NovelToon NovelToon
Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Aris

Siang itu panasnya menyengat, tapi ruko Kirana terasa dingin—bukan karena angin, melainkan firasat.

Kirana sedang melipat baju Gio ketika suara ketukan terdengar di pintu depan. Bukan ketukan biasa. Tidak ragu. Tidak sopan. Seperti orang yang merasa punya hak.

"Tok ,tok !" suara ketukan pintu terdengar .

"siapa yang datang ,kok perasaanku tidak enak ." gumamnya ,jantungnya berdetak

"Tok. Tok. Tok.!!"

Tiga kali. Berat.

Kirana berhenti bergerak. Jantungnya langsung berdetak lebih kencang.

“Ma?” suara Gio terdengar dari ruang tengah. “Ada siapa?”

Kirana menelan ludah. Ia mengintip dari balik tirai tipis jendela samping.

Dan dunia seperti berhenti sebentar.

Aris.

Berdiri di depan ruko dengan kemeja kusut, wajahnya lebih tirus, mata tajam yang dulu sering membuat Kirana memilih diam. Di tangannya ada helm, dan di belakangnya terparkir motor yang sudah lama tak ia lihat.

Aris menoleh ke arah pintu, lalu mengetuk lagi. Lebih keras.

Tok! Tok! Tok!

“Kirana ! Buka pintunya!” suaranya menggema, tidak peduli orang sekitar.

Gio berdiri di belakang Kirana, menarik ujung bajunya. “Ma… itu siapa?”

Kirana berjongkok, menatap mata anaknya. Ia ingin berbohong. Tapi ia memilih jujur,dengan cara yang aman.

“Itu… ayahmu,” katanya pelan. “Tapi Gio tetap di sini. Sama Mama.”

Gio mengernyit. “Ayah mau apa?”

Kirana menarik napas dalam. “Nggak tahu,Gio disini saja ya ?! ,Gio jangan keluar ! ,Biar Mama yang urus.”

Ia berdiri, merapikan kemejanya, lalu mengambil map berisi dokumen dari laci. Tangannya gemetar, tapi langkahnya mantap.

Ia membuka pintu—tidak lebar, hanya cukup untuk berdiri di ambang.

“Apa yang kamu mau, mas Aris?” suaranya tenang. Terlalu tenang.

Aris menatapnya dari ujung kepala sampai kaki, senyum miring tersungging. “Akhirnya kamu mau menemuiku juga ,dan kamu berani buka pintu juga.”

“Apa yang kamu mau,” ulang Kirana, datar.

"Aku kangen kamu ,kangen Gio ." Ucapnya dengan senyum diwajahnya seolah -olah tanpa salah .

"Kangen ? Apa kamu lupa kita sudah bercerai ,kita sudah tidak punya hubungan apa apa ,sekarang pergilah ! Jangan ganggu hidup kami lagi !" Kirana kembali mau menutup pintu ,namun ditahan Aris .

"Sebenarnya kamu mau apa sih mas ?" Tanya Kirana dengan nada naik beberapa oktaf .

Aris menghela napas kasar. “Aku mau anakku.”

Kirana tertawa kecil. Bukan mengejek—lebih ke tidak percaya.

“Gio lagi sekolah?” tanya Aris sambil berusaha mengintip ke dalam.

Kirana langsung menghalangi. “Tidak. Dan kamu tidak punya hak masuk.”

Aris mendengus. “Hak? Kirana, jangan lucu. Aku ayahnya.”

Kirana menatapnya lurus. “Dan aku ibunya. Yang selama ini urus dia sendiri.”

Nada Aris berubah. Lebih keras. “Aku nggak peduli. Aku datang buat bawa Gio pulang.”

Beberapa tetangga mulai melirik. Bu Rini terlihat berdiri di depan rumahnya, pura-pura menyapu.

“Kamu nggak bisa sembarangan datang dan ambil anak,” kata Kirana, suaranya mulai bergetar—tapi tidak pecah.

Aris melangkah lebih dekat. “Oh ya? Kita lihat aja.”

Ia mengangkat suara. “Gio! Sini ke Ayah!”

“Jangan!” Kirana refleks berseru.

Gio muncul di balik tubuh Kirana, matanya membulat. “Mama?”

Aris tersenyum lebar. “Nak, sini. Ayah kangen.”

Gio memeluk kaki Kirana erat-erat. “Nggak mau ,Aku mau sama Mama.”

Senyum Aris langsung hilang.

“Lihat tuh,” katanya sinis ke Kirana. “Kamu racunin anak aku.”

Kirana merasakan darahnya mendidih. Tapi ia ingat pesan Bu Lusi: jangan terpancing.

Ia membuka map, mengeluarkan satu lembar kertas.

“Aku sudah ajukan perlindungan hukum,” katanya jelas. “Ini salinannya. Selama proses berjalan, kamu tidak boleh mendekati aku atau Gio tanpa izin pengadilan.”

