NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cinta

Dua Wajah Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Sesampainya di Tempat Pemakaman Umum (TPU), gumpalan awan kelabu masih menggantung rendah di atas langit pagi.

Tanah pemakaman terasa lembap dan basah oleh sisa rintik gerimis.

Bau tanah basah berbaur dengan aroma bunga kamboja yang menusuk indra penciuman, menambah nuansa kelam yang mengepung tempat itu.

Ambulans berhenti perlahan tepat di dekat area pemakaman keluarga.

Sari dengan sigap turun dari mobil, membuka pintu belakang, dan merentangkan kursi roda untuk Gladys.

Dengan hati-hati, Sari membantu Gladys yang masih terlihat sangat lemas dan rapuh untuk berpindah duduk.

Sari perlahan memutar dan mendorong kursi roda Gladys melintasi jalan setapak berumput yang agak licin.

Di belakang mereka, langkah kaki para pelayat terdengar berat dan teratur.

Gladys menggigil kecil, jemarinya meremas kuat gaun hitam yang ia kenakan, sementara matanya tak pernah lepas dari peti kayu gelap yang kini digotong oleh beberapa orang menuju sebuah liang kubur yang baru saja digali.

Di tepi liang lahat, Raka berdiri kaku. Wajah pria itu pucat pasi dengan tatapan mata yang betul-betul hampa, seperti jasad tanpa jiwa.

Ketika peti kayu perlahan diturunkan menggunakan tali-tali tambang tebal, dada Gladys bergemuruh hebat.

Suara gesekan kayu dan tanah yang samar seolah merobek-robek dadanya.

Beberapa kerabat turun ke dalam liang lahat untuk menyambut dan meletakkan jenazah Dewi dengan posisi miring menghadap kiblat.

Papan-papan kayu penutup mulai disusun satu per satu di atas jenazah, menutup rapat pandangan dunia dari sosok wanita ceria yang dulu selalu menghidupkan suasana.

Setiap dentuman papan kayu yang dipasang terasa seperti pukulan telak bagi Raka dan Gladys.

Petugas pemakaman mulai mencangkulkan tanah galian kembali ke dalam liang.

Suara jatuhnya bongkahan tanah yang menimbun papan penutup bergema berat di tengah kesunyian pemakaman.

Isak tangis pelan mulai terdengar dari beberapa kerabat jauh yang hadir.

Sari memegang erat bahu Gladys, ikut meneteskan air mata melihat bagaimana tanah merah itu perlahan-lahan menelan habis keberadaan sepupunya.

Gladys menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah tanpa suara.

Di sampingnya, Raka tetap berdiri mematung, dadanya naik turun menahan guncangan emosi yang teramat sangat.

Pria itu menolak untuk memalingkan wajah, memaksa matanya menyaksikan setiap sekop tanah yang makin menimbun tubuh sang istri.

Hingga akhirnya, gundukan tanah merah yang masih basah itu terbentuk sempurna.

Sebuah nisan kayu berukir nama Dewi Kirana binti Broto ditancapkan dengan kokoh di bagian kepala.

Kerabat dan pelayat mulai duduk mengelilingi makam untuk membacakan doa-doa terakhir dan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dipimpin oleh Pak Ustadz.

Suara lantunan doa menggema lembut di tengah hamparan pemakaman yang tenang, menyampaikan permohonan ampunan dan tempat terbaik bagi almarhumah.

Setelah pembacaan doa selesai, bunga tabur bermekaran di atas gundukan tanah merah—mawar merah, melati putih, dan irisan daun pandan yang menyebarkan aroma wangi segar.

Satu per satu orang yang takziah mulai berpamitan, menepuk bahu Raka untuk memberikan ketabahan sebelum akhirnya melangkah pergi melintasi jalan setapak.

Kini, hanya tersisa Raka, Gladys, dan Sari di sekitar makam yang masih basah.

Raka perlahan berlutut di samping gundukan tanah merah tersebut.

Ia mengabaikan celana kainnya yang kini kotor tertempel tanah basah, Raka membiarkan jemarinya meraba dinginnya batu nisan kayu milik istrinya.

Tangannya gemetar hebat, dan untuk pertama kalinya sejak dari rumah tadi, pertahanan diri pria itu runtuh sepenuhnya.

Air matanya menetes deras, membasahi ukiran nama di kayu tersebut.

Raka membungkukkan tubuhnya, menempelkan dahi dan bibirnya pada nisan kayu dingin itu cukup lama, menyalurkan seluruh keputusasaan, cinta, dan kehancuran hatinya yang tak terucapkan.

"Selamat jalan, istriku." ucap Raka lirih dengan suara yang pecah oleh tangis mendalam, sebuah bisikan perpisahan yang tenggelam di antara hembusan angin pagi pemakaman.

Raka perlahan bangkit dari samping gundukan tanah basah itu.

Dengan langkah berat dan tatapan yang masih dibayangi duka, ia menghampiri Gladys dan Sari.

