NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Desa : Triplet Dan Suami Tampan Menungguku

Transmigrasi Ke Desa : Triplet Dan Suami Tampan Menungguku

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Wanita / Ibu Tiri / Ruang Ajaib / Romansa pedesaan
Popularitas:24k
Nilai: 5
Nama Author: ICHA Lauren

Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.

Jenara menolak akhir itu.

Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.

Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.

Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.

Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.

Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ke mana Anak-anakku

Dengan keranjang anyaman di tangannya, Jenara kembali ke hamparan hijau Ruang Wiji. Udara di sana terasa lembap dan hangat, seperti pagi yang tak pernah beranjak siang.

Jenara berlutut di depan rumpun jamur tiram yang tumbuh berkelompok. Tudung-tudungnya mengembang sempurna, berwarna putih pucat dengan semburat abu lembut di bagian tepi.

Ia memanen dengan hati-hati, memutar pangkal jamur perlahan hingga terlepas bersih dari media tanah. Jemarinya cekatan, terlatih oleh naluri seorang koki yang menghormati bahan segar dari alam.

Ia menyusun jamur dengan rapi di dasar keranjang, memastikan sirkulasi udara tetap ada. Setelah beberapa genggam, Jenara berhenti sejenak. Jamur yang dia ambil sudah cukup untuk membuat nasi kepal selama tiga hari ke depan.

Jenara lantas bergeser ke barisan bayam dengan daun hijau pekat. Ia memanen dengan memotong batang utama di atas pangkal, menyisakan tunas agar tanaman bisa tumbuh kembali. Potongan dilakukan miring dengan satu tarikan, layaknya irisan pisau yang tepat sasaran. Kemudian bayam disusun di sisi keranjang, dipisahkan dari jamur agar tidak saling menindih.

Berikutnya wortel. Ia menggenggam pucuk daun, menggoyangkan pelan untuk melonggarkan tanah, lalu menarik lurus. Akar wortel keluar utuh dengan permukaan yang bersih, gemuk dan padat.

Terakhir ubi ungu. Jenara menyingkap tanah di sekitar tanaman dengan tangan. Ia menggali dangkal mengikuti arah rambat, agar umbi tidak terluka.

Saat umbi terlihat, ia mengangkatnya perlahan dan menopang dari bawah. Kulitnya halus berwarna ungu tua. Jenara membersihkan sisa tanah dan menyusunnya di bagian paling bawah keranjang. Menjadi penyangga alami untuk bahan lain.

Ketika keranjang telah penuh dan beratnya mulai menarik bahu, Jenara menghela napas. Ia berdiri kemudian berjalan menuju Ruang Utama. Di sana, ia duduk di lantai yang dingin, beristirahat sejenak setelah melakukan aktivitas yang menguras tenaga.

Di sela istirahatnya, terlintas bayangan wajah di cermin. Tanda lahir merah kecokelatan di pipinya yang mengaburkan kecantikan.

Dengan tekad baru, Jenara berdiri. Ia melangkah ke rak berisi biji-bijian dan benih. Tangannya terangkat lantas ia memejamkan mata.

“Aku membutuhkan bibit lidah buaya dan temu putih,” ucapnya mantap.

Usai menyebutkan permintaannya, mata Jenara terbuka. Senyum langsung merekah di wajahnya saat harapan itu terkabul.

Di rak depan, anakan lidah buaya telah tersedia. Anakan daun tebal berwarna hijau pucat, tepinya bergerigi halus, dan pangkalnya masih berbalut tanah lembap. Di sampingnya ada rimpang temu putih berwarna krem pucat dengan ruas-ruas segar yang siap tanam.

Kebahagiaan kecil mengembang di hati Jenara. Ia membawa keduanya ke lahan yang masih kosong.

“Cepatlah tumbuh,” bisiknya. “Aku harus pergi sekarang.”

Selesai menanam, Jenara kembali ke Ruang Utama sambil menggendong keranjang ke punggung. Bebannya mantap, sedikit menekan tulang belikat tetapi tak menyurutkan langkah.

Jenara pun mengusap antingnya dan dalam sekejap Ruang Wiji lenyap. Ia kembali berdiri di hutan kecil. Matahari telah naik sedikit, memancarkan cahaya hangat di sela daun.

Dengan langkah pelan untuk menjaga keseimbangan keranjang, Jenara menuju kebun belakang. Ia membuka pintu dan bergegas masuk ke dapur.

Jenara meletakkan keranjang dengan hati-hati di sudut. Ia bermaksud membuat sarapan pagi dulu untuk 3G sambil menyiapkan bahan masakan.

"Aku akan melihat apakah mereka sudah bangun," gumam Jenara seraya menghela napas lega.

Akan tetapi, kelegaan itu lenyap saat ia berjalan menuju kamar si kembar tiga.

Pintu terbuka dan ruangan itu kosong melompong. Selimut terlipat tak rapi, tikar bergeser dan ruangan sunyi. Tidak ada tanda kehadiran Giri, Gatra, dan Gita.

Jantung Jenara terasa berhenti berdetak. Bibirnya memucat dan tangannya gemetar seperti tersiram air dingin.

Ke mana mereka pergi? Kapan?

Jenara berbalik cepat, langkahnya tergesa menyisir rumah. Dicekam rasa panik, ia berusaha mencari di ruang tengah, dapur, hingga bilik mandi.

"Gita, Giri, Gatra! Kalian di mana? Ada Ibu di sini...." panggil Jenara dengan suara parau.

Nama-nama si kembar tiga terus diteriakkan Jenara, tetapi tak ada jawaban. Hanya kehampaan udara yang menyambutnya.

