Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Kaca di Jenewa
Jenewa di bawah cakrawala kelabu tampak seperti kota yang terbuat dari kristal dan baja dingin. Di sini, di pusat diplomasi dunia, kebenaran sering kali dikubur di bawah tumpukan protokol dan perjanjian rahasia. Bagi Elena Moretti dan Matteo Valenti, status sebagai buronan Interpol tidak lebih dari sekadar gangguan teknis yang memaksa mereka untuk bergerak lebih dalam di bawah radar. Kabut yang menggantung rendah di atas Danau Leman menjadi sekutu sementara saat mereka menyusuri gang-gang sempit menuju distrik perbankan bawah tanah yang dikenal sebagai The Vault.
Matteo menghentikan langkah di sebuah sudut jalan yang sunyi, matanya tajam memantau pergerakan mobil patroli kepolisian Swiss yang lewat setiap lima menit. Wajah pria itu kini tertutup oleh tudung jaket tahan air, namun sorot matanya tetap memancarkan kewaspadaan seorang predator yang sedang diburu.
"Maksud dari Karl Vogel mengeluarkan Red Notice secepat ini adalah untuk mengunci gerak-gerik kita di setiap perbatasan," bisik Matteo sambil menyesuaikan alat komunikasi di telinganya. "Setiap kamera pengawas di kota ini sekarang mencari wajah kita. Kita tidak bisa berjalan di permukaan lagi."
Elena mengangguk, jari-jarinya dengan lincah membuka panel akses di sebuah kotak kontrol utilitas di samping bangunan tua. "Luca sudah berhasil mengalihkan arus data dari pusat pemantauan distrik ini selama enam puluh detik. Itu jendela waktu kita untuk masuk melalui jalur perawatan limbah."
Kegelapan di bawah tanah Jenewa berbau lembap dan logam. Dengan senter kecil yang terpasang di pergelangan tangan, Elena memimpin jalan melewati terowongan beton yang meliuk-liuk di bawah gedung-gedung megah. Di sini, di balik dinding-dinding yang tebal, tersimpan arsip fisik dari organisasi-organisasi yang tidak pernah tercatat dalam sejarah resmi.
"Target kita berada di Level 4," Elena menjelaskan sambil menatap denah holografik di tabletnya. "Ruang arsip 'The Vault' tidak terhubung dengan internet. Itu sebabnya Vogel begitu tenang meskipun aku sudah meretas komputernya di Zurich. Data fisik 'Albatros'—sampel asli dan catatan laboratorium ayahku—hanya bisa diambil secara manual."
Langkah kaki mereka bergema pelan di lorong yang sunyi. Begitu mencapai pintu baja besar yang menandakan batas wilayah The Vault, Matteo segera mengambil posisi pelindung. Matteo mengeluarkan sebuah alat pelumpuh elektronik untuk menonaktifkan sensor laser yang membelah ruangan di depan mereka.
"Hati-hati, Elena. Lantai ini memiliki sensor tekanan," peringat Matteo.
Elena bergerak dengan keanggunan seorang penari balet, melangkah hanya pada ubin-ubin tertentu yang telah ditandai oleh algoritma Luca. Setiap gerakan Elena dilakukan dengan perhitungan matang, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Di ujung ruangan, sebuah peti logam dengan segel biometrik ganda berdiri kokoh.
"Ini dia," bisik Elena.
Namun, sebelum Elena sempat menyentuh konsol akses, lampu ruangan yang tadinya redup tiba-tiba menyala dengan kekuatan maksimal, membutakan penglihatan mereka sesaat. Suara tepuk tangan yang lambat terdengar dari balkon di atas ruangan arsip.
"Sangat mengesankan. Putri Moretti benar-benar memiliki bakat ayahnya untuk menyusup ke tempat-tempat yang terlarang," sebuah suara berat dengan aksen Inggris yang kental menggema di ruangan itu.
Seorang pria tinggi dengan rambut perak dan setelan jas yang sangat rapi berdiri di sana. Di sampingnya, belasan agen bersenjata lengkap dari unit khusus Black Wing telah mengunci posisi mereka.
"Siapa kau?" bentak Matteo, senjatanya langsung terarah pada pria itu.
"Namaku adalah Julian Vane. Karl Vogel hanyalah karyawan tingkat bawah di organisasiku," pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak pernah mencapai matanya. "Maksud dari ayahmu menciptakan 'Albatros' sebenarnya adalah sebuah kesalahan yang sangat menguntungkan bagi kami. Dia ingin menciptakan penawar untuk penyakit genetik, namun dia justru menemukan cara untuk menghancurkan populasi tertentu tanpa melepaskan satu peluru pun."
