Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
"Tas siapa itu, Yon?" tanya Elang dengan pandangan tajam.
"Shela," jawab Dion dengan nada datar.
Mata Elang membelalak, seolah-olah ada gempa yang mengguncang sanubarinya. "Shela? Gimana bisa tasnya Shela berakhir di tangan lo?"
"Dia tadi telat, jadi tasnya dititip ke gue," jawab Dion singkat.
Elang menghela napas panjang, "Yah, coba aja kalau gue yang ketemu dia duluan, pasti tasnya akan dititip ke gue."
"Bilang aja lo mau sekalian modus sama dia," cibir Dion dengan nada menyindir.
Elang terkekeh, geli. "Lo tahu saja, Dion."
Setelah upacara berakhir dan barisan dibubarkan, Dion melirik dari kejauhan. Shela tampak mengedarkan pandangan mencari seseorang. Dion yakin gadis itu tengah mencarinya. Namun, ia memutuskan untuk mengabaikannya, menikmati rasa puas dalam menjahili Shela yang terkenal galak. Melihat wajah Shela yang garang dan kesal menjadi tontonan yang menghibur baginya, seolah menyaksikan drama kehidupan yang tak ada duanya.
"Eh, lo kenapa senyam-senyum sendiri begitu? Jangan-jangan lo lagi mikirin yang aneh-aneh, ya?" Elang melemparkan pandangan curiga pada Dion.
"Hei Elang, gue bukan lo ya yang suka mikirin yang aneh-aneh. Sana, gabung sama yang lain; gue ngembaliin tas Shela dulu," seru Dion sambil melangkah pergi.
Elang menggerutu pelan. "Ya, ya, gue ke sana,awas Lo jangan lama-lama!" sahutnya sambil wajahnya merengut, penuh dengan rasa tidak suka, lalu ia berlalu menuju kelompok OSIS.
Dion berjalan menuju sisi lapangan, matanya tak lepas dari sosok Shela yang tampak gelisah mencari-cari seseorang di antara orang-orang yang mulai meninggalkan lapangan. Tatkala mata mereka bertemu, ekspresi Shela yang semula cemas berubah menjadi kesal. Di sudut bibir Dion, tersungging senyum simpul yang tajam, menangkap tiap rinci perubahan ekspresi pada wajah gadis itu. Seolah-olah dia tahu persis bagaimana mengendalikan emosi orang lain hanya dengan tatapan matanya.
"CK! Gue cariin juga lo!" ucap Shela ketika sudah berhadapan dengan Dion
Dion tertawa kecil. "Cie, nyariin gue," ujarnya berniat menggoda gadis itu
Shela memutar bola matanya."Tas gue mana?!" serunya dengan nada datar.
"Yaelah, santai aja. Ga usah buru-buru," jawab Dion seraya mengulurkan tas milik Shela yang telah dia temukan.
Dengan segera, Shela meraih tasnya dari tangan Dion, kemudian dengan cepat ia memeriksa isinya, memastikan tidak ada yang hilang. "Gue bukan maling, kok. Tenang saja, barang-barang lo aman," ujar Dion berusaha menenangkan.
Shela menatap Dion, ada rasa terima kasih yang ingin ia ungkapkan tapi kata-kata itu tak kunjung keluar. Dengan raut dingin, dia berbalik dan berjalan menuju kelasnya.
"Duh, emang dasar! Kalau orang udah ditolong, minimal bilang makasih kek. Ini malah cuek bebek, pergi begitu saja," gumam Dion dengan nada kecewa sambil menggelengkan kepala.
"Hei!" seru Dion memanggilnya lagi.
Shela yang sudah beberapa langkah menjauh, menoleh kembali. "Mana makasihnya?" teriak Dion, setengah berharap.
"Makasih," balas Shela dengan suara yang cukup lantang. Kata itu terdengar seperti terpaksa, seakan terlempar begitu saja. Tanpa menoleh lagi, dia melanjutkan langkahnya, meninggalkan Dion yang masih berdiri dengan perasaan campur aduk.
____
Shela keluar dari kelasnya dengan wajah muram, hari ini ia merasa sial. Tugas yang dia kerjakan dengan susah payah malah tertinggal di kamarnya, belum lagi yang mengajar adalah guru killer. Sebagai hukuman Shela di suruh untuk membersihkan ruang kesenian seorang diri lima belas menit sebelum jam pelajaran guru itu berakhir.
