Raka Pradipta 22th, seorang mahasiswa yang baru bekerja sebagai resepsionis malam di Sky Haven Residence, tak pernah menyangka pekerjaannya akan membawanya ke dalam teror yang tak bisa dijelaskan.
Semuanya dimulai ketika ia melihat seorang gadis kecil hanya melalui CCTV, padahal lorong lantai tersebut kosong. Gadis itu, Alya, adalah korban perundungan yang meninggal tragis, dan kini ia kembali untuk menuntut keadilan.
Belum selesai dengan misteri itu, Raka bertemu dengan Andika, penghuni lantai empat yang bisa melihat cara seseorang akan mati.
Ketika penglihatannya mulai menjadi kenyataan, Raka sadar… apartemen ini bukan sekadar tempat tinggal biasa.
Setiap lantai menyimpan horornya sendiri.
Bisakah Raka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Dekranasda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran yang Terungkap
Dinding bata itu runtuh dengan suara menggelegar, menebarkan debu tebal ke seluruh ruangan.
Anton terbatuk-batuk, berusaha melihat melalui kabut debu yang menyelimuti mereka. Maya menjerit dan mundur ke belakang, sementara Aurel tetap berdiri di tempat, tubuhnya kaku.
Dan di tengah puing-puing dinding yang hancur…
Seseorang merangkak keluar.
Tubuhnya kurus kering, dengan kulit pucat yang melekat erat di tulang. Pakaiannya robek dan berdebu, rambutnya kusut menutupi sebagian wajahnya.
Mata kosong itu menatap mereka.
Raka menelan ludah, jantungnya berdegup kencang. Itu bukan manusia… bukan lagi.
Lalu, makhluk itu membuka mulutnya, suara seraknya menggema di ruangan yang sunyi.
"Aku… masih di sini…"
Anton gemetar, matanya membelalak ketakutan. "Ini nggak mungkin. Nggak mungkin!"
Aurel, meski tubuhnya menggigil, mencoba mengumpulkan keberaniannya. "Siapa… siapa kamu?"
Makhluk itu perlahan mengangkat kepalanya. Bibirnya melengkung membentuk senyum yang terlalu lebar untuk wajah manusia.
"Reno Darmawan."
Maya tersentak mundur, menutup mulutnya. Anton hampir terjatuh karena kakinya melemas.
Aurel melirik jasad yang terbaring di lantai. Jadi kalau itu Reno Darmawan… siapa yang ada di depan mereka sekarang?
Raka mencoba mengatur napasnya, menatap makhluk itu dengan hati-hati. "Kalau kamu Reno… kenapa kamu masih di sini?"
Makhluk itu menatap Raka dengan intens. Lalu, perlahan, ia mengangkat tangannya yang kurus dan menunjuk ke arah jasadnya sendiri.
"Karena aku belum ditemukan."
Anton tersentak. "Tunggu, apa maksudnya?"
Maya berbisik dengan suara bergetar. "Rohnya masih terperangkap… karena jasadnya belum ditemukan oleh dunia luar."
Aurel menelan ludah. "Jadi… kalau kita melaporkan ini ke polisi…?"
Makhluk itu tersenyum tipis, samar. "Maka aku bisa pergi."
Suasana di dalam kamar 609 terasa semakin berat.
Raka menatap yang lain dengan serius. "Kita harus segera keluar dari sini dan melaporkan ini."
Anton tidak perlu diminta dua kali. Ia menarik tangan Maya dan segera melangkah menuju pintu. Aurel mengikuti di belakangnya, sesekali menoleh ke arah makhluk itu.
Namun, tepat sebelum mereka pergi, Reno berbicara lagi.
"Terima kasih."
Lalu, tubuhnya mulai memudar, perlahan menghilang ke dalam bayangan kamar.
Ketika mereka berkedip… dia sudah tidak ada.
________________________________________
Beberapa jam kemudian…
Suara sirene polisi memenuhi udara malam. Petugas forensik berlalu-lalang di koridor lantai enam, membawa jasad Reno Darmawan keluar dari kamar 609.
Raka dan yang lainnya duduk di lobi apartemen, masih dalam keadaan syok. Anton menatap kosong ke lantai, Maya menggenggam tangannya sendiri erat-erat, Aurel hanya diam, sementara Raka menatap langit malam dari jendela.
Seorang petugas datang menghampiri mereka. "Kami telah menemukan catatan Reno Darmawan dalam laporan orang hilang tiga bulan lalu. Sepertinya dia dikurung di ruangan tersembunyi di balik lemari itu dan dibiarkan mati di sana."
Maya menunduk. "Jadi dia… sengaja dibunuh?"
Petugas itu mengangguk. "Kami masih menyelidiki, tapi dugaan sementara, ini adalah kasus pembunuhan yang telah ditutupi dengan baik."
Aurel bergumam, "Tapi kenapa kamar 609 dibiarkan kosong selama dua tahun?"
Petugas itu menghela napas. "Kami menemukan sesuatu yang lebih aneh. Menurut data apartemen… Reno Darmawan seharusnya tidak pernah menyewa kamar itu."
Mereka semua menatap petugas itu dengan ekspresi bingung.
"Menurut dokumen resmi," lanjutnya, "kamar 609 telah kosong selama dua tahun. Tapi Reno Darmawan tetap ditemukan di dalamnya. Seolah-olah… dia tinggal di tempat yang tidak pernah ada dalam catatan kami."
Hening.
Anton mengusap wajahnya dengan kasar. "Gue bener-bener nggak ngerti lagi."
Petugas itu berdiri. "Kami akan terus menyelidiki. Tapi kalian sudah melakukan hal yang benar dengan melaporkan ini."
Setelah petugas pergi, mereka berempat tetap duduk dalam keheningan.
Maya akhirnya berbicara, suaranya masih gemetar. "Jadi… Reno sekarang udah tenang?"
Raka mengangguk pelan. "Ya. Dia akhirnya ditemukan."
Mereka semua menatap ke arah pintu keluar apartemen, di mana mobil forensik mulai bergerak, membawa jasad Reno untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Aurel menghela napas panjang. "Kita nggak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di kamar 609."
Anton mendengus. "Dan gue nggak peduli. Gue kapok urusan sama hal-hal kayak gini."
Maya tersenyum kecil. "Tapi kita berhasil."
Raka menatap lorong lantai enam untuk terakhir kalinya. Kali ini, kamar 609 tampak sunyi.
Dan untuk pertama kalinya… tidak ada suara yang datang dari dalamnya.
________________________________________
Epilog
Beberapa hari setelah kejadian itu, kamar 609 secara resmi disegel dan tidak akan disewakan lagi.
Raka, Aurel, Maya, dan Anton kembali ke kehidupan mereka masing-masing. Namun, di malam-malam tertentu, saat melewati lantai enam, mereka masih merasakan hawa dingin yang familiar.
Bukan ancaman.
Hanya sebuah perasaan…
Seolah seseorang masih mengawasi mereka, dalam diam.
Dan setiap kali mereka menoleh…
Tidak ada siapa-siapa.
Tapi mereka tahu.
Reno Darmawan akhirnya telah pergi.
Tapi jejaknya… akan selalu ada.
ke unit lantai 7