Semuanya nampak baik-baik saja, dia ceria , bahagia , ramah , kuat dan tegar! Tetapi itu hanya cover nya saja, dan yang kenyataannya adalah?
Dia rapuh, cengeng dan juga sakit!
Dan semua nya berubah ketika dia sembuh dari sakit yang membuat mental nya terganggu.
Dia bukan lagi wanita ramah dan ceria, melainkan wanita cuek dengan wajah datar dan segudang frestasi dan kekayaan!
*
Zahra Khoerunisa, memilih untuk pergi dan meninggalkan cinta pertama nya daripada bertahan dengan sakit yang teramat sakit.
-Di ambil dari kisah nyata-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hnislstiwti., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Pagi menyapa, tetapi Doni tidak kunjung memejamkan mata nya karena terus kepikiran tentang sang Adik, Zahra.
Ibu nya yang memang hanya kelelahan tidak sampai di rawat di Rs, mereka juga memboyong Aeni yang memang sudah seperti keluarga bagi mereka.
"Abang, mandilah biar segar" ucap Aeni yang entah kapan berada disana.
"Aku harus kemana lagi mencari Zahra, Aeni?" tanya Doni lirih.
"Kita pasti akan menemukannya, aku yakin Kak Zahra ada di suatu tempat yang aman dan ia akan baik-baik saja" jawab Aeni optimis.
Doni menghela nafas kasar, ia menganggukan kepala untuk mempercayai ucapan Aeni.
Lalu Doni memutuskan untuk bersiap karena ia akan bekerja.
"Aeni, bolehkah kamu temani Ibu disini? Karena Bapak akan ke kampung untuk melakulan jual beli semua aset disana?" tanya Doni sebelum masuk.
"Iya Bang, saya juga sudah terlanjur keluar dari pekerjaan jadi saya numpang saja disini" jawab nya dengan tawa kecil.
"Ck, kau ini. Silahkan saja tapi tidak gratis" ucap Doni dengan melenggang pergi dari sana.
Huh.
Sedangkan Aeni, ia membuang nafas kasar dan ikut pergi dari sana untuk membuat sarapan pagi.
*
Bapak Tora pergi ke Desa sendirian, ia akan menjual semua aset nya dan akan ikut pindah ke Kota bersama dengan Doni. Apalagi saat ini Zahra belum juga di temukan.
Doni tidak bisa mengantarkannya karena ia akan bekerja, sedangkan Ibu nya akan di jaga oleh Aeni.
"Bapak, hati-hati di jalan dan jika sudah selesai semuanya segeralah pulang" ucap Ibu Aminah dengan lemas.
"Iya, Bu. Bapak akan sebentar disana nanti siang juga sudah kembali lagi kesini karena disana juga sudah ada yang akan membeli nya" balas Bapak dengan tersenyum.
Setelah berpamitan pada sang Istri, Bapak Tora pun berangkat dengan tetangga Doni yang sudah di perintah oleh Doni.
Dan setelah kepergian Bapak, Aeni membawa semangkuk bubur untuk sang Ibu.
Ia menyuapi nya dengan telaten dan memberikan obat nya agar di minum.
"Nak, dimana Kakak mu ya?" tanya Ibu Aminah sendu.
"Kakak pasti ada di tempat yang baik dan juga dia pasti baik-baik saja, Bu. Ibu sembuh dulu ya, nanti kita cari sama-sama" jawab Aeni dengan tersenyum.
"Aku pun tidak tahu dimana Kakak berada, Bu. Aku juga berharap bahwa Kak Zahra baik-baik saja dimana pun dia berada" batin Aeni dengan sesak.
Setelah selesai memberi sarapan Ibu, Aeni lalu keluar dari kamar nya dan menuju ke dapur.
Ia akan membersihkan Apartemen tersebut selagi sang Ibu sedang istirahat.
Aeni membersihkan seluruh ruangan Apartemen kecuali kamar Doni, ia memasak dan juga mencuci baju dan piring.
Ia lakukan semua nya dengan semangat tanpa lelah dan tanpa di paksa, itu murni ke ingannya sendiri.
Hingga hampir jam 10 pagi, Aeni baru menyelesaikan semua nya. Ia mandi dan juga sarapan pun sudah di lakukan.
"Aku mending nemenin, Ibu" gumam Aeni.
Lalu ia menghampiri kamar Ibu Zahra, terlihat Ibu Aminah sedang tiduran tetapi sorot mata nya yang sangat kosong dan terlihat raut wajah yang sangat sedih.
"Ibu" panggil Aeni dengan lirih
"Kenapa, Nak?" tanya Ibu Aminah.
"Kita jalan-jalan ke Taman bawah yuk" ajak Aeni dengan lembut.
Ibu Aminah hanya menganggukan kepala, ia lalu bangun dari tidurannya.
