Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Di Mata Lili
Satu tahun.
Satu tahun penuh telah berlalu sejak malam di mana aku berlutut di lantai yang dingin, membiarkan tubuhku tersiksa oleh kebencian Arvino. Lili kini genap berusia satu tahun.
Tahun ini terasa seperti satu dekade. Rutinitasku kini terbagi dua: Dokter Aluna yang tajam dan tak tertandingi di Rumah Sakit Merdeka, dan Aluna si Istri Kontrak yang dingin di rumah, mematuhi semua aturan tanpa emosi. Aku dan Arvino telah mencapai gencatan senjata yang dingin—kami hanya bicara tentang Lili, tanpa menyentuh satu sama lain, bahkan dalam kemarahan.
Hari ini adalah hari ulang tahun Lili yang pertama.
Aku mendekorasi kamar Lili dengan tema sederhana: soft pink dan putih, tidak ada balon mewah, untuk menghormati duka yang masih melingkupi rumah. Aku memanggang kue kecil, dan Nenek, Papa, Mama, serta Ardo akan datang merayakannya.
Arvino hadir, tentu saja. Dia mengenakan kemeja kasual yang rapi dan tampak tampan, namun tatapannya tetap terpoles es.
"Kau tidak perlu melakukan semua ini," ujar Arvino saat melihatku memasang lilin di atas kue.
"Aku melakukannya untuk Lili, Kak. Bukan untukmu," balasku datar. "Semua bayi berhak merayakan ulang tahun pertamanya. Ini juga akan menyenangkan Papa dan Nenek."
"Jangan gunakan nama Lili untuk memoles citramu," desisnya, tetapi dia tidak menghentikanku.
Acara perayaan berjalan khidmat. Papa dan Mama menyanyikan lagu ulang tahun dengan air mata tertahan, mengingat Sarah. Nenek dan Ardo tampak tulus bahagia.
Lili, yang kini sudah bisa berdiri dengan berpegangan, duduk di pangkuanku, matanya berbinar melihat api lilin.
"Tiup, Sayang," bisikku di telinganya.
Lili mencoba, tapi ia malah menggapai api lilin itu dengan jarinya.
"Jangan!" seru Arvino panik, hendak merebut Lili.
Aku lebih cepat. Aku menahan pinggul Lili, lalu meniup lilin itu bersamanya.
"Itu berbahaya, Lili. Api itu panas," kataku pelan, mengajarkannya.
Arvino tidak jadi merebut Lili. Dia malah terpaku, menatap adegan kecil itu.
"Dia keras kepala," gumam Arvino, suaranya pelan sekali, tidak ditujukan padaku.
Aku tahu kenapa. Saat aku kecil, aku pernah mencoba memegang api kompor karena ingin tahu. Sarah takut setengah mati, dan hanya Arvino yang bisa menenangkanku. Dulu, ia selalu berkata bahwa aku adalah anak paling keras kepala yang pernah ia temui.
Kini, Arvino melihat kekeraskepalaan dan rasa ingin tahu yang sama pada Lili.
Saat sesi pemberian kado, Lili duduk di karpet, sibuk merobek kertas kado yang dibungkus Ardo. Arvino duduk di sofa, mengawasiku.
Aku memberikan kado terakhir. Itu adalah setumpuk buku cerita tebal dengan sampul warna-warni, bukan mainan boneka atau mobil-mobilan.
Lili segera meraih buku itu, menceloteh gembira, dan mulai memukul-mukul sampulnya.
"Kenapa buku?" tanya Arvino sinis. "Lili itu anak Sarah. Dia suka boneka. Dia suka hal-hal yang lembut."
"Lili juga suka pengetahuan, Kak," jawabku. "Aku sering membacakan buku tentang hewan dan tumbuhan padanya, dan dia selalu tenang mendengarnya. Dia tidak selalu harus menjadi seperti Sarah. Dia juga punya karakternya sendiri."
Arvino hanya mendengus, namun kemudian aku menangkap Ardo yang mengulum senyum. Ardo tahu. Aku juga sangat suka membaca dan buku-buku tebal, persis seperti yang kuberikan pada Lili.
Lili kembali merangkak padaku, memeluk kakiku dengan buku cerita itu.
Aku memeluknya, mencium puncak kepalanya. "Selamat ulang tahun, Sayang."
Saat itu, Arvino melihat ekspresi tulus di wajahku—sebuah kebahagiaan yang begitu murni, yang tidak pernah ia lihat dariku sejak Sarah meninggal. Dan dia melihat Lili membalas pelukanku dengan erat.
Inner Monologue Arvino:
Dia seharusnya menangis dan merindukan ibunya. Dia seharusnya dingin pada wanita ini. Kenapa dia nyaman sekali di pelukan Aluna?
Tiba-tiba, Arvino merasakan tusukan yang sangat tajam di dadanya. Itu adalah rasa takut, bercampur dengan rasa cemburu yang kotor.
Lili, anak yang ia yakini sepenuhnya adalah milik Sarah dan warisan cinta mereka, kini terlihat lebih mirip anak kandung Aluna. Aluna telah mengisi kekosongan itu, bukan dengan cinta yang berapi-api, tapi dengan konsistensi dan perhatian yang ilmiah.
Lili meniru ekspresi keningku saat sedang berpikir. Lili menunjukkan keengganan yang sama terhadap orang asing sepertiku. Dan yang paling penting, Lili mencari kenyamanan di pelukanku, bukan di pelukannya.
Arvino berdiri. "Lili sudah lelah. Bawa dia tidur." Suaranya terdengar kaku.
"Baik, Kak," jawabku, mengangkat Lili ke pelukanku.
Aku menatap Arvino. Aku melihat kebingungan, amarah, dan sedikit rasa putus asa di matanya. Aku tahu perpisahan hari ini bukan hanya karena Lili butuh tidur, tapi karena Arvino butuh waktu untuk memproses pengakuan yang menyakitkan: Lili telah mengambil jiwaku.
Aku membawa Lili ke kamar, meninggalkan Arvino yang berdiri mematung di tengah ruang tengah, dikelilingi oleh sisa-sisa perayaan ulang tahun dan bayangan istrinya yang telah tiada.
Malam itu, Arvino tidak hanya tidur di sofa. Dia menghilang dari kamar utama. Aku tahu dia pasti pergi ke kamar kerjanya, minum kopi, dan mencoba memikirkan cara untuk memenangkan kembali hati putrinya—atau memikirkan cara untuk menghentikan hatinya sendiri agar tidak goyah.
Aku menang Babak ini, bukan dengan amarah, tapi dengan ketulusan dan waktu yang kuhabiskan bersamanya. Aku berhasil mendapatkan hati Lili. Sekarang, aku harus lebih waspada. Arvino tidak akan membiarkan ini berlanjut tanpa perlawanan yang lebih besar.
...****************...
Bersambung...
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
tidak banyak tokoh yg diceritakan.
ditunggu cerita selanjutnya kak