"I accept you Maxwell Del Montaña to be my husband, to have one another and keep, from now and forever. In times of trouble and joy, in times of abundance and in deprivation, in good health and sicness, to love one and another and to esteem, till death divides us, according to the sacred law, and this is my sincere faithfull promise."
Karena keserakahan ayahnya, Sara O'connor harus berakhir di tangan seorang mafia pemilik kartel terkenal di Spanyol. Dia menjadi istri dari pria yang tidak dicintainya.
Keinginannya untuk menaklukan pegunungan Himalaya harus berakhir begitu saja. Kesendirian dan kekosongan kembali dirasakan Sara ketika mata dan bibir pria itu mengatakan tidak menginginkan dirinya.
Max, nama mafia itu, Sara tidak mencintainya, tetapi janji suci sudah diikrarkan di hadapan Tuhan dan jemaat.
--------------------^-^------------------
Banyak konten horor, yang belum cukup umur, jauh-jauh sono! Dosa tanggung sendiri!😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah
Jangan lupa like, komen dan rate 🌟5 ya😊😘
.
.
.
***
"Jangan cemberut terus, Kak. Istrimu tidak akan pergi."
"Dia menangis lagi, Anne. Berhenti berbuat konyol seperti itu lagi."
Anne mengedikkan bahu acuh, "aku tidak janji."
"Eustakia!"
Dan hardikan itu berhasil melenyapkan tawa Anne. "Maaf, temui istrimu. Aku ingin membuat jus."
"Kau masih meminum itu?"
"Tentu saja. Pergilah, Kak, jangan menggangguku lagi."
Usapan di rambutnya menyentuh kalbu Anne. Meski Max tegas terhadapnya, ia tahu jauh di lubuk hati kakaknya yang paling dalam pria itu menyayanginya. Karena itulah, ia bahagia melihat Max tersenyum untuk seorang wanita.
"Aku heran wanita itu tidak mengenaliku," gumam Anne bingung.
"Dia memang unik, Anne."
"Kau belum pergi? Hei, apa kau ingin aku merasa bersalah?"
"Seharusnya begitu," sahut Max sambil melangkah jauh, menyusul istrinya naik ke atas.
Binar bahagia yang tertera jelas di wajah Max menyunggingkan senyuman di bibir Anne. Ia tahu kakaknya bahagia, dan untuk itu, ia berniat membuat sesuatu untuk keduanya sebagai permintaan maaf.
***
Dengan langkah lebarnya, Max tergesa-gesa menaiki tangga dan membuka pintu kamar. Ia tersenyum mengingat apa yang terjadi.
"Apa benar dia cemburu? Ah, aku tidak tahan untuk menggodanya. Benar sekali, dia tidak mungkin bisa menolak pesona pria tampan sepertiku, apalagi suaminya ini kaya dan memiliki apapun yang diinginkan."
Senyumannya bertambah lebar ketika selangkah berpijak di kamar. Berharap bahwa istrinya sedang menangis dan akan mengakui bahwa dirinya cemburu.
"Aku sudah tidak sabar mendengar pengakuannya," gumamnya girang. "Sayang?"
Tidak ada sahutan. "Sayang?"
Hening. Max berpikir bahwa Sara sedang bersembunyi dan tidak ingin melihatnya. Ia tertawa membayangkan hal itu benar-benar terjadi.
"Astaga, dia luar biasa. Tapi, kenapa aku merasa sangat bahagia? Ah, sudahlah, dia memang sangat istimewa bisa membuat pria tampan ini terus tersenyum."
Sekali lagi, ia berteriak, "Sayang?"
"Astaga, dia dimana?"
Menebak istrinya di kamar mandi, Max membukanya tanpa bersuara. "Sayang?"
Namun, lagi-lagi tak ada. "Dimana istriku?"
Ia mencari di balkon, tapi Sara tetap tidak ada. Karena cemas, Max membuka lemari pakaian. Ia menghela napas lega karena semua pakaian Sara masih lengkap di sana.
"Setidaknya dia tidak pergi dari sisiku," gumamnya.
"Sayang, kau dimana?"
