Alitza Zeefanya Bella, atau sering disapa Zee adalah seorang gadis cantik yang ceria. Seperti nama yang diberikan oleh orang tuanya yang berarti gadis cantik yang ceria yang selalu ada dalam lindungan Tuhan.
Hidupnya baik-baik saja, terlahir cantik serta besar di lingkungan keluarga kaya yang harmonis membuat dirinya tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh kepedulian.
Semua baik-baik saja sampai dirinya harus kehilangan seluruh alasan kebahagiaan nya. Membuat dirinya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang wanita tua yang menjadi pengasuhnya sejak bayi.
Bekerja didunia malam membuat dirinya dipandang miring oleh semua orang. Namun dirinya tak peduli, hanya dirinya yang tahu seperti apa sesungguhnya yang ia jalani.
Akankah nasib baik kembali berpihak padanya? atau justru kehidupannya semakin sulit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
arung jeram
Jam menunjukkan pukul 7.30 malam saat Zee dan Maya sampai di depan club tempat mereka bekerja. Sudah banyak teman mereka yang datang.
Leon menjadwalkan keberangkatan pukul 8 malam. Mengingat ini sudah memasuki liburan akhir tahun, sudah pasti waktu perjalanan mereka akan lebih lama dibandingkan hari libur biasa.
Sudah ada dua bus pariwisata dengan model terbaru terparkir rapi di parkiran club. Leon memang mempersiapkan kendaraan yang bagus dan nyaman untuk para pekerja nya. Ini bentuk kepeduliannya pada semua orang yang sudah berjasa membuat club nya bertahan hingga kini.
"Kita kumpul dulu ya.. " Teriakan dari manager club membuat semua mendekat pada asal suara.
"Oke pertama-tama saya akan jelaskan dulu rundown acara kita. Mulai dari keberangkatan sampai pulang dari tempat wisata nanti.. "
Dan waktu setengah jam yang tersisa itu digunakan manager club yang kini menjadi panitia acara untuk menjelaskan runtutan acara serta pembagian kursi tempat duduk di dalam bis.
Dan sudah pasti Zee akan duduk bersama dengan Maya, tentu pula berada dalam satu bus dengan Leon.
Ya, Leon memilih ikut bersama rombongan naik bus dibanding naik mobil pribadi atau kendaraan lain. Ia ingin dekat dan mengakrabkan diri dengan para karyawannya.
"Semua sudah siap? ". Tanya Leon yang berdiri di depan menatap mata berbinar karyawannya.
" Sudah pak!! ". Seru semua orang kompak. Kegiatan rutin tahunan ini memang hal yang selalu dinanti kan oleh para karyawan Leon. Mereka tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun. Hanya jika mereka ingin membeli untuk dirinya sendiri saja mereka mengeluarkan uang.
Tepat pukul 8 malam rombongan berangkat ke destinasi yang sudah ditentukan. Jika biasanya hanya memakan waktu lebih kurang 7jam, kini harus bertambah 2jam karena kemacetan.
Aurel yang biasanya ikut menemani Leon, kali ini tidak bisa pergi bersama karena jadwal pemotretan nya bentrok dengan jadwal keberangkatan. Aurel bilang akan menyusul nanti setelah pekerjaannya selesai.
" Astaga, anak ini.. " Leon bangkit dari duduknya, hampir semua orang sudah tidur.
Leon berjalan mendekati Zee yang juga sudah terlelap dengan menyandarkan kepalanya di pundak Maya. Terlihat tidak nyaman karena kepalanya menekuk.
Leon membenarkan posisi kepala Zee, ia bahkan menaikkan selimut Zee yang turun sampai lutut. Setelahnya ia mengusap pucuk kepala Zee dengan penuh kelembutan.
Beberapa karyawan yang melihat perhatian Leon saling berbisik. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Leon memperlakukan Zee spesial.
Bohong jika mereka tidak merasa iri pada Zee. Namun tidak semua orang pula menunjukkan rasa iri nya pada Zee.
