Sejak kecil, Lolitta telah melewati begitu banyak penderitaan hidup. Berbagai masalah bahkan menyeretnya hingga ke penjara, menempa dirinya menjadi seorang gadis yang tangguh dan mandiri. Ia selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Meski bertunangan dengan pria kaya dan tampan, Lolitta tak pernah menjadi manja atau bergantung pada tunangannya.Di
balik ketegarannya, ia menyimpan luka yang hanya bisa ia tangisi dalam diam.
Dev Zhang, seorang konglomerat berpengaruh, menerima pertunangan itu hanya demi memenuhi permintaan sang kakek. Ia tak pernah menyadari bahwa gadis yang berdiri di sisinya telah mencintainya selama sepuluh tahun. Kedekatan Dev dengan cinta pertamanya membuat Lolitta memilih menjauh dan selalu menjaga jarak, mengubur perasaannya dalam diam.
Akankah Lolitta akhirnya berani mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam pada Dev Zhang?
Dan di antara Lolitta dan cinta pertamanya, siapakah yang benar-benar dicintai Dev?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Apartemen Lolitta.
Pintu apartemen tertutup pelan.
Begitu masuk, suasana hening langsung menyambutnya. Lolitta meletakkan tas kerjanya di sofa, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Ia berdiri di depan wastafel, perlahan membuka kancing blazernya, lalu kemeja putih yang masih rapi melekat di tubuhnya.
Cahaya lampu memantulkan bayangannya di cermin besar.
Ia menatap dirinya sendiri cukup lama.
Wajahnya terlihat lelah… namun juga bimbang.
"Lolitta…" gumamnya pelan pada bayangan di cermin. "Mungkin sudah saatnya kau percaya padanya."
Tangannya berhenti sejenak di kancing terakhir.
"Dua tahun hubungan ini berjalan lancar tanpa hambatan. Dev sering ada di sampingku. Setiap aku punya masalah… dia selalu muncul. Bisa menjadi manager di tempat kerjaku juga karena kesempatan yang dia berikan. Sejak itu hidupku mulai membaik."
Ia menarik napas dalam.
"Lolitta… saat ini hanya dia yang mendukungmu. Asalkan dia setia… maka kau bisa percaya padanya."
Kata-kata itu menggantung di udara.
Ia memejamkan mata sejenak, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Mansion Dev.
Mobil Dev memasuki halaman mansion yang luas dan megah. Lampu taman menyala terang, memantulkan kemewahan bangunan itu.
Begitu turun dari mobil, Dev tampak dalam suasana hati yang sangat baik. Senyum tipis tak lepas dari wajahnya.
Ia berjalan masuk, melepaskan jas panjangnya dengan santai. Shane, asistennya yang setia, segera menyambut dan menerima jas itu.
"Tuan, sepertinya Anda sangat bahagia malam ini," ujar Shane sambil mengikuti langkah Dev.
"Apakah Nona Fang sudah membuka hatinya?"
Dev terkekeh pelan.
"Lolitta memang gadis yang paling sulit didekati," katanya sambil membuka kancing lengan kemejanya. "Bertunangan dua tahun dengannya… aku bahkan hampir tidak bisa menyentuh dinding hatinya."
Ia berhenti berjalan, lalu menoleh sedikit ke arah Shane.
"Tapi justru itu yang membuatku semakin tertarik."
Tatapannya terlihat penuh ambisi.
"Sikapnya yang menjaga jarak… membuatku semakin tidak bisa melepaskannya."
Shane tersenyum kecil.
"Selamat, Tuan. Hubungan Anda dan Nona Fang sudah menunjukkan kemajuan."
Dev tersenyum samar, teringat kejadian di dalam mobil tadi.
"Shane," katanya tegas, "besok kirim bunga ke kantornya."
"Baik, Tuan." Shane mencatat cepat di tablet kecilnya. "Tuan… hanya bunga? Tidak ada kalung, gelang, atau anting seperti biasa?"
Dev menggeleng pelan.
