Kisah Kinan dan Rivan sepasang kekasih yang saling menyayangi. Akibat salah dalam pergaulan dan mengikuti ajakan buruk teman-teman yang menjerumuskan nya, membuat Rivan berubah memaksa Kinan untuk memberikan kesuciannya tanda cinta kepadanya.
Tanpa disadari perbuatan buruknya Kinan hamil, Rivan yang kebingungan akhirnya menyuruh Kinan untuk menggugurkan kandungannya. Karena Kinan tidak mau, membuat kemarahan Rivan bertambah. Sampai menjadikan Kinan bahan taruhan di teman-temanya dan membuatnya hampir mati.
Tapi Tuhan telah mengirimkan wanita tua untuk menolongnya. Kesulitan dalam perekonomian membuatnya pergi ke kota, tapi kepergiannya ternyata malah menjerumuskannya ke dunia malam.
Kevin laki-laki yang berusaha menolongnya keluar dari dunia malam. Namun karena sering bergonta-ganti pasangan, tidak ada yang percaya ketulusan cintanya pada Kinan. Rasa trauma Kinan terhadap laki-laki juga menambah kesulitan Kevin untuk mendapatkan cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Okta Diana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 19
"Oh ini modelnya? Wah luar biasa kerja Risa. Tidak sia-sia aku meminta bantuannya." Laki-laki itu melihatnya penuh kekaguman. Dia sangat optimis.
"Model? Pak Saya dijadikan mo-del?" tanya Kinan kepada sopir itu.
"Loh kamu tidak tau? Risa tidak cerita? Ah bagaimana dia itu. Ya sudah-sudah ayo cepat berpose! Aku sudah menunggumu dari tadi."
Kinan masih bingung dengan keadaan ini. Tapi dia bersyukur setidaknya Risa orang baik tidak seperti yang dia pikir. Pose demi pose dia lakukan, memang terlihat masih kaku. Tapi laki-laki itu dengan sabar memandu dan mengajarinya. Setelah selesai pemotretan Risa dijemput oleh sopir Risa dan kembali ke rumahnya.
"Mami maafkan Kinan tadi sempat berpikir buruk kepada Mami," ucap Kinan sambil tertunduk malu.
"Eem, makanya jadi Anak yang nurut. Ini kan demi kebaikan kita bersama juga," jawab ketus Risa.
"Ya sudah sana balik ke kamarmu, ingat besok kamu ada pemotretan lagi. Jadwalmu padat akhir-akhir ini jadi jaga kesehatanmu. Jangan sampai beralasan seperti tadi," ancam Risa.
Kinan akhirnya bisa tidur dengan nyenyak tidak menyangka dia akan menjadi model. Bahkan dipikirannya pun tidak ada impian itu.
...****************...
Waktu terus berjalan, Kinan semakin hari semakin dikenal. Tapi dia tidak bisa menikmati semua ini. Dia ingin pulang menengok Nenek yang telah menyelamatkan nyawanya. Lagi-lagi Risa tak mengizinkannya. Dia mulai bingung mengapa dia tidak boleh ke kampung jangankan ke kampung keluar rumah tak boleh.
Pemotretan demi pemotretan dia lakukan hampir setiap hari. Banyak laki-laki yang berdecak kagum padanya dan ingin memilikinya. Tawaran demi tawaran para laki-laki buaya itu ditolak Risa.
Sampai tiba saatnya "Kinan nanti malam kamu persiapkan dirimu! Datanglah ke hotel yang di sebelah sana. Ah sudah kamu pasti tidak tau nanti biar diantar sopirku. Tidurlah siang!"
Risa meninggalkannya begitu saja. Hari ini dia terlihat senang sekali. Kinan hanya duduk termenung. Semua ini sangat membosankan baginya. Bahkan dari awal sampai sekarang wanita itu tak mengajinya sama sekali. Bukankah bayaran seorang model itu besar? Ah dia sangat tidak tau soal itu. Mungkin 20 juta yang dia pinjam belum cukup.
Malam pun tiba. Tidak ada kecurigaan sama sekali di diri Kinan. Dia memakai baju yang telah disiapkan Risa sebelumnya. Sopir mengantarkannya sampai di depan pintu salah satu kamar hotel itu.
"Ini kamarnya kamu masuk saja, saya akan menunggumu dibawah." ucap sopir itu.
Kring kring.
Telepon Kinan berbunyi.
"Sudah sampai hotel?"
"Sudah."
"Cepat masuk, layani tamu kamu dengan baik jangan mempermalukanku didepannya, dia bos besar dia sudah membayar kita mahal dan ingat kamu jangan coba-coba untuk kabur."
Tut tut tut.
Bunyi telepon dimatikan.
"Halo, Mami, halo?"
"Apa maksudnya? Jangan-jangan dia menjualku."
Kinan ragu-ragu untuk memencet bel di pintu itu. Pikiran buruknya terhadap Risa menghantui nya lagi.
