NovelToon NovelToon
My Beloved Bastard

My Beloved Bastard

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Perjodohan / Tamat
Popularitas:215.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: Freya Kara Alaika

Melati, seorang gadis berumur 15 tahun yang menjalani hari-harinya sebagai anak homeschooling dan murid Starlight Bimbel. Hidup berdua bersama sang ayah tak membuatnya merasa kekurangan kasih sayang. Dia juga memiliki sahabat bernama Tita.

Suatu malam, Melati terpaksa harus mendatangi tempat terkutuk yang sering disebut club untuk menghadiri acara ulang tahun sahabatnya. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Melati bertemu seorang pria dewasa yang membuat hidupnya berubah drastis.

Rupanya, malam itu menjadi awal mula dari kejutan-kejutan yang menghampirinya di kemudian hari. Puncaknya adalah, saat Melati terpaksa bersedia menjadi calon istri dari seseorang yang ia beri julukan 'Om-om Bastard'.

Problema hidup yang dialami seorang Putri Ayla Melati tidak cukup sampai di sana. Begitu banyak rintangan yang terus-menerus mendatanginya.

Bagaimana kelanjutan cerita Melati? Siapa 'Om-om Bastard' ini sebenarnya? Cari tahu kisah lengkapnya di novel "My Beloved Bastard".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Freya Kara Alaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Kata orang, akan selalu ada awal dan akhir untuk segalanya. Kini, aku merasakan itu. Pergi berlibur bersama teman-teman Starlight Bimbel. Sebelumnya, aku hanya bisa membayangkan betapa asyik saat-saat itu melalui kisah yang sering Bagas dan Tita ceritakan. Hari ini, meski tidak dalam rangka tour sekolah, aku akan merasakan asyiknya berlibur dengan teman sebaya.

Aku dibuat tercengang begitu sampai di depan gerbang Starlight Bimbel. Total, ada 5 bus yang akan berangkat menuju puncak. Wow! Anganku pun tak mampu membayangkan betapa ramai dan asyiknya suasana camping nanti. Oh, ya! Camping juga merupakan sesuatu yang baru untukku.

"MEL!"

Seulas senyum muncul di bibirku begitu mendapati sosok Tita—dengan balutan Hoodie biru laut, serta bawahan celana jeans biru dongker—sedang berjalan ke arahku.

"Gila! Lo udah kayak presiden tahu, nggak? Susah banget mau ketemuan doang!" seru Tita begitu telah berdiri di hadapanku.

Aku berdecak pelan. "Salahin si om-om bastard itu, tuh!"

Tita terbahak. "Lo dapat bus berapa?"

"Tadi, kata Kak Aldi, sih, gue di bus empat. Lo?"

"Serius?!" Kedua bola mata Tita berbinar. "Gue juga di bus empat!"

"Wah! Pas banget, dong!" Aku tak kalah heboh.

"Nanti duduk di sebelah gue, ya!"

"Siappp!!!"

Tak lama kemudian, terdengar pengumuman yang bersumber dari suara toa bahwa seluruh peserta harus segera masuk ke bus masing-masing. Aku dan Tita bergegas masuk ke bus empat, lalu duduk di deretan bangku sebelah kiri urutan kedua dari depan. Aku memilih kursi yang berdampingan langsung dengan jendela.

Huh! Untung saja ada bus khusus untuk para tutor. Akhirnya, aku bisa terbebas dari pantauan om-om bastard itu. Yah! Walau hanya sejenak.

Saat kami tengah sibuk menata barang, ponsel Tita tiba-tiba berdering. Keningku berkerut heran saat Tita menekan tombol reject dengan kesal.

"Siapa?" tanyaku, usai menata semua barang dan mengeluarkan sebungkus biskuit cokelat.

"Nggak penting," jawab Tita seraya mengulas senyum. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku tidak yakin. Aku tahu, si penelepon tadi pasti seseorang yang tidak ingin Tita temui. Tapi, siapa?

Suara dering telepon yang berasal dari ponsel Tita kembali terdengar. Lagi-lagi Tita mereject panggilan itu. Aku semakin penasaran. Apa ada sesuatu yang kulewatkan tentang Tita?

Lagi, ponsel Tita berdering. Kali ini, aku merebut benda pipih itu dari genggamannya. Tidak. Aku tidak berniat untuk mengangkat dan bicara pada si penelepon, aku hanya ingin tahu siapa orang itu.

"Papa?" Kedua alisku bertaut heran. Aku meletakkan kembali ponsel itu di genggaman Tita. Sama sekali tidak berniat untuk ikut campur. "Kenapa nggak diangkat?"

