“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Pesta Laras
Laras mengangkat gelasnya ketika Reno menuangkan minuman ke dalam dua gelas lain di atas meja makan.
“Untuk hidup baru,” katanya.
Ibu Retno menyambut ucapan itu dengan tawa kecil. Gelasnya beradu dengan gelas Laras, disusul bunyi denting ringan di ruang makan.
“Begini seharusnya dari dulu,” ujar Ibu Retno. “Kamu masih muda, punya pekerjaan bagus, masa depan cerah. Sekarang kamu bisa menentukan semuanya sendiri tanpa harus mengurus orang yang tidak punya arah.”
Laras tersenyum dan meneguk minumannya. Pernikahannya dengan Arkan telah berakhir melalui dokumen yang mereka tandatangani. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada permintaan untuk mempertimbangkan kembali keputusan. Arkan menyelesaikan bagiannya, memeriksa berkas, lalu pergi.
Sikap itu sempat membuat Laras kesal. Ia tidak tahu apakah Arkan memang sudah tidak peduli atau sekadar ingin terlihat tabah.
Karena itulah ia ingin hari ini terasa berbeda.
Ia ingin membuktikan bahwa kepergian Arkan tidak membuat hidupnya berantakan. Ia masih punya pekerjaan, penghasilan, rumah, dan orang-orang yang mendukung keputusannya.
Setidaknya, itulah yang ingin ia percayai.
“Laras, kenapa malah melamun?” Reno menyentuh ringan punggung tangannya. “Hari ini hari bahagia, bukan?”
Laras menoleh. Reno duduk di sampingnya dengan kemeja berlengan tergulung. Sejak datang, lelaki itu mengambil alih urusan makanan, memesan hidangan kesukaan Laras, bahkan membawa sebotol minuman yang katanya disimpan khusus untuk kesempatan istimewa.
Perhatian semacam itu terasa menyenangkan. Berbeda dengan Arkan, Reno pandai mengetahui hal-hal yang ingin didengar seseorang.
“Bahagia, kok,” jawab Laras.
“Kalau begitu, senyum yang benar.” Reno mengangkat ponselnya. “Kita foto. Biar ada kenang-kenangan.”
Ibu Retno segera merapat ke sisi Laras. Ia merapikan rambut putrinya, kemudian memastikan wajah mereka menghadap kamera.
“Ambil yang bagus. Jangan sampai kelihatan capek.”
Kilatan layar muncul. Reno memeriksa hasilnya, lalu tertawa puas.
“Bagus. Cocok buat diunggah.”
Laras melihat foto itu sebentar.
Namun, ketika Reno mulai mengetik keterangan untuk unggahannya, Laras ingin tahu apa yang akan ditulis lelaki itu.
“Jangan berlebihan, ya.”
“Memangnya aku mau menulis apa?”
“Entahlah. Jangan membuat orang berpikir macam-macam.”
Reno menurunkan ponselnya. “Orang berpikir macam-macam karena kamu terlalu memikirkan pendapat mereka.”
Laras mengangguk kecil dan membiarkannya melanjutkan.
Di meja, makanan mulai tersaji. Ada ayam panggang, tumis sayuran, sup hangat, dan kue kecil yang dibeli Reno dalam perjalanan. Ibu Retno beberapa kali memuji pilihan menunya. Ia bahkan mengatakan Laras beruntung mempunyai seseorang yang begitu perhatian.
Laras mengiyakan tanpa banyak bicara.
Laras membetulkan posisi gelasnya, lalu kembali mendengarkan percakapan. Ia tak ingin satu keraguan kecil merusak malam yang sudah mereka siapkan untuk merayakan keputusannya sendiri.
Di sela percakapan, matanya bergerak ke ujung meja.
Ada satu kursi kosong di sana.
Kursi itu biasanya ditempati Arkan. Bukan karena mereka pernah membuat aturan khusus, melainkan karena sejak awal lelaki itu selalu memilih tempat tersebut. Dari sana, Arkan bisa melihat pintu dapur sekaligus menjangkau lemari tempat menyimpan piring.
Kini kursi itu terlihat mencolok di antara tempat duduk lain yang terisi.
