NovelToon NovelToon
Ketika Istriku Berbeda

Ketika Istriku Berbeda

Status: tamat
Genre:Tamat / Cintapertama / Berbaikan / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Muhammad Yunus

"Mas kamu sudah pulang?" tanya itu sudah menjadi hal wajib ketika lelaki itu pulang dari mengajar.

Senyum wanita itu tak tersambut. Lelaki yang disambutnya dengan senyum manis justru pergi melewatinya begitu saja.

"Mas, tadi..."

Ucapan wanita itu terhenti mendapati tatapan mata tajam suaminya.

"Demi Allah aku lelah dengan semua ini. Bisakah barang sejenak kamu dan Ilyas pulang kerumah Abah."

Dinar tertegun mendengar ucapan suaminya.

Bukankah selama ini pernikahan mereka baik-baik saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lewat waktu

Ratih adalah perempuan dewasa yang mandiri dan pekerja keras. Ratih tidak pernah bersikap manja seperti Dinar, sejak mereka menjadi sepasang kekasih dulu, sifat itu yang mendorong Irham menyukai Ratih.

Irham sampai di rumah sakit, kurang dari setengah jam.

Laki-laki itu menunggu dengan tidak sabar. Dia mendekat pada ranjang pasien saat dokter selesai memeriksa.

Irham tercengang dengan yang di tuturkan dokter,

"Tolong jangan biarkan pasien sendiri tanpa pengawasan, pasien sedang syok berat sebab suaminya dinyatakan kritis dan kini harus mendengar berita jika kakinya harus segera dioperasi karena ada serpihan tulang yang harus di angkat."

Usai pemeriksaan, Irham diperbolehkan menemui Ratih.

"Kamu bisa minta pihak rumah sakit hubungi keluarga kamu, kenapa justru aku yang mereka hubungi?" Irham mencecar tanpa sadar.

Ratih tak menjawab, hanya memalingkan muka dan melihat infus yang terpasang di lengannya.

Sejujurnya, Ratih sengaja melakukan hal ini karena tidak mau Irham makan malam bersama dengan Dinar.

Ratih tahu, Irham menyiapkan hal spesial untuk wanita yang merebut posisinya sebagai istri Irham.

Ratih tidak bisa menerima fakta bahwa Irham menjadi milik wanita lain, meski ia sendiri sudah menikah dengan pria lain. Katakanlah ia picik, tetapi Ratih merasa berhak bersikap demikian.

Ratih sengaja meminta pihak rumah sakit untuk menghubungi Irham. Ia juga sengaja mencabut alat bantu pernafasan suaminya untuk beberapa saat, hingga akhirnya lelaki itu hampir kehilangan nyawa. Meski Ratih tak mengira bahwa resikonya akan begitu parah.

Namun demi menghalangi Irham pergi dinner bersama istrinya, Ratih harus melakukannya.

"Mohon untuk tidak membuat pasien tertekan, Pak. Pasien masih sangat sensitif." peringatan perawat membuat Irham menghembuskan nafas geram berkali-kali.

*****

Irham baru menyadari bahwa ponselnya tidak berada di saku celananya, begitu akan membayar sesuatu melalui M-banking.

Pria itu kalang kabut mencarinya, dari dalam mobil sampai pada kamar Ratih tapi tidak menemukan benda yang dicari. Seketika itu juga, Irham ingat bahwa seharusnya hari ini dia makan malam romantis dengan Dinar. Laki-laki itu menoleh pada kaca besar rumah sakit, melihat penampilannya yang acak-acakan dan juga jam tangan yang menunjukkan hampir jam 12 malam.

Rasa bersalah amat besar mencengkeram dada, menimbulkan rasa sakit atas apa yang dilakukan Irham pada istrinya hari ini. Dia yang berjanji dan mengingkari.

Irham meminjam ponsel pada orang di temui di ruang UGD. Sayangnya, Dinar tak bisa dihubungi, bahkan tak terdengar dering karena tampaknya handphone sang istri mati.

Irham mulai frustasi.

Dinar pasti kecewa padanya. Saat memikirkan kekecewaan istrinya, Irham merasa ingin meledak seketika itu juga.

Irham berharap sepenuh hati, agar Dinar tak menunggunya malam ini. Pulang setelah menunggunya satu atau dua jam dia tak datang. Jika tidak, mungkin Irham tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.

Dengan setengah berlari, Irham pun menuju parkiran dan melaju cepat menuju restoran yang seharusnya mereka akan makan malam bersama.

"Ya Allah... Maafkan aku.. Dinar, Maafkan Mas sayang..." rapal Irham sepanjang jalan.

