Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.
Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Bab 30 Aku Masih Perawan
Begitu Dion Leach sadar, Anita Lewis segera membuka pintu dan mempersilakan Jaccob masuk untuk memeriksa keadaannya.
Tak lama kemudian, Pak Drake Leach, yang semalaman tak bisa tidur karena cemas, juga datang bergegas ke kamar cucunya. Suasana mendadak ramai, beberapa orang keluarga dan pengawal ikut masuk, semua dengan wajah khawatir.
Dion mendongak perlahan. Di balik kerumunan itu, matanya langsung menangkap sosok Anita yang berdiri agak jauh di belakang. Tubuhnya tampak lelah, matanya sembab, tapi senyum lembut tetap terukir di wajahnya.
Pak Leach menoleh padanya dan berkata pelan namun tegas, “Anita, kau belum tidur semalaman. Pergilah makan dan istirahat sebentar.”
Anita mengangguk kecil. “Baik, Kakek.” Lalu ia keluar perlahan, menutup pintu dengan klik lembut.
Begitu pintu tertutup, Dion masih menatap ke arah di mana Anita tadi berdiri, seakan tak mau mengalihkan pandangan. Barulah setelah bayangannya hilang, ia menarik napas panjang dan menatap kakeknya.
“Kakek,” suaranya berat, “tadi malam... apakah aku bertingkah kasar lagi?”
Pak Leach terdiam. Mata tuanya mendadak basah, tapi ia menahan diri untuk tidak menunjukkan kelemahan di depan cucunya. “Jaccob bilang kondisimu memburuk. Kalau saja obat khusus kiriman Hendra Yates tidak datang tepat waktu, mungkin......”
Suaranya tercekat. Ia berhenti berbicara, menelan kesedihan itu dalam-dalam.
Cucunya masih hidup. Ia tidak boleh menangis di hadapan keajaiban kecil itu.
Jaccob bersuara geram sambil memijat pelipisnya, “Ini aneh, Dion. Seranganmu seharusnya belum waktunya. Aku sudah menghitung harusnya masih enam bulan lagi. Tapi ini terjadi setengah tahun lebih cepat!”
Nada suaranya dipenuhi kekhawatiran.
Itu berarti, jika serangan datang lebih awal, mungkin umur Dion juga... akan berakhir lebih cepat.
Dion menunduk dalam-dalam. “Ini bukan karena Anita... tapi karena aku sendiri.”
Tangannya mengepal erat di atas selimut. Ia mengingat kejadian semalam, bagaimana amarah membuncah saat melihat Wawan datang dan Anita berdiri di depannya, melindungi pria itu.
Ia istrinya. Bagaimana bisa... membela pria lain?
Dan lebih parahnya, pria itu mantan kekasihnya!
Jaccob mendengus, “Tapi perempuan itu.....”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Dion menatap tajam. “Panggil dia Nyonya Leach.”
Suasana seketika hening. Jaccob mengatupkan rahang, enggan menuruti, tapi tak berani membantah.
Dion menoleh lagi ke arah kakeknya. “Kakek... apa aku sempat menyakiti Anita semalam?”
Jaccob spontan menyentuh hidungnya yang masih sedikit nyut-nyutan. “Aku sih yang hampir patah hidung,” gumamnya pelan. Tapi apa yang terjadi setelah itu? Ia pun tak tahu, karena dirinya sempat pingsan.
Pak Leach akhirnya bercerita dengan nada berat. “Kau... hampir berbuat sesuatu padanya. Aku sudah menyuruh pengawal keluar saat itu. Begitu pengawal baru naik ke atas, kau sudah pingsan.”
Bugh! kata-kata itu menghantam dada Dion seperti pukulan.
Matanya membulat, dan hanya bisa membisu beberapa detik.
Jadi benar... bekas merah di leher Anita bukanlah ilusi. Itu ulahnya sendiri.
Jaccob, yang ikut mendengar, langsung terperangah. “Tunggu dulu... Dion sedang dalam serangan, bukan dalam... birahi. Jadi bagaimana mungkin dia bisa...?”
