Anna tidak pernah membayangkan bahwa sebuah gaun pengantin akan menjadi awal dari kehancurannya. Di satu malam yang penuh badai, ia terjebak dalam situasi yang mustahil—kecelakaan yang membuatnya dituduh sebagai penabrak maut. Bukannya mendapat keadilan, ia justru dijerat sebagai "istri palsu" seorang pria kaya yang tak sadarkan diri di rumah sakit.
Antara berusaha menyelamatkan nyawanya sendiri dan bertahan dari tuduhan yang terus menghimpitnya, Anna mendapati dirinya kehilangan segalanya—uang, kebebasan, bahkan harga diri. Hujan yang turun malam itu seakan menjadi saksi bisu dari kesialan yang menimpanya.
Apakah benar takdir yang mempermainkannya? Ataukah ada seseorang yang sengaja menjebaknya? Satu hal yang pasti, gaun pengantin yang seharusnya melambangkan kebahagiaan kini malah membawa petaka yang tak berkesudahan.
Lalu, apakah Anna akan menemukan jalan keluar? Ataukah gaun ini akan terus menyeretnya ke dalam bencana yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunuh diri
Anna duduk di sudut ruangan gelap itu, punggungnya bersandar pada dinding dingin dan kotor. Nafasnya pelan, hampir tak terdengar, seolah-olah ia takut keberadaannya sendiri akan membangunkan sesuatu yang mengerikan. Perutnya sudah terbiasa dengan kelaparan, tapi pikirannya tidak. Ia lelah, tubuhnya lemah, tapi ketakutan yang menjalar di dadanya jauh lebih besar daripada rasa lapar yang menghantuinya.
Dua hari. Hanya air putih dan nasi yang nyaris busuk. Namun, tubuhnya tetap bertahan, entah bagaimana caranya. Apakah ini hukuman? Atau peringatan? Ia tidak tahu. Yang jelas, ia merasa perlahan-lahan kehilangan dirinya sendiri.
KLENG!
Bunyi logam bergema di ruangan yang sepi. Anna mendongak, matanya sayu, hanya untuk melihat selembar kertas kotor yang terselip di celah pintu besi itu. Jari-jarinya gemetar saat ia mengambilnya, tetapi sebelum ia sempat membuka lipatannya, suara berat yang begitu familiar menyusup ke telinganya.
"Dimakan. Jangan biarkan bersisa."
Jantungnya berdebar. Suara itu... Suara Paman Chao Fang.
"Paman..."
Namun, bayangannya telah menghilang di balik kegelapan. Tidak ada jawaban. Tidak ada penjelasan. Hanya dirinya, kertas itu, dan ketakutan yang semakin mengoyak batinnya.
Dengan tangan gemetar, ia membuka lipatan kertas itu. Tulisan kasar dan terburu-buru memenuhi permukaannya:
"Pergi dan akhiri semua ini. Harry tidak pantas mati begitu saja. Aku tidak yakin ia memiliki fisik yang kuat. Ia juga manusia."
Anna terdiam. Sekujur tubuhnya membeku.
Setelah Kevin… kini Harry? Apakah ia harus menyaksikan lagi penderitaan lain? Ataukah ia sendiri yang harus mengakhirinya? Apakah itu berarti… ia harus membunuh?
Pikirannya berputar-putar dalam ketakutan. Air mata panas mengalir tanpa bisa ia tahan. Ini terlalu kejam. Terlalu menyakitkan. Tapi di dunia ini… siapa yang bisa memilih nasibnya sendiri?
Pelan, dengan perasaan yang semakin hancur, Anna memasukkan kertas itu ke dalam mulutnya, mengunyahnya seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya. Rasanya pahit, penuh debu, menjijikkan. Tapi yang lebih pahit dari itu adalah kenyataan yang menunggunya.
Besok, mungkin nyawa Harry akan menjadi taruhan. Dan Anna tak tahu apakah ia bisa bertahan melihatnya... atau justru menjadi tangan yang mencabutnya.
Tak lama…
Langkah itu mendekat, menggema di lorong sempit yang gelap dan berbau besi karat. Jantung Anna mencelos, ketakutan mencengkeramnya lebih erat dari sebelumnya. Siapa yang datang kali ini?
KLENG!
Suara itu terdengar lebih pelan dari sebelumnya, tetapi cukup untuk membuat tubuhnya menegang. Ia bisa melihat bayangan seseorang di balik pintu besi itu—samar, tapi nyata.
Suara berat yang sudah ia kenal mengisi ruangan.
"Kau harus memikirkan orang lain. Selain Harry. Sipir-sipir sekutu juga tak bisa terus bertahan."
Nada suara Paman Chao Fang lebih tajam kali ini. Ada kemarahan. Ada ancaman. Seakan-akan semua ini adalah salahnya. Seakan-akan semua ini bisa berakhir hanya jika ia mau bertindak.
Anna adalah sumber masalah. Anna juga satu-satunya yang bisa menyelesaikannya.
Tangannya mengepal. Napasnya pendek.
"Paman… bagaimana caranya?"