Tanpa sadar, kaki Jenara melangkah ke luar rumah. Udara masih dingin, tetapi keringat justru bercucuran membasahi tengkuknya.

“Gita… Gatra… Giri…!”

Suara Jenara terdengar asing di telinganya sendiri. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, menyapu halaman kosong, kebun belakang hingga jalan setapak di depan rumah. Namun, ia tak dapat menemukan anak-anaknya.

Merasa putus asa, ia mulai berlari menyusuri jalan desa dengan napas terengah. Roknya tersangkut di betis, rambutnya terurai tak beraturan, tetapi ia tak peduli. Yang ada di benaknya hanya satu: menemukan 3G.

Di kejauhan, dua orang warga tampak berjalan sambil memikul hasil kebun. Lekas saja, Jenara menghampiri mereka dengan tergesa-gesa.

“Maaf, Pak. Apa Bapak melihat tiga anak kecil lewat? Dua laki-laki dan satu perempuan. Umurnya sekitar tujuh tahun dan wajahnya mirip."

Kedua pria itu saling pandang, lalu menggeleng.

“Tidak, Nak. Kami baru dari kebun sejak subuh.”

Jenara mengangguk cepat sambil mengucapkan terima kasih. Pantang menyerah, ia bertanya pada seorang ibu yang sedang menimba air di sumur, pada pemuda yang membawa kayu bakar, serta nenek yang duduk di beranda rumahnya.

Semua jawaban sama. Mereka tidak tahu, tidak melihat maupun mendengar keberadaan Si Kembar Tiga.

Langkah Jenara mulai melambat. Ujung jarinya berkeringat dingin dan rongga dadanya terasa sesak.

Pikirannya berlari lebih cepat daripada kakinya yang letih. Mendadak ia teringat ucapan Seran tentang serangan di tengah jalan.

Bagaimana jika musuh-musuh Seran mengetahui rumah ini lalu menculik anak-anak?

Tubuh Jenara bergetar hebat. Ia berhenti di tengah jalan, menunduk, dan menahan diri agar tidak jatuh terduduk.

Rasa bersalah menyergap Jenara. Seharusnya ia tidak pergi ke Ruang Wiji sepagi itu. Seharusnya ia menunggu anak-anak bangun. Mereka masih kecil, tak semestinya ditinggal sendirian.

Jenara menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak yang hampir lolos. Jika mereka sampai terluka atau celaka, dia tidak akan bisa memaafkan diri sendiri.

Dengan langkah gontai, ia memutuskan kembali ke rumah. Mungkin mereka sudah pulang. Mungkin ia terlalu panik.

Ketika atap rumahnya sudah terlihat di kejauhan, sebuah pikiran tiba-tiba menyambar benak Jenara.

Kepala desa. Orang tua itu dikenal bijak dan disegani. Jika ada yang bisa membantu mencari anak-anak, pasti dia.

Seperti orang linglung, Jenara berhenti mendadak. Ia berbalik arah, menguatkan diri untuk melangkah lagi ke rumah Kepala Desa. Namun, langkahnya terhenti sebelum sempat bergerak jauh.

Dari arah berlawanan, sebuah gerobak kayu melintas perlahan. Di atasnya ada sekarung beras besar yang didorong seorang pekerja. Sementara di sampingnya berjalan Seran.

Wajah pria itu langsung berubah ketika menangkap raut Jenara yang pucat, rambutnya berantakan, dan tubuhnya yang gemetar tak terkendali.

“Jenara, kau kenapa?” tanya Seran sambil berjalan menghampiri sang istri. "Punggungmu sakit lagi?”

Jenara menggeleng pelan, tetapi air mata sudah menggenang di pelupuk. Bibirnya bergetar hebat saat ia mencoba bicara.

“Anak-anak, Seran…” suaranya serak. “Mereka…”

Seran mengerutkan dahi. Sesuatu dalam nada Jenara membuat dadanya menegang.

“Mereka kenapa?”

Jenara menatap Seran, dan dalam tatapan itu bercampur ketakutan, rasa bersalah, serta kepanikan yang tak sanggup lagi ia tahan.

“Mereka… hilang.”

1
Hary Nengsih
lanjut
Lala Kusumah
semangat Jenara 👍👍💪💪
Azura75
mana lanjutannya. kok nggak bs scroll ke atas lagi? ☺
@Mita🥰
lanjut 😍😍
@Mita🥰
lanjut
Lala Kusumah
semoga mereka langgeng dan bahagia, tidak berpisah ya 🙏🙏🙏
Wulan Sari: iya betul say biyar bahagia walau ada kerikil2 tajam tetap bersama 👍❤️
total 1 replies
Hary Nengsih
lanjut
SENJA
laaaah lu kenapa yah jadi provokator banget 😶
SENJA
wah wah wah 😶
SENJA
buseh tukang nyiksa anak, tukang judi waduh 🤣
@Mita🥰
semangat jenara
Lala Kusumah
good job Jenara 👍👍👍
Lala Kusumah
kemana ya anak-anak Jenara 🤔🤔🤔
@Mita🥰
seperti nya di bawa si cewek yang suka sama seran
Wulan Sari
lhaaa pada ke mana tu anak2 3G, membuat panik sj semoga cepat ketemu yaaaa ayo Thor lanjut critanya terimakasih semangat 💪 salam ❤️
Hary Nengsih
wah kemana ya
@Mita🥰
emang gak bisa ya sekali jentik kan jari langsung hilang semuanya 🤭🤭
Hary Nengsih
lanjut
Lala Kusumah
wow kereeeeeennn 👍👍👍
mau punya ruang Wiji juga lah 🙏🙏🙏
Etty Rohaeti
lanjut
semangat Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!