Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENTROKAN DUA KUBU!!
Renzo hanya tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan seakan mendengar sesuatu yang kurang masuk akal baginya. "Lalu bagaimana jika Darren dari Cakar Harimau dan Axel dari Darah Buaya ikut bergabung dengan mereka? Menurut perhitunganmu, bisakah kita tetap menghabisi mereka semua dengan mudah tanpa kerugian yang berarti?" .
Kayden menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menyeringai lebar, mencoba mencairkan suasana yang terasa berat. "Setidaknya… aku bisa ikut berdiri di barisan depan dan menendang mereka satu atau dua kali sebelum mereka menyadari apa yang sebenarnya terjadi."
Gavien menyikut lengan Kayden dengan cukup keras, menatapnya tajam agar tetap serius. "Sudah, jangan banyak bicara dulu. Jika dugaan Saudara Renzo benar jika para pemimpin kelima gedung itu benar-benar bersekutu menjadi satu kekuatan besar kita harus jauh lebih cermat, berhati-hati, dan menyusun langkah yang tepat. Jika kita hanya menerjang maju tanpa rencana yang matang, justru merekalah yang akan memanfaatkan setiap celah yang kita miliki, lalu menjebak kita di posisi paling lemah sebelum kita sempat menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi."
Ivan mengangguk pelan, wajahnya tetap tenang namun matanya memancarkan ketegasan yang tak bisa diragukan. "Menurut pendapatku, jika kita mampu menjatuhkan beberapa pemimpin utama mereka sejak detik pertama pertarungan dimulai, peluang kita untuk meraih kemenangan akan terbuka lebar. Namun karena kita belum tahu seberapa banyak pihak yang telah bergabung dengan mereka dan siapa saja yang berada di pihak lawan, kita harus menyiapkan segala kemungkinan sebagai langkah antisipasi yang tak boleh diabaikan." .
Aditya Wijaya, sosok jenius yang dikenal sebagai ahli perancang alat peledak sekaligus penyusun strategi yang cerdas, ikut menimpali dengan suara jernih dan penuh keyakinan. "Siapapun yang mereka ajak bergabung ke dalam kelompok mereka, itu bukan masalah besar yang perlu dikhawatirkan. Pola gerak dan strategi mereka sangat mudah dibaca sejak awal. Target utama mereka pasti adalah Saudara Renzo dan Saudara Ivan — mereka akan berfokus sepenuhnya untuk menjatuhkan kalian berdua terlebih dahulu sebelum mengurus orang-orang lainnya. Kita hanya perlu menyusun strategi penangkis yang tepat. Ketujuh belas orang inti kita akan bertarung berdekatan dengan kalian berdua, membentuk barisan pelindung yang rapat, memastikan kalian tidak menjadi sasaran utama serangan mereka. Adapun pasukan lain yang mereka miliki, serahkan sepenuhnya kepada tujuh puluh satu orang rekrutan yang akan kita kumpulkan dan latih dalam waktu singkat ini."
Petra, lelaki tua bertubuh pendek yang dijuluki Pedang Pendek, penghuni sel 512 yang dihormati semua orang karena pengalaman dan ketajamannya, tersenyum tipis sambil menatap pemuda itu. "Menarik sekali… cara berpikirmu tajam dan teratur, sepertinya kau memang benar-benar seorang jenius," ucapnya memuji dengan tulus tanpa sedikit pun menyembunyikan kekaguman. .
Renzo mengangguk mantap, tatapannya menyapu seluruh wajah yang ada di ruangan itu satu per satu. "Baiklah, kita jalankan rencana yang disusun Aditya untuk menangkis strategi mereka. Kemenangan kita bergantung sepenuhnya pada kalian berenam belas yang bertugas merekrut tujuh puluh satu orang pasukan tambahan. Kalian harus bisa memilih tahanan-tahanan yang benar-benar tangguh, kuat, dan setia! Dugaan Aditya kemungkinan besar benar: di hari pertempuran nanti, aku dan Ivan akan menjadi sasaran utama mereka tanpa keraguan sedikit pun. Oleh karena itu, kalian semua harus siap siaga menangkis serangan mereka dari segala arah!" . .
"SIAP!!" jawab mereka serentak, suara mereka bergema kuat penuh keyakinan.
--
Waktu berlalu begitu cepat, berbulan-bulan terlewati tanpa terasa sekejap mata. Di antara enam gedung tinggi yang menjulang kokoh di penjuru timur, barat, selatan, dan utara kawasan penjara isolasi bagi narapidana terberat dan paling berbahaya, terbentang sebuah lapangan tanah luas yang tampak menakutkan. Tempat itu mampu menampung sepuluh ribu orang — bukan untuk menyaksikan pertandingan olahraga yang menghibur, melainkan menyaksikan pertunjukan paling brutal yang tak bisa dibayangkan oleh akal sehat siapa pun: pertarungan hidup dan mati antar blok. Lapangan ini dibangun khusus sebagai arena pertumpahan darah, tempat para narapidana saling menghabisi satu sama lain demi bertahan hidup atau sekadar melampiaskan amarah yang membeku bertahun-tahun di balik tembok tebal yang dingin. .
