Menjadi seorang single parent tak membuat Alleyah berkecil hati. Ia justru semangat dalam usahanya untuk mendapatkan kebahagiaan bagi dirinya dan juga putrinya yang masih berumur enam tahun.
Pekerjaan menjadi seorang sekretaris dari bos yang arogan tak menyurutkan tekadnya untuk terus bekerja. Ia bahkan semakin rajin demi rupiah yang ia harapkan untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan juga anaknya.
Namun, perjuangannya menjadi single parent tak semudah bayangannya sebelumnya. Ditengah isu yang merebak di kantornya dan juga imej seorang janda memaksanya menjadi wanita yang lebih kuat.
Belum lagi ujian yang datang dari mantan suaminya, yang kembali muncul dan mengusik hidupnya.
Mampukah, Alleyah bertahan dan mampu memperjuangkan kebahagiaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.19 Pingsan
Keberadaan Aksa di meja kerja Alle membuat Alle bingung harus menjawab apa pada bosnya itu. Tidak mungkin ia berkata jujur kalau ia habis bertemu dengan Sekar. Ibu dari bosnya.
"Te-tentu makan siang, Pak. Bukannya tadi saya sudah pamit ingin makan siang di luar bersama teman-teman. Saya juga sudah memesankan Bapak makan siang juga, kan?" bohong Alle.
"Dengan teman yang mana?"
Alle mulai berpikir cepat. "I-itu, dengan Wina. Iya ... Wina."
Aksa terdiam. Sorot mata yang ditampilkan sangat kentara jika pria itu tidak percaya dengan apa yang baru saja Alle katakan.
"Ya sudah, kamu ke ruanganku sekarang," ujar Aksa tak ingin memperpanjang masalah.
Alle mengangguk dan mengikuti Aksa masuk ke ruangan. Hal pertama yang Alle lakukan adalah membereskan bekas makan Aksa. Ia membersihkan meja tersebut dari peralatan makan bosnya. Barulah ia mengerjakan tugas laporan yang diminta Aksa.
Pikirannya sedang tidak fokus. Antara masalahnya dengan Fadil dan juga permintaan Sekar untuk berhenti bekerja.
"All ...." Tak ada jawaban.
"Alle ...." Masih diam saja.
"Alleyah!" sentak Aksa tepat di depan wajah Alle.
"I-iya, Pak," jawab Alle gelagapan. "Ada apa, Pak?"
Aksa mendengkus kesal melihat sikap Alle yang tak fokus. "Ini sudah waktunya kamu pulang," ujar Aksa.
" Benarkah? Baiklah, saya permisi, Pak." Alle menutup berkasnya dan membereskan meja, lalu tanpa rasa bersalah ia pamit keluar.
Heran melihat sikap Alle yang tak biasanya membuat Aksa geleng-geleng kepala. Di mana fokus Alle sejak tadi. Wanita itu bahkan dengan mudah percaya akan apa yang Aksa katakan jika jam kerja sudah selesai, padahal baru juga setengah jam sekretarisnya itu duduk bersamanya membahas laporan.
"Ma-maaf, Pak. Ini belum waktunya pulang," ujar Alle yang kembali masuk ke ruangan Aksa sembari melihat jam di tangannya.
Malu-malu, Alle berkata, "Mari kita lanjutkan, Pak."
Meski sedikit takut akan kemarahan Aksa, tetap Alle tahan. Ia juga sudah menyiapkan diri jika pria itu mengamuk padanya. Biasanya kalau sudah seperti ini Aksa pasti memberinya hukuman dengan menambah pekerjaannya.
"Nggak usah, kamu pulang saja," jawab Aksa ketus.
"Nggak boleh gitu, Pak. Ini masih jam kerja belum masuk jam pulang kantor."
Aksa justru memperhatikan sekretarisnya tersebut dengan lebih teliti. Ia melambaikan tangan agar Alle duduk di tempatnya yang tadi. Di sofa, yang berseberangan dengan Aksa.
Alle menurut saja. Ia kembali mendudukkan dirinya di tempat sebelumnya. Menunggu perintah Aksa.
