NovelToon NovelToon
Queen VS King

Queen VS King

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: lee_jmjnfxjk

Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.

Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.

Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19.Malam Ketika Kendali Retak

Rivena selalu percaya bahwa keputusan yang benar tidak perlu dirasakan—cukup dijalankan.

Namun pagi itu, ketika ia menatap layar ponselnya yang dipenuhi pesan tak terjawab, keyakinan itu runtuh pelan-pelan. Tidak ada teriakan. Tidak ada ancaman terbuka. Hanya kalimat pendek yang dingin, rapi, dan berbahaya.

Penundaan ini tidak disepakati.

Kami menunggu klarifikasi.

Kamu mengubah keseimbangan.

Ia mematikan layar.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Rivena tidak segera menyiapkan balasan. Tangannya diam di atas meja. Dadanya terasa sempit—bukan karena takut diserang, tapi karena ia tahu serangan itu pantas.

Ia yang melambat.

Ia yang memilih menahan tekanan.

Ia yang menaruh kepentingan anaknya di atas strategi.

Dan dunia tidak menyukai itu.

Di ruang rapat, seorang rekan lama menatapnya dengan sorot yang tidak lagi setara. “Kamu berubah,” katanya. “Itu berbahaya.”

Rivena mengangkat wajahnya. “Atau perlu.”

“Keputusanmu melemahkan posisi kita,” lanjutnya. “Kamu menunda momentum.”

Rivena mengangguk pelan. “Aku tahu.”

Kalimat itu mengejutkan semua orang—termasuk dirinya sendiri. Ia tidak membantah. Tidak mengalihkan. Tidak menyerang balik.

Karena untuk pertama kalinya, ia tidak ingin menang cepat.

Ia ingin anaknya aman.

Ketika ruangan kosong, Rivena berdiri lama sendirian. Bayangan dirinya di kaca tampak asing—seorang perempuan yang terlihat kuat, tapi di balik itu menyimpan ketakutan paling primitif: kehilangan anak karena keputusannya sendiri.

 

Di Imperion, Varrendra berdiri di lorong administrasi dengan map tipis di tangannya.

Ia tahu apa yang akan ia lakukan tidak akan mengguncang sistem. Tidak akan membuat berita. Tidak akan memicu konflik besar.

Namun baginya, langkah kecil ini terasa seperti melawan arus yang membesarkannya.

“Ini harus direvisi,” katanya kepada staf, suaranya tetap rendah. “Prosedurnya tidak lengkap.”

“Ini sudah disetujui,” balas staf itu ragu.

“Belum olehku,” jawab Varrendra.

Ia menyebutkan satu per satu detail kecil—tanggal yang tidak sinkron, tanda tangan yang absen, hak keberatan yang diabaikan. Hal-hal yang selama ini dibiarkan lewat karena nama besar menutupinya.

“Keluargamu—” staf itu memulai.

“Akan bertanya,” potong Varrendra pelan. “Dan aku akan menjawab.”

Itu bukan pemberontakan.

Itu tanggung jawab.

Saat keluar, napas Varrendra terasa berat. Tangannya gemetar tipis—bukan karena takut, melainkan karena ia sadar: setelah ini, tidak ada jalan kembali ke kepatuhan buta.

Ponselnya bergetar.

Selvina:

Aku dengar kau masuk ke administrasi.

Ia menatap layar, lalu mengetik.

Varrendra:

Aku tidak menyelamatkanmu hari ini.

Aku hanya berhenti menjadi bagian dari masalah.

Beberapa detik berlalu.

Selvina:

Itu lebih berarti dari yang kau kira.

Ia menutup layar. Untuk pertama kalinya, dadanya terasa sedikit lebih ringan—bukan karena semuanya membaik, tapi karena ia akhirnya memilih jujur dalam tindakan, bukan hanya kata.

 

Malam menutup hari yang terlalu panjang.

Bar itu remang, hampir kosong. Musiknya pelan, seperti sengaja tidak ingin mengganggu pikiran siapa pun. Gevano duduk di ujung bar ketika Rivena datang—jasnya sudah dilepas, dasinya longgar.

“Kamu kelihatan lelah,” katanya.

