NovelToon NovelToon
TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi Timur / Fantasi Isekai
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Karma Danum

Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.

Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: DINAMIKA TIM

Kafetaria akademi ramai seperti biasa. Suara tawa, obrolan, dan bunyi piring berdentang memenuhi ruangan luas dengan langit-langit tinggi. Aroma makanan—sedikit aneh karena beberapa bahan berasal dari dunia Gate—bercampur dengan keringat setelah latihan.

Aku, Ji-woo, Seo-yeon, dan Joon-ho duduk di meja pojok, jauh dari keramaian. Meja kami seperti pulau sunyi di tengah lautan kebisingan. Tidak ada yang mendekat. Mungkin karena reputasi kami sebagai “tim remedial”, atau mungkin karena kehadiran Joon-ho yang sudah terkenal sebagai “si non-combatant” membuat orang lain enggan berinteraksi.

Seo-yeon memainkan sendoknya, mata melirik ke arah meja di seberang di mana tim Song Min-hyuk duduk dengan percaya diri. Mereka tertawa lepas, seperti sudah menang misi sebelum bertempur.

“Mereka pasti menganggap kita bahan lelucon,” gumam Seo-yeon tanpa semangat.

Ji-woo mengunyah nasi dengan lambat, ekspresinya tenang. “Biarkan saja. Kita tahu kemampuan kita.”

“Tapi kita belum tahu kemampuan kita,” bantah Seo-yeon. “Kita baru latihan formasi dasar. Bagaimana kalau besok…”

“Kita akan baik-baik saja.” Suara datar Joon-ho memotong. Dia tidak makan, hanya minum air putih sementara matanya tetap menatap tabletnya. “Probabilitas keberhasilan misi kita adalah 78%, asumsi semua variabel berjalan sesuai prediksi.”

“78%?” Aku menoleh. “Itu tinggi atau rendah?”

“Dibandingkan tim lain yang mendapat misi serupa? Rata-rata mereka 92%.” Joon-ho tidak mencoba memoles. “Tapi itu karena mereka memiliki setidaknya satu anggota dengan kekuatan ofensif jelas. Kita tidak. Jadi 78% sudah cukup baik.”

Seo-yeon menghela napas. “Kau tidak pernah mencoba menghibur, ya?”

“Data tidak bertugas menghibur. Data bertugas memberi gambaran realitas.” Joon-ho meletakkan tabletnya. “Tapi, jika kalian butuh ‘penghibur’: probabilitas cedera serius di bawah 5%. Kematian: 0,3%. Akademi tidak akan mengirim siswa ke Gate tanpa pengawasan ketat. Ada guru yang standby di luar, dan Gate F-rank hanya berisi Goblin—monster paling dasar.”

“Masih saja, 0,3% itu ada,” desis Seo-yeon.

“Hidup di dunia ini memiliki risiko kematian 100%,” balas Joon-ho. “Hanya masalah waktu.”

Suasana jadi canggung. Ji-woo berdeham. Aku mencoba mengalihkan topik.

“Jadi, Joon-ho, kau sudah lama tertarik dengan penelitian dimensi?” tanyaku, mengingat penawarannya tadi.

Dia mengangguk. “Sejak kecil. Ayah saya adalah peneliti di Ouroboros—bukan ilmuwan utama, tapi staf pendukung. Saya sering dibawa ke lab, melihat eksperimen kecil. Tapi setelah insiden dengan ayahmu… semua proyek dimensi diperketat. Ayah saya dipindahkan ke divisi lain.”

Aku merasa jantung berdetak cepat. “Jadi kau tahu tentang eksperimen ayahku?”

“Hanya sepintas. Tapi saya punya akses ke arsip internal Ouroboros—level terbatas, tapi lebih dari yang umum.” Joon-ho menatapku. “Jika kau mau, kita bisa mulai setelah misi besok. Tapi satu peringatan: menyelidiki ini berisiko. Ouroboros tidak suka orang mengorek-ngorek masa lalu mereka.”

“Aku tahu.” Aku mengatupkan tangan. “Tapi aku perlu tahu.”

“Baik.” Joon-ho menganggak. “Saya akan siapkan data awal.”

Seo-yeon mendengarkan dengan wajah penasaran. “Apa yang terjadi dengan ayahmu, Min-jae?”

Aku menjelaskan singkat—kecelakaan lab, laporan resmi yang samar, ayah yang dinyatakan hilang. Ji-woo juga menyimak, ekspresinya serius.

“Kalau butuh tenaga, aku bisa bantu,” ujar Ji-woo tiba-tiba. Suaranya rendah tapi tegas. “Aku tidak pintar analisis, tapi aku bisa jaga keamanan.”

Seo-yeon juga mengangguk. “Aku juga. Kita tim kan? Harus saling membantu.”

Aku terharu. Ini… baru beberapa jam kami bersama, tapi mereka sudah mau terlibat dalam urusan berbahaya.

“Terima kasih,” kataku. “Tapi untuk sekarang, fokus kita misi besok dulu.”

“Setuju,” sahut Joon-ho. “Dan tentang misi besok, ada satu hal yang perlu kita latih lagi: komunikasi darurat.”

Dia mengeluarkan empat perangkat kecil seperti headset nirkabel. “Ini communicator jarak pendek. Jangkauan 500 meter. Kita pakai ini di dalam Gate. Saya akan jadi operator, memberi arahan berdasarkan data drone.”

