Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Digerbang Pesantren
Enam tahun telah berlalu sejak pertemuan dramatis di Manhattan itu. Zavier tumbuh menjadi pemuda yang luar biasa, ia adalah cerminan sempurna dari Gus Zayn namun dengan ketenangan yang lebih dalam.
Di usianya yang ke-18, ia bukan hanya putra pengasuh pesantren, tapi juga teladan bagi ribuan santri.
Zavier sangat menjaga dirinya. Di saat pemuda seusianya mulai mengenal cinta, Zavier justru membangun benteng yang tinggi. Setiap kali ia berjalan melewati asrama putri dan mendengar bisik-bisik kagum dari para santriwati, ia akan menundukkan pandangannya lebih dalam.
Baginya, rasa kagum dari wanita yang bukan mahramnya adalah ujian berat yang bisa memicu murka Allah. Ia bahkan cenderung dingin, bukan karena sombong, tapi karena takut hatinya goyah.
Menjelang kelulusannya dari Madrasah Aliyah (MA), sebuah mobil jemputan dari bandara memasuki pelataran ndalem. Mas Zayn dan Abigail sudah menunggu di teras dengan senyum penuh rahasia.
Zavier yang baru saja pulang dari masjid, menghentikan langkahnya saat melihat seorang gadis turun dari mobil. Dunianya seolah berhenti berputar sejenak.
Gadis itu tidak lagi mengenakan dress pendek seperti saat di New York. Ia mengenakan gamis panjang yang elegan dengan kerudung lebar yang menutup dada dengan sempurna. Wajahnya yang dulu kekanak-kanakan kini berubah menjadi kecantikan yang sangat santun, namun sisa-sisa binar matanya yang cerdas masih tetap sama.
Itu Alice.
"Assalamualaikum, Zavier," sapa Alice dengan suara yang jauh lebih tenang dan dewasa.
Zavier terpaku. Ia tidak menyangka bahwa gadis yang dulu mengejarnya dengan cara yang sangat "Barat" itu kini berdiri di depannya sebagai seorang Muslimah yang anggun.
Abigail mendekati putranya yang masih mematung. "Alice sudah berhijab sejak ia masuk usia akil baligh di New York, Zavy. Selama lima tahun ini, dia belajar agama secara otodidak dan memanggil guru privat dari komunitas Muslim di sana. Dia ingin menepati janjinya padamu dulu."
Alice menundukkan pandangannya saat menyadari tatapan Zavier yang tak berkedip. "Aku tahu aku masih banyak kekurangan, tapi aku tidak pernah main-main dengan apa yang aku katakan enam tahun lalu di Manhattan," ucap Alice lirih namun tegas.
Zavier berdeham, mencoba menguasai degup jantungnya yang tiba-tiba berpacu kencang, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa kagum, bukan hanya karena perubahan penampilan Alice, tapi karena istiqomah gadis itu di tengah gemerlapnya kota New York.
"Masya Allah," hanya itu yang mampu keluar dari lisan Zavier. "Perjuanganmu untuk menjaga hidayah di tengah New York jauh lebih berat daripada perjuanganku menjaganya di pesantren ini."
Malamnya, saat makan malam bersama keluarga besar termasuk Mr. Hernandez yang ikut berkunjung, Alice menunjukkan bahwa ia bukan lagi gadis kecil yang manja. Ia lancar membaca doa makan dan bahkan sempat berdiskusi singkat dengan Abi Rahman mengenai hukum-hukum dasar fiqh yang ia pelajari.
Zavier yang biasanya sangat irit bicara, diam-diam sering melirik ke arah Alice. Ada rasa bangga sekaligus... rasa takut kehilangan.
Zayn, yang memperhatikan gerak-gerik putranya, berbisik sambil menyenggol lengan Zavier. "Hati-hati, Jagoan. Jangan sampai bentengmu runtuh hanya dalam satu malam. Tapi ingat, kalau kamu melepaskannya, ayah ragu ada wanita sekuat dia di luar sana."
Zavier hanya tersenyum tipis, senyuman miring yang persis milik ayahnya. Ia menyadari satu hal, selama ini ia bukan tidak ingin mencintai, tapi ia hanya menunggu seseorang yang pantas ia cintai karena ketaatannya pada Allah. Dan orang itu ternyata adalah gadis dari masa lalunya yang ia anggap remeh.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading❤😍😍😍