Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.
Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.
Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17.Sekutu atau Penjara
Asrama Imperion terasa lebih sempit sejak Selvina tidak lagi punya tempat di fraksi.
Ia berjalan melewati papan pengumuman yang dulu selalu dipenuhi namanya—agenda rapat, strategi, keputusan. Kini papan itu masih penuh, tapi tanpa dirinya. Seolah ia tidak pernah memimpin apa pun.
Sebulan.
Sebulan adalah waktu yang cukup untuk melupakan seseorang.
Atau cukup untuk membentuk ulang narasi.
Selvina duduk di meja belajarnya, menatap layar ponsel yang gelap. Tidak ada pesan dari Varrendra sejak pertemuan malam itu. Tidak ada kabar lanjutan. Tidak ada pembaruan.
Padahal permainan sudah dimulai.
Atau mungkin… dia memang tidak berniat memberitahuku segalanya.
Pikiran itu mengganggu lebih dari yang ia mau akui.
Ia teringat caranya bicara—tenang, terukur, selalu satu langkah di depan. Caranya menawarkan perlindungan tanpa pernah bertanya apakah ia menginginkannya.
Selvina menyadari sesuatu yang membuat dadanya mengencang:
Ia tidak tahu apakah Varrendra berdiri di sampingnya…
atau berdiri di atasnya.
Ketukan ringan di pintu memecah lamunannya.
Salah satu anggota fraksi perempuan berdiri di sana—bukan dengan tatapan benci, tapi canggung. “Ada rapat kecil,” katanya. “Tidak resmi. Tapi… beberapa dari kami ingin tahu apakah kamu baik-baik saja.”
Selvina tersenyum tipis. “Aku masih bernapas.”
Pintu tertutup kembali.
Ia menghela napas panjang.
Jika aku sekadar simbol, pikirnya, maka aku mudah digantikan.
Dan jika Varrendra melihatnya sebagai aset—
maka ia tidak lebih dari bidak.
Di tempat lain, Rivena berdiri di depan jendela tinggi ruang kerjanya.
Kota terbentang di bawah—rapi, teratur, patuh. Seperti papan catur yang ia kenal dengan sangat baik.
Gevano berdiri di belakangnya. “Kamu terlalu sering diam hari ini.”
“Itu artinya aku berpikir,” jawab Rivena tanpa menoleh.
“Dan itu jarang pertanda baik bagi orang lain,” balas Gevano pelan.
Rivena tersenyum tipis, lalu menghela napas. “Atau bagi diriku sendiri.”
Ia memutar badan. Di tangannya ada map tipis—perkembangan terbaru soal ayah Selvina. Angkanya bersih. Terlalu bersih untuk seseorang yang bermain kotor selama bertahun-tahun.
“Jika kita menekan lebih jauh,” kata Gevano, “jatuhnya akan keras.”
Rivena mengangguk. “Aku tahu.”
“Dan Selvina akan ikut terguncang.”
Rivena terdiam.
Di sanalah konflik itu muncul—bukan sebagai ledakan, tapi sebagai retakan kecil di dalam dada.
“Aku tidak merancang ini untuk menghancurkannya,” kata Rivena akhirnya.
“Tapi kamu tahu risikonya,” ucap Gevano hati-hati. “Varrendra juga.”
Nama anaknya menggantung di udara lebih lama dari seharusnya.
“Aku membesarkannya,” kata Rivena pelan, “untuk menjadi kuat. Tidak bergantung. Tidak ragu.”
Gevano melangkah mendekat. “Dan sekarang?”
“Sekarang,” Rivena mengaku, “aku bertanya-tanya apakah aku mengajarinya cara mencintai… atau hanya cara menang.”
Sunyi jatuh berat.
“Aku melakukan ini,” lanjut Rivena, “karena aku ingin dia aman.”
“Dengan mengikatnya pada seseorang yang juga sedang dihancurkan?” tanya Gevano lembut.
Tatapan Rivena mengeras—bukan karena marah, tapi karena tersentuh.
“Strategi tidak mengenal empati,” katanya dingin. “Ibu mengenalnya.”
“Dan hari ini?” Gevano menantang pelan.
Rivena menutup map itu.
“Hari ini aku masih strategist,” jawabnya. “Tapi aku mulai lelah berpura-pura itu tidak menyakitkan.”
Sore itu, Selvina akhirnya menerima pesan.
Varrendra:
Kita perlu bicara. Tidak di sekolah.
Ia menatap layar lama.
Tidak ada sapaan. Tidak ada penjelasan.
Masih mengatur segalanya dari jarak aman, pikirnya.
Ia membalas singkat.
Selvina:
Datanglah dengan kebenaran. Atau jangan datang sama sekali.
Beberapa menit berlalu sebelum balasan masuk.
Varrendra:
Aku tidak menjanjikan semuanya. Tapi aku tidak berniat menjebakmu.
Selvina mematikan layar.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia merasa tidak yakin pada satu hal yang seharusnya paling jelas:
Apakah Varrendra benar-benar berdiri bersamanya…
atau hanya memastikan ia tetap berada di dalam kendali keluarganya?
Dan di sisi lain kota, Rivena berdiri sendirian di ruang kerjanya, menatap bayangan dirinya di kaca.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengakui satu hal yang tidak pernah ia masukkan ke dalam strategi:
Bahwa melindungi anaknya mungkin berarti
mengorbankan cara ia selama ini menang.
Dan perang paling berbahaya
bukan lagi antara fraksi,
melainkan di dalam hati mereka masing-masing.
-bersambung-
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