Ellena adalah sosok gadis yang mandiri, kuat, keras kelapa, sedikit kasar, namun hatinya baik dan murah hati. Ellena sangat sering membantu teman-teman di daerahnya yang kurang mampu.
Ia dibesarkan dari sepasang suami istri yaitu Papa dan Mamanya, yang memulai hidup berumah tangga dari O saat mereka menikah, sampai mereka membuka bisnis dan hidup berkecukupan.
Masa pertumbuhan Ellena, ia mendapat didikkan yang sangat keras oleh Papanya. Karenaa banyaknya pengalaman saat merantau semasa muda, menjadikan Papa Ellena sangat keras dalam mendidik anak-anaknya. Begitu juga dengan Ibunya yang menjadi guru SD dan SMP didaerahnya. Ia adalah wanita mandiri.
Papa Ellena sering melayangkan tangan, kaki, barang atau pun dengan ucapan yang keras dan kasar kepada Ellena dan Mamanya.
Ellena memilih satu Adik laki-laki yang sangat di sayangi oleh Papanya. Dibanding terbalik dengan Ellena.
Karena semua itu, bertahun-tahun lamanya, Ellena memendam kebencian terhadap Papanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hellena24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Ketua Tingkat
"Iya... Lanjut" singkat Pak Andre.
"Nah kalau yang terakhir mengapa saya memilih Prodi Ekonomi Akuntansi, karena pertama saya menyukainya. Dulu waktu saya di Sekolah Menengah Pertama, saya sudah pernah belajar Ekonomi Akuntansi Dasar. Sepertinya saya jatuh cinta pada pandangan pertama, begitulah kira-kira" Ellena menjelaskannya sambil tersenyum.
"Ada permintaan orang tua gak, Non. Untuk kuliah ambil Prodi ini?" tanya Pak Andre.
"Tidak Pak, ini pilihan saya sendiri. Terus yang kedua karena saya dari kecil sudah berdagang di rumah, orang tua buka usaha toko sembako dan beberapa bisnis lainnya. Walaupun tidak besar-besar amat ya, itu toko. Tapi karena itu saya jadi suka berbisnis, suka usaha dan jadinya suka dengan hitung-hitungan. Ya, kira-kira itulah alasan saya mengambil Prodi Ekonomi Akuntansi dan sekarang bisa ada di sini bersama teman-teman semua" Ellena tersenyum dan merasa terharu.
"Kok jadi agak sedih ya all? Sedih terharu aja..." kata Ellena sambil terawa kecil.
Saat Ellena menyampaikan alasan nya itu memang suasana kelas hening, semua teman-teman mendengarkan dengan seksama. Dan bagi seorang Ellena, ia bisa ada di ruang kelas itu juga dengan banyaknya perjuangan, entah dalam hal materi, waktu atau yang lainnya.
Sama dengan wanita pada umumnya. Walau pun Ellena tumbuh di lingkungan keluarga yang kasar seperti Papa, namun ia sosok gadis yang lembut hati nya, mudah sekali terharu. Ia mudah merasa kasian dengan orang-orang atau teman yang kesulitan.
Ellena sering memposisikan dirinya menjadi pihak lawan bicara atau siapa pun itu yang sedang ia pikirkan.
'Bagaimana ya, kalau aku ada di posisi dia ya?
itu adalah pertanyaan yg sering ada di kepala Ellena. Namun, karena terlalu sering menjaga atau memikirkan perasaan orang lain. Ellena lupa memikirkan diri dan perasaannya sendiri.
\=\=\=\=\=\=
"Iya... Terima kasih, Nona. Jadi nama mu Ellena ya?" tanya Pak Andre memastikan. Ellena hanya mengangguk.
"Saya suka alasan Nona Ellena memilih Prodi ini. Kenapa Pak? Karena banyak mahasiswa yang kuliah sekarang, hanya untuk gaya-gayaan. Mengambil prodi ini dan itu hanya ikut-ikutan temannya yang lain. Biar gak kelihatan nganggur saja di rumah atau di daerahnya. Bukan berdasarkan keinginan sendiri" jelas Pak Andre.
"Itu yang nantinya menyebabkan banyak mahasiswa di tengah perjalan kuliah berhenti. Dengan berbagai alasan-alasan klasik, tidak mampu sama mata kuliahnya, tidak mampu aturan kampusnya, tidak mampu ini dan itu. Ada juga yang terpaksa kuliah karena disuruh sama orang tua" jelas Pak Andre kembali.
Ternyata yang dipikiran Ellena tadi, salah. Ellena menganggap dirinya di jadiin bahan candaan oleh dosen killer itu saja. Ternyata, tidak. Ellena tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Pak Andre.
"Yang terpenting saat kita mengambil keputusan untuk berkuliah adalah apa tujuan kalian memilih Prodi ini. Apa yang akan kalian lakukan nanti setelah selesai dari sini, dengan membawa gelar yang nantinya bertambah di akhir nama kalian"
"Cita-cita, visi dan misi, semua harus punya. Kalian semua yang ada di ruangan ini, wajib memikirkan itu semua. Tulis di buku halaman depan, apa cita-cita saya? Apa visi dan misi saya!" kata Pak Andre tegas.
Semua mahasiswa di kelas ini mengangguk dan mereka terlihat menulis di bukunya masing-masing.
"Sudah menulisnya? Silahkan lanjutkan dirumah masing-masing. Saya kira untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, butuh ketenangan diri dan pikiran. Karena itu bukan hanya sekedar pertanyaan biasa. Namun bisa menjadi lunci sebuah kesuksesan untuk diri kalian masing-masing"
"Saya sudah boleh mengumumkan biaya fotocopy Pak?" tanya Ellena.
"Sebentar Non. Kita beri tepuk tangan untuk Nona Ellena ya..." kata Pak Andre sambil tersenyum dan semua tepuk tangan.
"Jadi? Lolos ya?" tanya Pak Andre kepada semua teman-teman Ellena.
"Lolos pak..."
"Lolos..." jawab mereka berbarengan, sambil tersenyum.
"Lolos babak selanjutnya ya Pak?" tanya Ellena bercanda.
"Lah kami ini serius lo, Non"
"Serius apa Pak? Maksudnya saya lolos apa?"
"Iya, begitu baru benar pertanyaannya. Ellena lolos menjadi ketua tingkat di kelas ini. Mulai dari sekarang ketua tingkat di kelas Akuntansi 2A Pagi adalah Nona Ellena Maharani"
"Yeeeee... Yuuuhhuuu..." teman-teman bersorak dan bertepuktangan lagi.
"Eh apa sih, klean ngerjain aku ya?" kata Ellena.
"Serius Non"
"Serius Len" kata Natali dan teman-teman yang lainnya.
"Lah terus Faisal bagaimana?" tanya Ellena lagi bingung, masih berdiri di depan kelas.
"Ya sampai sekarang saja dia tidak datang kan? Sudah sudah..." Kata Pak Andre berjalan ke arah kursi duduknya.
"Jadi?" tanya Ellena lagi.
"Ya kamu ketua tinggkat sekarang, cepat tu urus fotocopyan" kata Pak Andre lagi.
Ellena masih bingung. Tetapi ia masih harus mengambil biaya fotocopyan itu. 'Nanti aja lah mikirnya' ungkap Ellena dalam hati.
Gadis itu pun membacakan rincian biaya dan total yang harus teman-temannya berikan kepadanya.
Ellena mengambil uang itu kepada teman-temannya per barisan, sambil melototi mata sahabat-sahabatnya yang terlihat sedang bahagia dengan apa yang terjadi dengan dirinya sat itu.
next next