"Nggak pen—hallo?" Kutatap Tita yang tengah menerima telepon lamat-lamat. Mungkin, sahabatku itu merasa risih. Itulah sebabnya, Tita mengangkat telepon dari ayahnya, meski sebenarnya enggan.

"Terserah."

" ... "

"Aku nggak peduli."

" ... "

"Terserah!"

Tita memutuskan panggilan secara sepihak. Bahunya naik-turun tak beraturan, menandakan dia tengah menahan emosi yang meledak-ledak.

"Tita, bisa kamu pindah?" Suara itu membuat aku dan Tita sama-sama menoleh.

"Oh, i-iya, Pak!" Aku menarik ujung Hoodie Tita saat dia akan beranjak, mengisyaratkan bahwa aku melarangnya pindah tempat. Namun, Tita hanya bisa melayangkan tatapan penuh penyesalan sembari beranjak dari tempat.

"Bapak ngapain, sih?" tanyaku, kesal.

"Duduk."

"Kenapa di sini?"

"Memangnya kenapa?"

"Ya, Bapak, kan, harusnya ikut bus khusus tutor."

Dia tersenyum. Senyum penuh kemenangan yang membuatku darahku seketika mendidih. "Aku maunya sama kamu."

"Ish! Ini di lingkungan Starlight, kalau Bapak lupa!"

Pak Glenn manggut-manggut. "Oke. Kalau gitu, tinggal diganti: saya maunya sama kamu."

Arghhh!!! Sepertinya, aku memang tidak memiliki kesempatan untuk terbebas dari jangkauan om-om bastard ini meski sejenak! Menyebalkan!

Ah! Apa ada yang bingung?

Begini, aku dan Pak Glenn telah sepakat untuk bersikap layaknya tutor dan murid saat berada di lingkungan Starlight Bimbel. Pak Glenn yang memintanya, sebab dia mendapat teguran dari seorang tutor senior yang mengetahui tentang hubungan khusus di antara kami. Katanya, tutor senior itu adalah salah satu klien Pak Glenn di kantor. Aku hanya bisa terbahak dalam hati kala membayangkan bagaimana ekspresinya ketika mendapat teguran itu. Andai saja kudapati dengan mata kepalaku sendiri.

***

"Mel?"

"Apa, sih?!" Si om-om bastard ini lagi-lagi berulah! Barus saja aku memejamkan mata untuk melenyapkan rasa kantuk, tapi dia tidak mengizinkanku tidur dengan tenang!

"Sini, sandaran di bahu saya."

Aku hanya mendengkus keras, lalu kembali memejamkan mata dengan kepala bersandar di jendela bus.

'Dug!'

"Awh!" Aku meringis ngilu. Kepalaku terantuk pinggiran jendela yang cukup keras.

"Kan, saya bilang juga apa." Tanpa membuka mata, aku tahu Pak Glenn tengah menarik kepalaku untuk bersandar di bahunya. Karena kantuk yang sudah menguasai penuh pelupuk mata, aku tidak peduli dan melanjutkan perjalanan ke alam mimpi.

Namun, mataku terbelalak begitu merasakan embusan napas hangat menerpa wajahku. Aku segera menjauhkan kepalaku dan kembali bersandar di jendela.

Pak Glenn! Lagi-lagi dia!

"Eh ... mau ngapain?" Tangannya melayang, ingin kembali meraih kepalaku, namun aku cepat-cepat menghalanginya. "Okay. I'm sorry. Saya janji nggak akan ganggu tidurmu lagi, ya?"

Aku menggeleng kuat.

"Nanti kepala kamu sakit, Melati. Serius. Kali ini kamu bisa tidur nyenyak. Kamu bisa lakukan apapun kalau saya macam-macam, gimana?"

Aku menatapnya lekat-lekat. Dia manggut-manggut, meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang berbohong. Baiklah. Aku menurut. Kusandarkan kepalaku di bahunya. Nah! Begini, kan ... enak.

***

Hamparan hijau menyatu dengan danau yang jernih, embusan udara sejuk yang telah lama meninggalkan Ibu Kota. Sebelumnya, aku hanya bisa melihat pemandangan ini dari sebuah layar, lalu membayangkan rasanya ketika aku berada di sana. Aku bersama dua orang temanku baru selesai memasang tenda. Tita dan Gea, mereka rekan yang akan menempati tenda merah itu denganku.

"Sendirian aja, nih?"

Aku menoleh ke kanan, lalu tersenyum lebar begitu mendapati sosok Aldi yang tengah menyomot roti miliknya dengan mata menyipit ke arah danau. "Iya, sendiri."