Ia mencoba menelpon ponsel Sara, tapi ponsel perempuan itu diletakkan di atas nakas.
"Dia selalu begini, tidak membawa ponsel ke manapun pergi."
Masih ingin mencari istrinya, Max keluar dan berpapasan dengan Adrian yang baru saja datang dari ruangan sebelah.
"Apa kau melihat istriku, Adrian?"
"Señora berada di ruang gym, Señor."
Max menghembuskan napas lega. "Terima kasih, Adrian. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu."
Senyuman jahil terpatri di bibirnya, hatinya berbuga ingin segera menggoda istrinya.
"Kapan dia tahu ruangan itu?"
Karena tidak ingin bertanya-tanya, Max segera melesat jauh ke sana. Membuka pintu tersebut dengan akses telapak tangan.
Suara pintu terbuka tidak diketahui oleh Sara, karena pintu tersebut tidak berbunyi dan dirinya sedang berlari.
Keringat yang menguncur di tubuh istrinya membuat Max menelan ludah kasar. Ia tidak pernah membayangkan seorang perempuan bisa sangat seksi di tempat gym.
Selama ini, ia melihat wanita dengan gaun yang indah dan kekurangan kain, dan itu yang disebut seksi. Berbeda dengan istrinya yang sedang berlari di sana, kulitnya terlihat sangat menggairahkan karena keringat.
"Astaga, apa yang baru saja kupikirkan. Dia pasti akan menyebutku cabul karena berpikiran mesum."
Padahal, dirinya memang selalu berpikiran mesum. Memaksa Sara dan mengelabuhi perempuan itu untuk menciumnya setiap waktu. Memakai cara licik agar mendapat sebuah ciuman dari istrinya.
Dan kali ini dengan liciknya, Max mematikan alat itu sehingga istrinya hampir terjatuh dan dengan sigap ia menangkap Sara.
Tatapan keduanya sesaat bertemu sampai Sara yang sadar memalingkan wajahnya.
"Kenapa kau mematikannya?" tanya Sara ketus.
"Eh?" Max mengerjap bingung. Mata tajam perempuan itu menusuk dadanya. Kilatan amarah terpancar jelas dari sana. Apa mungkin dia benar-benar cemburu, begitu pikirnya.
"Max, hidupkan lagi! Aku ingin berlari lagi!"
"Tidak! Kau harus berhenti, ikuti perintahku!"
Mata Sara melotot penuh amarah, tangannya mengepal. Suara gemeletuk giginya terdengar.
"Aku ingin melakukan apapun semauku, dan kau tidak berhak melarangnya!"
"Sara!"
"Apa?! Kau ingin memukulku? Silahkan, aku memberimu kesempatan!"
Dalam hati, Max tertawa atas sikap membangkang istrinya. Sejak kapan Sara punya nyali sebesar ini untuk membantah ucapannya? Dan lihat matanya, tidak ada sorot sayu dan kesedihan.
Bibirnya yang terus bergerak membangkitkan gairah Max ingin menciumnya. Menyesap seluruh rasa manis yang terkandung di sana. Rasa yang menjadi candu buatnya dan tak ingin kehilangan.
Ketika tubuh Sara berbalik dan hendak menaiki treadmill itu, Max menarik pergelangan tangannya.
"Jangan membuatku mengulangi ucapanku, Sayang. Berhenti berlari atau aku akan memakanmu di sini."
Sara tetap pada pendiriannya. Ia menekan tombol on dan kembali berlari dengan kecepatan tinggi.
Takut istrinya terjatuh karena kecepatan alat itu di atas rata-rata, Max mengurungkan niat untuk mematikannya lagi.
Terpaksa ia menghabiskan waktu menunggu dengan memerhatikan istrinya dalam diam. Berbaring di atas karpet dengan tangan menyangga kepala.
Sesekali bibirnya tersenyum dengan mata menyipit, lekuk tubuh Sara memusatkan perhatiannya. Apalagi dengan belahan dada perempuan itu terumbar.
***
Penantiannya terbayar, Sara akhirnya berhenti setelah tubuhnya benar-benar lelah. Keringat yang bercucuran di kulitnya menjadikan penampilannya sedikit liar di mata Max.
