Zevanya terpilih menjadi lulusan terbaik di kota ini, masa depan yang cemerlang serta paras cantik membuatnya menjadi wanita yang nyaris sempurna, namun secara mengejutkan ia mengalami kecelakaan fatal yang mengubahnya menjadi seorang wanita buta, hingga harus dikirim keluar negeri untuk menjalani perawatan.
Tapi saat kepulangannya, ia tiba-tiba diculik dan dipaksa menikah dengan Aezar, pria yang sama sekali tidak ia kenal.
Keluarganya telah bangkrut secara tragis, ayahnya dipenjara, dan dikabarkan orang yang menghancurkan keluarganya adalah suaminya sendiri, begitu banyak hal yang terjadi membuatnya bingung.
Siapa sebenarnya pria ini? apa motif sebenarnya menikahi Zevanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mufli cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19 ( flashback)
Malam itu, Zevanya mengenakan gaun tanpa lengan yang dipadukan dengan blazer resmi, ia memang suka memakai dress dan gaun yang terlihat feminim.
Matanya yang cantik dan bersinar terpampang pada cermin berukuran besar di sudut kamar, ada berbagai macam kado yang sama sekali belum dibuka di sudut yang lain, kebanyakan kado kelulusannya atau dari beberapa pria yang ingin mendekatinya.
Ayahnya sedang tidak enak badan hingga memintanya untuk menyapa klien mereka, yang baru saja datang dari luar negeri di salah satu restoran di hotel ternama.
Zevanya yang terbiasa mengikuti Ayahnya dalam pertemuan bisnis dengan senang hati menuruti permintaan Ayahnya, lagipula setelah lulus dengan nilai terbaik ia hanya ingin mencari koneksi yang lebih luas.
Ia menyalakan mesin mini cooper kesayangannya, hadiah dari Ayahnya dua tahun lalu, mobil imut berwarna merah itu kini terparkir apik di teras rumah.
Pukul tujuh lebih sedikit ia memacu mobil dalam kecepatan sedang menuju hotel, asyik mendengarkan musik ia bahkan tidak menyadari ada sebuah mobil yang mengikutinya sejak tadi, berusaha mempertahankan jarak mereka.
Setelah memasuki area yang sedikit lengang barulah Zevanya menyadari bahwa sedari tadi ia diikuti oleh mobil yang mencurigakan, ia buru-buru menginjak gas mobilnya menambah kecepatan, namun mobil itu tampaknya masih bisa mengekorinya dengan mudah.
Mini cooper jelas bukan mobil yang didesain untuk balap, beda dengan mobil yang mengejarnya, sekejap saja mobil itu sudah dapat menyalip mobil Zevanya.
Kaget, gadis itu membanting stir nya untuk menghindari tabrakan, namun entah bagaimana mobil didepannya berputar zig zag dengan tidak beraturan.
"Apakah dia gila?!!" Zevanya menjerit saat ia tidak bisa menghindar kembali.
Dua mobil itu bertabrakan dengan cepat, keduanya terpental dan hancur, suara tabrakan yang keras bahkan bisa terdengar ke sekitar pemukiman disertai suara nyaring dan asap.
Mobil Zevanya terbalik beberapa kali sebelum masuk jurang, sedangkan mobil yang bertabrakan dengannya tidak jauh berbeda hampir seluruhnya ringsek dan penyok.
"Ayah.. apakah aku akan mati sekarang?" Zevanya bertanya setengah sadar,
Gadis itu tidak dapat menggerakan seluruh tubuhnya lagi, seolah kematian telah menunggunya, matanya buram karena darah yang merembes. Ia merintih beberapa kali sampai akhirnya tidak sadarkan diri.
Beberapa menit berlalu, saat ambulans dan bantuan datang satu-persatu, warga yang penasaran juga sudah mulai berkerumun. Melihat gadis cantik di keluarkan dari mobil yang hancur, mereka tidak bisa untuk tidak menggigil.
"Apakah menurutmu dia akan mati?"
"Lihat ini masuk berita, dia ternyata anak orang kaya, juga lulusan terbaik di kampusnya.. wah hidupnya pasti terlalu sempurna hingga surga marah"
"Benar, meski dipenuhi darah dimana-mana dia masih terlihat cantik seperti peri"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aezar mendengarkan laporan dari Antoni dengan tenang, meski begitu udara di ruangan langsung jatuh beku menandakan pria itu menahan amarahnya.
"Kami sudah meneliti apakah ada yang salah dari mobilnya, dan hasilnya menunjukan kalau remnya memang tidak berfungsi"
"Bagaimana keadaannya?" Aezar bertanya datar, namun ada tekanan besar yang dihasilkan.