Bukannya langsung bicara, Aksa semakin intens menatap Alle. Membuat wanita itu jadi tidak nyaman sendiri. Antara takut dan gugup.
"Aku tidak tahu apa yang menyebabkan kamu tidak konsentrasi karena kamu lebih memilih menyimpan masalahmu sendiri."
Alle terdiam. Kenapa jadi begini?
"Kalau kamu masih ingin bekerja dengan ku, aku tidak ingin lagi melihat kamu tidak fokus."
"Maaf, Pak." Alle menunduk malu karena pekerjaannya tidak sebaik biasanya. "Saya akan berusaha sebaik mungkin, saya janji tidak akan mengulangi lagi."
"Sekarang kamu pulang saja!"
"Tapi, Pak ...."
"Aku sudah menawarkan diri untuk membantu jika kamu ada masalah dengan menceritakannya padaku. Dengan begitu kupikir bebanmu akan sedikit berkurang, tapi kamu menolak dengan berbagai alasan yang kamu buat. Ya sudah, kamu pulang saja, dan selesaikan masalahmu agar kamu bisa kembali bekerja dengan baik. Aku tidak bisa terima cara kerja yang seperti ini. Hanya buang-buang waktu."
Ucapan Aksa begitu menohok. Membuat Alle sadar betapa kesalahan yang ia buat merugikan bosnya.
"Saya memang sedang ada masalah, tapi masalah saya itu adalah urusan pribadi saya. Tidak mungkin saya bercerita pada Bapak sebagai atasan saya."
"Kalau kamu tidak nyaman menganggapku bos kamu, anggap saja aku temanmu. Kamu sudah sering membantuku, jika aku bisa membantumu itu juga akan membuatku merasa berguna sebagai seorang bos dan teman."
Alle menggeleng. "Terima kasih Pak, saya akan menyelesaikannya sendiri." Alle bersikeras.
Aksa tak mampu memaksa sekretarisnya bercerita. Ia masih mempertimbangkan status di atara mereka. Terlalu masuk dalam urusan pribadi sekretarsinya juga bukanlah hal bijak.
Keduanya pun kembali bekerja hingga jam pulang kantor tiba.
"Kita pulang bersama?" ajak Aksa.
"Tidak, Pak, terima kasih. Saya pulang sendiri saja," tolak Alle.
"Kenapa?"
"Saya yakin Bapak sibuk, jadi sebaiknya saya pulang sendiri saja."
"Aku tidak sibuk, aku bisa mengantarmu pulang."
"Anda lupa, tadi pagi Nona Bianca membuat janji dengan Anda. Mungkin sekarang dia sudah bersiap menunggu Anda."
"Sudah ayo kita pulang." Tak menghiraukan ucapan Alle, Aksa menarik tangan Alle begitu saja dan menyeretnya masuk ke dalam elevator. Banyak mata yang menyaksikan kejadian itu termasuk Wina dan Silvi.
Meski tatapan karyawannya tertuju pada Aksa dan tangan yang mengeggam tangan Alle, Aksa tak ambil peduli. Ia tak acuh dengan siapa pun yang melihatnya.
"Pak, lepaskan." Alle berusaha melepaskan tangan Aksa yang terus saja menyeretnya ke parkiran.
Ia membuka pintu mobilnya dan menyuruh Alle duduk. Sekretarisnya itu bergeming tak mau masuk tapi Aksa memaksa dengan mendorong tubuh Alle agar masuk. Lalu menutup pintu mobil itu dengan segera.
Segera Alle mengemudikan mobil tersebut. Di tengah perjalanan, Aksa menerima panggilan dari mantan kekasihnya Bianca. Wanita yang tak terima diputuskan itu meminta untuk bertemu Aksa sekali lagi. Bianca berjanji setelah ini ia tak akan mengganggu hidup Aksa lagi.
"Kita ke apartemen Bianca." Mendadak Aksa memutar balik mobilnya, menuju apartemen sang mantan kekasih.
"Tapi, Pak, saya kan harus pulang."
"Hanya sebentar." Aksa memaksa.
"Pak ...."
"Aku janji, sebentar saja."
