WARNING...!! SIAPKAN KOMENTAR TERPEDAS KALIAN YA😁
Novel ini di angkat dari kisah nyata mungkin pada awalnya si pihak perempuan bisa di bilang bodoh, kalau penasaran yuk lanjut baca kalau gak skip aja ya😁
"Tidak, bukan aku yang memulai. Kau yang lebih dulu mengkhianati ku. Lalu kenapa sekarang kau merasa paling tersakiti?" Winda menatap wajah suaminya dengan sesak di dadanya.
"Maafkan aku, aku khilaf. Tapi, kenapa kau malah berselingkuh dari ku?"
Lelaki yang tidak memiliki perasaan ini dengan entengnya melontarkan pertanyaan yang membuat Winda tertawa geli.
Bukan kesalahan Winda berselingkuh, sejak mereka menjalin hubungan di saat kuliah, Tama lah yang sudah mengkhianatinya terlebih dahulu.
Memaafkan berulang kali, begitu seterusnya hingga mereka menikah. Hati Winda benar-benar patah, wanita ini membalas pengkhianat suaminya. Mempertahankan rumah tangga demi nama baik masing-masing dari keluarga mereka. Linda dan Tama, hidup dalam kemunafikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Satu minggu setelah kejadian di rumah orangtua Winda. Winda dan Tama tidak saling bertegur sapa hingga membuat Tama mulai merasa gelisah apa lagi Winda sama sekali tidak mau menyentuh anaknya.
Seharian Winda pergi, ponselnya sengaja di matikan. Wanita ini sedang berduaan dengan Huda, pria yang selama ini selalu ada di belakang sebagai penghiburnya.
"Menurut ku, suami mu itu sama sekali tidak bersyukur memiliki istri seperti mu. Aku egois, tapi saat aku mendengar cerita mu ternyata suami mu jauh lebih egois."
"Aku sudah tidak tahu lagi ingin melakukan apa. Papah ku sangat membela apa pun yang di lakukan Tama."
"Kenapa kau tidak pergi yang jauh saja, bawa anak mu dan kalian bisa memulai hidup yang baru."
"Jika aku tidak memikirkan mamah ku, sudah lama aku pergi. Mamah ku punya penyakit jantung, aku tidak mau hanya karena kepergian ku malah membuat mamah kepikiran dan sakit."
"Dan lihat dirimu sekarang, apa yang akan kau lakukan?" tanya Huda.
"Ya jalani saja, terserah mereka ingin berbuat apa. Selama Tama masih menafkahi ku, aku sudah masa bodoh!"
Meskipun Winda selalu pergi bersama Huda, tapi mereka tidak pernah melakukan hal di luar batas. Huda adalah pendengar yang baik dari setiap cerita Winda.
Pukul sepuluh malam baru lah Winda menginjakan kaki di rumah. Winda masuk ke kamar, mendapati suaminya yang sedang menggendong anak mereka yang sedang sakit.
"Dari mana saja kau hah?" sentak Tama emosi, "anak sakit bukan di urus malah sibuk pergi terus!"
"Itu kan anak mu, kau urus saja. Kalau kau kesusahan, kenapa tidak kau suruh saja papah ku atau orangtua mu mengurusnya?"
Tama menghembuskan nafas kasar, Winda benar-benar berubah dalam segala hal.
"Mau jadi apa kau ini Win, semakin hari bukannya berubah menjadi lebih baik tapi semakin parah saja!"
"Itu cermin,...!" tunjuk Winda ke arah meja riasnya, "kau cermini dulu wajah dan mulut mu yang sok bijak itu. Jika bukan karena kau, tidak akan mungkin ada aku yang seperti ini...!" ketus Winda yang langsung naik ke atas tempat tidur.
"Win, Azam sakit. Kenapa kau sama sekali tidak peduli padanya?"
"Aku juga sedang hamil, tapi kenapa kau masih suka bertemu dengan Tania?" balas Winda.
"Tapi Azam anak mu Win, darah daging mu!"
"Anggap saja dia anak mu bersama Tania. Toh saat aku hamil dia kalian dengan mudahnya tidur berdua!"
Tama mati ucap, tidak tahu lagi ingin ngomong apa. Sampai detik ini, Tama belum mendapatkan bukti jika sang istri tidur dengan laki-laki lain. Beda dengan dirinya, Winda selalu mendapatkan bukti apa saja yang di lakukan Tama.
Semalaman Tama mengurus anaknya sedangkan Winda hanya tidur dengan santainya. Mau tidak mau Tama pagi ini tidak masuk bekerja, untuk saja dia bosnya jadi Tama tidak terlalu pusing memikirkannya.
"Mau ke mana lagi kau?" tanya Tama kesal saat melihat Winda bersiap untuk pergi.
