"Derajat kita berbeda, hidup kita tidaklah sama, aku tak pantas untukmu, walau aku mencintaimu"
Pada awalnya Nisa lebih dulu mengenal Ryan, saat ia menggantikan posisi bibinya sebagai seorang baby sitter untuk menjaga Viona, gadis kecil anak dari seorang Ryan Brawster.
Semakin hari Viona mulai merasa nyaman saat berada didekat Nisa, hingga membuat Viona ingin menjadikan Nisa sebagai ibu sambungnya. Namun, ternyata keinginan itu ditentang oleh Katty yang sudah menjodohkan Ryan anaknya dengan seorang wanita yang bernama Merry.
Akankah takdir menyatukan Nisa dan Ryan?
Apa keinginan Viona bisa terwujud?
Ikuti kisah mereka yang berliku dan penuh haru dalam menuju kebahagiaan.
Terima kasih semua.
Jangan lupa vote dan like ya.
Selamat membaca!
Terima kasih ya all.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Canggung
Selamat membaca!
Dalam beberapa detik Ryan masih terpaku dengan paras cantik yang kini membuat manik matanya terkagum.
"Ternyata aku jatuh hati padanya, bukan karena dia mirip dengan Bella, tapi memang wanita ini istimewa," batin Ryan masih menatap tak berkedip.
Tiba-tiba Ryan terhenyak, saat Nisa mendengus sambil menggerakkan kedua tangannya. Namun, bukannya menjauhkan kedua tangan dari tubuh Ryan, Nisa malah semakin memeluknya dengan erat. Ryan pun mulai panik, kedua alisnya kini sudah saling bertaut dengan kerutan di keningnya, terlebih saat kedua mata Nisa sudah mulai terbuka, walau masih tampak berat.
"Nisa bisa salah paham kalau melihatku berada di sampingnya seperti ini," batin Ryan merasa cemas.
Ketakutan Ryan ternyata benar terjadi, Nisa membuka matanya dengan perlahan, kedua matanya tiba-tiba membulat seketika saat manik matanya menangkap sebuah objek yang tak asing dilihatnya.
Nisa berteriak sekeras-kerasnya sambil beringsut mundur dengan cepat, hingga tubuhnya jatuh dari ranjang.
"Au, sakit," ucap Nisa mengaduh sakit.
Ryan langsung bangkit untuk menolong Nisa. Namun, tawarannya langsung ditampik dengan kasar oleh wanita itu, yang saat ini sedang dilanda kepanikan.
"Jadi kau ingin memperkosaku lagi!" pekik Nisa dengan keras, yang membuat suaranya memenuhi seisi ruangan.
Nisa mendorong tubuh Ryan dengan sekuat tenaga, hingga membuat tubuh pria itu terjatuh dan dahinya terbentur ujung nakas.
Ryan seketika jatuh tak bergerak di dasar lantai dengan luka memar di dahinya. Namun, apa yang terjadi tak serta-merta membuat Nisa percaya.
Nisa mengabaikan Ryan begitu saja sambil terus melontarkan amarah pada tubuh Ryan.
"Bangun! Tidak perlu kamu pura-pura pingsan begitu. Jangan membodohiku!" Nisa terus melampiaskan amarah yang saat ini membuncah di dalam dirinya. Ia benar-benar kesal, karena sekali lagi Ryan telah berhasil menyentuh tubuhnya.
Nisa mulai panik saat lima menit sudah teriakannya tak digubris oleh Ryan. Nisa pun berlutut di samping tubuh pria yang saat ini masih tergolek lemah di dasar lantai.
"Tuan, apa Anda pingsan sungguhan. Tuan..." Nisa beberapa kali mengguncangkan tubuh Ryan yang semakin lama, berangsur kencang.
"Bagaimana ini? Semua gara-gara aku, andai aku tak mendorongnya, pasti kepala Tuan Ryan tidak akan terbentur ujung nakas itu," batin Nisa yang semakin panik, hingga membuat peluh membasahi dahinya.
Nisa meletakkan jari telunjuknya di bawah lubang hidung Ryan. Namun, ia tak dapat merasakan embusan napas Ryan.
"Kenapa Tuan Ryan tidak bernapas?" Nisa tercekat kaget, saat ini ia benar-benar merasa sangat bersalah, sebab semua ini bisa terjadi karena kekasarannya.
"Tuan bangunlah, aku janji akan lebih bersikap baik padamu, jika kau bangun. Tolong, maafkan aku." Kedua manik mata Nisa mulai berkabut dengan bulir bening yang sudah menganak di kelopak matanya.
Nisa terus berpikir, hingga terlintas dibenaknya untuk keluar dari kamar dan meminta pertolongan pada pelayan yang bekerja di rumah mewah ini.
"Aku harus mencari pertolongan," ucap Nisa lirih sambil mengusap air mata dengan sebelah tangannya.
Saat Nisa bangkit dan hendak berlari, tiba-tiba sebuah genggaman menahan langkah kakinya. Nisa pun seketika terhenti dan langsung menoleh dengan membalikkan tubuhnya.
"Tuan."
Ryan bangkit dari posisi tidurnya dan duduk di dasar lantai. Ia menatap penuh keheranan ke arah wajah Nisa, saat melihat air mata sudah basah di kedua pipi wanita itu. Tiba-tiba Nisa memeluk tubuh Ryan dengan erat, entah apa yang membuat pelukan itu terasa begitu penuh arti untuk Nisa. Mungkin karena di dalam hatinya, Nisa mulai menemukan arti kehilangan yang tersirat dari manik matanya.
"Pelukan ini, apa ternyata Nisa sebenarnya memiliki perasaan yang sama seperti yang aku rasakan," batin Ryan masih merasakan sebuah rasa nyaman dalam hangatnya dekapan Nisa.
Setelah beberapa detik memeluk tubuh Ryan, Nisa yang mulai sadar dengan apa yang saat ini dilakukannya, seketika langsung melepas pelukannya dan beringsut mundur dengan raut wajah yang sudah dibalut rasa canggung.
"Maafkan aku, Tuan. Aku sudah memelukmu," ucap Nisa gugup.
"Tidak apa Nisa, aku yang minta maaf sudah membuatmu salah paham. Aku tadinya ingin membangunkanmu tapi aku tidak tega, jadi aku putuskan untuk mengambil ponselmu agar aku bisa mematikan alarm yang terus berbunyi pada ponselmu. Namun, tiba-tiba saja kedua tanganmu merengkuh tubuhku dan aku jadi tertidur dalam pelukanmu."
Raut wajah Nisa memerah saat mendengar cerita dari Ryan. Ia semakin canggung dan merasa tak enak. Apalagi saat ini dahi Ryan tampak lebam dan membiru, karena benturan keras akibat dorongannya, hingga membuat dahinya terbentur ujung nakas.
"Nisa, Nisa, ternyata kebiasaan burukmu semakin mengacaukan semuanya," batin Nisa merutuki kebiasaan buruknya.
Bersambung✍️