NovelToon NovelToon
Di Khianati Kakak, Di Pinang Milliader

Di Khianati Kakak, Di Pinang Milliader

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.

Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.

Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.

Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.

Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Di dalam mobil yang melaju stabil menuju kawasan perkantoran, suasana sempat sunyi selama beberapa menit. David fokus mengemudi, sementara Dera duduk di bangku belakang dengan tubuh sedikit condong ke arah jendela. Ia masih merasa canggung. Pagi ini benar-benar di luar dugaan, diantar oleh Mario, salah satu pemilik perusahaan besar di negara ini

Mario yang duduk di sampingnya akhirnya memecah keheningan. Ia menoleh pelan, mencoba membuka percakapan dengan nada santai.

“Kamu tidak ada rencana resign dari kantormu?” tanya Mario.

Dera langsung menoleh, alis berkerut. Wajahnya penuh kebingungan dan sedikit curiga. “Hah? Maksudnya gimana? Saya baru kerja beberapa minggu, sudah disuruh buat resign?” nada suaranya naik satu tingkat, jelas merasa aneh dengan pertanyaan itu.

Mario terkekeh pelan. Ia sendiri merasa pertanyaan yang baru saja dilontarkannya terdengar agak konyol. Tapi ia tidak menariknya kembali. Di dalam hati, ia memang berharap Dera mau mempertimbangkan untuk pindah ke perusahaannya. Bukan hanya karena ingin lebih dekat, tapi juga karena ia merasa perempuan itu pantas mendapatkan lingkungan kerja yang lebih stabil dan supportive.

“Aku hanya memberikan penawaran aja” jawab Mario sambil tersenyum, mencoba meredakan ketegangan. “Siapa tahu kamu mau pindah ke perusahaanku. Kebetulan masih ada posisi yang kosong. Gajinya lebih besar, lingkungannya juga… menurutku lebih nyaman.”

Dera langsung menggeleng tegas. Ia melengoskan wajahnya ke samping, menatap keluar jendela dengan jelas. “Tidak! Aku sudah nyaman bekerja di tempat yang sekarang.”

Suaranya tegas, tidak ada ruang untuk negosiasi. Bagi Dera, pekerjaan barunya adalah salah satu hal yang berhasil ia bangun sendiri setelah meninggalkan Bandung. Ia tidak ingin ada orang, meski terlihat baik, yang tiba-tiba menawarkan jalan pintas atau mengubah rencananya. Ia sudah terlalu sering dibuat merasa bahwa keputusannya tidak penting.

Mario mengamati raut wajah Dera yang menolak dengan tegas. Ia tidak memaksa lebih jauh. Senyumnya masih ada, tapi kali ini lebih lembut. “Baiklah. Aku tidak memaksa. Hanya menawarkan saja. Kalau suatu hari berubah pikiran, bilang saja.”

Dera tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, masih menatap keluar. Di dalam hatinya, rasa waspada kembali menguat. Tawaran itu terdengar bagus di permukaan, tapi ia sudah belajar bahwa tawaran manis seringkali datang dengan harga yang tidak terlihat.

David di kursi depan hanya diam, sesekali melirik melalui spion. Ia sudah hafal dengan cara majikannya mendekati sesuatu yang diinginkannya, tenang, tidak memaksa, tapi tidak mudah menyerah.

Mobil terus melaju, menuju perusahaan tempat Dera bekerja.

Perjalanan yang seharusnya bisa lebih cepat, bagi Dera terasa sangat lama. Setiap detik di dalam mobil itu seolah berjalan lebih lambat dari biasanya. Tangan menggenggam tali tas di atas pangkuannya, pandangan terus tertuju ke luar jendela. Lalu lintas Jakarta pagi hari memang padat, tapi bukan itu yang membuat waktu terasa berlarut. Melainkan satu mobil dengan Mario yang membuatnya tidak bisa sepenuhnya rileks.