“Aku kalah hari ini,” jawab Rivena jujur sambil duduk.

Gevano tidak menyangkal. Ia hanya mendorong gelas ke arahnya.

“Kamu memilih,” katanya. “Itu beda.”

Gelas pertama turun cepat. Yang kedua menyusul. Kata-kata yang biasanya tertahan mulai lolos—tentang tekanan, tentang sekutu yang menunggu ia terpeleset, tentang anak yang tumbuh di bawah bayangan namanya.

“Aku tidak tahu cara melindunginya tanpa melukainya,” ucap Rivena, suaranya serak.

Gevano menoleh, menatapnya lama. “Kamu tidak pernah diberi contoh.”

Kalimat itu memukul lebih keras dari tuduhan mana pun.

“Aku selalu jadi strateg,” Rivena tertawa kecil, nyaris pecah. “Aku lupa bagaimana caranya jadi ibu… tanpa menghitung kerugian.”

Gevano mendekat, bukan untuk menggurui. Hanya hadir. “Kamu tidak sendirian malam ini.”

Itu saja.

Tidak ada janji. Tidak ada solusi.

Ketika mereka pergi, langkah Rivena goyah. Dunia berputar pelan, seperti memberinya izin untuk berhenti berpikir. Di kamar yang sunyi, semua pertahanan yang biasanya kokoh runtuh—tanpa rencana, tanpa perhitungan.

Lampu padam.

Dan untuk satu malam, Rivena berhenti menjadi perempuan yang selalu menang. Ia membiarkan dirinya jatuh ke dalam kelelahan, ke dalam kehangatan yang tidak menuntut apa pun.

 

Pagi akan datang membawa konsekuensi: pertanyaan, kecurigaan, dan harga yang harus dibayar.

Namun malam itu, di antara keputusan yang retak dan keberanian yang baru tumbuh, satu hal menjadi jelas:

Kekuasaan tidak runtuh karena kesalahan.

Ia runtuh ketika hati mulai ikut bicara.

Dan perubahan paling berbahaya

selalu dimulai

dari satu langkah kecil

yang akhirnya diambil dengan jujur.

-bersambung-

1
Ayara
dari segi alur ini mantep banget, ya walau enemynya masih kurang banyakk enemynya..
tapi udah mantapp.. trus konflik tokohnya fan nadira yg ada di hubungan selvina dan varrendra itu terasa nyata kayak konflik di dunia bgt..
pokonya top markotop lah ceritanya..
semangat trus ya thor..
Aretha putri: Aku ucapkan terimakasih banyak karena kak Ayara telah membaca ceritaku
total 1 replies
Ayara
hahahaha.. benerkan dugaan ku.. 🤭
Ayara
belum ada kata tamat berarti ada plot twist nya.. dan harusnya nadira di penjara...
Ayara
aku yakin nadira bakal di penjara..
Mercy ley
thanks authorrrr..semangatt ku tunggu karya mu yg selanjutnya
Aretha putri: Sama-sama dan terimakasih kembali karena telah membaca ceritaku
total 1 replies
Mercy ley
yeyyy 🤗🤗🤗
happy nyaaa
Mercy ley
panik panik🤗
Mercy ley
akhirnya 😌😌
Mercy ley
lah mimpi
Mercy ley
walau kaget..Sang ratu akan abadi di hating sang raja dan pangeran kecilnya🤍
Mercy ley
...🙂
Mercy ley
beuh🥲
Mercy ley
...ngerii banget
Nadira kamu parah si..
Mercy ley
astaga nad..
kalo kamu sudah ditolak kayak gitu..
mundur bukan sakit hati..karena dia memang udah menikah.. kecuali kalo dia emg ga punya hubungan apa apa..boleh kamu Pepet hatinya🥲
Mercy ley
lucunyaaa
Mercy ley
apa kira kira yg mau Nadira lakukan..
Ayara
lanjut thorr
Aretha putri: Siap kak!!!
total 1 replies
Mercy ley
emg bapaknya sel tuh agak agak
Mercy ley: heem..
total 2 replies
Mercy ley
jadi ke inget Selvina
Nyx
bab ini bab fav ku karena varrendra nya tegas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!