NovelToon NovelToon
Denting Terakhir Di Villa Edelweiss

Denting Terakhir Di Villa Edelweiss

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / Romantis / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:589
Nilai: 5
Nama Author: YourFriend7

Liburan Natal di Villa Edelweiss seharusnya menjadi momen hangat bagi Elara, Rian, dan si jenaka Bobi. Namun, badai salju justru mengurung mereka bersama sebuah piano tua yang berbunyi sendiri setiap tengah malam—memainkan melodi sumbang penagih janji dari masa lalu.
​Di tengah teror yang membekukan logika, cinta antara Elara dan Rian tumbuh sebagai satu-satunya harapan. Kini mereka harus memilih: mengungkap misteri kelam villa tersebut, atau menjadi bagian dari denting piano itu selamanya.
​"Karena janji yang dikhianati tak akan pernah mati, ia hanya menunggu waktu untuk menagih kembali."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YourFriend7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Origami Kota dan Mobil 2 Dimensi

Jarum pentul raksasa itu turun membelah udara dengan suara wuuung yang berat dan rendah. Bayangannya menelan area ruko tempat mereka berdiri, mengubah siang hari menjadi gerhana total sesaat.

Ujung jarum itu tajam, berkilau dingin, dan lebarnya saja cukup untuk meratakan toko bunga Lara beserta isinya.

Jarum itu hendak menusuk Rian dan teman-temannya seperti serangga.

"Kita nggak bisa lari!" teriak Sarah, melihat jalanan di depan dan belakang mereka mulai melengkung naik vertikal 90 derajat. Mereka terjebak di dasar "lipatan" kertas Jakarta.

Rian menatap langit. Mata raksasa Adrian di balik awan kertas menatap mereka dengan gembira, seperti anak kecil yang akan menusuk semut.

"Rian! Tulis sesuatu!" jerit Elara, mengguncang lengan Rian.

Rian membuka buku catatannya. Tangannya gemetar hebat. Tinta emas di venanya berdenyut menyakitkan, seolah darahnya mendidih. Dia tidak punya waktu untuk menulis kalimat panjang. Dia butuh satu kata yang kuat.

Rian mencoretkan satu kata besar di halaman bukunya, lalu menempelkan telapak tangannya ke aspal jalan raya.

Kata itu adalah: SHIELD (PERISAI).

Tapi karena panik, tulisan Rian jelek. Huruf 'D'-nya miring, terlihat seperti huruf 'F'.

SHELF (RAK).

KRETEK!

Aspal di depan mereka tidak berubah menjadi kubah pelindung. Melainkan, aspal itu terbelah dan mencuat naik, membentuk struktur Rak Buku raksasa dari beton dan aspal.

"Salah tulis!" maki Rian.

Tapi keajaiban terjadi. Struktur "Rak" aspal yang berlapis-lapis itu justru menjadi penahan yang efektif.

JLEB!

Jarum pentul raksasa itu menghujam struktur rak aspal tersebut. Beton hancur, debu mengepul, tanah bergetar hebat. Tapi lapisan-lapisan "rak" itu berhasil menahan laju jarum sehingga ujungnya berhenti menggantung hanya dua meter di atas kepala mereka.

Angin ledakan dari hantaman itu melempar mereka semua hingga terguling ke trotoar.

"Aduh, pinggang gue..." Bobi merangkak bangun, mukanya cemong debu. "Yan, lain kali kalau nulis dikte dulu napa! Untung kita nggak gepeng!"

"Protes mulu lo!" Rian menyeka darah dari hidungnya. Penggunaan tinta emas itu menguras energi vitalnya.

Di sebelahnya, Lara (si gadis kurir bunga) duduk memeluk lutut, kacamatanya retak sebelah. Dia menatap Rian, lalu menatap Elara. Matanya bolak-balik antara dua orang itu dengan tatapan tak percaya.

"Mbak..." Lara menunjuk Elara dengan jari gemetar. "Mbak ini... kok mukanya mirip saya? Cuma... versi lebih cantik dan glowing?"

Elara tersenyum canggung. Situasi ini aneh banget. Dia berhadapan dengan "sumber asli"-nya.

"Gue Elara," kata Elara, mengulurkan tangan. "Gue... versi fiksi lo. Versi yang ditulis Rian pas dia lagi naksir lo diem-diem."

Elara muncul karena dia adalah tokoh utama dari cerita yang ditulis Rian/Adrian selama ini, sistem narasi otomatis "menarik" atau memunculkan Elara kembali ke dalam adegan begitu dunia berubah menjadi kertas. Dia spawn (muncul) secara otomatis karena ceritanya tidak bisa berjalan tanpa dia.

Pipi Lara memerah padam. Dia menoleh ke Rian. "Mas Rian nulis tentang saya?"