Ia menatap Pak Leach dengan curiga. “Kakek, jangan bilang Kakek salah lihat.”
Pak Leach langsung melotot. “Apa maksudmu, bocah?”
Jaccob mundur setengah langkah, tapi tetap menggerutu, “Aku cuma bilang yang sebenarnya. Selama ini, setiap kali Dion kambuh, dia selalu ingin menghancurkan siapa pun terutama wanita. Tapi semalam dia malah...”
Tiba-tiba matanya menyipit tajam, bibirnya melengkung licik. “Jangan-jangan... Anita yang membius Dion dan mencoba memaksakan diri padanya?”
Krak! tongkat Pak Leach menghantam lantai dengan keras.
“Kalau kau tak punya kerjaan, pergilah manjat pohon dan belajar menggonggong seperti Wolfy!”
Jaccob tersentak. “A-aku cuma bercanda, Kek...” gumamnya pelan, sambil mengusap pipinya yang masih terasa perih akibat tamparan semalam.
Keheningan kembali mengisi kamar. Hanya suara angin dari jendela yang terbuka sedikit .... swish... swish...
Anehnya, kali ini Dion justru tampak lebih tenang daripada biasanya. Wajahnya pucat, tapi matanya bersinar jernih, dan napasnya stabil.
Beberapa jam kemudian, setelah Anita selesai mandi dan berganti pakaian, ia masuk kembali ke kamar. Dion sudah duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela.
Begitu Anita masuk, mata mereka saling bertemu. Suasana jadi kikuk, hanya suara langkah kaki Anita yang terdengar tap... tap... tap... di lantai marmer.
Ia berhenti beberapa langkah di depannya, lalu berkata pelan, “Dion.”
Dion mengangkat wajahnya sedikit. “Hmm?”
Anita menggigit bibirnya, mencoba menata napas sebelum berbicara lagi.
“Wawan dan aku... bukan seperti yang kamu pikirkan. Kami bukan sepasang kekasih. Aku.....”
Suara Anita bergetar, tapi matanya menatap lurus ke arah Dion. Ada sesuatu yang ingin ia jelaskan... sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya.
Dion menatap tajam ke arah Anita, lalu mendongak dengan nada berat di suaranya.
“Aku nggak peduli siapa kamu dulu, Anita. Aku cuma peduli sekarang... dan nanti.”
Kata-katanya terdengar mantap, tapi di balik itu ada sesuatu yang menggelegak. Sejak mereka bertemu, tidak ada orang lain yang diizinkan mendekatinya. Begitu saja, tanpa peringatan.
Anita menatapnya dengan mata yang berkilat tajam. “Aku nggak pernah tidur sama siapa pun, Dion. Aku cuma jelasin biar kamu nggak salah paham.”
Dion menghela napas, wajahnya mengeras. “Aku nggak peduli sama masa lalumu.”
Tapi nada suaranya bergetar sedikit, seolah kalimat itu bukan buat Anita, melainkan buat dirinya sendiri. Ia tahu rasa cemburu yang menggerogoti hatinya itu konyol. Tapi logika kalah cepat dari rasa kepemilikan.
Dia menyukainya bukan tubuhnya, bukan masa lalunya. Tapi kenapa dadanya terasa sesak setiap kali nama pria lain disebut?
Dia hanya ingin mengubur semua laki-laki yang pernah menatap Anita dengan cara yang sama seperti dirinya sekarang.
Anita mendengus kesal dan menatapnya balik, “Aku ini masih perawan, Dion. Dan kamu.... kamu yang nyuri ciuman pertamaku, jadi jangan berani cemburu lagi, paham?!”
Clek! suara langkahnya terdengar tajam di lantai marmer ketika dia berbalik, lalu brak! pintu kamar ditutup keras di belakangnya. Ia menuruni tangga dengan langkah cepat, wajahnya merah oleh amarah.
Dion terpaku. Kata-kata itu masih bergema di kepalanya. Ia membeku cukup lama sebelum bibirnya melengkung pelan. Huh… napasnya keluar disertai tawa kecil yang nyaris tak terdengar.