Shela menggerutu sendiri selama berjalan menuju ke ruang kesenian, kenapa harus dirinya yang membersihkan ruangan itu. Padahal kan ada anggota ekstrakurikuler musik yang pasti akan selalu membersihkannya. Tapi Shela cukup bersyukur karena tidak di hukum untuk membersihkan toilet atau berlari mengelilingi lapangan.
Shela membuka ruang kesenian itu, ia cukup takjub dengan alat-alat musik yang mendominasi di dalam ruangan itu. Tatapannya langsung tertuju pada beberapa deteran gitar yang tersusun rapih di sana. Ia tak menyangka fasilitas yang ada di sana cukup menarik. Ia memutuskan untuk lihat-lihat sebentar sebelum membersihkan ruangan itu.
Cukup puas melihat-lihat, ia pun langsung menyapu ruangan yang cukup luas itu. Beruntun ruang kesenian tidak terlalu kotor hanya perlu disapu saja. Lima menit kemudian Shela sudah menyapu ruangan itu, tapi rasanya Shela enggan beranjak dari sana apagi melihat gitar-gitar itu.
Shela menaruh sapu di tempat semula, ia lalu mengambil salah satu gitar dan mencoba memainkannya. Seharian berlatih kemarin membuat ia menguasai kuncinya, Shela mengeluarkan ponselnya lalu mencari lagu dengan chord yang mudah dia mainkan dan juga familiar di telinganya.
Ia mulai memetik senar gitar perlahan sambil sesekali melihat ke ponselnya untuk menyesuaikan chord-nya.
Shela berdecak beberapa kali, karena ternyata memainkan gitar tak semudah bayangannya, meski sudah menguasai kuncinya bukan berarti akan langsung menguasai cord suatu lagi. Buktinya dia sudah mencoba memainkan sebuah lagu namun selalu terdengar tidak pas. Setelah ini Shela musti belajar lagi.
Shela mendadak terperanjat ketika sosok yang tidak diharapkannya, Dion, tiba-tiba muncul di ambang pintu ruangannya. Dia segera mengelus dadanya yang terasa berdebar, matanya mengecil dalam kejengkelan. "Eh, ketemu lagi," seru Dion dengan nada semringah yang tampak menantang. "Ngapain lo di sini?" gumam Dion dengan nada ramah.
Shela meletakkan kembali gitarnya di sudut ruangan. "Buat apa kek, bukan urusan lo," balas Shela ketus, langkahnya hendak melaju keluar dari ruangan itu, mencoba mengabaikan kehadiran Dion.
Namun, tiba-tiba Dion berkata, "Mau gue ajarin main gitar?" Ucapannya itu langsung menghentikan Shela di pintu. Dia berbalik, matanya menatap tajam ke arah Dion, seolah mencari tahu apakah ini sekadar candaan.
"Emang lo bisa?" tantang Shela dengan sebelah alisnya yang terangkat, penuh keraguan.
Dion menghela napas panjang, sebuah isyarat kesabaran yang teruji. "Kayaknya di mata lo, gue ini gak punya kelebihan, ya? Tentu saja gue bisa. Gue anak musik, Anshela," ujarnya, nada suaranya lembut namun penuh keyakinan.
Shela, meski masih terlihat ragu, mengangguk pelan. "Oh, ya udah. Pulang sekolah gue ke sini lagi."
"Oke, gue tunggu," sahut Dion, sebuah senyum kecil menghiasi wajahnya, menandakan sebuah pertemuan yang mungkin akan mengubah segalanya.
___
Pulang sekolah Shela berjalan menuju ke arah ruang kesenian, sesampainya di sana Shela tidak ada siapapun di sana. Shela menunggu Dion di depan ruang kesenian, sebenarnya ia tidak berharap jika laki-laki itu benar-benar datang. Jika dalam lima belas menit laki-laki itu tidak datang maka ia akan maka ia akan langsung pulang. Tanpa di duga lima menit kemudian laki-laki itu datang.
"Sorry nunggu lama, gue ke ruang OSIS dulu tadi," ujar Dion ketika sudah berada di hadapan Shela.
