelan.
Ia mengeluarkan karung beras, botol air, makanan kaleng, selimut tebal, dan obat-obatan.
Satu per satu dan membawa semua itu kehadapan mereka.
Mata orang-orang itu membesar.
“A… apa itu?” bisik seorang nenek.
“Persediaan,” jawab Rey. “Kami bisa memberi kalian.”
Anak-anak langsung berdiri.
“Itu makanan?” tanya seorang bocah perempuan.
“Iya.”
Wanita paruh baya itu jatuh berlutut. “Terima kasih… terima kasih…”
Pria penjaga itu menunduk dalam-dalam. “Kami tak punya apa-apa untuk membalas…”
Rey menggeleng. “Tidak perlu.”
Deva memandangi mereka dengan mata besar. Ia menarik baju Rey.
“Mereka lapar seperti aku dulu?”
Rey terdiam sejenak. “Iya.”
Deva menatap mereka, lalu memegang tangan Rey erat.
“Kalau aku kuat… aku mau bantu lebih banyak orang.”
Rey tersenyum kecil. “Itu tujuan kita.”
Mereka membantu membagi makanan. Boy membantu memperbaiki pintu dengan besi bekas. Leoni memasang posisi jaga. Sila membuat penerangan dari listrik kecil di dinding.
Malam turun.
Kelompok itu makan bersama. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, mereka makan hidangan sop daging hangat yang lezat sampai mereka kenyang tanpa ketakutan.
Anak-anak tertawa.
Nenek tersenyum.
Seorang pria memainkan seruling kayu kecil yang entah dari mana asalnya.
Rey duduk sedikit terpisah, menatap langit kelabu.
“Kalau dunia ini terus begini…” gumamnya.
Leoni duduk di sampingnya. “Kita tidak bisa membantu semua orang.”
“Tapi kita bisa membantu memberikan senyuman untuk mereka.”
Boy ikut duduk. “Dan selama masih ada orang seperti mereka… dunia ini belum benar-benar hancur.”
Deva bersandar di bahu Rey.
“Aku mau bikin waktu berhenti… supaya monster nggak bisa nyerang mereka.”
Rey mengusap kepala Deva. “Pelan-pelan. Kamu akan sampai di sana.”
Di kejauhan, langit berpendar samar.
Gerbang kosmik lain mulai terbentuk.
Rey berdiri.
“Kita tidak bisa tinggal lama.”
Ia menatap kelompok manusia itu.
“Besok kami akan kembali. Kalau bisa, tetap di sini, tutup pintu ini rapat-rapat dan cobalah cari ruang bawah tanah.”
“Kami akan patuh,” jawab wanita itu.
Saat mereka pergi, anak-anak melambaikan tangan.
“Om hero, terimakasih!”
Sila tersenyum. “Dengar itu? Anak-anak itu kembali ceria.”
Rey tidak menjawab. Tapi di dadanya, tekad tumbuh semakin kuat.
Jika dunia runtuh…
Maka mereka akan menjadi dinding terakhir.
Dan di tengah kehancuran itu, kelompok Rey dengan kekuatan mereka masing-masing mulai berjalan menuju takdir yang jauh lebih besar.