Hari ini, setelah sekian lama pertumpahan darah terjadi dalam skala kecil, akhirnya peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya tiba. Hampir sepuluh ribu narapidana memenuhi tribun di sekeliling lapangan, menanti pertarungan seratus orang secara terbuka — dua kubu besar berhadapan di tanah yang sama. Yang paling dinanti bukan sekadar jumlah pesertanya yang luar biasa, melainkan melihat langsung aksi dua sosok yang kini menjadi legenda hidup di antara mereka semua: Renzo dan Ivan. . .
Namun sesuatu yang jauh lebih mencengangkan terjadi di hadapan mata semua orang. Damian, Axel, serta Lucas — tangan kanan Belly yang paling dipercaya — tampak berdiri teguh di sisi kubu lawan, memperkuat barisan Singa Perkasa. Sebuah aliansi empat gedung terbentuk untuk melawan satu kelompok. Pertarungan hari ini bukan sekadar adu kekuatan fisik semata, melainkan pertarungan lambang kekuasaan yang selama ini membagi tempat ini menjadi dua kubu besar. .
Sebagai langkah antisipasi tertinggi, seluruh sistem keamanan penjara diaktifkan sepenuhnya. Semua sipir dikerahkan dengan perlengkapan tempur lengkap, dilengkapi senapan mesin yang siap digunakan. Lebih dari seribu petugas mengamankan sekeliling lapangan dengan ketat. .
Tepat pukul delapan pagi, gerbang timur dan barat terbuka perlahan. Dua kubu muncul beriringan. Dari arah timur melangkah Renzo, diikuti Ivan dan sembilan puluh delapan pasukannya. Dari arah barat tampak Axel, Damian, Kael, Lucas, dan Zevan memimpin pasukan mereka. Belly tidak ikut bertarung, ia memang bukan petarung, kekuasaannya selama ini dijunjung berkat kesetiaan Lucas yang kemampuannya dikatakan setara dengan Kaneo. .
Mereka melangkah menuju tengah lapangan diiringi sorak sorai liar yang menggema dari segala arah. Tak ada yang melarang aliansi ini. Ini bukan pertandingan yang menjunjung keadilan, bukan pula kompetisi yang diatur peraturan. Ini medan perang dua ratus orang! !
Begitu para sipir mundur meninggalkan arena, suasana berubah seketika menjadi sunyi senyap. Kedua kubu berhadapan, terpisah jarak sepuluh meter. Di keheningan yang menegang, tatapan mereka saling bertemu. Otot-otot menegang, napas tertahan, semua orang menanti satu aba-aba terakhir. .
"Hahaha… persis sesuai rencana yang kami susun, kalian semua akhirnya bersekutu," ucap Renzo tenang. .
Axel tersenyum miring. "Ini medan perang. Semua pihak boleh melakukan apa saja demi meraih kemenangan!"
"Tunjukkanlah keberanian kalian. Di mataku, kalian tak lebih dari sekadar mangsa yang ketakutan lalu meminta bantuan kelompok lain," balas Renzo.
"Hahaha… musuh dari musuhku adalah sekutuku!" sahut Kael.
Setelah saling menatap selama dua menit penuh ketegangan, Renzo dan Axel secara bersamaan mengangkat satu tangan tinggi-tinggi.
"SERANG…!!"
Teriakan mereka meledak bersamaan. Dalam sekejap, dua gelombang manusia meraung dan melesat maju bagaikan lahar panas yang tak dapat dihentikan. Sorak penonton meledak semakin liar, mengguncang tanah tempat mereka berpijak.
Ivan menerjang ke depan bagaikan binatang buas yang kehilangan kendali. Matanya merah menyala, wajahnya penuh amarah yang tak tertahankan. Saat berlari, tubuhnya tiba-tiba merendah dan dalam sekejap menghilang dari pandangan, lalu muncul di sisi kanan barisan musuh. .
Dengan kekuatan yang tak masuk akal, tangannya menghantam leher pria di hadapannya — kepala orang itu tertekuk ke arah yang tak wajar, napasnya terhenti seketika. Tanpa memberi waktu bernapas, Ivan mengangkat tubuh korban itu dan mengayunkannya bagaikan pemukul raksasa, menghantamkannya ke kerumunan yang sedang menerjang ke arahnya. .