Sebuah kabar mengejutkan hadir menghampiri hari bahagia Mentari kala itu.
Bintang yang merupakan calon suaminya, mengalami kecelakaan disaat mereka akan meresmikan hubungan mereka menuju halal.
Mentari pun menangis dengan gaun pengantin yang masih membalut tubuhnya.
dan...
Mentari kembali terkejut, sebuah permintaan terakhir terucap dari mulut Bintang. Memintnya untuk menikah dengan pria lain, bukan dengan dirinya.
Langit nama pria itu, yang sesungguhnya juga mencintai Mentari dalam diam.
"Nikahilah Mentari, jadikan dia istrimu." pinta Bintang.
Apakah Langit mampu membuat Mentari bahagia, menghapus kesedihan yang begitu menumpuk.
"Izinkan aku untuk Menggenggam mu Mentari." ucap Langit di saat hari pernikahan mereka.
Yuk.. kepoin Ceritanya, jangan lupa dukungan terbaiknya😚🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Canggung
🌿Selamat membaca.
🌿Semoga suka dan terus ikuti kisahnya.
🌿Like dan komen baiknya selalu dinanti 🤗.
...----------------...
Drttt...
Langit tersadar, saat ponselnya berdering tanpa permisi mengakhiri aksinya yang tengah menci um Mentari tiba-tiba.
Awalnya ia hanya tak suka mendengar ucapan Mentari mengenai hubungannya kelak dengan Mentari. Ia tak mau berandai seperti itu. Namun Mentari terus berbicara hal yang ia tidak sukai, dan menghentikannya dengan sebuah ciu man.
Entah apa yang telah memberanikan dirinya melakukan itu, walau gugup dan rasa takut menyelimutinya, sejujurnya Langit menikmatinya. Tak ada perlawanan dari Mentari, rasanya begitu manis. Tercium jelas aroma tubuh Mentari dan membuatnya makin terbuai.
Jantungnya berdebar begitu kencang. Rasanya ia telah melakukan kesalahan, walau sebenarnya sah-sah saja bagi seorang suami menci um istrinya sendiri. Tapi ia melakukannya disaat Mentari belum sepenuhnya menjadi miliknya.
Masih dengan menatap Mentari yang begitu dekat dengan wajahnya, Langit mencoba bersikap tenang, walah hasratnya masih begitu meninggi. Ia mencoba menenangkannya, mencoba berpamitan untuk beberapa saat meninggalkan Mentari, karena sebuah panggilan mengingatkannya kembali.
Langit perlahan meninggalkan Mentari yang masih diam membisu, mungkin karena ciu manya itu. Pasti Mentari begitu terkejut dengan tindakannya barusan.
Sesampainya di depan pintu kamar hotel, Langit terdiam kembali.
"Apa yang barusan ku lakukan..?" tanyanya sendiri, bahkan ia tak mampu menjawabnya.
Ponselnya kembali berdering, dan Langit mengakhir lamunannya itu.
Di tempat lain, Mentari masih terdiam tak percaya dengan apa yang barusan terjadi pada dirinya.
"Barusan aku dan Mas Langit..." ucapnya dan tak berani melanjutkan, ia menyentuh bibirnya dan mengingat kembali ciu man yang baru saja dirasakannya.
"Mas Langit menc iumku.." lanjutnya akhirnya.
Berkali-kali ia usap bibirnya sendiri dengan jemarinya.
"Menc ium bi..bir ku." ucap Tari lagi dan kemudian ia jatuhkan tubuhnya di ranjang, dan menutup wajahnya karena malu.
.
.
.
.
Langit melangkah perlahan menuju loby hotel ini berada. Ia menatap sekeliling mencari sosok Bayu yang merupakan asistennya. Setelah mengetahui keberadaan Bayu, Langit berjalan mendekat dan kemudian duduk bersama.
"Bagaimana perjalanannya Pak?"
"Semua baik, terima kasih. Oiya, sudah ada kabar dari Pak Kevin?"
"Sudah pak, beliau bisa bertemu nanti malam. Kebetulan Pak Kevin sedang mengadakan pesta, Bapak diundang juga."
"Oh.. oke, bagus kalau begitu."
Beberapa menit berlalu begitu saja. Bayu dan Langit sedang membicarakan persiapan untuk pertemuan dengan kliennya nanti malam. Setelah membahas beberapa hal penting, mereka mengakhirinya segera.
"Oiya, untuk makan siang bapak dan Bu Tari bisa langsung ke resto saja." ucap Bayu mengakhiri diskusi saat itu.
"Kalau begitu, saya jemput Tari dulu. Kau duluan saja."
"Siap Pak."
Setelan pertemuan singkatnya dengan Bayu, Langit kembali menuju kamar hotelnya. Rasanya ia ragu untuk melangkah, mungkin karena rasa takut berjumpa dengan Mentari, karena ia merasa telah melakukan kesalahan padanya.
Namun ia tetap melangkah, ia tetap harus menghadapinya. Mencoba bersikap tenang, walau jantungnya tiba-tiba berdebar begitu kencang kembali.
