Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.
Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.
Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.
"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"
Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)
Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketukan Palu Terakhir
Pagi itu, Pengadilan Agama Jakarta Selatan seolah menjadi saksi bisu berakhirnya sebuah drama panjang yang penuh air mata. Langit di luar tampak kelabu, seakan ikut merasakan beban berat yang dibawa oleh pria yang baru saja turun dari mobil ambulans swasta.
Reynald Pratama, pria yang dulu berjalan dengan dagu tegak dan tatapan angkuh, kini harus duduk di atas kursi roda. Wajahnya pucat pasi, tulang pipinya menonjol, dan sorot matanya redup. Ia mengenakan kemeja putih yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang menyusut. Di belakangnya, seorang asisten mendorong kursi roda itu perlahan memasuki lobi pengadilan.
Setiap mata yang memandang memberikan tatapan yang sama: kasihan bercampur sinis. Berita tentang hancurnya rumah tangga sang CEO dan skandal "Ondel-ondel" Bianca sudah menjadi rahasia umum di kalangan elit.
Tapi, suasana berubah seketika saat sebuah mobil SUV putih berhenti tepat di depan pintu masuk. Tania turun dari sana. Ia tampak sangat berbeda. Mengenakan dress formal berwarna biru dongker yang elegan dengan rambut yang dibiarkan tergerai indah, Tania memancarkan aura wanita yang sudah merdeka. Ia tidak lagi menunduk. Ia berjalan dengan langkah pasti, didampingi oleh Adrian yang selalu setia berada di sisinya, menjaga jarak yang sopan namun menunjukkan perlindungan yang nyata.
Rey menahan napas saat melihat Tania lewat di depannya. Ia ingin memanggil nama itu, ingin bersimpuh di kaki wanita itu, tapi tenggorokannya terasa tersumbat. Tania sempat melirik ke arah Rey—hanya sekilas—sebelum akhirnya terus melangkah masuk ke ruang sidang tanpa sepatah kata pun.
Di dalam ruang sidang, keheningan menyelimuti. Hakim Ketua menatap kedua belah pihak sebelum memulai membacakan putusan.
"Setelah mempertimbangkan bukti-bukti yang diajukan, termasuk rekam medis penggugat dan pengakuan tergugat mengenai pengabaian dalam rumah tangga, maka pengadilan memutuskan...."
Rey memejamkan mata. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.
" ... Mengabulkan gugatan cerai Penggugat, Tania Putri, terhadap Tergugat, Reynald Pratama, secara keseluruhan. Dengan ini, perkawinan antara keduanya dinyatakan putus karena perceraian."
Tok! Tok! Tok!
Suara palu hakim itu bergema di seluruh ruangan. Bagi Tania, suara itu adalah melodi paling indah yang pernah ia dengar—sebuah kunci yang membuka pintu penjaranya. Tapi bagi Rey, suara itu adalah vonis mati bagi kebahagiaannya.
"Saudara Tergugat, silakan tanda tangani dokumen putusan ini," ucap panitera sambil meletakkan berkas di depan Rey.
Tangan Rey gemetar hebat saat memegang pena. Ia menatap kolom tanda tangan itu cukup lama. Air matanya jatuh tepat di atas kertas putih tersebut, membasahi nama "Reynald Pratama". Ia menoleh ke arah Tania yang duduk di seberang ruangan.
"Tan ... benarkah ini yang kamu inginkan?" bisik Rey, suaranya parau dan bergetar.
Tania berdiri, ia menatap Rey dengan tatapan paling tenang yang pernah Rey lihat. "Bukan hanya aku yang menginginkan ini, Rey. Keadaan juga menginginkannya. Kamu sudah membunuh 'Tania yang dulu' berkali-kali. Biarkan Tania yang sekarang hidup dengan tenang."
Dengan berat hati, Rey menggoreskan tanda tangannya. Setiap tarikan garis pena itu terasa seperti menyayat kulitnya sendiri. Begitu selesai, ia meletakkan pena itu dengan lemas. Ia sudah resmi menjadi orang asing bagi wanita yang pernah ia sia-siakan selama tiga tahun.
Setelah sidang selesai, Rey meminta asistennya untuk menunggunya sebentar. Ia ingin bicara berdua dengan Tania di koridor yang mulai sepi. Adrian, yang mengerti situasi, memberikan ruang dan menunggu di dekat pintu keluar, tapi tetap mengawasi dengan waspada.