"Ke mana Pak Glenn?"

Kedua alisku bertaut, heran. "Hah?"

Aldi menoleh, menatapku tanpa ekspresi yang berarti. "Lo ada hubungan apa sama Pak Glenn?"

"Maksudnya?"

Alih-alih menjawab, Aldi malah beranjak dari duduknya. "Udah waktunya kumpul. Yuk!"

Benar kata Aldi, saat itu pula, terdengar suara sirine toa yang menandakan panggilan untuk berkumpul. Untuk itu, aku bergegas menyusul Aldi yang sudah melenggang terlebih dahulu.

"Selamat pagi semuanya!!!" sapa Pak Romi dengan semangat yang membara.

"Pagi, Pak!" sahut seluruh peserta camping.

"Setelah ini, saya akan membacakan tata tertib dan nama kelompok kalian masing-masing."

Setiap kelompok terdiri dari sepuluh orang. Delapan peserta dengan satu orang pemimpin, dan seorang pembina yang berasal dari tutor.

"Kelompok tiga. Pak Glenn sebagai pembina, Aldi sebagai pemimpin, dan Tita, Bagas, Gea, Melati ...."

Aku hanya bisa menghela napas kasar begitu Pak Romi membacakan nama-nama kelompokku. Ini pasti disengaja. Pak Glenn tidak mungkin melepasku begitu saja. Huh!

"Sekarang, silakan baris dengan kelompok masing-masing."

Aku melangkah gontai menuju barisan kelompok tiga. Dari sekian banyak lelaki, mengapa harus bersama Bagas, Aldi, dan om-om bastard itu?

"Asyik! Satu kelompok, nih, kita!

Aldi melewatiku seraya menempati barisan terdepan. Aku berdiri tepat di belakangnya—Pak Glenn yang minta. Agenda berikutnya adalah pembukaan, lalu istirahat selama 2 jam. Aku melirik jam berwarna hitam yang melilit pergelangan tangan kiriku, pukul 12.35, pantas saja pelupuk mataku terasa berat.

Tidur di tenda bolehlah, ya?

Setelah merasa cukup bersantai di pinggir danau, aku beranjak dari dudukku, hendak menuju tenda. Namun, saat aku berdiri dan akan melangkah, seseorang mencekal pergelangan tanganku.

"Mau ke mana?"

*

*

*

*

*

**Hi, guys! Apa kabar? Baik, 'kan? Apa ada yang kurang baik? Butuh tempat cerita? Sini-sini, author siap dengerin.

Canda! :D

Eh, serius aja, deh. Boleh DM di IG (@fi.reya_act).

Lah, malah promosi, wkwkwk.

Sejauh ini, gimana tanggapan kalian tentang 'My Beloved Bastard'? Suka, nggak? Seru? Alurnya terlalu mainstream, kah? Atau gimana? Komen, ya!

Oh, iya! Author mau menyampaikan pesan untuk kalian semua.

Nih, dapat salam dari NENG MEL-MEL.

:D**

1
Jaenah Susanti
mdh²n Mawar yg jadi pendonor nya..
Syamsimar Burhan
Assalamualaikum,...
Kpn lanjutannya..???
Di tunggu lho....😊😊
💋🅲🅷🆈💋
jadi senyum2 sendiri😊😊😊
💋🅲🅷🆈💋: semangat othor💪
total 2 replies
💋🅲🅷🆈💋
visualnya uwwu banget😍😍😍
💋🅲🅷🆈💋
sempat degdegan🙄🙄🙄
Yanti Yulianti
cigogoy
Yanti Yulianti
bubigo
Akifah Naila
lanjuttttt
Susi Lanita
lanjut..
Susi Lanita
antara O'on dan berhati tulus sepertinya beda tipis, kan ada keamanan bandara, atau dilaporkan ke informasi, gmn klu dituduh penculikan anak adeh.. melati melati..
Shanum Azkadina
lanjut donk seru loe
Susi Lanita
pipi melati yg disayat, tdk berbekas kah?
ngilu bayang kan nya..
Woro Aji W
pas bgt visualnya tor
Rahmi Miraie
bolehlah
Way-naviza
lanjut... 👍
pecinta time travel
boleh s2 nya
Alifia C.T: Ditunggu ya. :b
total 1 replies
Rahmi Miraie
happy ending dong ?
pecinta time travel
isssh author masa sad ending
Hissiz
Thor jngan dibikin sad ending😭 Up thor semangat💪
Alickha Senja
nex thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!