NovelToon NovelToon
Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: YeJian

Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.

Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.

Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.

Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 – Tekanan yang Sah

Perubahan itu tidak datang dalam bentuk serangan.

Justru sebaliknya—

ia datang dengan sangat resmi.

Pagi hari, saat Ren Tao tiba di aula latihan murid dalam, suasana terasa berbeda. Tidak ada keributan. Tidak ada bisik-bisik terbuka. Namun daftar di papan batu utama telah diperbarui.

Nama Ren Tao ada di sana.

Bukan satu.

Tiga.

Tiga sesi evaluasi tambahan dalam satu pekan.

Evaluasi teknik dasar.

Evaluasi pemahaman teori qi.

Evaluasi kontribusi sekte.

Semuanya sah.

Semuanya sesuai aturan.

Ren Tao membaca daftar itu tanpa perubahan ekspresi. Beberapa murid meliriknya, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan. Mereka paham arti evaluasi tambahan.

Bukan hukuman.

Tekanan.

Di sesi pertama, seorang instruktur tua memimpin latihan teknik dasar. Gerakannya lambat, tapi auranya berat. Ren Tao mengikuti instruksi dengan tepat, tidak lebih, tidak kurang.

Namun setiap kali ia bergerak sedikit lebih efisien—

“Ulangi,” kata instruktur itu.

Ren Tao mengulang.

“Lebih lambat.”

Ia melambat.

“Lebih sesuai standar.”

Ren Tao menyesuaikan.

Sesi itu berakhir tanpa cela. Tidak ada kesalahan. Tapi juga tidak ada pujian.

Instruktur mencatat sesuatu di gulungan gioknya.

Sesi kedua lebih menjengkelkan.

Evaluasi teori qi dilakukan di aula tertutup. Pertanyaan-pertanyaan diajukan satu per satu. Bukan pertanyaan sulit justru terlalu mendasar.

Definisi.

Klasifikasi.

Urutan standar.

Ren Tao menjawab semuanya dengan tepat.

Terlalu tepat.

Penguji mengangkat alis. “Kau tidak menambahkan analisis?”

Ren Tao menatapnya tenang. “Pertanyaannya tidak memintanya.”

Beberapa murid menahan napas.

Penguji tersenyum tipis. “Jawabanmu benar. Tapi kosong.”

Ren Tao mengangguk. “Saya akan mengingatnya.”

Catatan kembali ditulis.

Evaluasi ketiga adalah yang paling berbahaya.

Kontribusi sekte.

Ren Tao dipanggil ke ruang administrasi. Seorang pejabat muda menyerahkan daftar tugas jangka pendek semuanya legal, semuanya mendesak.

Pengarsipan ulang formasi lama.

Penyelarasan data misi.

Pendampingan murid baru.

Tidak berat secara fisik.

Tapi memakan waktu.

Sangat memakan waktu.

Ren Tao memahami tujuannya segera.

Kalau ia sibuk, ia tidak berkembang.

Kalau ia stagnan, ia akan tertinggal.

Semua tanpa satu tetes darah.

Malamnya, Ren Tao duduk sendiri di kamarnya. Batu giok identitasnya diletakkan di depan, menyala redup. Ia membuka catatan pribadinya dan mulai menghitung.

Jam latihan hilang.

Qi tersisa.

Perbandingan kecepatan murid lain.

Wei Kang tidak menekannya dari depan.

Ia mempersempit ruang geraknya.

Ren Tao tersenyum kecil.

Cerdas. Tapi belum cukup.

Keesokan harinya, Ren Tao menjalani semua tugas dengan patuh namun dengan penyesuaian kecil. Ia menggabungkan pengarsipan dengan pemetaan formasi. Ia mendampingi murid baru sambil menguji stabilitas qi mereka.

Ia tidak melanggar aturan.

Ia memperluas maknanya.

Dalam tiga hari, laporan kontribusinya justru meningkat. Data yang ia serahkan lebih rapi, lebih berguna. Bahkan beberapa pejabat mulai menggunakan catatannya sebagai referensi.

Bisikan kecil mulai muncul.

“Murid dalam baru itu… aneh.”

“Dia bekerja terlalu efisien.”

“Seperti sudah tahu sistemnya.”

Di kediamannya, Wei Kang menerima ringkasan evaluasi.

Tidak ada kegagalan.

Tidak ada kesalahan.

Tidak ada celah untuk hukuman.

Wei Kang menatap laporan itu lama.

“Kalau ditekan, dia menyesuaikan,” gumamnya.

“Kalau dibatasi, dia melebar.”

Ia tertawa kecil, tanpa humor.

“Baiklah, Ren Tao.”

Ia berdiri dan berjalan ke jendela. “Kalau kau bertahan di bawah aturan… kita lihat bagaimana kau bergerak saat aturan berubah.”

Di kamarnya, Ren Tao membuka mata dari meditasi.

Tekanan itu masih ada. Bahkan semakin rapi.

Ia tahu satu hal dengan pasti—

Ini belum puncaknya.

Ini baru fase seleksi yang sebenarnya.

Dan Ren Tao tidak berniat tersingkir

hanya karena permainan terlihat bersih.

1
Zan Apexion
salam sesama penulis novel Kultivasi.☺️👍

semangat terus ya...
YeJian: siap terimakasih bro atas dukungan nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!