Shela bergumam." Gak apa-apa,"ujarnya.
Dion lalu mempersilahkan Shela masuk dan menyuruhnya untuk duduk di kursi yang ada di sana. Sedangkan Dion mengambil salah satu gitar dan memberikannya pada Shela.
"Sudah menguasai kunci-kuncinya, kan?" tanya Dion dengan tatapan penuh harap.
Shela hanya bisa mengangguk. "Iya, cuma butuh latihan lebih, sepertinya."
"Tenang, kalau gitu gue semakin mudah buat ngajarinnya," Dion berkata sambil meraih gitar di sebelahnya. Senar gitar bergetar di bawah jemarinya saat ia mulai mengajar Shela.
"Ah, kenapa selalu gak pas ya?" keluh Shela, frustasi melanda. Iya kesal karena sudah satu jam belajar tapi nada yang dia hasilnya dari petikan gitarnya tidak pernah pas.
"Sabar, Shela. Belajar itu memang butuh waktu. Tapi lihat, lo udah membuat kemajuan yang signifikan. Lo bisa menyanyi kan?" tanyanya mencoba mengalihkan topik.
"Enggak, suara gue jelek," jawab Shela dengan nada rendah.
"Orang sering bilang suaranya jelek padahal sebenarnya bagus, loh. Ada lagu yang Lo suka?" tanya Dion mencoba menggali lebih dalam.
Shela berpikir sebentar, memilah-milah deretan lagu di kepalanya. "Banyak."
"Kalau yang paling lo suka atau yang sering lo dengerin lagu apa?" tanya Dion lagi.
Shela terdiam sejenak." Yang sering gue dengarkan adalah 'Imagination' dari Shawn Mendes," jawabnya.
"Oh, lagu itu ya?" Dion mengangguk paham. Jari-jarinya dengan lembut mulai memetik senar gitar, menciptakan melodi yang manis dan familiar yang segera menyihir telinga Shela. Tanpa sadar, Shela mulai bernyanyi, suaranya melengking indah, menyatu sempurna dengan alunan gitarnya. Dion sesekali memandang Shela, senyumnya mengembang, dia benar tentang satu hal: Shela memiliki suara yang luar biasa.
Secara otomatis Shela mulai bernyanyi, menyamakan lirik dengan alunan gitarnya. Sesekali Dion melirik ke arah Shela, benarkan dugaannya jika Shela memiliki suara yang bagus.
Tepuk tangan Dion menggema seketika Shela mengakhiri lagunya. "Suara lo bagus banget, kenapa gak coba gabung ekskul musik? Lo pasti jadi vokalis yang hebat," puji Dion dengan antusias.
Shela hanya menggeleng lembut. "Gue gak suka jadi sorotan," sahutnya sambil tersenyum tipis.
"Jadi playlist lagu lo, penuh dengan lagu galau?" tanya Dion, rasa ingin tahu terpancar di wajahnya.
Shela menggeleng lagi. "Gak juga."
Dion terkejut. "Wow, gue gak nyangka cewek kayak lo bisa ngerasain galau juga."
Matanya Shela menyipit, iritasi merambat di nadanya. "Gue juga manusia."
Dia bangkit, menjemput gitarnya dan memasukkannya kembali ke dalam tasnya. Dion menyadari kekhilafannya dan segera meredam situasi. "Eh, kemana? Lo marah ya? Gue cuma becanda, Shela."
Shela berhenti, punggungnya masih menghadap Dion. "Gue mau pulang," ujarnya, suara kaku memotong ruangan.
"Besok...mau belajar gitar lagi?" Dion coba menyelamatkan situasi, suaranya lembut, penuh harap.
Shela terdiam sejenak, mempertimbangkan. Akhirnya, "Boleh, pulang sekolah gue tunggu di sini lagi," jawabnya, dan langkah kakinya membawa dia menjauh dari ruangan itu.
Dari kejauhan, Dion menatap punggung Shela yang semakin lama semakin menghilang. Senyum tipis menghiasi sudut bibirnya. "Kayaknya gue udah benar-benar tertarik sama lo, Shela." Sambil hatinya berdesir menyadari ada sesuatu yang spesial.