"Lolitta tidak suka semua itu," jawabnya tenang. "Dulu aku pernah memberinya perhiasan. Sampai sekarang… semuanya bahkan belum pernah disentuh."
Nada suaranya bukan kecewa, melainkan penuh pengertian.
"Dia bukan wanita yang bisa dibeli dengan kemewahan."
Dev melangkah menuju tangga, lalu berhenti sebentar. "Kirim bunga putih. Yang sederhana… tapi elegan."
Shane mengangguk hormat.
"Mengerti, Tuan."
Dev naik ke lantai atas dengan senyum tipis di wajahnya.
Sementara itu, jauh di apartemennya, Lolitta masih berdiri di depan cermin—tanpa tahu bahwa pria yang sedang berusaha ia percayai… tengah bertekad untuk benar-benar memiliki hatinya sepenuhnya.
Keesokan harinya…
Suasana kantor masih sibuk seperti biasa ketika seorang kurir datang membawa sebuket bunga mawar putih yang tersusun rapi dan elegan.
Beberapa karyawan langsung menoleh penasaran.
"Nona Fang, bunga ini untuk Anda. Silakan tanda tangan di sini," kata pengirim itu sopan.
Lolitta yang baru keluar dari ruang rapat sedikit terkejut. Ia menerima papan tanda tangan itu dan membubuhkan namanya dengan rapi.
Begitu bunga itu berpindah ke tangannya, aroma lembutnya langsung tercium.
Di sela-sela rangkaian bunga terselip sebuah kartu kecil.
Lolitta membukanya perlahan.
"Semoga harimu menyenangkan dan selalu bahagia.
Dari tunanganmu, Dev Zhang."
Sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.
"Apakah dia sedang mengejarku?" gumamnya pelan.
Beberapa staf yang melihat ekspresinya saling tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, mereka melihat manager mereka menunjukkan senyum yang begitu tulus.
Lolitta memeluk bunga itu sebentar sebelum membawanya masuk ke ruang kerjanya. Hatinya terasa sedikit lebih hangat dari biasanya.
***
Di sisi lain — bandara ibu kota.
Bandara tampak ramai. Orang-orang berlalu lalang dengan koper masing-masing. Kamera beberapa wartawan tampak sudah bersiap di sudut tertentu.
Di tengah keramaian itu, seorang wanita dengan kacamata hitam besar dan mantel panjang berjalan anggun.
Dia adalah Carmen Hong — artis terkenal yang namanya semakin terkenal dalam industri hiburan selama dua tahun terakhir.
Kini, ia kembali.
Tatapannya penuh percaya diri, seolah ibu kota ini masih berada dalam genggamannya.
Carmen berhenti sejenak, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia menekan satu nama di daftar kontak.
Dev Zhang.
Telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya terhubung.
"Hallo, Dev…" ucap Carmen dengan suara lembut yang sengaja diturunkan nadanya.
"Bisakah kau datang menjemputku? Aku ada di bandara."
Nada suaranya manja, seperti tidak pernah ada jarak di antara mereka.
Di kantor Dev.
Dev yang sedang duduk di kursi kerjanya menghentikan aktivitasnya.
Ia menatap layar ponsel di tangannya cukup lama.
Suara wanita itu…
Suara yang sangat ia kenal.
Ruangan kantor yang luas dan mewah itu mendadak terasa sunyi.
"Carmen?" ucapnya pelan, memastikan.
Di seberang, wanita itu terkekeh kecil.
"Aku sudah kembali, Dev."
Dev tidak langsung menjawab.
Tatapannya berubah lebih dalam.
Kenangan lama yang sempat ia kubur… kini tiba-tiba muncul kembali bersamaan dengan suara itu.
Di meja kerjanya, layar ponselnya masih menampilkan pesan terakhir yang ia kirim pagi tadi—
pesan konfirmasi pengiriman bunga untuk Lolitta.
Dan kini…
masa lalu dan masa depannya seolah berdiri di dua sisi yang berbeda.