Saat tiba di restoran yang berada di roof top jam telah menunjukkan setengah satu dini hari, sudah tak ada siapa-siapa. Seorang waiters menyapa, menanyakan keperluan Irham.

"Saya Irham, yang memesan meja nomor 19, apakah istri saya menunggu lama?" tanya Irham berharap jika waiters menjawab Dinar tak lama menunggunya.

Seorang pramusaji yang mendengar pertanyaan Irham menjawabnya. Sebuah jawaban yang sekali lagi menghantam jantung Irham dengan sangat kasar.

"Istri anda baru saja pergi, sekitar 30 menit yang lalu karena restoran memang sudah harus tutup. Dia menunggu hingga balita yang bersamanya tidak tahu sudah berapa kali rewel karena bosan menunggu." jelas pramusaji itu menatap Irham sinis. Mungkin di hatinya timbul rasa kesal sebab ada seorang suami membiarkan anak dan istrinya menunggu hingga bosan seperti tadi.

Irham tertegun lama, karena fakta Dinar menunggu hingga akhir waktu yang tersisa. Laki-laki itu merasa ingin membenturkan kepala pada tembok, menyesali kesalahannya sendiri, selama empat tahun, Irham tak pernah sekalipun membawa Dinar menghabiskan waktu romantis , saat justru hendak dilakukan, dia ingkar begitu saja.

Irham memutuskan untuk pergi kerumah Kiai Ahmad Sulaiman. Laki-laki itu kembali masuk kedalam mobil dan melaju cepat menuju rumah mertuanya.

Kantuk dan lelah tak dapat menghalangi Irham untuk pergi.

******

Saat mendekati rumah, Irham kemudian melihat keberadaan Hassan di dekat pagar rumah utama.

Buru-buru Irham mengejar langkah pria itu begitu turun dari mobilnya.

"Assalamualaikum, Bang. Dinar dan Ilyas pulang ke sini?"

Tak ada Jawaban selang beberapa detik.

Biasanya Hassan tak begitu, dia akan langsung menjawab salam dan melihat pada orang ber salam. Mungkin pria itu juga marah pada Irham, yang seolah mempermainkan saudaranya. Hassan berujar dingin yang membuat Irham mati kutu.

"Kamu pikir, Dinar berani pulang ke rumah ini setelah kau kecewakan lagi? Meskipun mungkin kau sudah menyakiti perasaannya lagi. Dinar tak akan pernah membuatmu kehilangan muka di depan Abah dan Umi."

"Bang, aku..."

"Pergilah, cari dimana Dinar, sebelum Abah melihatmu disini tanpa putrinya, sebab kamu lebih tahu apa yang akan Abah lakukan terhadapmu." tanpa menatap Irham sedikitpun, Hassan berjalan pergi.

Irham?

Gegas pergi dari kediaman mertuanya dan menuju satu-satunya tempat yang mungkin ada Dinar disana, tempat yang sudah Irham lewati cukup jauh, laki-laki itu pun sontak memutar arah.

Saat tiba, langit sudah cukup terang karena sudah lewat jam 3 dini hari. Tanggal telah berganti, bukan lagi malam yang sudah ia siapkan sedemikian rupa.

Irham melihat mobil milik Hassan, kendaraan keluaran terbaru milik Hassan yang di pakai Pak Wildan mengantarkan Dinar ke restoran terparkir di pekarangan rumahnya.

Irham berjalan pelan, dengan mengatur degup jantung yang seolah ingin meledak. Irham baru beberapa Minggu lalu merasa seperti ini, rasa takut itu mencengkeram dadanya, hingga langkah kaki begitu berat dan sulit bernapas.

Irham memutar kenop pintu, melangkah ke dalam kamar yang memungkinkan ada istrinya.

Irham berharap Dinar terlelap agar ia bisa memeluknya erat seraya mengucapkan beribu maaf, tapi begitu ia membuka pintu kamar, ia menemukan istrinya duduk menatap jauh di luar jendela pada cahaya samar-samar dari langit menjelang pagi.

Dinar tak menoleh sedikit pun, bahkan saat suaminya mendekat. Satu sikap yang belum Dinar tunjukkan selama ini di hadapan Irham. Ada jeda waktu yang cukup lama, diisi oleh diam tanpa suara apapun.

Irham hanya menatap lekat-lekat istrinya yang cantik di bawah cahaya samar-samar, masih membisu dan terpaku pada pemandangan di luar sana.

Dinar masih dibalut gamis guava yang Irham kirimkan khusus untuk Dinar. Terlihat jelas ia berdandan untuk acara makan malam dengan suaminya.