Kalau Anita bilang begitu… maka ia akan mempercayainya.
---
Tuan Tua Leach sedang sarapan di ruang makan besar ketika bruk! kursi bergeser keras. Anita datang dengan langkah berat dan wajah cemberut.
“Anita, kenapa kamu marah-marah begitu , ini masih pagi?” tanya sang kakek sambil meletakkan koran.
Jaccob yang duduk di seberangnya melirik sekilas, lalu pura-pura sibuk dengan sarapannya. Clek clek clek, sendoknya beradu dengan piring, tanda ia tidak mau ikut campur.
“Aku baik-baik aja, Kek,” ujar Anita cepat, suaranya ketus.
“Baik-baik aja apanya? Pipi kamu kayak ikan mas begitu!” ujar Tuan Leach sambil mengerling geli. “Jangan bilang Dion lagi yang bikin kamu marah?”
Jaccob langsung menyela dengan mulut masih penuh, “Kakek, jangan percaya. Justru dia tuh yang bikin Dion naik darah. Siapa juga yang berani bikin dia kesal?”
Anita menatap Jaccob tajam. “Tuan Harding, masih ingat janji kamu semalam? Sudah waktunya kamu tepati.”
Jaccob mendengus dan menunduk makin dalam, pura-pura tidak dengar.
Anita menyandarkan diri di kursi dengan senyum sinis. “Kalau otakmu lagi ngadat dan kamu lupa, aku bisa bantu ngingetin.”
Jaccob langsung menatapnya, wajahnya memanas. “Otakku baik-baik aja! Aku ingat. Aku bakal selesaikan itu habis makan.”
Anita terkekeh pelan. “Hehe... ya baguslah. Tapi kamu harus makan yang banyak ya, biar kuat. Nanti kamu bisa manjat pohon atau ngegonggong lagi, jadi aku tahu kamu babi atau anjing.”
Ting! sendok jatuh dari tangan Jaccob. Wajahnya merah padam, antara malu dan jengkel.
Tuan Leach menahan tawa.
---
Tak lama kemudian, langkah berat terdengar dari arah tangga. Tok tok tok. Dion muncul dengan ekspresi tenang, seolah pertengkaran tadi tak pernah terjadi.
“Selamat pagi semuanya,” katanya datar, lalu duduk di sebelah Anita.
Tuan Leach melirik dengan mata curiga. “Kamu malah senyum-senyum. Anak perempuan ini lagi marah, kamu nggak takut dikurung di luar lagi?”
Dion terbatuk kecil, “Uhukkk... Kakek tahu juga soal itu…”
Tapi tak lama, ekspresinya melunak. Ia mengambil telur rebus dari mangkuk, mengupasnya dengan sabar, lalu menaruhnya di piring Anita. “Makan, ya. Kamu belum sarapan kan?!”
Clek! telur itu dikembalikan padanya dengan cepat. “Makan sendiri. Aku nggak mau.”
Dion tersenyum tipis, lalu mengupas satu lagi. “Kalau gitu aku makan satu, kamu satu. Adil, kan?”
“Dion.....!” Anita menatapnya jengkel. Tapi nada marahnya mulai menurun.
“Aku minta maaf, oke?” suaranya lembut, nyaris berbisik.
Jaccob sampai terbelalak. Dion Leach, si pria dingin dan arogan, minta maaf? Dengan nada selembut itu?
Ia bersandar dan berbisik ke arah Tuan Leach, “Kakek, dia beneran Dion? Jangan-jangan udah dibius sama Anita.”
Dion meliriknya dingin. “Kalau kamu udah kenyang, silakan manjat pohon di luar.”
Duh! Jaccob langsung bungkam, menatap telurnya dengan murung, sementara Tuan Leach hanya bisa terkekeh kecil.
Ruang makan pun dipenuhi aroma sarapan, tapi juga kehangatan aneh yang sulit dijelaskan, campuran antara cinta, gengsi, dan tawa kecil yang nyaris tak terdengar.
---
Bersambung.....