Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Atlit Cakep Di Sekolah
Siang itu, Aira berjalan tergesa-gesa di koridor sekolah.
Tangannya penuh.
Plastik berisi tabung reaksi, mikroskop mini, dan beberapa botol cairan praktikum Biologi hampir jatuh dari pelukannya.
“Kenapa Bu Silvy ngasih ke aku sih…” gumamnya panik.
Pikirannya sedang kacau, hari ini Damar kembali dingin, lebih dingin dari biasanya. Seolah tidak pernah ada sentuhan apapun.
Langkahnya goyah.
“Aduh!”
Baki itu miring.
“Eh!”
Satu botol hampir jatuh—
“Tidak.”
Dua tangan sigap menahan baki itu dari samping.
Aira tersentak.
“Eh? Maaf”
Aira mendongak.
Seorang laki-laki berdiri di depannya. Tinggi. Kulitnya agak sawo matang. Rambutnya sedikit basah, seperti habis latihan.
Seragam olahraganya masih setengah terbuka.
“Oh,” katanya sambil tersenyum. “Berat, ya?” seraya mengambil baki itu dari tangan Aira.
Aira terpaku.
“I-iya… makasih,” jawabnya gugup.
“Aku Evan, kelas dua B,” katanya santai. “Kamu kelas berapa?
“Dua E,” jawab Aira refleks.
“Oh. ” Evan mengangguk. “Kamu anak Kelas E Pantes. Kelihatan lagi ngelawan gravitasi.”
Aira terkekeh kecil meski canggung.
“Aku antar sampai lab aja, ya,” lanjut Evan.
Mereka berjalan berdampingan.
Aira baru sadar langkah Evan disesuaikan dengannya. Tidak terburu-buru.
“Ini buat praktikum?” tanya Evan.
“Iya. Bu Silvy nyuruh aku ambil dari ruang guru.”
“Kamu rajin,” kata Evan
Aira menggeleng cepat. “Enggak aku cuma… lagi nggak beruntung.”
Evan tertawa kecil.
“Lucu juga,” ujarnya. “interesting.”
Aira tersenyum tipis.
Entah kenapa, dadanya terasa lebih ringan, tidak ada tekanan,tidak ada nada menghakimi.
Sampai tiba di depan laboratorium, Evan meletakkan baki itu perlahan di atas meja.
"Aman.”
“Makasih ya” kata Aira sedikit malu-malu.
“Kalau nggak, mungkin isinya sudah pecah di lantai," Kata Aira lagi.
“Kalau gitu aku harus bantu lagi nanti,” kata Evan bercanda.
Aira tertawa.
Untuk pertama kalinya hari itu, tawanya terasa lepas.
“Aira.”
“Iya?”
“Kapan-kapan, kalau kamu butuh bantuan lagi," Evan tersenyum,
“Panggil aku aja.”
Aira mengangguk.
“Iya.”
Saat Evan pergi, Aira berdiri di lab beberapa detik.
Dadanya berdebar.
"Wah Cakep banget,"
Pertemuan itu selalu terjadi tanpa rencana.
Di depan perpustakaan, saat Aira kebingungan membawa buku setumpuk.
“Wah, kamu lagi-lagi kelihatan mau tenggelam,” kata seseorang sambil mengambil separuh buku dari tangannya.
Aira menoleh.
“Oh. Evan.”
“Kebetulan,” katanya ringan.
Kata kebetulan terdengar masuk akal.
Kebetulan berikutnya di kantin,
Aira berdiri lama menatap menu, bingung memilih.
“Kamu pasti bakal beli yang sama lagi,”
Ujar Evan dari belakang.
Aira kaget. “Kok tahu?”
“Kemarin juga itu,” katanya sambil menunjuk.
“Oh…” Aira tertawa kecil. “Iya juga.”
Aira tidak sadar Evan mengingat hal-hal kecil tentangnya.
Kebetulan Yang Kesekian kalinya...
Saat hujan turun mendadak sepulang sekolah, Evan muncul dengan payung.
“Mau pinjam,” katanya singkat.
“Tapi kamu,”
“Aku atlet. Kebal hujan,” katanya bercanda.
Aira menerimanya dengan ragu, lalu tersenyum.
Semua terasa… mudah.
Tidak canggung.
Tidak menekan.
Tidak membuat Aira merasa bodoh.
Suatu sore, Aira duduk di taman kecil belakang sekolah sambil menggambar sesorang yang selalu ada di pikirannya Damar.
Pensilnya berhenti saat bayangan jatuh di atas kertas.
“Bagus.”
Aira mendongak.
Evan lagi.
“Ini seperti tidak Asing?” tanya Evan menunjuk sketsa.
“Bukan Siapa-siapa,,” jawab Aira malu. sambil menutup buku sketsanya.
“Kamu punya bakat menggambar” katanya.
“Gambar kamu bagus.”
Aira terdiam.
Belum pernah ada yang memuji gambarnya seperti itu.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
Evan duduk di bangku sebelah, menjaga jarak.
Tidak terlalu dekat.
Tidak memaksa.
Seolah ia paham batas,dan itulah yang membuat Aira nyaman.
Tanpa sadar Aira mulai menunggu.
Menunggu wajah itu muncul di lorong.
Menunggu suara santai itu menyapanya.
Menunggu senyum yang tidak menghakimi.
Dan tanpa sadar juga Aira mulai membandingkan.
Damar yang dingin, Damar yang tajam, Damar yang selalu membuatnya ingin jadi lebih baik.
Tapi juga sering membuatnya merasa kecil.
Sedangkan Evan…
Ringan.
Hangat.
Mudah didekati.
Suatu pagi, Damar melihat Aira tertawa di depan kelas.
Bukan tawa malu.
Bukan tawa gugup.
Tawa lepas.
Di depannya Evan, Damar berhenti melangkah.
Yoan menyenggol lengannya.
“Kenapa lo pasang muka menyeramkan begitu?”
Damar tidak menjawab, matanya tidak lepas dari Aira.
“Sejak kapan dia sering bareng Evan?” gumamnya.
Yoan mengangkat alis. “Sering! ”
Damar mengepalkan tangan.
Dan saat itu ia sadar Aira mungkin polos, tapi Cowok-cowok nggak, dan kalau dia terus diam,
Seseorang akan lebih dulu mengisi hati Aira.