Laras segera mengalihkan pandangan. Tidak ada alasan untuk mempermasalahkan sebuah kursi. Mereka tidak sedang menunggu siapa pun. Ia juga tidak perlu menyiapkan piring tambahan hanya karena dulu ada seseorang yang selalu makan bersamanya.
“Laras, ambilkan sambal, dong,” kata ibunya.
Laras meraih mangkuk kecil di dekat tangannya, lalu menyerahkannya kepada Ibu Retno.
“Terima kasih. Oh, iya, nanti kita harus mengatur ulang beberapa barang di rumah. Ruang kerja kecil itu bisa kamu jadikan tempat menyimpan koleksi tas. Selama ini sayang sekali dipakai untuk barang-barang Arkan.”
Laras meletakkan sendoknya.
“Barangnya sudah banyak yang dibawa.”
“Bagus. Sisanya tinggal dipindahkan. Rumah ini akan lebih nyaman kalau tidak ada lagi barang yang mengingatkanmu pada masa lalu.”
Reno menyandarkan tubuh ke kursi. “Kalau perlu, aku bisa bantu membereskan. Kita bisa mulai akhir pekan ini.”
“Kita?” Laras mengulang tanpa sadar.
Reno menatapnya, lalu tersenyum. “Maksudku, aku bisa membantu sebagai teman. Kamu tidak harus mengerjakan semuanya sendirian.”
Laras mengangguk. Ia tidak ingin memperpanjang pembicaraan. Hubungan mereka belum pernah dibicarakan secara terbuka. Kedekatan itu tumbuh di antara jam kerja panjang, pesan pribadi, dan perjalanan pulang bersama. Ada hal-hal yang seharusnya ia pertanyakan, tetapi Reno selalu punya cara mengalihkannya. Hari ini, Laras ingin makan dengan tenang tanpa berdebat tentang pilihan hidupnya.
Laras mengaduk supnya. “Aku memang akan lebih fokus bekerja.”
“Itu baru benar. Ibu tidak ingin kamu kembali menghabiskan waktu untuk orang yang tidak bisa memberikan apa-apa.”
Sendok Laras berhenti di atas mangkuk.
Ia teringat beberapa malam ketika pulang terlambat dan menemukan makanan tertutup rapi di meja. Arkan jarang bertanya panjang lebar. Kalau Laras bilang sudah makan, lelaki itu hanya membereskan piringnya sendiri. Kalau Laras belum makan, ia menghangatkan lauk tanpa mempermasalahkan jam kepulangannya.
Dulu, Laras menganggap semua itu sebagai kebiasaan biasa di rumah. Ia bahkan pernah merasa Arkan terlalu banyak mengurus hal-hal kecil yang tidak penting.
Sekarang, ketika ibunya menyebut lelaki itu tidak bisa memberikan apa-apa, Laras ingin menyela. Bukan untuk membela Arkan, melainkan karena kalimat tersebut terasa terlalu sederhana untuk menjelaskan tiga tahun kehidupan yang mereka jalani bersama.
Tetapi ia tidak menemukan jawaban yang ingin diucapkannya.
“Kenapa?” tanya Reno.
“Nggak apa-apa.”
“Kalau ada yang mengganggu pikiranmu, bilang saja.”
Laras menatapnya. “Aku cuma capek.”
“Kalau begitu, setelah makan kamu istirahat. Biar aku yang membereskan meja.”
Ibu Retno tertawa kecil. “Nah, begitu. Laki-laki harus tahu cara memperlakukan perempuan.”
Reno ikut tertawa, sementara Laras kembali menunduk.
Pujian itu seharusnya membuatnya nyaman, tetapi perbandingan ibunya justru mengganjal.
Ia tidak ingin mengakui bahwa Arkan pernah melakukan banyak hal tanpa meminta pujian. Ketika Ibu Retno mengeluh tentang keran yang bocor, Arkanlah yang memperbaikinya. Ketika lampu teras mati, Arkan menggantinya. Ketika tagihan harus dibayar, urusan itu selesai tanpa pernah menjadi bahan pembicaraan panjang.
Semua hal itu terasa biasa selama masih ada seseorang yang mengerjakannya.
Laras mengambil gelasnya dan minum sedikit.
Malam terus berjalan dengan percakapan tentang liburan, pakaian, dan perabot rumah. Reno mengusulkan tempat yang ingin dikunjungi, dan Ibu Retno mulai membicarakan tanggal yang cocok. Laras ikut berpendapat, meski pikirannya sesekali terlepas.