Leon kembali duduk. Merogoh ponselnya yang bergetar karena sebuah pesan.
Aurel..
Kekasih hatinya itu menanyakan keberadaan nya kini. Mereka saling berbalas pesan sesaat sebelum Aurel pamit untuk istirahat.
...☘️☘️☘️☘️...
Matahari masih malu-malu menampakkan cahayanya kala rombongan sampai di bibir pantai.
Kedatangan rombongan itu sudah disambut oleh teman-teman Leon yang memang selalu ikut setiap ada acara family gathering seperti ini.
"Ish..kok ayang-ayangku semua udah nyampe sih? ". Tanya Maya tanpa malu.
Sementara Bara dan David saling pandang sebelum kemudian tertawa.
" Itu gunanya uang May, mempermudah semua urusan". Sahut Bara sombong membuat Maya bingung.
Rupanya mereka memilih menggunakan patwal untuk mempermudah jalan mereka, menghindari kemacetan dan sampai lebih dulu.
Zee yang mendengarkan acuh saja, ia berjalan mendekati bibir pantai. Matanya terpejam saat air menyentuh kakinya. Zee merentangkan kedua tangannya, menghirup udara pagi yang sangat sejuk. Udara yang tak bisa ia dapat ditengah padatnya kota tempat nya tinggal.
"Zee!!! ". Teriak Maya yang sudah siap dengan kamera ponsel yang menyala. Dan tepat saat Zee menoleh, Maya mengambil gambar gadis itu.
Wajah cantik Zee tanpa polesan makeup, rambut yang terbang terkena angin juga senyum spontan Zee dengan background sunrise adalah perpaduan sempurna yang Maya tangkap dengan kamera ponselnya.
Zee memang selalu fotogenik, bahkan dalam keadaan tak siap pun wajahnya tetap terlihat menarik di layar ponsel atau kamera manapun.
" Ish.. bilang-bilang dulu dong May kalo mau fotoin aku. Jadi aku bisa bergaya dulu.. " Teriak Zee yang jaraknya cukup jauh dengan Maya.
Bukan hanya mereka berdua, hampir semua orang tengah mengambil gambar dengan berbagai gaya. Semua tampak bahagia, tak terkecuali Zee.
Diam-diam Bara pun mengambil foto Zee. Dari angle manapun Zee tetap terlihat cantik dan menarik. Bara mengangkat wajahnya, menatap Zee yang tengah asyik berselfi dengan Maya.
Tawa gadis itu terdengar merdu ditelinga Bara. Membuatnya tak bisa diam saja dan akhirnya mendekati Zee dan Maya.
"Aku juga ingin berfoto denganmu Zee.. " Bara langsung menarik Zee dan mengambil banyak foto dengan Zee. Ini bukan kali pertama dan Zee sudah tidak kaget lagi.
"Ayo kesana.. disuruh ngumpul". Ajak Maya pada Zee yang langsung merangkul lengan Maya. Meninggalkan Bara yang kini tengah menatap punggung Zee yang menjauh.
" Insaf dulu yang bener kalo mau deketin Zee". Bara menoleh, dan mendapati David tengah tersenyum mengejek padanya.
Diantara semua teman nya, memang Bara dan David bisa dibilang yang paling br*ngs*k. Senang berganti pacar dan foya-foya. Bahkan tak ragu mencumbu wanita malam sekalipun.
"Ahhh... aku belum siap meninggalkan nikmat dunia itu untuk serius bro". Keduanya lantas terbahak. Mereka sama, sepemikiran dan sama-sama sedikit sengklek.
Acara pagi itu dimulai dengan breakfast bersama dan dilanjutkan dengan acara arung jeram.
Zee sudah memakai pelampung dan helm keamanan dikepalanya. Ia tinggal menunggu gilirannya saja. Disamping nya ada Maya yang juga sudah memakai pelampung dan helm seperti nya.