Dia menghela napas, "Huuufff huuufff tidak, tidak mungkin selama ini Risa baik terhadapku, dia memberikan aku pekerjaan ini."
Dipencetlah bel itu, setelah pintu itu terbuka terlihat lah seorang laki-laki tinggi sekitar 180 cm, tampan, bertubuh atletis, berkulit putih bersih, dengan tatapan tajam memandang Kinan.
"Kamu Kinan? Wah lebih cantik aslinya dari pada di foto. Masuklah!" laki-laki itu tampak begitu ramah.
Kinan berjalan pelan sambil melihat kiri kanan ruangan kamar. Laki-laki itu tak berkedip melihatnya dari belakang atas sampai bawah Kinan tampak sempurna.
"Duduklah disitu aku ke kamar mandi sebentar!" laki-laki itu menunjuk ke tempat tidurnya.
Semakin berdetak kencang jantung Kinan, ditambah suasana kamar yang sepi dan dingin sekali. Tangannya digenggam erat. Wajahnya terlihat tidak tenang. Dilihatnya kiri kanan lagi tidak ada kamera satu pun. Apa benar aku berada di kamar yang tepat? Berdiri lah dia dari ranjang itu dan tidak lama kemudian.
"Kamu sudah siap?" tanya laki-laki itu dengan tatapan penuh nafsu, dia ternyata telah melepaskan bajunya hanya bertelanjang dada dan sehelai handuk yang menyelimuti bagian tubuh bawahnya.
"A-ku?"
"Ka-mu?" jawab Kinan terbata-bata.
"Ya kita." jawab laki-laki itu dengan tersenyum. Dan berjalan pelan semakin mendekati Kinan.
Braaak.
Tiba-tiba Kinan pingsan. Laki-laki itu panik, mencoba membangunkan tapi sama sekali tidak ada respon. Dia membopongnya ke atas tempat tidur.
"Haduh apes banget. Gimana ini? Aku harus telepon Risa. Dibayar mahal-mahal malah pingsan."
Tut tut tut.
Sambil mondar-mandir di samping tempat tidur laki-laki itu menelepon Risa tapi tidak ada jawaban sama sekali.
Sudah lelah mondar-mandir laki-laki itu akhirnya duduk di atas tempat tidur, dia melihat Kinan. Dan sangat mengagumi kecantikannya.
"Gadis ini cantik sekali, coba kalau tidak pingsan mungkin saat ini aku sudah bersenang-senang bersamanya. Dan Rey kau akan kalah lebih cepat denganku untuk mendapatkan nya. He, he, he." ucapnya lirih sambil tak henti-hentinya memandangi Kinan.
Perlahan mata indah itu membuka, pandangannya masih kosong dan terlihat bingung.
"Aaaahhhkk," teriak Kinan dengan kencang. Ada laki-laki di sampingnya sedang memandangi. Matanya terbelalak tajam melihat laki-laki itu, tangannya cepat-cepat untuk meraih selimut dan menutupi tubuhnya.
"Kamu sudah sadar cantik? Hei kenapa Kamu ketakutan begitu? Aku belum menyentuhmu. Atau ini pasti pengalaman pertamamu ya jadi kamu gugup?" tanya laki-laki itu sambil mengelus rambut Kinan.
"Jangan sentuh Aku! Aku mohon Pak jangan!" ucap Kinan.
"Hei Aku sudah membayarmu 100 juta ke Risa, kenapa seperti ini caramu? Aku tidak mau tau Risa harus mengganti semua uangku!" Diambil lah ponselnya. Kinan bertambah gugup.
"Pak jangan Pak! Aku minta maaf tapi tolong jangan telepon Risa. Pasti aku akan dimarahi dan disuruh mengganti uang yang dia pinjamkan padaku."
"Itu bukan urusanku." laki-laki itu tampak begitu marah dan kecewa.
"Pak aku mohon nanti aku akan dijual lagi ke laki-laki lain!" Kinan bersujud di kaki laki-laki itu.
"Kan memang itu pekerjaanmu. Setelah ini juga kamu akan ditawarkan ke bos-bos lain," ucap laki-laki itu.
"Benarkah itu Pak? Selama ini aku ditipunya. Lalu mengapa dia memberikan aku pekerjaan sebagai model?" tanya Kinan kebingungan.
"Haduh polos banget kamu, ya biar hargamu naik lah."
Air mata itu mulai mengalir membanjiri pipinya, "Hei kenapa kamu nangis? Eh diam dong aku kan tidak membentakmu. Nada suaraku memang seperti ini."
"Pak tolong aku! Aku akan menggantikan semua uangmu. Tapi tolong bawa aku menjauh dari Risa! Aku takut dia akan menjualku lagi."
Dengan rasa kasihan laki-laki itu selalu memandangi Kinan yang sedang menangis tersedu-sedu.