Ketika Reno bangkit untuk mengambil kue, Laras kembali melihat kursi kosong itu.
Tidak ada jaket di sandarannya, gelas di dekat piring, atau suara langkah Arkan dari dapur. Hanya kursi kayu dengan bantalan sedikit miring.
Laras meraih gelasnya, lalu menggesernya beberapa sentimeter di atas meja.
Tidak ada yang perlu dipikirkan. Arkan sudah pergi karena mereka sepakat berpisah. Ia tidak bisa mengharapkan lelaki itu tetap berada di rumah, mengurus segala sesuatu seolah tidak ada yang berubah. Perceraian berarti mereka harus menjalani kehidupan masing-masing.
Itulah yang ia inginkan, setidaknya itu yang ia yakini.
“Laras, coba kuenya.” Reno meletakkan piring kecil di depannya. “Aku ingat kamu suka rasa ini.”
Laras memandang kue itu. Pilihan sederhana yang sesuai seleranya.
“Terima kasih.”
Mereka makan tanpa banyak bicara, sementara Ibu Retno sibuk membalas pesan di ponselnya.
Laras menghabiskan kuenya perlahan.
Arkan pernah membeli kue serupa tanpa ucapan panjang, hanya bertanya bagaimana harinya.
Laras menekan garpu ke sisa kue di piringnya.
Kenangan itu tidak lebih penting daripada keputusan yang telah mereka ambil. Ia tak ingin menghabiskan malam merayakan kebebasan dengan menghitung hal-hal yang hilang.
“Besok kamu masuk kantor seperti biasa?” tanya Reno.
“Iya. Ada beberapa laporan yang harus kuselesaikan.”
“Jangan terlalu memaksakan diri. Kamu juga perlu waktu untuk beristirahat.”
Laras tersenyum tipis. “Aku tahu.”
“Kalau begitu, akhir pekan kita keluar. Tidak perlu jauh-jauh. Cari tempat yang nyaman, makan malam, lalu pulang.”
Kita.
Kata itu terdengar wajar, tetapi Laras belum tahu artinya bagi mereka. Ia menyukai perhatian Reno, tetapi belum pernah memintanya menjelaskan batas hubungan mereka.
“Lihat nanti,” jawabnya.
Reno tidak mendesak. Ia hanya mengangguk dan kembali berbicara tentang tempat makan yang ingin dicobanya.
Ibu Retno akhirnya menyimpan ponselnya. “Sudah, jangan bicara pekerjaan terus. Hari ini kita rayakan sesuatu yang baik. Kamu sudah mengambil keputusan, Laras. Sekarang jalani dengan yakin.”
Laras mengangkat wajah.
Ibunya memandangnya dengan keyakinan yang sama seperti ketika memberi pendapat tentang pernikahan, pekerjaan, dan orang-orang di sekitar mereka. Keyakinan itu sering membuat Laras tak memeriksa kembali pilihannya.
Ia terbiasa mendengar bahwa Arkan tidak cukup baik untuknya dan bahwa ia pantas mendapatkan lebih banyak. Seorang suami, menurut pandangan itu, harus menunjukkan keberhasilan, bukan sekadar mengurus hal-hal yang tak menghasilkan pujian. Laras pernah mempercayainya.
Sekarang, setelah tanda tangan mereka tercantum pada dokumen perceraian, ia tidak ingin mengulang pertanyaan yang sama. Ia ingin percaya bahwa keputusan tersebut benar, bahwa dirinya tidak sedang melarikan diri dari sesuatu yang seharusnya diselesaikan bersama.
“Aku akan menjalaninya,” katanya.
Ibu Retno tersenyum puas. “Bagus.”
Reno kembali mengangkat gelasnya. Laras menyambutnya, dan mereka bertiga bersulang sekali lagi. Untuk beberapa menit, Laras menikmati makanan dan tawa tanpa memikirkan hal lain.
Setelah makan malam selesai, Reno membantu membawa piring ke dapur. Ibu Retno mengumpulkan gelas-gelas kosong sambil bercerita tentang rencana pertemuan dengan teman-temannya minggu depan.
Laras berdiri di dekat meja, mengamati ruangan yang mulai berantakan.