Ia memyeka air mata nya, lalu berjalan ke kamar mandi dulu.
"Kak Zah, kamu dimana?" gumam Aeni dengan sendu.
Lalu Aeni dan Ibu Aminah pun pergi keluar dari Apartemen, mereka akan jalan-jalan di sekitaran Taman yang ada di bawah.
Sesampai nya di Taman, Aeni mengajak Ibu Aminah duduk di kursi yang ada disana.
"Nak, kami sekeluarga akan pindah ke Jakarta karena Abang nya Zahra di tugaskan di sana. Apa kamu akan ikut?" tanya Ibu Aminah.
"Apa boleh jika aku ikut? Nanti disana aku akan mencari pekerjaan, Bu" jawab Aeni dengan sedikit takut tidak akan di bolehkan.
"Boleh, nanti kita sama-sama cari Kakak mu disana, disini juga kita akan menyuruh seseorang kepercayaan Doni" ucap Ibu Aminah dengan tersenyum.
Grep.
Aeni langsung memeluk Ibu Aminah, ia sangat bersyukur karena bisa di pertemukan dengan keluarga Zahra yang sangat baik.
Tetapi mereka harus menerima kenyataan bahwa Zahra hilang setelah keluar dari Rumah sakit.
Mereka terus saja bercerita dan juga Aeni membeli makanan ringan untuk mereka jadikan camilan disana.
Hingga jam 1 siang mereka memutuskan untuk kembali ke unit Apartemen milik Doni.
Disana Ibu Aminah mengajak Aeni untuk memasak makan siang, karena Bapak Tora dan Doni akan pulang karena akan makan siang disana.
Hingga tak lama kemudian, Doni datang bersamaan dengan Bapak Tora.
Mereka langsung duduk di ruangan tamu, lalu Bapak memanggil Aeni dan Ibu Aminah.
"Bagaimana , Pak?" tanya Ibu Aminah.
"Semua nya sudah masuk ke rekening Doni, Bu. Dan ada yang lebih mengagetkan lagi" jawab Bapak Tora.
Doni langsung menegakan duduk nya, ia penasaran dengan ucapan sang Bapak.
"Ada apa , Pak?" tanya Doni.
Hah, Bapak menghembuskan nafas nya lalu ia mengambil kertas yang ada di dalam saku nya.
"Apa ini, Pak?" tanya Ibu
"Itu surat dari Zahra, kemarin dia pulang dan mengambil semua surat penting milik nya dan juga ijazah S1 nya" jawab Bapak dengan sendu.
"S1?" kaget Doni dengan bingung.
Bapak dan Ibu nya hanya mengangguk, mereka memang tidak memberitahu siapapun termasuk Doni, sang Abang.
"Baca saja dulu surat nya, Bang" ucap Aeni penasaran.
Doni mengangguk, ia lalu membuka surat tersebut dan menghela nafas kasar.
...-*Ibu, Bapak, Abang dan Aeni....
Maafkan aku yang pergi tanpa memberitahu kalian semua, kalian jangan khawatirkan aku karena aku akan baik-baik saja.
Ibu, tolong jaga Aeni seperti keluarga kita sendiri ya.
Aku tahu kalian akan ikut bersama Abang ke Jakarta, pergilah karena suatu saat nanti aku akan kembali pada kalian.
Jangan mencariku, aku baik-baik saja.
Di dalam waktu dekat akan ada seseorang yang mengantarkan surat gugatan cerai pada Wendi, dan itu semua sudah aku rencanakan.
Maafkan aku yang berpura-pura sakit hanya demi belaskasihan Suami dan mertua ku.
Sekali lagi, jangan pernah cari aku karena aku akan baik-baik saja, Pak, Bu, Bang.
Cukup do'akan aku saja agar aku bahagia disini.
-Zahra Khoerunis*.
"Ja jadi, Zahra hanya pura-pura sakit jiwa?" cicit Ibu Aminah dengan wajah terkejut.
Tidak hanya Ibu Aminah, Doni maupun Aeni sama terkejut nya dengan semua pengakuan Zahra.
Mereka terdiam, seolah semua nya sudah di rencanakan dengan matang dan juga sudah lama oleh Zahra.
"Kata tetangga kita, Zahra pulang kesana tengah malam dan subuh tadi baru pergi lagi" jelas Bapak dengan sedih.
"Kita ikuti saja kemauan Zahra, kita akan mencari juga tidak akan tahu.
Kita cukup do'akan dan semoga ia kembali lagi pada kita" ucap Bapak kembali dengan tegas.
Doni, Aeni dan Ibu mengangguk. Mereka akan membiarkan Zahra tenang dulu dan mereka juga yakin bahwa Zahra akan secepatnya pulang.
.
.
.
ini perkataan atau sekedar kalimat cerita
pasti yg mandul itu Wendy scra pamannya kn GK BS punya ank dengan Tante mila