"Tania, tunggu," panggil Rey saat Tania hendak melewatinya.
Tania berhenti, tapi tidak berbalik sepenuhnya. "Ada lagi yang mau kamu sampaikan, Rey?"
"Aku ... aku sudah menyerahkan rumah itu atas namamu. Aku juga sudah mentransfer sejumlah uang sebagai nafkah mut'ah. Tolong terima, setidaknya sebagai caraku menebus sedikit saja kesalahanku," ucap Rey memohon.
Tania berbalik pelan, menatap pria di kursi roda itu. "Simpan rumah itu, Rey. Aku nggak butuh kemewahan yang dibangun di atas air mataku. Soal uang, kamu bisa berikan itu ke yayasan yatim piatu atas nama kita berdua—kalau kamu memang ingin menebus kesalahan. Aku sudah punya cukup untuk diriku sendiri."
Rey tertunduk lesu. "Ternyata benar ya ... aku nggak punya apa-apa lagi buat bikin kamu tinggal."
"Kamu punya hati, Rey. Tapi sayangnya, kamu baru menemukannya saat aku sudah nggak butuh lagi," sahut Tania lirih. "Oyah, aku dengar Bianca sudah punya pasangan baru? Seorang pengusaha batubara paruh baya?"
Wajah Rey memerah karena malu. "Jangan bahas dia, Tan. Dia nggak ada artinya."
"Dia punya arti besar dalam hidup kamu, Rey. Dia adalah cermin yang dikirim Tuhan untuk menunjukkan padamu siapa dirimu sebenarnya. Kamu menukar permata dengan kerikil, dan sekarang kerikil itu pun melukaimu."
Tania kemudian melangkah mendekat, sedikit membungkuk untuk menatap mata Rey secara sejajar. "Ini terakhir kalinya kita bicara seperti ini. Tolong sembuh, Rey. Bukan supaya kamu bisa kembali padaku, tapi supaya kamu nggak menghancurkan wanita lain lagi di masa depan. Belajarlah menghargai sebelum kehilangan itu menjadi permanen."
Tania berdiri tegak kembali, menarik napas lega yang panjang. "Selamat tinggal, Reynald Pratama."
Tania berjalan pergi, dan kali ini ia benar-benar tidak menoleh. Ia menghampiri Adrian yang sudah menunggu dengan senyum tipis. Adrian membukakan pintu mobil untuknya, dan sebelum masuk, Tania sempat menatap langit. Awan kelabu tadi mulai tersibak, menampakkan sedikit sinar matahari yang hangat.
Rey masih terpaku di kursi rodanya, menatap mobil SUV putih itu perlahan meninggalkan area pengadilan. Ia merasa separuh nyawanya ikut terbawa pergi bersama mobil itu.
"Tuan, kita harus kembali ke rumah sakit untuk kontrol," asistennya mengingatkan.
"Rumah...." gumam Rey pahit. "Aku nggak punya rumah lagi. Itu cuma sebuah bangunan besar yang dingin."
Dalam perjalanannya kembali, Rey melewati butik tempat ia melihat Bianca kemarin. Benar saja, Bianca sedang di sana, tertawa lebar sambil menenteng tas belanjaan baru bersama pria paruh baya itu. Mereka tampak sangat bahagia, seolah-olah keberadaan Rey dalam hidup Bianca hanyalah sebuah noda yang sudah dihapus bersih.
Rey tertawa pahit sendirian di dalam mobil. Inilah puncaknya. Inilah rasa yang selalu dirasakan Tania setiap kali ia mengabaikannya demi Bianca. Rasa tidak dianggap, rasa digantikan dengan mudah, dan rasa sakit yang tak berujung.
"Makan tuh ondel-ondel," bisik Rey menirukan kata-kata pedas yang pernah ia dengar dari entah siapa. Ia kini setuju sepenuhnya. Ia telah memakan umpan beracun yang ia buat sendiri.
Di dalam kamarnya yang kosong malam itu, Rey meringkuk sendirian. Tidak ada lagi harum masakan Tania. Tidak ada lagi suara lembut yang bertanya apakah ia lelah. Yang ada hanyalah sunyi yang menjeritkan nama Tania berulang kali. Rey menyadari bahwa hukuman paling berat bukanlah perceraian ini, melainkan harus hidup selamanya dengan ingatan tentang betapa tulusnya Tania mencintainya dulu, dan betapa bodohnya ia telah menghancurkannya.