“Keren!” Seo-yeon mengambil satu. “Kau buat sendiri juga?”

“Modifikasi.” Joon-ho hampir tersenyum lagi. “Saya suka memodifikasi alat. Lebih berguna daripada sekadar teori.”

---

**🕐 Sore hari — Ruang Pelatihan Khusus**

Kami latihan lagi, kali ini dengan communicator. Suara Joon-ho terdengar tenang dan jelas di telinga.

“Ji-woo, mundur dua langkah. Ada lubang tersembunyi di depanmu.”

“Min-jae, perhatikan sebelah kiri—simulasi Goblin datang dari sana. Coba ganggu keseimbangannya.”

“Seo-yeon, tetap di belakang. Jika Ji-woo terdesak, siapkan energi penyembuhan.”

Latihan berlangsung intens. Aku mulai memahami polanya: Joon-ho seperti konduktor orkestra, kami adalah pemainnya. Dia tidak bertarung, tapi pengaruhnya terasa di setiap gerakan kami.

Setelah dua jam, kami istirahat. Ji-woo duduk di lantai, napasnya sedikit terengah. Seo-yeon memeriksa energi penyembuhannya sendiri.

“Kalian tahu,” ucap Seo-yeon tiba-tiba, “awalnya aku pikir tim ini akan jadi bencana. Aku dari keluarga biasa, cuma bisa healing. Ji-woo dari keluarga miskin, cuma bisa nahan pukulan. Min-jae… maaf, tapi ranking potential-mu E. Dan Joon-ho tanpa kekuatan tempur sama sekali.”

Kami diam, menunggu kelanjutannya.

“Tapi sekarang… aku merasa kita mungkin bisa.” Dia tersenyum kecil. “Mungkin tidak hebat seperti tim lain, tapi kita punya sesuatu yang mereka tidak punya.”

“Apa?” tanyaku.

“Kita tidak punya pilihan selain mengandalkan satu sama lain.” Ji-woo menjawab menggantikan Seo-yeon. “Mereka punya bintang di tim, jadi yang lain bisa santai. Kita? Jika satu jatuh, semua jatuh.”

Joon-ho mendengus. “Analisis yang sentimentil tapi akurat. Tim kita bertumpu pada sinergi, bukan keunggulan individu. Itu kelemahan sekaligus kekuatan.”

Aku mengangguk. Mungkin mereka benar. Di dunia sebelumnya, sebagai editor, aku sering bekerja dengan tim kreatif yang saling melengkapi—penulis, ilustrator, desainer. Tidak ada yang bisa melakukan semuanya sendiri.

“Besok,” kataku, “kita buktikan bahwa underdog bisa menang.”

---

**🌙 Malam hari — Asrama**

Aku tidak bisa tidur. Pikiranku melayang antara misi besok dan penelitian ayah. Joon-ho menawarkan harapan baru, tapi juga membawa pertanyaan: kenapa dia mau membantu? Hanya karena penasaran ilmiah? Atau ada motif lain?

*Ding.*

Notifikasi di ponsel. Pesan dari Joon-ho.

**Joon-ho:** Saya kirim beberapa dokumen awal tentang penelitian dimensional resonance. Baca jika tidak bisa tidur. Tapi jangan disebarkan.

Aku membuka file yang dikirimnya. Ada laporan eksperimen kecil, jurnal lab, dan daftar nama peneliti yang terlibat. Nama ayahku, Dr. Kang Min-soo, muncul di hampir setiap halaman. Juga nama lain: **Director Oh**, **Dr. Lee** (mungkin ayah Joon-ho?), dan beberapa nama asing.

Satu dokumen menarik perhatianku: catatan rapat internal tentang “risiko ketidakstabilan dimensi”. Di bagian kesimpulan, ada tulisan tangan ayahku:

> **“Jika resonance mencapai titik kritis, Gate tidak hanya terbuka—ia bisa menciptakan tautan permanen, atau bahkan… menggabungkan dunia.”**

Aku membeku. *Menggabungkan dunia?* Apa maksudnya?

Pesan lagi dari Joon-ho.

**Joon-ho:** Sudah baca bagian kesimpulan?

**Aku:** Iya. Apa ini artinya…?

**Joon-ho:** Saya masih selidiki. Tapi sepertinya eksperimen mereka lebih dari sekadar stabilisasi Gate. Mereka mencoba sesuatu yang lebih besar.

**Aku:** Berbahaya?

**Joon-ho:** Sangat. Tidurlah. Besok kita hadapi Goblin dulu. Satu krisis setiap waktu.

Aku mematikan ponsel, tapi pikiranku tetap terjaga. Dunia ini ternyata lebih rumit dari yang kuduga: Gate, monster, kekuatan, dan di baliknya, konspirasi ilmiah yang bisa mengancam segalanya.

Dan di tengah semua ini, aku harus bertahan sebagai siswa akademi hunter yang hampir gagal, dengan tim underdog yang aneh.

*Tidak masalah*, batinku. *Aku sudah terbiasa menghadapi deadline naskah yang mustahil. Ini hanya… deadline dengan Goblin.*

Aku akhirnya tertidur, dengan mimpi aneh tentang ayah, Gate, dan suara Joon-ho yang terus memberi instruksi.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!