Mario tidak memaksa berbicara lagi. Ia hanya sesekali melirik ke arah Dera, lalu kembali menatap ke depan. David di kursi kemudi tetap fokus, sesekali mengurangi kecepatan saat lampu merah menyala. Suasana di dalam mobil kembali sunyi, hanya diisi deru mesin dan suara radio yang diperkecil.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, David akhirnya memperlambat laju mobilnya dan berhenti tepat di depan gedung kantor Dera. Papan nama perusahaan terlihat jelas di atas pintu kaca. Beberapa karyawan sudah mulai masuk, membawa tas kerja dan gelas kopi.

Dera langsung menghela napas lega dalam hati. Ia segera meraih gagang pintu. “Terima kasih,” ucapnya formal, tanpa menoleh terlalu lama ke arah Mario.

Mario mengangguk pelan. “Hati-hati. Selamat bekerja"

Dera tidak membalas. Ia turun dengan cepat, menutup pintu mobil dengan lembut, lalu melangkah menuju pintu gedung tanpa menoleh ke belakang. Langkahnya tegas, seolah ingin segera memasuki dunia kerjanya yang sudah familiar, dunia di mana ia bisa fokus pada laporan, angka, dan tugas-tugas yang tidak menuntutnya untuk membuka diri.

Di dalam mobil, Mario masih duduk diam beberapa detik, menatap punggung Dera yang semakin menjauh hingga menghilang di balik pintu kaca. Senyum tipis sempat muncul di bibirnya, lalu menghilang lagi.

David menoleh lewat spion. “Langsung ke kantor, Tuan?”

Mario menghela napas pelan. “Iya. Ke kantor.”

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Dera baru saja melangkah keluar dari lift di lantai kerjanya ketika suara familiar memanggil dari belakang.

“Dera!”

Ia menghentikan langkahnya dan menoleh. Chika terlihat berlari kecil menyusul, napasnya sudah ngos-ngosan, wajahnya sedikit merah karena terburu-buru. Dera langsung tersenyum kecil melihatnya.

“Kamu diantar siapa tadi? Aku lihat kamu turun dari mobil mewah banget,” tanya Chika penasaran, masih mengatur napas sambil berdiri di samping Dera. Matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.

Dera menghela napas pelan. Ia melirik ke kiri-kanan koridor yang masih sepi, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Chika dan berbisik lirih,

“Mario. Laki-laki yang kemarin bertemu kita di kafe.”

Mulut Chika langsung menganga lebar. Matanya membelalak tidak percaya. “Serius?! Kamu satu mobil sama dia?!” serunya hampir berteriak.

Dera langsung menutup mulut Chika dengan cepat menggunakan telapak tangannya. “Jangan berisik! Nanti ada yang dengar,” tegurnya pelan tapi tegas, wajahnya sudah memerah karena malu.

Chika mengangguk-angguk cepat di balik tangan Dera, matanya masih bulat. Setelah Dera melepaskan tangan, Chika langsung berbisik kembali dengan semangat yang tidak berkurang.

“Gila, Der… Mario Pratama? Yang punya gedung gede di sebelah itu? Kok bisa dia antar kamu pagi-pagi begini?”

Dera menggeleng, masih menjaga suara tetap rendah. “Panjang ceritanya. Dia ketemu aku di depan kosan, bilang ojek online lagi demo, terus maksa nganter. Aku sudah menolaknya, tapi dia tidak mau dengar.”

Chika menutup mulutnya dengan tangan, menahan diri agar tidak berteriak lagi. “Kamu beruntung banget, tahu tidak? Banyak yang ingin dekat sama dia. Terus tadi di mobil ngobrol apa?”

Dera menghela napas lagi, kali ini lebih panjang. “Jangan dibesar-besarkan, Chi. Aku cuma ditolong. Tidak lebih. Lagian aku masih belum nyaman.”

Chika menatapnya lama, lalu tersenyum miring. “Iya sih, kamu emang masih kelihatan kaku. Tapi tetap saja ini seru banget. Nanti istirahat makan siang cerita lebih detail, ya. Jangan ada yang dilewatkan.”

Dera hanya mengangguk enggan, lalu menarik tangan Chika agar segera berjalan menuju ruangan kerja mereka. “Ayo masuk. Nanti kena tegur kalau terlambat.” ajak Dera.

Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor. Chika masih sesekali melirik Dera dengan senyum penuh arti, sementara Dera hanya bisa menghela napas dalam hati.