Menekan bel kemudian, saat Langit telah berada di depan pintu kamar hotel. Mentari membukanya dan wajahnya terlihat jelas di hadapannya saat ini.
Tak ada suara untuk beberapa saat, hanya saling menatap. Kecanggungan tiba-tiba saja menghiasi keduanya.
"Ehmm.. sudah waktunya makan siang, kita ke resto sekarang." ucap Langit menghentikan kesunyian.
"Oh.. Iya, sebentar aku ambil ponselku dulu." ucap Tari menyetujui.
Setelah mengambil ponsel, Tari tak langsung bergegas ke luar. Ia berhenti sejenak mencoba menenangkan hatinya juga.
"Kenapa jadi gugup begini, tadi tidak sekencang ini berdetak." bisiknya dengan lima jari menyentuh dadanya mencoba menenangkan.
Menarik nafas panjang kemudian, mencoba menenangkan diri kembali. Setelah merasa yakin, ia pun bergegas ke luar dari kamar hotel. Melangkah mendekat ke Langit yang kini menunggunya di depan kamar.
Namun tiba-tiba, hal yang tak disangka kembali terjadi. Awalnya Langit memang masih menunggunya dengan setia di depan kamar hotelnya. Mungkin karena merasa Mentari tak kunjung datang, Langit memutuskan untuk masuk ke dalam menjemput Mentari.
Tapi, Mentari sudah berada di hadapannya saat ini, hampir saja saling menabrak dan ternyata kini mereka sudah sangat dekat, tubuh keduanya saling menempel seperti berpelukan. Saling memandang, dengan jantung yang sama-sama berdetak sangat kencang.
Diam.. dengan perasaan masing-masing.
"A...yo.. Mas.." ucap Tari terbata dan dengan cepat ia menggeser tubuhnya dan melangkah terlebih dahulu meninggalkan Langit saat itu.
Langit tersenyum.. Ia tersenyum menyaksikan apa yang tengah ia alami saat ini. Setelahnya ia memutuskan untuk segera melangkah menyusul Mentari yang tiba-tiba saja berjalan begitu cepat meninggalkannya.
Menuju lift, dan masih tampak diam satu sama lain. Sampai akhirnya mereka tiba di resto.
Menatap sekelilingnya, memilih tempat duduk kemudian.
"Kita duduk di sana saja." tunjuk Langit pada salah satu kursi resto ini berada. Tari hanya mengangguk mengiyakan saja saat itu.
Duduk bersama dan memesan makan kemudian. Setelah itu, Langit memulai pembicaraan.
"Malam ini, kita akan akan menghadiri pesta."
"Pesta.." ulang Mentari.
"Ya.. pesta. Salah satu klien ku akan mengadakan pesta malam ini."
"Haruskah ku ikut."
"Harus.. Kau harus ikut." jawab Langit tegas. "Kamu bisa istirahat dulu sebelum kita berangkat nanti."
"Aku enggak bawa pakaian formal, kau bilang kan liburan Mas." ucap Mentari kemudian.
"Aku sudah memesan pakaian untuk kamu kenakan. Nanti Bayu yang akan antar ke kamar. Untuk kebutuhan nanti malam sudah disiapkan semua, kamu tenang saja."
"Oh.. Oke.." jawab Tari dan akhirnya menyetujuinya.
Tak berapa lama kemudian, pesanan makanan mereka pun datang. Mentari dan Langit mulai menikmati makan siang mereka saat itu.
Di tempat lain, Intan sudah sampai di kediamannya. Ibunya menyambut kedatangannya dengan senyum dan memeluknya kemudian.
"Bagaimana kabarmu Nak?" tanya Lian yang merupakan Ibunya Intan.
"Baik Bu.." ucap Intan tersenyum dengan menatap wajah ibunya.
"Anak ibu tambah cantik."
"Past dong Bu.." jawab Intan cepat dan penuh percaya diri.
"Oiya Bu, tadi aku ketemu Langit di bandara."
"Langit.."
"Ya Bu, anaknya Tante Rubi."
"Oh.. Rubi."
"Nanti temani aku main ke rumah Tante Rubi ya Bu. Sudah lama enggak ketemu Tante Rubi, Intan kangen."
"Kangen sama Tante Rubi atau sama putranya." goda Lian dan membuat Intan tersipu malu.
"Sama Tante Rubi lah Bu.."
"Masa sih, bukan kangen sama Langit."
"Bu, kok jadi godain Intan." protes Intan dan disusul dengan tawa Lian setelahnya. Walau sebenarnya Intan begitu senang, Ibunya menggoda dirinya.
"Nanti ibu temani, kamu atur saja waktunya." ucap Lian kemudian mengakhiri pembicaraan saat itu.
Intan tersenyum kemudian, memeluk ibunya sebagai ucapan terima kasih padanya.
.
.
.
.
Semangat, Jangan lupa mampir ke cerita novelku yang lainnya ya☺️
belum saya baca habis ada waktu luang nanti saya mampir baca ya thor 🤗
tetap semangat berkarya sukses selalu🙏
temen mentqri😅😅
🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️