NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA CEO

SUAMIKU TERNYATA CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari dari Pernikahan / Percintaan Konglomerat / Cinta Beda Dunia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.

Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.

Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilih Aku… atau Keluarga?

Sejak malam itu…

cinta mereka tak lagi berjalan santai.

Perlahan, semuanya berubah.

Ibunya Siska seperti orang berbeda.

Jam pulang diperhatikan.

Ekspresi wajah dianalisis.

Bahkan senyum kecil saat melihat ponsel pun terasa seperti bukti kejahatan.

Rumah yang dulu hangat…

kini terasa seperti ruang sidang.

“Kamu sering sekali pulang sore,” ujar ibunya suatu malam, sambil melipat baju dengan gerakan kasar.

“Perempuan baik-baik tidak keluyuran tanpa arah.”

Siska menahan napas.

“Aku dari kantor, Bu.”

Tatapan tajam itu datang lagi.

“Kantor apa yang membuatmu tersenyum sendiri setiap lihat HP?”

Siska membeku.

Sejak hari itu, ia melakukan hal yang paling ia benci.

Berbohong.

Nama Kevin diganti menjadi “Rina Admin.”

Chat dihapus.

Telepon hanya saat kamar benar-benar sepi.

Bertemu pun harus penuh strategi.

Melelahkan.

Sangat.

Kevin mulai merasakannya.

“Kamu berubah,” katanya suatu sore di taman kecil yang tertutup pepohonan. Tempat itu menjadi markas rahasia mereka.

“Berubah bagaimana?” Siska mencoba terdengar santai.

“Kamu seperti memikirkan sesuatu terus. Ini soal orang tuamu, ya?”

Siska terdiam… lalu mengangguk pelan.

Kevin mengusap wajahnya sendiri, frustrasi.

“Aku nggak mau kamu menderita karena aku.”

“Jangan bilang begitu,” potong Siska cepat. “Kamu bukan masalahnya.”

“Lalu apa?”

“Keadaan.”

Satu kata.

Tapi terasa berat sekali.

Mereka masih bertemu, tapi seperti sedang melakukan kesalahan besar.

Kadang hanya sepuluh menit di pinggir jalan.

Kadang satu jam di warung sepi.

Tak bisa tertawa lepas.

Tak bisa berfoto bersama.

Tak bisa bebas.

Sampai akhirnya… semuanya terbongkar.

Hari itu Siska pulang lebih malam dari biasanya.

Ia tidak tahu ayahnya sedang duduk di ruang tamu.

“Kamu dari mana?” suara ayahnya datar, tapi membuat bulu kuduk merinding.

“Dari kantor, Yah.”

“Kantor mana?”

Belum sempat menjawab, ibunya melempar ponsel ke atas meja.

“Ini apa?”

Layar menyala.

Hati-hati di jalan. Aku tunggu kabar kamu.

Nama Kevin terpampang jelas.

Dunia Siska seperti runtuh saat itu juga.

“Kamu masih berhubungan dengan dia?!” suara ibunya meninggi.

“Aku cinta dia, Bu…” suara Siska pecah.

Ayahnya berdiri.

“Cukup.”

Satu kata.

Tapi rasanya seperti palu menghantam dada.

“Kami sudah bilang. Hubungan ini selesai.”

“Nggak!” Siska menangis. “Aku nggak bisa!”

Ibunya melangkah maju.

“Kamu mau menikah dengan pria miskin tanpa masa depan?”

“Apa salahnya hidup sederhana?!” untuk pertama kalinya Siska melawan. “Dia kerja keras! Dia orang baik!”

“Baik tidak membayar listrik,” jawab ayahnya dingin.

“Mulai hari ini kamu putus. Atau keluar dari rumah ini.”

Sunyi.

Ultimatum itu menggantung di udara.

Malam itu Siska menangis di kamar. Tangannya gemetar saat menelepon Kevin.

“Mereka tahu…” suaranya serak. “Aku disuruh memilih.”

Di seberang sana, Kevin lama sekali diam.

“Kalau kamu memilih orang tuamu… aku mengerti,” katanya akhirnya.

Tangis Siska makin pecah.

“Aku nggak mau kehilangan kamu. Tapi aku juga nggak mau kehilangan mereka.”

“Kadang hidup memang jahat,” Kevin berbisik. “Dua-duanya penting… tapi cuma bisa pilih satu.”

Hari-hari berikutnya terasa seperti neraka kecil.

Ibunya terus mengawasi.

Ayahnya memilih diam—dan diam itu lebih menyakitkan dari amarah.

Kevin pun mulai meragukan dirinya.

“Jangan-jangan aku egois,” katanya suatu malam. “Memintamu bertahan padahal hidupku belum jelas.”

“Jangan mulai,” Siska kesal. “Aku yang memilih kamu. Bukan kamu yang memaksa.”

Tapi tekanan itu semakin berat.

Sampai akhirnya, mereka bertemu lagi di taman biasa.

Mata Siska merah. Tapi kali ini tatapannya berbeda.

Tegas.

“Kita nggak bisa terus seperti ini.”

Kevin langsung tegang.

“Maksud kamu?”

“Aku nggak bisa meninggalkan kamu. Dan mereka nggak akan pernah setuju.”

Kevin menelan ludah.

“Lalu?”

Siska menarik napas panjang.

“Aku mau pergi.”

Waktu seperti berhenti.

“Pergi?” Kevin hampir tak percaya. “Kamu serius?”

“Aku mau hidup dengan pilihanku sendiri.”

Keheningan jatuh di antara mereka.

“Kamu yakin?” suara Kevin hampir gemetar. “Ini bukan hal kecil, Sis.”

“Aku lebih takut hidup tanpa kamu… daripada kehilangan segalanya.”

Kalimat itu membuat Kevin terdiam.

Keputusan itu lahir dari nekat, bukan rencana.

Dua tas kecil.

Beberapa baju.

Dokumen penting.

Sisa tabungan Kevin.

Malam itu, Siska keluar dari rumah tanpa pamit.

Langkahnya terasa berat saat melewati pintu yang membesarkannya. Ia menoleh sekali.

Air matanya jatuh.

Tapi ia tetap berjalan.

Kevin menunggu di ujung jalan, wajahnya tegang.

“Kamu nggak harus melakukan ini,” katanya sekali lagi.

“Aku sudah memilih.”

Mereka naik bus malam.

Lampu kota berlalu di balik jendela, seolah menghapus kehidupan lama sedikit demi sedikit.

Kos yang mereka dapatkan kecil sekali.

Satu kamar sempit.

Tembok tipis.

Kamar mandi di luar.

Jendela menghadap gang.

Kevin meletakkan tasnya dan menatap Siska.

“Maaf. Cuma ini yang bisa aku kasih sekarang.”

Siska tersenyum, meski matanya masih basah.

“Ini sudah cukup.”

Malam pertama terasa aneh.

Tak ada kasur empuk.

Tak ada AC.

Hanya kipas berisik dan dua hati yang memikirkan masa depan.

Kevin sadar… mulai malam itu ia bukan lagi bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Siska juga sadar… hidup yang ia pilih tak akan mudah.

Mungkin akan ada penyesalan.

Mungkin akan ada air mata yang jauh lebih besar dari malam ini.

Tapi malam itu mereka tidur dengan keyakinan yang sama:

Cinta ini pantas diperjuangkan.

Walaupun harganya sangat mahal.

Dan mereka belum tahu…

kabur bersama hanyalah awal dari ujian yang jauh lebih kejam dari yang pernah mereka bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!