Chao Fang terdiam sejenak sebelum menjawab dengan suara lebih rendah, tapi tetap penuh tekanan.
"Kenali setiap yang datang. Kau pasti mengingat siapa yang terakhir kau temui."
Siapa? Anna berusaha mengingat. Wajah-wajah samar berkelebat di pikirannya—semua sipir, semua orang yang pernah melewatinya. Lalu… bayangan itu menjadi jelas.
Sipir yang mengantarnya pada Ethan.
Ethan…
Darah di tubuhnya terasa membeku saat nama itu melintas di benaknya. Pria itu telah mengubah segalanya dalam sekejap. Situasi yang sebelumnya sudah buruk, menjadi lebih mengerikan. Ia tak hanya ingin Harry mati. Ia ingin setiap sekutu Harry lenyap tanpa sisa.
Sebuah teror yang lebih besar baru saja menampakkan wujudnya.
Anna membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu. Tetapi sebelum kata-kata itu sempat keluar, Chao Fang telah berbalik, melanjutkan tugasnya dengan sikap dingin seolah tak terjadi apa-apa.
Ia berjalan melewati sel-sel lain, mengetuk jeruji besi dengan ujung tongkatnya, memastikan setiap tahanan masih bertahan hidup—atau setidaknya, belum mati sepenuhnya.
"Hei, bangun! Jangan ketiduran. Besok kau bisa mati jika membiarkan dirimu tidur!"
Kata-kata itu terus ia ulangi di setiap sel, seakan membangunkan orang-orang yang perlahan dibunuh oleh kejamnya waktu.
Anna menutup matanya. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar bertahan hidup. Ada sesuatu yang harus segera ia putuskan.
Dan keputusan itu… bisa menghancurkan segalanya.
Ruangan itu terasa semakin sempit. Bau besi karat bercampur dengan kelembapan yang menusuk hidung. Anna duduk membatu, pikirannya berputar seperti badai yang tak kunjung reda.
Bagaimana aku menemui sipir itu?
Ia bahkan tak bisa keluar dari tempat busuk ini. Tidak ada yang datang menemuinya. Tidak ada yang memberinya jalan keluar.
Apakah lawan sedang menunggu sesuatu?
Apakah semua ini bagian dari rencana mereka? Atau justru mereka menantinya melakukan sesuatu yang bodoh?
Kepalanya meledak dalam kebingungan.
Anna memejamkan mata, mencoba berpikir keras, menggali setiap kata, setiap isyarat yang mungkin tersembunyi. Tidak ada ruang untuk kesalahan. Jika ia ingin mengakhiri semua ini, ia harus menemukan jawabannya.
Lalu, tiba-tiba sesuatu terlintas dalam benaknya.
Kata terakhir yang diucapkan Paman Chao Fang. Sesuatu yang berbeda dari biasanya.
Hidup.
Suara Paman Chao Fang menggema dalam pikirannya.
"Hei, bangun! Jangan ketiduran. Besok kau bisa mati jika membiarkan dirimu tidur!"
Kata-kata itu… lebih dari sekadar peringatan.
Anna tertegun.
Jika kau mati… kau akan menemui orang itu.
Jawaban itu datang menghantamnya seperti petir di tengah malam.
Bunuh diri.
Tangannya bergetar. Matanya perlahan menatap ke sekeliling ruangan.
Bagaimana?
Tidak ada benda tajam. Tidak ada tali. Bahkan benang dan gunting sudah lama direbut paksa.
Dinding.
Satu-satunya yang bisa ia gunakan hanyalah dinding keras dan dingin itu.
Keraguan menyergapnya. Dadanya berdegup kencang. Benarkah ini satu-satunya jalan?
Tetapi semakin lama ia berpikir, semakin ia menyadari—tidak ada cara lain.
Ia harus melakukannya.
Tangan Anna mengepal. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu dengan sisa keberanian yang ia miliki, ia menghantamkan kepalanya ke dinding.
BRAK!
Rasa sakit menyambar seketika, membakar tengkoraknya. Penglihatannya bergetar. Lututnya lemas, tetapi ia masih berdiri.
Tidak cukup.
Lagi.
BRAK!
Tubuhnya limbung, kesadarannya nyaris terlepas. Tapi tidak. Ia masih di sini. Ia masih… sadar.
Lagi.
Pukulan terakhir.
BRAK!
Dunia berputar. Anna terhuyung, matanya gelap. Tangannya meraba dahinya… sesuatu yang hangat dan lengket menyelimuti kulitnya. Saat ia menatap telapak tangannya, bercak merah menyala terlihat di sana.
Darahnya.
Apakah aku berhasil?
Dalam gelap yang perlahan menelannya, suara hatinya berbisik lemah.
Apakah yang aku lakukan sudah benar?
Air matanya jatuh, terasa hangat di kulit yang dingin.
Mengapa mereka memaksaku… sampai sejauh ini?
Peratanyaan dalam benaknya mengiringnya dalam menuju kesepian menyelimutinya. Hampa. Dingin.
Lalu segalanya lenyap dalam kegelapan yang pekat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
kalau ada waktu mampir kesini ya