"Mau ke rumah sakit, aku harus cek up!" sahut Winda acuh.
"Kita pergi bersama sekalian dengan Azam. Badan Azam masih panas."
"Kau urus saja sendiri, aku malu jalan sama kamu!" sahut Winda sungguh membuat Tama terkejut.
"Win, aku suami mu!"
"Ya, untuk saat ini kau suami ku. Andai aku tidak hamil, sudah ku gugat cerai kau meskipun aku di pukul di hajar dan tidak di anggap anak oleh orangtua ku."
"Kau benar-benar keterlaluan Win...!"
"Terserah kau ingin berkata apa. Setelah aku melahirkan nanti aku akan menggugat mu kembali. Ingat, aku punya banyak bukti yang bisa membuat kita berpisah!" ujar Winda mengingatkan kemudian berlalu pergi.
Tama terduduk lemas, Winda begitu keras ingin berpisah darinya. Bi Marni yang mendengar perdebatan mereka hanya bisa diam saja. Di bandingkan membela Tama, bi Marni lebih iba melihat nasib Winda.
Winda kembali bertemu dengan Huda, bagi Winda sekarang hanya Huda yang bisa membuatnya nyaman di bandingkan Tama.
"Makan dulu,...!" ujar Huda menyodorkan sepiring nasi goreng yang sengaja ia masak barusan.
"Nanti saja, aku tidak berselera!"
"Kau sedang hamil, kalau kau kenapa-kenapa nanti aku yang repot!"
"Aku lelah, aku benar-benar lelah Huda. Tama selalu menyalahkan ku dan menganggap dirinya benar. Harus aku apakan manusia sialan itu?"
"Di lihat dari masalah rumah tangga mu, ada baiknya jika kalian berpisah. Bukan aku mengompori, tapi ini semua demi kesehatan mental mu. Kau terlihat sangat tertekan Win."
"Tunggu lah beberapa bulan lagi. Aku akan kembali menggugat Tama. Masalah anak terserah mau di asuh oleh siapa!"
"Anak tetap anak Win, mereka tidak salah. Jangan libatkan masalah kau dan Tama hingga membuat anak-anak kalian tersiksa."
"Entahlah, setiap kali aku melihat wajah anak ku, aku stres. Azam terlalu mirip dengan Tama."
Huda menepuk pundak Winda, mengambil satu sendok nasi goreng lalu menyuapinya.
Sementara itu, Tama mengajak anaknya pergi ke rumah orangtuanya. Lagi-lagi, Diana mengoceh saat mendengar aduan dari anaknya. Tama kekanakan, apa pun yang terjadi di rumah pasti dia akan mengadu pada orangtua Winda dan orangtuanya.
"Ya itu salah mas Tama sendiri. Udah deh, jangan salahkan mbak Winda terus, ngaca mas ngaca!" ketus Cindy.
"Kau ini anak kecil tahu apa sih?" Diana mentoyor kepala anaknya.
"Aku yang sebagai adik mu saja merasa jijik melihat kelakuan mu sama perempuan itu apa lagi mbak Winda yang istri mu. Dari zaman pacaran kok sukanya main perempuan terus."
"Lah, aku main perempuan juga masih ingat rumah, masih ingat anak. Apa salahnya?" Tama membela diri.
"Gini nih, ajaran mamah dan papah. Kebiasaan memanjakan mas Tama, Jadi begini hasilnya!" ujar Cindy yang sangat geram dengan keluarganya sendiri.
Menjelang sore Tama mengajak anaknya pulang. Tama meminta bi Marni untuk menjaga Azam sedangkan dirinya harus pergi lagi untuk menemui Tania yang sudah heboh sejak siang meminta bertemu.
"Berhenti mengomel, sudah untung aku datang menemui mu!" ujar Tama.
"Ingat Tam, hanya aku prioritas mu. Bukannya Winda atau pun anak mu!"
"Kau ini siapa hah, kenapa kau berani mengatur ku?"
"Aku teman tidur mu!" jawab Tania langsung mengalunkan kedua tanganya ke leher Tama.
"Aku sedang tidak ingin. Katakan saja apa mau mu?"
"Aku mau kartu yang sama yang kau berikan pada Winda...!" ujar Tania membuat Tama kaget.
"Gila sekali kau ini, bukan siapa-siapa ku tapi mau minta lebih!"
"Aku tidak mau tahu, aku mau yang sama seperti yang kau berikan pada Winda. Aku tidak mau uang cash seperti ini,...!"
"Bangun Tan, kau hanya pemuas nafsu ku bukan istri yang harus aku nafkahi," cibir Tama membuat Tania kesal.
hajar terus win 🤣🤣🤣
niat hati baca novel untuk melepas penat , eh yang ada malah bertambah bahkan max level lagi