Ini sangat menyiksa bagi Irham, karena Dinar tak pernah tak perduli padanya seperti sekarang. Seolah laki-laki itu tak ada di sana, Dinar yang selalu hangat, hari ini sangat dingin.

"Afwan.."

Irham mengucapkan kata itu kemudian. Dinar yang sejak tadi terdiam dan menatap kejauhan dengan pandangan kosong, menoleh perlahan.

Perempuan itu terperangah, menemukan Irham berdiri di sampingnya dalam jarak begitu dekat. Dia tersenyum tipis, menambah rasa bersalah pada diri Irham. Dinar masih menyambut dengan senyuman bahkan setelah Irham berbuat kesalahan. Tak ada kemarahan yang sepatutnya Irham terima.

"Kapan Mas datang? Maaf aku tidak sadar." perempuan itu menuturkan.

"Afwan Mas ingkar janji." ucap Irham sekali lagi dengan suara yang mulai parau.

Senyum masih terpatri di wajah ayu Dinar kala melihat dan meneliti penampilan suaminya yang pastinya sudah tak karu-karuan.

"Tidak apa-apa, Mas. Kamu pasti punya alasan untuk tidak datang." ucap istrinya itu.

Irham mengepalkan tangan dan membuang muka, karena sungguh ucapan tak apa yang keluar dari bibir istrinya dan raut muka yang hampa itu menyiksanya saat ini.

"Pihak rumah sakit tiba-tiba menghubungi Mas dan Mas kesana karena suami Ratih kritis dan Ratih mencoba bunuh diri." Irham menuturkan.

Dinar mengangguk pelan dan tersenyum sebelum bertanya,

"Apakah mereka baik-baik saja, sekarang?"

Irham mengangguk, susah untuk bicara panjang lebar lagi. Laki-laki itu menunduk.

"Syukurlah." terdengar istrinya bergumam pelan.

Dinar kembali melihat ke arah jendela, langit sedikit demi sedikit mulai terang. Irham memindai wajah istrinya dari samping. Dia berharap Dinar akan marah. Dengan begitu Irham bisa meminta maaf berkali-kali. Nyatanya Dinar tak melakukan itu, hanya kembali diam dan menyesakkan dada laki-laki yang amat merasa bersalah.

"Afwan, Yank.."

"Berhenti meminta maaf. Mas melakukan hal mulia untuk membantu orang. Tidak perlu minta maaf." balas Dinar, tanpa menoleh pada suaminya.

"Tapi aku lupa pada dinner kita dan janji pada istriku, membiarkan kamu dan Ilyas menunggu lama."

Bagaimana pun, Irham salah untuk kali ini. Salah sangat salah karena mengecewakan Dinar lagi.

Terdengar tawa lirih dari Dinar. Tawa itu tanpa perasaan, kosong. Dinar tak pernah seperti ini dihadapannya selama empat tahun. Hingga kemudian kata-kata yang selanjutnya dari Dinar seolah menghentikan detak jantung Irham selama beberapa waktu.

"Aku dan Ratih berbeda Mas. Dia wanita yang kamu inginkan."

#######

Apa Irham masih layak mendapatkan maaf Dinar?

Jangan lupa tinggalkan jejak cinta untuk author ya....

Happy reading......

1
Savitri Eka Qodri
Luar biasa
Rieya Yanie
saling mencinta dalam.diam
Wiji Timun
Luar biasa
Ma Malikha
bagus ko kak.. baguuus banget..
paham.. paham... 😍😍😍😍
Ma Malikha
banyak bawang di sini..
bawang mahal loh kak.... 😩😩😩😩
Ma Malikha
wkwkwk.. pengen ketawa takut dosa/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ma Malikha
good job Hassan
Ma Malikha
oooh kasian Hassan😯😯😯😯
Ros Yusmiasih
untungnya aku baca novel yg sdh tamat ,jadi gak perlu nunggu
Ma Malikha
sedih amat siih
Ma Malikha
ikutan baca ya kk..
baru bab pertama dah banyak bawang niih
Ros Yusmiasih
aku ngerti aja alur ceritanya ......
Ari Suci Ekawati
Luar biasa
Murniyati
masa irham msh ngumpetin bini org yg benerr ajaaa
Murniyati
dinar msh bocah jiwanya maklum anak sultan
Rustan Sinaga
nyesek, aku nangis lho thor...
Sabirurose
sebenarnya ketika seorang suami udah ngomong begitu, itu sudah jatuh talak
diara
karya author mendebarkan..
putrie_07
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Muhammad Ilham
belum apa2 aku SDH nangis duluan,terbawa perasaan .....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!