"Ayo, kita pulang," ucap Raka dengan suara serak, hampir tenggelam di udara pagi yang dingin.

Sari menganggukkan kepalanya dan kembali mendorong kursi roda Gladys.

Mereka bertiga menyusuri jalan setapak TPU yang lengang menuju mobil.

Sepanjang perjalanan kembali ke rumah, tak ada satu pun kata yang terucap. Kabin mobil terasa membeku, hanya diisi oleh deru halus mesin dan beban kepedihan yang teramat berat.

Sesampainya di halaman rumah, beberapa mobil pelayat lain rupanya baru saja tiba untuk bertakziah.

Sari membantu Gladys turun dari mobil dengan hati-hati.

Sebelum melangkah lebih jauh, Sari memegang lembut lengan Gladys.

"Gladys, aku pamit pulang dulu, ya. Biar aku saja yang mengembalikan kursi roda ini ke rumah sakit," ucap Sari pelan.

Gladys menatap sepupu almarhumah sahabatnya itu dengan mata sembab. Ia mengangguk lemah.

"Terima kasih banyak, Sari."

"Iya, Gladys. Kamu yang kuat, ya. Sekarang kamu masuk dan istirahat," balas Sari hangat, mengusap bahu Gladys sebelum akhirnya berbalik membawa kursi roda tersebut.

Di teras depan, Raka sudah berdiri menyambut dan menyalami para tamu bertakziah yang baru berdatangan.

Melihat kondisi Gladys yang tampak amat pucat dan hampir ambruk karena kelelahan emosional, Papa Devandra segera menghampiri menantu barunya itu.

"Gladys, Nak. Kamu masuk ke kamar saja dulu untuk beristirahat. Kondisimu masih sangat lemah," tutur Papa Devandra lembut, menatap iba pada wanita muda yang mendadak berada di pusaran duka keluarganya.

Gladys menganggukkan kepalanya pelan dan masuk ke dalam ruang tamu.

Dengan langkah berseret, Gladys berjalan menyusuri koridor rumah yang terasa asing namun dipenuhi memori tentang Dewi.

Begitu melangkah masuk ke dalam kamar dan memutar kunci pintu, pertahanannya yang tersisa runtuh seketika.

Gladys merosot ke balik pintu, terduduk kaku di lantai.

Ia dengan cepat menutupi mulutnya rapat-rapat menggunakan kedua tangan, berusaha menahan histeria agar suara tangisnya tak pecah keluar ruangan.

Air matanya meluncur deras, membasahi wajah dan sela-sela jarinya.

"Dewi, kenapa di ulang tahunku, kamu malah meninggalkanku?" bisik Gladys terpatah-patah di sela isak tangisnya yang membendung sesak.

Dada Gladys bergemuruh hebat saat kenangan belasan tahun lalu berputar kembali di benaknya bagai rekaan film tua.

Dewi bukan sekadar teman, ia adalah bagian dari separuh jiwa Gladys sejak masa SMA.

Gladys teringat pertama kali mereka bertemu di hari pertama OSPEK—saat Gladys yang pemalu dan panik karena kehilangan nametag plastik dari kardus, mendadak ditolong oleh Dewi yang dengan percaya diri membagi dua pita merah-putih milik wanita itu agar Gladys tidak dihukum senior. Sejak detik itu, mereka tak pernah terpisahkan.

Kenangan konyol masa remaja pun berkelebat. Gladys mengingat betapa histerisnya mereka berdua saat jatuh cinta pada kakak kelas tampan ketua klub basket yang dengan polosnya mereka kejar dan intip setiap latihan, hingga berbulan-bulan kemudian mereka baru menyadari fakta pahit kalau sang kakak kelas ternyata menyukai sesama pria.

Kenangan konyol yang dulu membuat mereka tertawa sampai sakit perut di kantin sekolah.

Tak hanya cerita manis, kenangan kenakalan remaja mereka pun hadir begitu nyata.

Mereka yang pernah nekat membolos jam pelajaran seni budaya demi membeli es boba di luar pagar sekolah, hingga akhirnya tertangkap basah oleh guru piket.

Hukuman berdiri satu kaki di depan kelas selama dua jam karena kompak tidak mengerjakan tugas matematika pun pernah mereka lewati bersama sambil saling lempar senyum tertahan.

Dewi adalah tempat Gladys menyandarkan segala duka, saksi dari setiap tawa dan tangisnya tumbuh dewasa.

Namun kini, di hari usianya yang menginjak 27 tahun—hari yang seharusnya dirayakan dengan pelukan hangat dan potongan kue pertama untuk sang sahabat—Dewi justru pergi untuk selamanya, meninggalkannya terkunci dalam ikatan pernikahan asing bersama suami sahabatnya sendiri.

Dalam keheningan kamar yang dingin, Gladys melipat lututnya dan memeluk erat dirinya sendiri, menangisi kepergian sosok yang paling berarti dalam hidupnya.

1
nining cahyaningrum
akur jelas cerita bagud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!