Elena menatap peti logam di depannya dengan rasa ngeri yang semakin mendalam. "Ayahku mencoba menghancurkannya. Dia bukan bagian dari kalian!"
"Memang tidak. Itu sebabnya dia harus... dieliminasi," jawab Vane dengan nada bicara seperti sedang membahas cuaca. "Dan sekarang, kau membawakan kuncinya langsung ke tanganku. Data digital yang kau ambil di Zurich adalah bagian terakhir yang kami butuhkan untuk mengaktifkan sampel di dalam peti itu."
Situasi di dalam labirin kaca itu kini berada di titik nadir. Matteo melirik Elena, memberikan sinyal rahasia melalui gerakan jemarinya. Mereka tidak boleh membiarkan sampel itu jatuh ke tangan Vane, namun dikepung oleh selusin penembak jitu bukanlah posisi yang ideal.
"Matteo, sekarang!" teriak Elena.
Elena tidak lari ke arah pintu keluar. Sebaliknya, Elena menghantamkan tabletnya ke arah panel kontrol peti logam tersebut, memicu overload listrik pada sistem biometrik. Di saat yang sama, Matteo melepaskan dua granat asap dan mulai menembak secara membabi buta ke arah lampu-lampu di balkon untuk menciptakan kekacauan.
Duar! Duar!
Ruangan arsip seketika berubah menjadi neraka gelap yang dipenuhi asap abu-abu. Suara tembakan balasan dari anak buah Vane menghujani peti logam tersebut. Elena merayap di bawah meja-meja arsip, tangannya meraih sebuah tabung kecil dari dalam peti yang kini telah terbuka paksa akibat lonjakan listrik tadi.
"Aku mendapatkannya, Matteo! Lari!" Elena berteriak di antara bisingnya peluru yang memantul di dinding baja.
Mereka berlari kembali menuju terowongan bawah tanah, namun Julian Vane tidak membiarkan mereka pergi begitu saja. Pintu baja di depan mereka mulai menutup secara otomatis. Dengan kekuatan yang lahir dari keputusasaan, Matteo melemparkan tubuhnya untuk menahan pintu itu tetap terbuka selama beberapa detik, cukup bagi Elena untuk meluncur lewat di bawahnya.
"Matteo, cepat!" Elena menarik tangan Matteo sekuat tenaga saat pintu itu hampir menjepit kaki suaminya.
Mereka berhasil masuk kembali ke dalam lorong limbah, namun suara langkah kaki para agen Black Wing terdengar sangat dekat di belakang mereka. Pelarian kali ini bukan lagi soal menuju Jenewa, melainkan keluar dari Swiss hidup-hidup.
Satu jam kemudian, mereka muncul di pinggiran Danau Leman, jauh dari pusat kota. Hujan mulai turun, membasuh noda debu dan darah di wajah mereka. Elena menggenggam tabung perak itu dengan tangan yang gemetar. Maksud dari semua penderitaan ini kini berada di telapak tangannya—sebuah botol kecil yang berisi kehancuran sekaligus kebenaran.
"Kita tidak bisa membawa ini ke bandara," ucap Matteo sambil mengatur napasnya yang tersengal. "Interpol, Black Wing, dan organisasi Vane akan menutup setiap inci perbatasan Swiss."
Elena menatap permukaan danau yang tenang. Elena menyadari bahwa permainan ini sudah jauh melampaui kemampuan mereka sebagai individu. Mereka butuh sekutu yang lebih besar.
"Kita akan pergi ke kedutaan besar Prancis di Jenewa," putuskan Elena. "Ayahku pernah menyebutkan nama seorang diplomat di sana yang berhutang nyawa padanya. Ini adalah taruhan terakhir kita, Matteo."
Matteo mengangguk, ia memeluk Elena dengan erat di bawah rintik hujan. "Apapun yang terjadi, kita tidak akan membiarkan 'Albatros' dilepaskan. Jika kita harus mati di sini, maka rahasia ini akan mati bersama kita."
Malam di Jenewa masih panjang, dan perburuan internasional baru saja memasuki fase yang paling brutal. Elena Moretti dan Matteo Valenti kini tidak hanya membawa warisan keluarga, tetapi juga nasib jutaan nyawa yang tergantung pada tabung kecil di tangan mereka. Di bawah bayang-bayang Alpen, dua jiwa dari Verona itu bersiap untuk melakukan pengorbanan terakhir demi kebenaran yang telah lama terkubur.