Aris tertawa keras. “Perlindungan? Kirana, kamu pikir kertas bisa ngusir aku?”

Ia melangkah lagi. Lebih dekat. Terlalu dekat.

Dan saat itu—

“Berhenti.”

Suara itu datang dari samping.

Arka.

Ia berdiri di ujung teras ruko, wajahnya serius, tangan disilangkan. Tidak marah, tapi tegas.

“Ada masalah apa di sini?” tanyanya.

Aris menoleh tajam. “Lu siapa?”

“Teman,Kirana ,” jawab Arka singkat. “Dan saksi.”

Aris menyeringai. “Oh, pantesan. Jadi ini orang yang mau gantiin aku kirana?”

Kirana tak menjawab.

“Mas,” kata Arka, langkahnya maju satu,

“kami minta Anda pergi. Kalau tidak, kami akan hubungi pihak berwajib.”

Aris tertawa. “Berani juga, lu.”

Ia menoleh lagi ke Gio. “Nak, Ayah datang baik-baik. Jangan bikin Ayah marah.”

"Mama ,aku takut ,aku nggak mau ikut ayah."

Gio menangis. Tangannya makin kuat memeluk Kirana,Aris berusaha medekati Gio

"Cukup !!"

Kirana maju setengah langkah, berdiri di depan Gio sepenuhnya.

“Jangan bicara ke anakku seperti itu,” katanya, suaranya rendah tapi bergetar oleh kemarahan yang ditahan. “Kalau kamu mau bicara, bicara sama aku. Tapi sekarang, kamu pergi.”

Aris menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya—bukan cinta, bukan rindu. Hanya ego yang terusik.

“Kamu berubah,” katanya dingin. “Dulu kamu nggak berani begini.”

Kirana mengangguk. “Iya. Karena sekarang aku belajar.”

Beberapa detik berlalu tegang.

Lalu Aris mundur selangkah. Ia menyeringai. “Ini belum selesai, Kirana.”

“Aku tahu,” jawab Kirana. “Makanya aku siap.”

Aris berbalik, berjalan ke motornya. Sebelum naik, ia menoleh sekali lagi ke Gio.

“Hari ini kamu menang ,tapi Ini cuma sementara,” katanya.

Lalu pergi.

Suara motor menjauh, tapi getarnya tertinggal di dada Kirana.

Ia menutup pintu perlahan. Kakinya lemas. Ia berjongkok, memeluk Gio yang masih terisak.

“Ma… aku takut,” bisik Gio.

Kirana memeluknya erat. “Mama di sini. Mama nggak ke mana-mana.”

Arka berdiri beberapa langkah dari mereka, memberi ruang. Setelah Gio sedikit tenang, ia berkata pelan, “Aku bisa temani kalian kalau mau.”

Kirana mengangguk, matanya basah. “Terima kasih.”

Bu Rini datang mendekat. “Bu Kirana, kamu kuat sekali,” katanya sambil menepuk bahu Kirana. “Kalau dia balik lagi, kita rame-rame hadapi.”

Kirana tersenyum kecil. “Terima kasih, Bu.”

Sore itu, Kirana duduk di ruang tengah, memeluk Gio sambil mengusap rambutnya. Tubuhnya masih gemetar, tapi pikirannya jernih.

Ia mengambil ponsel.

Menghubungi Bu Lusi.

“Bu,” katanya ketika panggilan terhubung, “Aris datang. Dia coba ambil Gio.”

“Apakah ada ancaman langsung?” tanya Bu Lusi.

“Iya. Tapi ada saksi.”

“Baik,” jawab Bu Lusi tegas. “Itu penting. Kita catat. Kamu sudah melakukan hal yang benar.”

Setelah menutup telepon, Kirana menyandarkan kepala ke dinding.

Ia lelah.

Tapi tidak hancur.

Malam itu, setelah Gio tertidur di sampingnya,menolak tidur sendiri,Kirana berbaring degant menatap langit-langit kamar.

Ia takut. Sangat.

Tapi ia juga sadar satu hal:

Dulu, Aris datang dan ia lari.

Hari ini, Aris datang—

dan ia berdiri.

Itu bukan kemenangan besar.

Tapi itu langkah kedua.

Dan ia tahu, langkah ketiga akan menyusul.

Pelan.

Pasti.

Demi anak yang kini tidur dengan napas lebih tenang di sisinya.

Dan demi dirinya yang akhirnya berani berkata:

"Cukup"

1
N Wage
lah tadi di kantong punya uang 800.000rb hasil nguli di pasar.sebelumnya punya uang 3 JT hasil nabung dr uang ngasih les.
Luwi Utami
nha... gitu dong.. kluar dr rumah yg terasa kaya nerak itu
MayAyunda: iya kak ,terimkasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!