"Dia koma dan aku sudah mengirimnya untuk perawatan"
"Zevanya?" tanya Aezar lagi,
"Oh.. Wijaya langsung datang ke lokasi dan membawanya ke rumah sakit, aku tidak bisa mendekatinya untuk menghindari kecurigaan"
Aezar masih duduk diam, otaknya seakan tersumbat dan tidak bisa berfikir. Apakah ia penyebab kecelakaan ini? jika terjadi sesuatu pada Zevanya ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
"Aku sudah membersihkan bukti-bukti keterlibatan kita, tapi Nyonya menyadari bahwa mobil itu adalah salah satu mobilmu.. dia mungkin tahu kebenarannya"
"Ibuku?"
Antoni mengangguk, sebisa mungkin bersikap tenang meski seluruh kakinya sekarang gemetaran, ia tahu seberapa penting wanita itu bagi bos, jika kesalahan seperti ini terjadi entah apa yang akan dilakukan bos nya.
Melihat Aezar duduk tenang seperti itu membuatnya mengingat pepatah tenang sebelum badai.
Selang beberapa detik ponsel Aezar berbunyi, nama ibu terpampang dengan jelas, ia dan Antoni berpandangan, seakan memberitahu jika tebakan mereka tadi memang benar.
"Halo bu"
"Itu mobilmu kan? itu mobil pertama yang aku berikan padamu beberapa tahun lalu" Nyonya Wiguna langsung bertanya setelah telfonnya tersambung.
Ia sedang menonton TV dirumah saat ia menonton berita itu, mungkin orang lain tidak akan sadar namun ialah yang memberi mobil itu untuk Aezar. Platnya adalah singkatan nama Aezar Wiguna. AW dan tanggal ulang tahunnya.
Tidak ada mobil jenis yang sama dengan plat yang sama juga, itu pasti mobil putranya.
"Anak buahku mengendarainya, ada yang salah dengan remnya hingga menyebabkan kecelakaan bu"
"Oh syukurlah, jantungku hampir berhenti saat kau tidak menerima telfonku beberapa jam yang lalu"
"Aku sedang meeting tadi.. jangan khawatir lagi" Aezar berusaha menenangkan ibunya, setelah wanita itu tenang ia mematikan sambungan telfon.
Matanya melirik Antoni yang masih berdiri tegap disamping,
"Bagaimana dengan orang busuk itu?"
"Orang yang akan ditemui Nona dihotel sudah chekout, ia sudah pergi melalui penerbangan paling awal, aku kehilangan jejaknya"
"Aku harus memastikan keadaannya sendiri"
"Tapi tuan..." Antoni mencoba menahannya namun tidak berguna karena Aezar beranjak dan keluar dengan kecepatan kilat.
Pria itu mengendarai salah satu mobilnya yang lain, menginjak gas dan mengemudi seperti orang kesurupan, ia langsung menuju rumah sakit dimana Zevanya dirawat.
Itu adalah salah satu rumah sakit terbaik, suasananya normal meski ada beberapa reporter yang sedang duduk di parkiran menunggu untuk meliput kecelakaan yang membuat gempar beberapa jam yang lalu.
Aezar mengganti jasnya dengan jaket kulit hitam dan memakai topi hitam dari dashboard mobilnya.
Turun, Aezar mencoba menghindari tatapan reporter dan langsung menuju ruang gawat darurat. Berjalan menyusuri lorong ia melihat Darren dan Devi di kursi tunggu ruang operasi, apakah gadis itu masih dioperasi? bathinnya.
Mengendap-endap ia memutuskan untuk duduk di sudut yang sepi, mengamati mereka diam-diam.
Satu jam, Dua jam, Akhirnya pintu Operasi terbuka, Wijaya, Darren, dan Devi sontak lagnsung berkerumun meminta kejelasan kondisi Zevanya.
"Dia baik-baik saja, sayangnya ada beberapa saraf matanya yang rusak, kami harus memeriksa lebih lanjut untuk dapat memberi diagnosis.. Tapi harap tenang karena nyawanya tidak terancam" Dokter menjelaskan dengan lembut namun tegas, Aezar bahkan masih bisa mendengarnya dengan jelas dari sini.
"Maksudmu ada kemungkinan dia buta?" Wijaya bertanya dengan cemas, ia mencengkeram tangan dokter itu dengan putus asa.
"Tenanglah pak, jika dia buta itu mungkin masih bisa disembuhkan. Kita hanya butuh kesabaran"
Buta?
Satu kata itu menghantam hati Aezar dengan kuat, ia mengenggam pengangan kursi dengan erat. Apakah dia yang menyebabkan ini semua? ia hanya ingin menyelamatkan Zevanya namun pada akhirnya malah membuat gadis itu berada dalam bahaya.
Jantungnya terasa sakit, tidak terasa air mata jatuh dipelupuk matanya, pria besar itu menangis diam-diam disudut, terlihat kesepian dan menyedihkan.
.
.
.
.
Minta vote nya dong.. maaciww