"Menikah denganku."
Risya Wicaksono, berusia 27 tahun.
Atau lebih di kenal dengan panggilan Icha, melotot terkejut, saat kalimat itu terlontar dari mulut lelaki yang sangat tidak ia sangka.
Arnold Adiguna.
Lelaki berusia 33 tahun. Yang juga masih merupakan salah satu kakak sepupunya.
Lelaki itu mengajaknya menikah. Semudah lelaki itu mengajak para sepupunya makan malam.
Icha tidak menyangka, jika lelaki itu akan nekat mendatanginya. Meminta menikah dengannya. Hanya karena permintaan omanya yang sudah berusia senja.
Dan yang lebih gilanya. Ia tidak diberikan kesempatan untuk menolak.
Bagaimanakah Icha menjalani pernikahan mereka yang sama sekali tidak terduga itu?
Mampukah ia bertahan hidup sebagai istri sang Adiguna? Lelaki yang dikenal sebagai CEO sekaligus Billionaire dingin nan kejam itu.
Mampukah mereka mengarungi pernikahan tanpa saling cinta?...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Hasibuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malah ke ruangan Icha
"Kenapa kita jadi makan di sini?"
Icha cemberut dan sedikit kesal, dengan tempat yang dipilih oleh Arnold.
Bayangkan saja!
Begitu keluar dari dalam lift. Lelaki yang telah menjadi suaminya itu, tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya menelusuri sebuah lorong, yang tentu saja jika sudah hafal sekali.
Lelaki itu membuka pintu ruangan dan menarik Icha bersama dengannya. Karena itulah mereka berdua berada di ruangan ini sekarang.
Iya!
Ruangan yang nyatanya adalah ruangan Icha sebagai dokter di rumah sakit ini.
Ia sudah terlalu biasa berada di ruangan ini. Karena itu saat Arnold membawanya ke sini, ia berdecak dan tidak suka.
"Bukankah kita seharusnya pergi makan siang di luar, di sebuah restoran begitu?"
Icha kembali melirik Arnold yang melepaskan tangannya, dan memilih berjalan dengan santai duduk di atas sofa. Lelaki itu dengan santai melepaskan dasinya dan melemparkannya begitu saja ke atas sofa.
Dengan membuka dua kancing teratas kemejanya, perasaan Arnold jauh lebih baik. Ia melihat Icha yang tidak senang dengan keputusannya
Tapi Arnold tidak ingin berada di tempat umum, di saat moodnya sedang tidak baik.
"Sepertinya makan di sini tidak menjadi masalah." Ja bersuara dengan begitu santai.
Menyandarkan tubuh dan juga kepala di sandaran sofa. Arnold memejamkan mata sebentar.
"Jika memang ingin makan siang di ruanganku seperti ini. Untuk apa kak Ar menyuruhku membuat janji untuk makan siang bersama." Masih tidak percaya sedikitpun. Icha melototi lelaki itu yang masih terpejam.
Jika memang ingin makan siang di ruangannya. Ia bisa saja menunggu lelaki itu di sini bukan?
Tanpa harus membuatnya naik ke lantai VVIP. Dan menunggu di sana.
Icha melirik kesal, melihat Arnold yang masih memejamkan mata. Sungguh Kakak sepupunya ini selalu berhasil membuatnya gelang kepala.
"Aku akan memesan makan siangnya Icha." Membuka mata, Arnold bicara tepat pada wanita tersebut.
Icha melangkah perlahan menuju sofa dan duduk tepat di sebelah Arnold. Meletakkan tasnya di atas meja Ia juga menyandarkan tubuh.
"Jika tahu akan makan siang di sini. Sejak dari tadi aku bisa istirahat di sini tanpa harus ke sana kemari." Ia kembali berguman. Terdengar lebih seperti gerutuan.
"Untuk saat ini, aku merasa tidak tenang jika harus bepergian terlalu jauh dari rumah sakit."
Dengan menoleh kepada Icha, tangan Arnold terulur sebentar dan mengusap puncak kepala wanita itu. Berusaha mengalihkan kekesalan Icha darinya.
"Kamu tahu bukan kondisi Oma bisa saja sewaktu-waktu berubah?" Ia juga menyampaikan.
"Karena itu, memilih tempat yang sekiranya dekat dengan keberadaan Oma, akan memudahkan kita untuk bergerak jika terjadi sesuatu." Ia juga menyampaikan.
Menghela nafas mendengar penjelasan itu, Icha merutuki kebodohannya. Ia seharusnya paham jika pikiran Arnold tidak akan pernah bisa terlepas dari Oma Jasmine.
Bagaimana bisa ia juga sedikit melupakan itu? Seharusnya, sebagai seorang dokter ia paham jika Oma Jasmine bisa tiba-tiba saja drop, ataupun siuman.
Kedua pilihan itu akan lebih nyaman untuk mereka, jika mereka berada di sekitar rumah sakit ini. Dan kali ini ia tidak membantah ucapan Arnold lagi.