"Bukan waktunya bahas asmara, Woy!" potong Sarah tajam. Dia menunjuk ke ujung jalan. "Liat itu!"

Dunia sedang dilipat.

Gedung perkantoran di ujung jalan melengkung turun seperti kertas lemas. Jembatan penyeberangan terlipat dua. Dan yang paling parah, garis lipatan itu bergerak mendekat ke arah mereka. Apa pun yang dilewati garis lipatan itu akan tergencet menjadi dua dimensi.

"Kita harus pergi dari zona lipatan ini!" kata Rian. "Kita butuh kendaraan."

Tapi semua mobil di jalanan sudah menjadi stiker gepeng 2D yang menempel di aspal. Nggak ada yang bisa dinaiki.

Mata Rian menangkap sebuah papan reklame besar di pinggir jalan yang belum terlipat. Iklan mobil SUV keluaran terbaru. Gambar mobil di iklan itu sangat realistis.

"Itu," tunjuk Rian.

Rian lari mendekati tiang reklame itu. Dia menempelkan tangan emasnya ke tiang besi.

"Objek 2D menjadi 3D," perintah Rian dalam hati, menyalurkan tintanya.

Cahaya emas merambat naik ke papan reklame. Gambar mobil SUV di iklan itu bergetar. Lalu, dengan suara sobekan kertas yang nyaring, KRAAAK, mobil itu "terlepas" dari papan reklame dan jatuh ke jalan raya.

BUGH!

Mobil itu mendarat. Bentuknya utuh, tapi teksturnya aneh. Bodinya terbuat dari kardus tebal yang mengkilap, dan bannya terbuat dari karet penghapus bundar.

"Mobil kertas?" Bobi menepuk kap mesinnya. Keras sih, tapi bunyinya takk-takk kayak ngetuk kardus helm.

"Masuk! Cepetan!" Rian membuka pintu kemudi.

Mereka berlima berdesakan masuk. Rian di setir (meski dia nggak bisa nyetir karena kakinya masih sakit, tapi ini mobil fiksi, jadi mungkin lebih gampang). Elara di depan. Sarah, Bobi, dan Lara dempet-dempetan di belakang.

"Ini kuncinya mana?" Rian panik nyari lubang kunci. Nggak ada. Dashboard-nya cuma gambar tempelan stiker.

"Gambar tombol Start!" teriak Elara. Dia menyodorkan spidol permanen yang dia temukan di laci dashboard (yang untungnya bisa dibuka).

Rian menggambar lingkaran bertuliskan START di dashboard. Lalu menekannya.

BRUM!

Suara mesinnya bukan suara mesin bensin, tapi suara mulut orang yang menirukan suara mobil: Brububububrummmm...

"Kocak!" komentar Bobi.

Mobil kardus itu melesat maju.

Mereka ngebut di jalanan Kota yang sedang berubah menjadi origami neraka.

Gedung-gedung di kiri kanan mereka melipat diri menjadi bentuk burung bangau dan kodok kertas raksasa. Kodok-kodok gedung itu melompat mencoba menimpa mobil mereka.

"Kiri, Yan! Kiri!" teriak Sarah saat sebuah Menara yang terbuat dari kertas koran jatuh melintang di jalan.

Rian membanting setir. Mobil oleng, bannya yang terbuat dari penghapus berdecit sreeet di aspal.

"Kita mau ke mana?!" tanya Lara histeris, memeluk buket bunganya yang sudah hancur. "Saya mau pulang! Kosan saya di sebelah sana!"

"Di sana udah jadi bola kertas, Mbak!" jawab Bobi sadis. "Kita harus cari tempat yang nggak bisa dilipat Adrian."

"Perpusnas!" ide Rian muncul. "Perpustakaan Nasional! Itu di Jalan Merdeka Selatan. Itu gudangnya buku. Di sana narasinya terlalu padat, Adrian pasti susah ngontrolnya."

"Oke, Perpusnas!" setuju Elara.

Mereka melaju zig-zag menghindari hujan staples raksasa yang ditembakkan dari langit.

Tiba-tiba, jalanan di depan mereka putus.

Bukan putus karena jurang. Tapi putus karena kertasnya sobek.

Ada celah sobekan putih hampa selebar sepuluh meter yang memisahkan jalan mereka dengan area Monas.

"Pegangan!" Rian tidak ngerem. Dia malah ngegas.

"Yan! Itu bolong!" teriak Sarah.

Rian mengambil buku catatannya sambil nyetir dengan satu tangan. Dia menulis cepat:

"Angin kencang menerbangkan mobil kertas itu ke seberang."

Saat mobil mencapai bibir sobekan...

WUUUSH!

Angin puting beliung mini muncul dari bawah mobil, mengangkat mobil kardus itu ke udara. Mobil itu melayang seperti pesawat kertas, melewati celah hampa, dan mendarat kasar di sisi seberang.