1
Siti Zaid
Lelaki tukang selingkuh kayak Galih patut dibuang Dera..tunggu karma utk vivian dan galih😠
Oma Gavin
mario tolong bahagiakan dera biar bisa nampar vivian dan galih bahwa pecundang kalian berdua akan mendapatkan balasan yg setimpal awas jgn syok jantungan saat dera jadi istri mario milyader tampan
sutiasih kasih
ada baiknya.... smpe kpanpun... km g usah kmbali ke keluargamu yg toxic dera...
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
sutiasih kasih
dgr galih..... nnti lm" km akn mnyesal sdh salah memilih pndamping hidup....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
sutiasih kasih
cari tau aj trus.... biar km makin kpanasan... lm" sinting n jdi pnghuni rsj...
sunaryati jarum
Nah , tepat pengalihan fokus dan pikiran Dera, dari inisiatif Nak Mario.Semoga memang Nak Mario jodoh kamu Nak Dera
sunaryati jarum
Mario benar' -benar mencintai Dera,semoga setelah ini Dera tidak lemah dan bodoh lagi, emak jadi gregeten lho
Siti Zaid
Moga aja Mario menjadi satu2 nya orang yg dpt menyembuhkan luka dihati Dera...😊
Siti Zuhrotul Hilaliyah
masih bersambung gak kak, Seru banget pengin tahu lanjutan ceritanya
fabdul: ​Izin promosi novel ya, Kak! 🥹🙏
​Judul: Air Mata Pernikahan Belian
​Ringkasan Cerita:
Demi ibunya, Aira terpaksa menikahi Devan—CEO dingin yang cuma butuh istri formalitas. Dianggap cuma "transaksi yang dibeli uang", Aira memilih bertahan dengan harga dirinya. Tapi saat Devan mulai peduli, rahasia masa lalu suaminya muncul kembali.
​Apakah ketulusan Aira bisa meluluhkan hati dingin Devan?
​Mampir yuk, Kak! Semoga suka dengan jalannya cerita. Terima kasih banyak! 💕
total 1 replies
Meee
dera harusnya ganti nmr buat apa orang tuamu g perduli.jadilah kuat ini mah lemah bnget.
sunaryati jarum
Emak kok merasa jika Dera itu wanita lemah dan bodoh cuma menangis setelah baca pesan.Mending ganti no hp beres,fokus kerja tidak usah pikirkan keluarga jajalaknat yg telah banyak menyakiti hatinya
Putri Wulandari
bodohh jadi ceritanya jelek ga tegas
Talnis Marsy
apa dera bukan anak kandung thor..
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa
Asriani Rini
Dera kenapa sih kamu bodoh betul coba ganti nomot ponselmu
Sri Widiyarti
blokir aja sih nomor keluarganya biar ga diganggu terus ..
Siti Zaid
Kasih ibu sepanjang masa..tapi tidak berlaku utk Dera..dia malah dibuang ibu nya..selalu disalahi dan dizalimi tanpa tahu apa kesalahan yg sudah dia lakukan...😠
Ariany Sudjana
dera terlalu lemah dan bodoh, sudah tahu keluarga ga peduli, masih saja keras kepala pakai nomor lama, kenaapa ga ganti nomor baru saja, jadi keluarga ga bisa seenaknya saja meneror kamu
sutiasih kasih: g niat untuk hidup tenang....
total 2 replies
sunaryati jarum
Bangkit jangan jadi wanita lemah lagi, sekarang pria milyader yg menjaga, mensuport dan memberikan ketenangan padamu.Balas Vivian,dia akan gila, karena menuruti sifat iri dengkinya
sunaryati jarum
Dengar dan ikuti kata Mario.Lawan traumamu,lawan sakit hati dan lawan orang - orang yang menyakiti hati kamu Dera.Bravo Nak Mario,tempel pelan-pelan beri semangat dan provokasi npositig untuk kebangkitan dari terpuruk nya
Siti Zaid
Kesian Dera kerana punya kakak jahat macam iblis..hatinya penuh dengan rasa iri dan dengki pada Dera..sanggup musnahkan hidup adik sendiri😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!