Secepat mungkin Aksa memacu mobilnya agar tiba di apartemen Bianca. Sesekali ia melirik sekretaris yang duduk di samping kemudi. Tak ada percakapan apa pun karena ia tahu Alle pasti sedang memikirkan anaknya di rumah.
"Ayo," ajak Aksa turun.
"Ke mana, Pak?"
"Naik, lah."
"Tapi, bukannya biasanya Bapak naik sendiri?"
"Sekarang aku dan Bianca sudah putus, aku tidak mau berdua saja dengannya. Kamu temani aku!" Belum ada jawaban dari Alle, Aksa sudah menarik tangan sekretarisnya itu keluar. Mengajaknya naik di mana flat Bianca berada.
Tak lama setelah menekan bel, suara nyaring Bianca menyambut mereka. Raut kecewa dan kesal yang pertama terlihat pada wajah model itu. Tentu tertuju untuk Alle.
"Kenapa dia ikut?" tanya Bianca.
"Aku tidak bisa meninggalkannya, jadi aku ajak."
Bianca mencebik. Tak suka dengan keberadaan Alle di tempatnya.
"Katakan apa yang kamu inginkan, aku tidak punya banyak waktu!"
Walaupun kesal dengan kehadiran Alle, Bianca tak boleh menyerah begitu saja. "Kita masuk dulu," ajak Bianca. Membuka pintu apartemennya lebar-lebar.
Aksa menoleh pada Alle dan mengajak sekretarisnya itu masuk.
Mata Bianca mendelik tajam saat memperhatikan tangan Aksa yang menggenggam erat tangan sekretarisnya.
"Jadi secepat itu kamu dapat penggantiku. Kupikir kamu dapat yang lebih dariku, tapi ternyata kamu lebih memilih yang murahan dibanding aku." Tak tahan melihat Aksa dan sekretarisnya, Bianca berusaha menjatuhkan Alle.
"Aku ke sini bukan untuk mendengar komentarmu dengan siapa aku sekarang. Kalau tidak ada yang ingin kamu bicarakan, sebaiknya aku pergi."
Aksa bahkan belum duduk tapi ia sudah ingin keluar dari apartemen ini.
"Tunggu, aku ingin bicara. Duduklah dulu." Bianca mengalah. Ia harus menekan egonya sekarang. Setelah Aksa dan Alle duduk, Bianca mengambil minum untuk pria itu. Minuman yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Model itu membawa dua gelas minuman yang berbeda untuk tamunya. Bianca mempersilakan, dia juga berkata akan bicara setelah Aksa menghabiskan minumannya.
Alle yang pertama mengambil gelas tersebut. Tiba-tiba, Aksa mengambil gelas Alle dan menukarnya. Lewat sorot matanya Alle hendak bertanya, kenapa.
"Aku mau yang ini," ujar Aksa yang tak mungkin dibantah oleh Alle.
"Kenapa, aku sudah menyiapkan minuman itu untukmu. Bukannya kamu lebih suka orange juice dari pada sirup?" protes Bianca.
"Aku sedang ingin sirup." Aksa langsung meneguk minuman itu yang disusul dengan Alle.
"Katakan sekarang apa maumu!" ujar Aksa setelah menaruh gelasnya kembali.
"Ehm ... aku, aku ... ingin ...." Sikap Bianca mendadak aneh. Ia menjadi lebih gugup dan tatapannya selalu melirik sekretaris Aksa.
"Kamu kenapa?"
"Aku ingin kita kembali. Aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa kita berpisah." Bianca meremas gaunnya. Matanya selalu melirik ke arah Alle.
Aksa yang menyadari itu pun menoleh pada Alle yang duduk di sampingnya.
"Jangan bercanda! Aku tidak mungkin kembali padamu. Mulai sekarang jangan pernah lagi hubungi aku!" Aksa bangkit, ia mengajak Alle untuk pergi dari ruangan ini.
Baru beberapa langkah mereka beranjak, mendadak Alle jatuh pingsan.
"All ... Alle," panggil Aksa yang kaget melihat sekretarisnya mendadak tak sadarkan diri.
harta juga nggak jadi penolong Fadil diakhir hidup nya.