Gubrak!

Bumper depannya penyok.

Mereka sampai di depan Gedung Perpusnas yang menjulang tinggi. Anehnya, gedung ini adalah satu-satunya bangunan yang terlihat normal. Tidak terbuat dari kertas, tidak terlipat. Gedung itu kokoh dengan beton dan kaca aslinya.

"Sampai," desah Rian, mematikan mesin (menghapus tombol Start dengan jempolnya).

Mereka berhamburan keluar dan lari masuk ke lobi Perpusnas.

Begitu mereka melewati pintu putar lobi, suara gemuruh kota yang dilipat di luar sana mendadak hilang. Senyap.

Di dalam Perpusnas, suasananya tenang, dingin, dan berbau buku tua.

Tapi ada yang salah.

Tidak ada petugas. Tidak ada pengunjung.

Dan rak-rak buku yang menjulang sampai ke atap atrium itu... bukunya kosong.

Elara mengambil satu buku secara acak. Sampulnya polos. Isinya halaman putih semua.

"Kosong..." bisik Elara. "Semua buku di sini dihapus?"

"Bukan dihapus," kata Rian, berjalan ke tengah atrium. Dia melihat ke lantai. "Belum ditulis."

Di tengah lantai atrium yang luas itu, ada sebuah meja tulis tunggal yang sangat mewah. Di atasnya ada sebuah mesin tik emas.

Dan di samping mesin tik itu, berdiri seseorang.

Bukan Adrian.

Orang itu berbalik saat mendengar langkah kaki mereka.

Elara menahan napas. Lara menjerit kecil.

Orang itu adalah Elara.

Tapi ini bukan Elara fiksi, bukan juga Lara nyata.

Elara ini mengenakan gaun hitam elegan, rambutnya disanggul rapi, dan matanya... matanya berwarna tinta emas, sama seperti darah Rian.

Elara Emas tersenyum manis. Senyum yang membuat darah mereka membeku.

"Selamat datang di Bab Terakhir," kata Elara Emas. Suaranya merdu, menghipnotis. "Aku sudah menunggu kalian."

"Siapa lo?" tanya Rian waspada, menarik Lara dan Elara asli ke belakang punggungnya. "Lo bukan karakter gue."

"Oh, tentu saja aku karaktermu, Rian," Elara Emas berjalan mendekat. Langkah kakinya meninggalkan jejak bunga emas di lantai marmer. "Aku adalah Draft Sempurna."

Dia menatap Elara (tokoh utama) dengan pandangan merendahkan.

"Kamu, Elara... kamu terlalu cengeng. Terlalu emosional."

Lalu dia menatap Lara (gadis nyata).

"Dan kamu, Lara... kamu terlalu biasa. Terlalu membosankan."

Elara Emas merentangkan tangannya.

"Rian menulisku dalam tidurnya tadi malam. Saat dia memimpikan kesempurnaan. Aku adalah gabungan dari fiksi dan realitas. Aku adalah Muse yang akan membunuh penulisnya agar cerita ini abadi."

Dia menjentikkan jarinya.

Buku-buku kosong di rak-rak raksasa itu melayang keluar. Ribuan buku itu membuka halamannya, dan dari halaman-halaman kosong itu, keluar senjata-senjata tajam: pedang kertas, panah kertas, tombak kertas.

Semua senjata itu mengarah ke Rian dan teman-temannya.

"Pilih, Rian," kata Elara Emas. "Menikah denganku dan tinggal di sini selamanya sebagai Raja Fiksi... atau mati ditusuk seribu lembar kertas?"

Rian menatap Elara Emas, lalu menatap Lara dan Elara di belakangnya.

"Gue pilih..." Rian menggantung kalimatnya.

Tiba-tiba, Lara (si gadis nyata yang kikuk) maju ke depan. Dia mengambil vas bunga yang entah sejak kapan masih dia peluk, padahal bunganya udah hancur.

"Eh, Mbak Emas!" panggil Lara dengan suara gemetar tapi nekat.

Elara Emas menoleh. "Apa, manusia rendahan?"

"Mas Rian itu selera kopinya pait!" teriak Lara. "Dia nggak suka yang manis-manis sempurna kayak situ!"

Lara melempar vas bunga itu sekuat tenaga ke wajah Elara Emas.

PRANG!

Vas itu pecah tepat di wajah mulus Elara Emas.

Dan wajah itu... retak.

Seperti porselen. Wajah sempurna itu retak, dan dari retakannya, memancar cahaya yang menyilaukan dan suara jeritan yang bukan suara manusia.

"KAU MERUSAK WAJAHKU!"

Lalu ribuan buku di udara melesat menyerang ke arah mereka..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!