Masih ingatkah kalian dengan pasangan fenomenal Satria dan Sarah?
Kini mereka sudah memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Arkana.
Ya, kehidupan Arkana tiba-tiba saja berubah 360° saat dia harus bertanggungjawab dan menikahi seorang gadis yang tidak di kenalnya sama sekali.
Lalu bagaimana kehidupan mereka, akankah Arkana bisa menjadi suami yang baik, atah malah sebaliknya.
Simak cerita mereka dan sebelum itu baca dulu cerita sebelumnya oke.
My Wife Is, My sugar mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngedate
Arkana baru saja keluar dari ruangan ganti setelah membersihkan dirinya. Karena begitu sampai di rumah, dia langsung pergi ke kamar mandi. Dan kini mereka sudah pindah ke rumah utama.
Dia melihat sang istri yang sedang rebahan di atas tempat tidur mereka dengan iPad miliknya.
"Kenapa di Tarok?" tanya Arkana saat melihat Rania yang mengembalikan iPad miliknya.
"Gak apa-apa, akh cuma nonton bentaran kok, Kak. Hp ku Lowbat dan gak bawa charger." jawab Rania.
Mendengar perkataan Rania membuat sebelah alis Arkana terangkat. Dia merasa heran dengan Rania.
"Kan ada charger gue, cil."
"Mana bisa. Hp kakak hp mahal, punya ku hp murahan." jawab Rania menunjuk ponselnya yang baru di sadari Arkana jika ponsel istrinya memang sudah jadul.
"Bentar!" ucapnya pergi meninggalkan Rania kembali masuk ke dalam ruangan ganti mereka dan keluar dengan jaket miliknya.
"Ayo pergi!" ajaknya pada Rania.
"Hah, pergi kemana?" tanya Rania menatap tak percaya pada suaminya itu.
"Udah, ayo!" Arkana menarik tangan istrinya lalu memakaikan jaket jeans yang sama persis dengan miliknya lalu, membawa Rania keluar dari kamar mereka.
Sesampainya di bawah, Sarah yang sudah siap di meja makan menatap pada anak dan menantunya yang baru saja turun dari lantai dua.
"Mau kemana?" tanya Sarah melihat sepasang anak manusia itu sudah lengkap dengan penampilannya.
"Ngedate. Bye, mami..." ucap Arkana yang berlalu begitu saja meninggalkan maminya sebelum wanita itu mencegahnya keluar dengan Rania.
"Arkana, tunggu! Kalian mau kemana? Mami ikut!!!" teriak Sarah yang sudah bersiap menyusul anak dan menantunya.
Namun, sayang karena suaminya mencegahnya untuk pergi.
"Sayang, aku mau ikut mereka!"
"Sarah, biarkan mereka mulai mendekatkan diri mereka. Lagi pula kamu bilang mau cepat-cepat punya cucu bukan? Jadi biarkan mereka menjalaninya."
"Tapi, sayang-?"
"Sayang, aku mohon mengertilah." ujar Satria yang membuat Sarah akhirnya mengalah.
Sedangkan Rania, dia panik karena suaminya yang mengajak dirinya pergi, padahal mami memanggil mereka berdua.
"Kak, Mami manggil itu." ucap Rania pasa Arkana yang sudah masuk ke dalam mobil, karena tadinya Rania lah yang masuk lebih dulu.
"Biarin aja. Lagian masak iya mau ikut kita ngedate." balas Arkana.
"Tapi, kak-"
"Sttt...mau aku cium lagi bibirnya kayak tadi biar bisa diem?" dengan cepat Rania langsung menggelengkan kepalanya.
"Yaudah, makanya diem. Sekarang kita nikmati kota Jakarta yang padat penduduk ini! Let's go istrinya akuhhhh..."
Blush...
Wajah Rania tiba-tiba terasa panas akibat rayuan maut dari Arkana. Karena Rania belum terbiasa dengan semua itu. Benar-benar membuatnya salah tingkah.
"Ahhh...gemesnya istri aku, pengen tium deh!"
"Kak, katanya mau jalan. Ayo!" tegur Rania karena dia tidak tahan jika harus terus-menerus di goda oleh Arkana seperti ini.
"Oh, oke istri akuh..."
"Kak...."
"Hahahahaa...oke, oke. Kita berangkat sekarang!" ucapnya hingga akhirnya mereka berdua perlahan meninggalkan rumah dan menikmati suasana malam hari di ibu kota.
Sesuatu yang jarang sekali Arkana nikmati. Apalagi kali ini dia bersama Rania, dan rasanya sangat berbeda.
Keduanya menempuh perjalanan 45 menit, sampai mereka tiba di pusat perbelanjaan terbesar di ibu kota Jakarta.
"Kita mau apa kesini kak?" tanya Rania yang untuk kedua kalinya dia masuk ke tempat ini.
"Beliin lu HP."
"Hah? Tapi hp aku masih bagus kok!" jawab Rania yang merasa jika ponselnya masih bagus.
"Gue gak bilang hp lu rusak. Cuma ya udah ketinggalan jalan aja, cil. Masak iya suami lu kaya, mami papi mertua lu juga kaya raya banget, hp menantunya jadul. Gak banget tau gak!" ujar Arkana dengan kesombongannya seperti biasa.
"Tapi, kak-"
"Gue gak akan miskin cuma buat belikan lu HP doang cil. Jadi plis, jangan pernah nolak apapun itu setiap pemberian gue." ujar Arkana yang membuat Rania akhirnya pasrah, dan mau ikut dengan Arkana yang membawanya masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu.
Bahkan tujuan utama mereka saat ini adalah toko ponsel yang menjual segala perlengkapannya.
"Mau beli yang mana cil? Ini aja yang terbaru. Putih bagus deh kayaknya buat lu. Kalau gue yang navy deh, biar kembaran sama lu. Sekalian juga Ipad-nya, atau gak Macbook-nya juga. Soalnya kalau pake punya gue entar ribet. Kan gue buat kerja juga."
"Tapi kan Ma-"
"Inget cil! Gue kaya, oke!" potong Arkana.
"Tapi bayarnya pakai apa? Dompet kakak kan di rumah!" ujar Rania yang sudah ketakutan.
Arkana hanya bisa menghela nafasnya dengan lemas mendengar jawaban dari Rania.
"Hp gue juga bisa buat bayar belanjaan lu cil. Ini jaman digital, dimana semua bisa di permudah oke. Jadi jangan panik selama itu masih ada A'a kamu ini. Eh, tapi papi itu Jawa banget, jadi jangan panggil A'a. Tapi Mas, Mas Arkana. Duh, pasti gemes deh denger lo pengil gue begituan cil. Jadi pengen gue cipok!"
Uhuk!
Rania tersedak mendengar apa yang Arkana katakan di depan umum seperti ini membuat dirinya benar-benar di rundung rasa malu yangd sangat luar biasa.
"Santai dong! Istri gue nih!" ujar Arkana yang sengaja memamerkan tangan Rania dan tangan dirinya, di mana tersemat cincin pernikahan di jari manis keduanya yang membuat sales toko tersebut tersenyum di buatnya.
***
next my