Biasanya Arkan yang membereskan, sekarang Reno yang ambil lap.
Laras berhenti ketika melihat Reno mulai membersihkan meja.
Tidak ada yang sulit. Ia bisa membersihkan rumah sendiri. Ia bisa mengurus tagihan, memperbaiki barang yang rusak, dan menyelesaikan urusan yang sebelumnya dikerjakan Arkan. Tidak ada alasan untuk menganggap dirinya tidak mampu hanya karena beberapa kebiasaan akan berubah.
Malam semakin larut. Reno berpamitan lebih dulu. Setelah pintu ditutup, rumah kembali sepi.
Laras berdiri sebentar di ruang tengah. Lampu ruang makan masih menyala, piring-piring tersusun di rak, dan sisa kue tersimpan di lemari pendingin.
Ia mematikan lampu ruang makan.
Dalam perjalanan menuju kamar, langkahnya melewati meja kecil di dekat dinding. Di sana masih ada tempat untuk meletakkan kunci, dompet, dan barang-barang yang sering dibawa keluar rumah.
Arkan dulu menaruh kuncinya di sudut kanan, Laras di sebelah kiri. Mereka tak pernah membicarakannya, tetapi masing-masing tahu tempat barangnya.
Kini sudut kanan kosong.
Laras mempercepat langkah, masuk ke kamar, lalu mengganti pakaiannya. Ia tidak ingin berdiri lebih lama di depan meja itu. Ia juga tidak ingin menghubungkan benda-benda yang masih tertinggal dengan seseorang yang sudah memilih pergi.
Ponselnya bergetar di atas tempat tidur.
Sebuah pesan dari Reno muncul, berisi foto mereka bertiga saat bersulang. Di bawahnya ada tulisan singkat tentang awal yang baru.
Laras membaca pesan itu, lalu membalas dengan ucapan terima kasih.
Ia meletakkan ponsel di meja samping ranjang dan menarik selimut sampai pinggang. Hari itu melelahkan, tetapi ia berharap bisa tidur tenang dan mengatur hari esok sesuai keinginannya sendiri.
Beberapa menit kemudian, ponselnya kembali menyala.
Kali ini bukan pesan dari Reno.
Sebuah pemberitahuan pembayaran masuk ke surel yang biasa ia gunakan untuk urusan rumah. Laras membuka pesan itu, mengira pengingat rutin dari penyedia layanan, tetapi baris pertama menyebut tagihan rumah bulan berjalan.
Pembayaran telah diproses.
Jumlahnya sesuai dengan tagihan yang ia kenal, tanpa keterlambatan atau biaya tambahan. Namun, sumber pembayaran menunjukkan nama rekening yang belum pernah ia lihat.
Ia mengerutkan kening, lalu membuka rincian transaksi.
Nama pemilik rekening itu bukan Arkan, bukan pula rekening pribadinya sendiri.
Laras memeriksa tanggal pembayaran. Semuanya tercatat rapi, lengkap dengan nomor referensi transaksi. Tidak ada keterangan yang menjelaskan hubungan rekening tersebut dengan rumah mereka.
Ia membuka pesan itu sekali lagi, memastikan dirinya tidak salah membaca.
Nama rekening itu tetap sama.
Laras menatap layar ponsel. Pesta telah selesai, gelas disimpan, meja dibersihkan, dan semua orang pulang. Ia baru saja berjanji kepada ibunya untuk menjalani hidup baru dengan yakin.
Namun, tagihan rumah bulan itu telah dibayar oleh rekening yang tidak ia kenal.
Laras menurunkan ponsel, lalu membukanya kembali. Ia mencari keterangan yang terlewat, tetapi hanya menemukan tanggal, jumlah, nomor transaksi, dan nama rekening asing itu.
Ia menekan layar untuk menyimpan bukti pembayaran.
Mungkin ada penjelasan sederhana. Mungkin pembayaran itu dilakukan melalui pihak pengelola layanan atau rekening yang digunakan untuk keperluan administrasi. Ia tidak perlu membuat kesimpulan sebelum mengetahui faktanya.
Laras meletakkan ponsel di atas meja, tetapi pandangannya masih tertuju pada layar yang belum padam.
Di luar kamar, rumah tetap sunyi.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, perayaan kebebasannya terasa belum benar-benar selesai.