" Zacky dan Ben belum sampai? ". Tanya David pada Leon.
" Zack bilang sebentar lagi". Sahut Leon
"Perusahaan Ben juga mengadakan acara yang sama dengan mu? ". Kini Bara yang bertanya dan dijawab anggukan kepala oleh Leon.
Zee yang tidak sengaja mendengar percakapan itu tiba-tiba mengingat wajah Ben. Tatapan dingin itu, mata itu, semua yang ada pada Ben tiba-tiba terlintas di depan matanya. Membuat dirinya menggelengkan kepala beberapa kali untuk mengenyahkan pikiran aneh yang tiba-tiba memenuhi otaknya.
" Yey kenapa say? ". Tanya Maya membuat Tiga lelaki dewasa dibelakang Zee langsung menoleh menatap Zee.
" Yey sakit? ". Tanya Maya lagi pada Zee.
" Eng-enggak May. Emang kenapa ?". Zee balik bertanya.
"Itu dari tadi geleng-geleng kepala kenapa? ". Zee menutuki dirinya sendiri. Ia tidak menyadari jika Maya memperhatikan nya.
Ucapan Maya Membuat Leon segera bangkit dan memeriksa suhu tubuh Zee dengan meletakkan punggung tangannya di kening Zee.
" Kamu sakit? Kalau sakit ke hotel aja dulu, istirahat ". Perintah Leon pada Zee. Meskipun suhu badan Zee normal, namun Leon tak bisa memastikan apakah Zee baik-baik saja atau sedang merasa sakit.
" Aku baik-baik aja bang. Tadi tuh cuma.. " Zee berpikir keras, mencari alasan apa yang pas untuk diberikan pada semua orang yang tengah menatap dirinya menunggu jawaban.
"Tadi ada lalet bang.. makanya aku geleng-gelengin kepala aku". Reaksi semua orang hampir sama, alis berkerut dan mata menyipit menatap Zee. Alasan yang aneh dan dibuat-buat sekali, mungkin itu pikiran semua orang.
" Hanya itu? ". Tanya Leon memastikan dan Zee menjawab dengan anggukan kepala mantap.
" Iya bang.. cuma itu". Zee tersenyum menenangkan semuanya. Ia benar-benar merutuki dirinya sendiri yang tiba-tiba berdebar tidak jelas hanya karena terbayang wajah angkuh Ben.
"Jangan ragu bilang ke aku kalo ngerasa nggak enak badan. Oke? ". Zee kembali mengangguk kan kepalanya pada Leon.
" Sudah giliran kita.. ayo.. " Leon mengulurkan tangannya pada Zee. Namun justru Maya yang menerimanya.
"Makasih bos.. perhatian banget sih. Jadi makin cinta". Goda Maya kemudian mengedipkan sebelah matanya dengan centil.
Tawa terdengar dari semua nya melihat kelakuan Maya. Dimana ada Maya, maka disitu ada keseruan. Itulah yang mereka tahu.
Dalam satu perahu karet itu, hanya Zee seorang diri sebagai seorang perempuan. Sisanya laki-laki meskipun Maya tak dapat dikategorikan sebagai laki-laki 100%.
" Pegangan yang kuat" Peringat Leon pada Zee yang mengangguk patuh.
"Iya bang, siap". Jawabnya disertai anggukan kepala.
Terdengar teriakan setiap kali perahu terbawa arus dan menabrak batu. Arung jeram bisa dijadikan wadah kita untuk meluapkan semua perasaan, berteriak tanpa ada orang yang tahu arti dari teriakan kita.
...¥¥¥°°°¥¥¥...
...Segini dulu.. nanti kita gass lagi deh ya bestie✌🫰...
...Nggak bosen-bosen buat ingetin readers ku ini, like komen nya gaskeun lah ya🥰🫰...
...Happy reading semuanyaa, sarangheyo readerskuuhh💋💋💋 ❤❤❤😘🥰😍🥰😍😍😘😘😘🤩...