Sisi lain dari Pesantren.
Cinta itu ada di Pesantren, cinta yang tak melulu soal manusia.
Terinspirasi dari kisah seorang santri, saya coba angkat ke dalam novel ini.
Semoga banyak hikmah yang bisa dipetik.
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifa Rivianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rumah mertua lagi
Sehari telah berlalu, kini Nimas tengah menyapu teras rumah ibu mertuanya.Mungkin itu bentuk dari pencitraan juga sih.
Saat tengah menyapu, ada seorang nenek yang menghampirinya sekedar menyapa, "asalamualaikum.."kata sang nenek diselingi senyum ramah.
"Waalaikumussalam nek," jawab Nimas.
"oooh ini Sofia itu yaa, istrinya Zamzam itu ya"kata sang nenek.
Deg..
Mendengar ucapan nenek itu seakan membuka kembali luka itu.Nimas hanya tersenyum menjawab ucapan sang nenek.
Sampai akhirnya ibu keluar, "Nek Sinah, sini nek katanya kangen Zamzam tuh dia didalam" Katanya sambil menuntun tetangganya yang sudah seperti saudaranya itu.
Nimas membuntuti masuk ke dalam rumah.
"Zam, ada nek Sinah nih!"ibu memanggil Ust Zamzam.Tak lama sang Ustadz pun menghampiri.
"Nenek..Zam rindu"seru Ustadz Zamzam seraya memeluk nek Sinah.
Mereka pun duduk diruang tengah, "Oh iya nek, ini istri Zam."kata Ustadz Zamzam.
"Nenek udah kenalan tadi di depan"saut nenek.
"pinter kamu pilih istri" canda sang nenek.
Dan obrolan pun berlanjut, Nimas hanya mendengar sambil sesekali ikut tertawa kala sang nenek menceritakan masa kecil Ustadz Zamzam.
Saat malam tiba, dan semua orang mulai merangkai mimpi masing masing.Disini di kamar ini Nimas tengah terduduk di ranjang bersama Ustadz Zamzam, meskipun mereka memutuskan untuk melakukan kewajiban masing masing tanpa ada batasan tetap saja kalau berdekatan seperti itu membuat mereka gugup.
"Nimas, besok sa eh aku kembali lebih dulu ya soalnya aku harus mengajar di Mts."kata sang Ustadz memulai percakapan.
"terus saya gimana?katanya sudah ada rumah di sana?"kata Nimas.
"rumahnya di renovasi sedikit, mungkin seminggu lagi beres. Tak apakan kalau Nimas menunggu disini."kata Ust Zamzam.
"saya ikut Ustadz saja.."kata Nimas.
"tidak bisa, lagian saya menginap di kosan teman dan itu pria."timpal Ustadz.
Dengan terpaksa Nimas mengiyakannya dia memilih untuk menurut keinginan suaminya mungkin ini ada bagusnya supaya Nimas bisa lebih dekat dengan ibu mertuanya.
Setelah percakapan itu Nimas terdiam dan mulai teringat kembali ucapan sang nenek yang mengenal dirinya sebagai Sofia.
"Ustadz, boleh saya bertanya?" tanya Nimas ragu.
"Tentu..Ada apa?"
Nimas menghela nafas mencoba menjernihkan fikirannya.
"Apa dulu anda dan Sofia sudah akan menikah?" tanya Nimas.
"iya.."kata Ustadz singkat.
Jawaban yang tidak memuaskan memang namun Nimas memilih mengakhiri percakapannya dan segera tidur untuk meredam amarah yang bahkan dia tidak tahu harus marah pada siapa..Tentang semua kejadian yang tiba tiba terjadi.
Keesokan paginya saat tengah sarapan Ustadz Zamzam mengutarakan keinginannya pada ibu.
"Zam nitip Nimas bu, seminggu ini Zam harus mengajar di Mts kasihan anak anak sudah ditinggal dua minggu."
Ustadz Zamzam menatap Nimas yang tengah menunduk.
"iya nak, ibu justru senang Nimas disini"kata ibu.
"Nimas disini dulu ya, nanti aku jemput seminggu lagi."
"Iya, Ustadz.."kata Nimas tersenyum.
"Eh kenapa masih manggilnya Ustadz? ganti dong biar romantis"kata ibu.
Nimas menunduk sementara Ustadz Zamzam menatapnya.
"Sepertinya ibu benar, kita hatis mengganti nama panggilan kita."kata Ustadz Zamzam.
"saya sih terserah Ustadz."jawab Nimas.
"Nanti deh kita fikirin sekarang makan dulu."saut Ustadz.
Selepas sarapan Ustadz bersiap untuk berangkat diantar ibu beserta Nimas ke teras.
"Zam berangkat bu.Titip istri Zam"kata Ustadz Zamzam sambil mencium tangan ibunya.
"tentu nak"
Kemudian Ustadz beralih ke Nimas, "Baik baik disini, aku akan menjemputmu nanti"katanya.
Nimas mengangguk lalu mencium tangan suaminya.
Tanpa di duga sang Ustadz memcium kening Nimas lembut sampai akhirnya masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya.
Nimas yang masih tak menyangka menatap kepergian suaminya dengan bengong.
#sweet (author)
#udah ah jangan bahas (Nimas)