Tanpa persetujuannya, Max menyeka keringat itu sehingga perempuan itu terkejut.
"Kau masih di sini?"
"Kau melihatnya, Sayang."
"Bagaimana dengannya?"
"Siapa?" tanya Max yang dalam sekejab sudah lupa keberadaan Anne di bawah sana.
"Ternyata kau pelupa. Maklum saja, usiamu tak lagi muda," gumam Sara seraya menerima air putih yang disodorkan Max. "Terima kasih."
"Kau mengatakan sesuatu, Sayang."
Saat ia meneguk air putih itu, perhatian Max selalu tertuju padanya dan itu membuatnya sedikit salah tingkah. "Ada apa?" tanyanya setelah menelan air itu.
"Kau seksi," ucap Max jujur.
Sara terbelalak tidak percaya karena penglihatan Max yang tertuju pada bagian dadanya. "Kau?! Otak mesum!" teriak Sara.
Tawa Max menggelegar, menikmati wajah kesal sang istri ternyata menyenangkan.
"Hanya padamu saja, Sara."
"Pembohong," bantah Sara.
"Huh?"
"Tidak, lupakan saja." Ia menaruh gelas pada tempat seharusnya. "Buka pintunya, aku mau keluar."
"Tidak mau."
"Max!"
"Sayang ...."
Panggilan itu membangkitkan seluruh bulu kuduknya yang tertidur. Ia sadar kesalahannya. Dan untuk mempersingkat waktu berada di ruangan itu, Sara mencium bibir Max.
Namun, tidak sekadar ciuman singkat seperti dugaannya. Tangan Max menarik pinggangnya dan satu tangan yang lain menekan tengkuknya untuk memperdalam ciuman itu.
Sesaat ia lupa caranya bernapas, karena Max mengambil alih seluruh rongga mulutnya. Hingga seluruh tenaganya terkuras, barulah Max melepaskannya.
"Aku suka panggilanmu itu karena dengan demikian kita semakin dekat," ujar Max di depan bibirnya dan mengecupnya sekilas. "Ayo turun, ada yang menunggu kita di sana."
"Belum pulang?"
"Dia ingin berbicara denganmu."
Bulu kuduknya kembali meremang, sekilas memori tentang kemesraan perempuan itu dengan Max terputar lagi di kepalanya.
Haruskah aku menerima kenyataan pahit ini dengan lapang dada? Jika pada akhirnya aku harus meninggalkan tempat ini, apa aku sanggup? Kenangan manis bersama Max akan tetap hidup di dalam sanubariku dan itu tidak mudah terhapuskan.
"Sayang?"
"Maaf, tolong buka pintunya, Max."
"Sayang!"
"Aku mengerti," ucapnya dan mengecup pipi Max sekilas.
"Hm?"
"Apa lagi?"
"Kau berkeringat dan itu bau."
"Max sialannn, kau sudah menciumku dan mengatakan aku bau? Huft, otak dan mulutmu tidak sejalan."
Max terkekeh pelan, ia menekan satu tombol untuk membuka pintu itu. Mata Sara takjub, ternyata kunci untuk membuka pintu ada di sana. Lain waktu, ia akan mencobanya sendiri.
"Kau tidak bisa membukanya dengan tangan kurusmu itu," tutur Max seolah tahu apa yang di pikiran Sara.
"Huh? Aku sudah pernah melakukannya."
"Kapan?" tanya Max membalikkan badannya.
Ketahuan! rutuk Sara dalam hati.
"Sayang? Kapan kau masuk ke sini tanpa sepengetahuanku?"
Sara tetap bungkam.
"Oh ya, aku belum tahu bagaimana kau bisa masuk dan berlari di sana. Padahal aku sudah menguncinya dengan rapat dan sangat rahasia. Apa kau peretas?"
Apa? Pikirannya terlalu jauh, apa otaknya kembali bergeser? Tidak, tidak, Tuhan tolonglah suamiku. Otaknya bermasalah.
"Sayang, bagaimana kau bisa masuk ke sini tadi?"
.
.
.
.
***
Love,
Xie Lu♡