NovelToon NovelToon
Aku Terlahir Kembali Sebagai Bayi Jahat

Aku Terlahir Kembali Sebagai Bayi Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Isekai / Rebirth For Love / Time Travel / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Arvella terlahir kembali sebagai bayi dengan kesadaran dari kehidupan sebelumnya. Dengan ingatan masa lalunya, ia mampu melihat bahaya dan mencegah masalah sebelum terjadi. Sebagai anak tunggal dalam keluarga kerajaan, Arvella belajar menghadapi dunia yang penuh intrik, rahasia istana, dan tanggung jawab besar meski tubuhnya masih kecil.
Seiring tumbuhnya Arvella, ia menemukan lorong rahasia, ramalan kuno, dan misteri yang mengancam kerajaan. Ia belajar memecahkan masalah sosial, menghindari bencana, dan menghadapi intrik politik dengan kecerdasannya yang luar biasa.
Di tengah semua itu, sosok laki-laki misteriusKsatria Anjing kerajaan yang kelak menjadi bagian penting hidupnya muncul secara samar, membangkitkan rasa penasaran dan ikatan takdir yang halus. Bersama ingatan masa lalu dan insting alaminya, Arvella perlahan menemukan kekuatannya, belajar tentang kepercayaan, cinta, dan akhirnya menentukan jalannya sendiri dalam menghadapi takdir yang telah menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Pertemuan Emosional

Pagi itu, sinar matahari lembut menembus jendela istana, memantul di lantai marmer yang bersih dan dingin.

Arvella duduk di pangkuan Liora, matanya merah bersinar, mencondongkan tubuh ke arah taman belakang istana yang biasanya sepi.

Suara burung dan daun yang bergesekan dihembus angin menciptakan ketenangan, tetapi bayi itu merasakan energi yang berbeda—ada ketegangan dan kesedihan samar di udara.

Kael berdiri di dekat pintu taman, matanya biru menyorot dengan tajam.

Ia memperhatikan Arvella, tersenyum samar tapi penuh perhatian.

“Arvella… ada sesuatu yang mengganggumu?” tanyanya pelan, sambil melangkah lebih dekat.

Bayi itu mencondongkan tubuh, tangan kecilnya menunjuk ke arah seorang pelayan muda yang duduk di bangku taman, tampak sedih dan menunduk.

Liora menatap bayi itu, sedikit terkejut, “Kau bisa merasakan perasaan orang dewasa dari sini?”

Arvella menepuk kainnya, matanya merah bersinar—tanda bahwa ia ingin memahami dan mungkin membantu.

Pelayan muda itu, yang bernama Senna, menunduk lebih dalam, wajahnya pucat.

Arvella mencondongkan tubuh lagi, tangan kecilnya menunjuk ke arah Kael, memberi isyarat agar ia mendekat dengan hati-hati.

Kael melangkah perlahan, menunduk hormat di depan Senna, “Semua baik-baik saja, Senna? Kau tampak… terganggu.”

Senna menatap bayi itu sejenak, matanya terkejut, kemudian menoleh ke Kael, suaranya gemetar, “Ah… tidak, Tuan. Hanya sedikit lelah dari pekerjaan kemarin…”

Arvella mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, tangannya menunjuk ke arah bangku lain yang tampak kosong.

Bayi itu ingin menunjukkan bahwa Senna butuh teman bicara dan perhatian, bukan sekadar dimarahi atau diabaikan.

Kael mengangguk pelan, menepuk bahu pelayan muda itu dengan lembut, “Mungkin kau butuh istirahat sebentar. Duduklah di sini, nikmati taman, dan jangan khawatir tentang pekerjaan sebentar.”

Senna menghela napas, duduk perlahan, menatap Arvella yang mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar seakan memberi keberanian dan ketenangan.

Di momen itu, Arvella merasakan energi lembut yang memancar dari Kael—kehangatan dan rasa aman yang membuatnya semakin percaya pada kemampuan orang di sekitarnya.

Bayi itu menggeliat, matanya bersinar, menepuk tangan Kael kecil, seakan mengakui peran pentingnya sebagai pendamping sekaligus pelindung.

Tidak lama kemudian, Arvella mencondongkan tubuh lagi, matanya merah bersinar, membaca energi lain yang berbeda—ada kesedihan tersembunyi dari seorang bangsawan muda yang tampak cemas di sudut taman.

Kael mengikuti pandangan Arvella, matanya biru bersinar, dan melangkah ke arah bangsawan itu dengan hati-hati.

“Apakah kau baik-baik saja?” tanyanya lembut.

Bangsawan itu menunduk, suaranya pelan, “Saya… hanya teringat kejadian lama yang menyakitkan.”

Bayi itu mencondongkan tubuh, tangan kecilnya menunjuk ke Kael, memberi isyarat bahwa dukungan halus dan kesabaran akan membantu.

Kael tersenyum tipis, menenangkan bangsawan itu, sambil menjaga jarak agar tetap hormat dan tidak mengintimidasi.

Seiring waktu berlalu, Arvella terus membaca energi orang di sekitarnya, memahami rasa takut, kesedihan, dan keraguan yang tersembunyi.

Ia mencondongkan tubuh ke arah Senna dan bangsawan muda, tangan kecilnya menunjuk ke arah mereka berdua—sebuah isyarat bahwa dengan perhatian dan dukungan, rasa takut bisa diatasi.

Kael mengikuti setiap gerakan bayi itu, belajar dari instingnya, dan merasakan kedalaman emosi yang Arvella bisa pahami meski usianya masih kecil.

Sore hari, hujan ringan mulai turun, tetesan menimpa daun dan tanah di taman.

Arvella mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, menepuk kain Liora untuk memberitahu agar mereka berteduh, tetapi juga tetap mengamati perasaan orang-orang di sekitarnya.

Kael segera mengangkat payung besar, menahan hujan agar tidak membasahi Senna dan bangsawan muda itu.

Bayi itu menggeliat, puas, matanya bersinar—bahaya fisik dan emosional berhasil dicegah bersamaan.

Malam menjelang, lilin-lilin kecil dinyalakan di aula taman untuk penerangan.

Arvella mencondongkan tubuh, tangan kecilnya menunjuk ke arah Kael dan Senna, menunjukkan kepedulian dan pengawasan terus menerus.

Kael menatap bayi itu, matanya biru bersinar, merasa kagum pada kemampuan Arvella: membaca emosi orang dewasa sekaligus mengatur lingkungan sekitarnya dengan presisi.

Di akhir malam, Arvella mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, tangannya menunjuk ke arah lorong gelap yang menghubungkan taman ke ruang rahasia istana.

Bayi itu seakan memberi tahu bahwa masih banyak misteri dan emosi tersembunyi yang menunggu untuk dipahami.

Kael berdiri di sampingnya, matanya biru bersinar, tangan melindungi bayi kecil itu, dan tersenyum samar.

“Arvella, kau bukan sekadar bayi biasa… kau penjaga emosi dan keseimbangan di istana ini,” bisiknya pelan.

Bayi itu menggeliat, matanya merah bersinar, puas—bahwa peranannya sebagai penuntun dan pengamat, meski kecil, sangat vital.

1
Passolle
lanjut ka
LOL #555
Hebat banget ,baru lahir udah bisa buka mata ,mendengar, ngendaliin kekuatan magis , serba bisa , kayak budak koporat
LOL #555: gak sih kak , biasanya juga kalau reinkarnasi gini ,baru lahir udah bisa ngalahin naga 🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!