" Baiklah kalau begitu. Aku akan memesan makan siang kita." Icha menegakkan kembali duduknya. Ia meraih ponsel dari dalam tasnya.
Namun sebelum berhasil meraih ponselnya, sebuah ponsel telur ke hadapannya.
"Pesan dari handphoneku saja." Arnold kembali bersuara.
Icha langsung menoleh kepada Arnold, menatap lelaki itu dengan ragu. Namun melihat Arnold yang kembali menyandarkan tubuh dan menyerahkan ponsel itu ke dalam telapak tangannya, tidak punya pilihan lain.
Ia akhirnya membuka ponsel lelaki itu.
"Berapa pin-nya Kak Ar?" Icha kembali bertanya saat menemukan sebuah Pin sebelum memasuki ponsel lelaki itu.
Arnold mengucapkan PIN ponselnya begitu saja. Sedangkan Icha yang menekan beberapa angka yang disebutkan oleh Arnold langsung menekan nomor tersebut. Hingga terpampang lah wallpaper Ponsel Arnold, yang merupakan sebuah pemandangan alam yang sangat terkenal di dunia.
Ia melirik lelaki itu sedikit malas. Apa yang bisa ia harapkan dari Arnold?
Nyatanya, tidak ada yang spesial bagi lelaki itu.
Icha mencari aplikasi makanan online, yang menerima antar jemput. Ia memilih beberapa makanan untuk mereka santap.
"Pesanan makanan kita, terserah padaku bukan?" Icha kembali melirik Arnold sekilas, sebelum memindai beberapa makanan yang menggiurkan yang akan ia pesan.
"Pesan saja yang mana yang kamu inginkan." Lagi, terdengar jawaban Arnold.
Usai menekan beberapa makanan yang ia inginkan. Icha keluar dari ponsel itu dan meletakkan ponsel Arnold di atas meja begitu saja.
Ia memperhatikan lelaki itu yang masih setia memejamkan mata.
"Kak Ar sepertinya memiliki banyak pikiran." Ia bergumam dengan nada suara yang lebih perlahan.
"Iya. Beberapa pekerjaan yang sangat mendesak sedang menghantui pikiranku saat ini." Jemarinya terangkat dan menekan beberapa sudut pelipisnya.
Arnold tidak berbohong soal pekerjaan yang ia miliki. Pekerjaannya di kantor yang berada di negara ini saja sudah sangat menggunung. Apalagi dengan beberapa pekerjaan mendesak yang berada di Thailand.
Ia bahkan sudah mendapatkan laporan dari beberapa anak buahnya, dan seorang asisten yang ia percayai untuk menghandle sementara di sana.
Mereka mengharapkan kedatangan Arnold segera guna menyelesaikan pekerjaan itu. Karena dibutuhkan keberadaan Arnold sebagai CEO di perusahaan itu.
"Apakah kak Ar akan kembali ke Thailand lagi?" Icha mendekatkan duduknya. Sedikit kasihan melihat lelaki itu yang sepertinya memiliki beban pikiran yang sangat banyak.
Icha mengangkat tangan dan ikut menekan kening Arnold. Berusaha memijat kepala lelaki itu, agar membuat pikirannya rileks.
Tindakan impulsif yang ia lakukan semata, hanya karena cemas melihat salah satu anggota keluarganya terlihat begitu lelah. Pikiran yang sangat polos dari Icha sebenarnya.
Namun impact yang diberikan oleh sentuhan Icha di keningnya membuat Arnold terdiam. Arnold yang masih memejamkan mata tidak menyangka sama sekali, jika Icha akan berinisiatif untuk memijat keningnya.
Tubuhnya yang tadi mulai rileks seketika tegang oleh sentuhan itu. Padahal Icha hanya memberikan sentuhan ringan yang sangat biasa.
Bahkan Interaksi yang Arnold miliki bersama dengan sepupunya yang lain, ataupun istri Devon dan Nial lebih dari sekedar menyentuh keningnya.
Namun itu semua tidak memberikan perbedaan apapun untuknya. Tetapi bagaimana bisa, hanya dengan sentuhan jemari Icha di keningnya bisa membuat tubuhnya tegang dan kaku seperti sekarang.
Kala merasakan pijatan dari jemari Icha di keningnya. Ia kemudian merasa lebih rileks. Arnold kembali menikmati pijatan dari tangan itu, sembari menunggu makan siang mereka.
Ia memilih diam dan meresapi pijatan itu, yang membuat pikirannya lebih rileks.
"Terasa lebih baik?"
Pertanyaan dari Icha membuat Arnold membuka mata. Ia menoleh pada wanita itu, yang menatapnya dengan ragu.
Dengan jemari Icha yang masih setia menekan keningnya berulang-ulang. Ia memperhatikan Icha yang begitu serius dengan kegiatannya.
"Jauh lebih baik." Arnold menjawab dengan sangat perlahan
Ia seketika terpaku, mendapati perhatian dari adik sepupu kecilnya yang telah Ia nikahi.
.........................
apa yg kamu lakukan ituu .... jahat buat babang Ar...
Sejauh ini ceritanya menarik