Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Ini
"Kak, minta tolong dong."
Gala baru keluar dari kamar mandi, sontak menoleh pada Rea yang duduk di kursi meja belajar dengan handuk di atas kepalanya.
Rea menyengir lebar saat Gala menatapnya dengan alis terangkat.
"Keringin rambut."
Gala mendengus, manja sekali gadis itu. Namun, tak urung ia juga menurutinya.
Gala meraih handuk di atas kepala Rea, sebelum mengusap lembut rambut gadis itu.
"Sendiri gak bisa, memang?"
"Bisa, sih. Manja sama suami sendiri, gak apa-apa, kan?"
Rea memeluk perut Gala yang berdiri di hadapannya, dibalas toyoran pelan oleh cowok itu.
"Sejak kapan lo bisa manja?"
"Sejak gue tau, kalau lo cemburu kalau gue dekat sama Gara."
Gala memicingkan matanya. "Kok lo ge-er, sih?"
"Gak ge-er, orang kenyataannya gitu."
Gala memutar bola matanya malas. "Gak cemburu, cuma gak ikhlas aja kalau dosa lo jadi tanggungan gue."
"Halah, ngeles aja lo!" Rea mencubit gemas perut rata Gala, hingga membuatnya meringis.
Gala mengusap perutnya. "Lo ada kelas hari ini?" tanyanya kemudian.
Belum sempat Rea menjawab, dering ponsel di atas meja mengalihkan atensi mereka.
Rea segera berlalu untuk mengambil ponsel itu dan membuka pesan.
Gara
Rumah sakit, ruang nomor 28, lantai tiga.
Mengerutkan kening, Rea kemudian menatap kearah Gala dengan pandangan yang sulit diartikan.
Gala menatap Rea dengan pandangan bertanya. "Ada apa?"
Tanpa mengatakan apapun, Rea memberikan ponselnya pada Gala.
Gala menatap pesan itu cukup lama, sebelum ia beralih menatap Rea kembali.
"Kita ke rumah sakit, sekarang."
Rea mengangguk, kemudian mengikuti langkah Gala untuk segera bersiap ke rumah sakit.
Entah mengapa perasaan mereka terasa tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati mereka, dan memiliki firasat akan terjadinya sesuatu hal yang tidak mengenakkan.
Gala bergerak menggenggam tangan Rea yang sejak tadi tak berhenti bergerak gelisah.
"Tenang, jangan panik."
Apa yang Gala katakan semata-mata untuk menenangkan dirinya sendiri yang juga ikut merasa khawatir.
Tak lama, mereka sampai di parkiran rumah sakit. Gala turun lalu membukakan pintu untuk Rea.
Keduanya berjalan dengan tergesa melewati koridor rumah sakit yang cukup lenggang.
Sejak tadi, Gala tak lepas memegang tangan Rea dan sesekali mengusap nya untuk memberikan ketenangan.
Akhirnya mereka sampai di depan ruang rawat yang dari disebutkan. Menarik dan membuang nafas perlahan, sebelum membuka ruangan itu.
Tampak Gara yang sedang berbaring lemah di atas brankar, dengan senyum tersungging ke arah mereka.
Rea dan Gala berjalan mendekat, menatap Gara dengan lekat. Wajahnya pucat, lingkar hitam tergambar jelas di kelopak matanya, juga rambut di kepalanya yang sudah lenyap entah kemana.
"Hai, Gal," sapa Gara untuk pertama kali, dibalas anggukan singkat oleh Gala.
"Gue pikir kalian gak mau datang," katanya beralih menatap Rea.
Rea bergerak duduk di kursi samping brankar Gara, menatap lekat cowok itu. Gala sendiri tetap berdiri di belakang Rea.
"Lo kenapa?" tanya Rea dengan nafas tercekat.
Gara lagi-lagi tersenyum, seolah tidak ada apapun yang terjadi di antara mereka.
Ia bergerak mengusap puncak kepala Rea, lalu beralih mengusap pipi gadis itu.
"Apapun yang terjadi, jangan nangis ya? Air mata kamu, terlalu berharga untuk menangisi hal yang sia-sia."
Gara ingin mengambil posisi duduk, membuat Gala sigap membantunya.
Gara menatap Gala dalam. "Apapun yang terjadi, jagain dia, ya? Jangan tinggalin, apa lagi nyakitin dia. Gue gak rela kalau air mata kesedihannya harus kembali menetes karena laki-laki."
Gara beralih pada Rea yang hanya diam dengan pikiran berkecamuk. "Dia itu berharga di hidup gue."
"Hidup gue juga," kata Gala refleks, membuat Gara menyunggingkan senyumnya kembali.
"Iya, gue tau itu. Makanya gue minta sama lo, jagain dia. Gue pikir, lo memang orang yang tepat buat jagain dia, bukan gue."
Gala dan Rea diam, bingung ingin menjawab apa. Jujur saja, Gala tak enak hati karena merasa jadi perebut kekasih sahabatnya.
"Selama ini, gue bukan di luar kota, tapi di luar negeri."
Rea dan Gala sama-sama menatap cowok itu dengan bingung.
Gara terkekeh pelan, dengan pandangan lurus ke depan. "Gue gak kuliah, tapi berobat. Gue punya leukimia stadium akhir."
Gala membulatkan matanya terkejut, begitupun Rea yang matanya sudah berkaca-kaca.
Rea menutup mulutnya tak percaya. "Lo bohong, kan?"
Gara menatap Rea, seraya menggelengkan kepala dan mengusap air mata gadis itu.
"Aku gak bohong. Jangan nangis, aku gak suka kamu nangis."
Bukan menurut, Rea justru bangkit untuk memeluk Gara dan terisak di sana.
"Kenapa lo bohong? Kenapa?"
Gara melirik ke arah Gala tak enak hati, dibalas senyum tipis oleh cowok itu, seolah kode jika ia tidak apa-apa.
Gara menepuk pelan punggung Rea. "Aku gak mau bikin kamu khawatir, bikin kamu nangis. Sudah terlalu banyak air mata yang kamu keluarkan karena laki-laki, gak boleh lagi."
Rea memukul pelan pundak Gara. "Kamu jahat, tau gak?"
"Iya, aku minta maaf."
Gara melepas pelukan gadis itu, mengusap air matanya dan menyelipkan anak rambut yang menempel di pipi Rea.
Gara menangkup pipi Rea. "Jangan nangis lagi, oke? Kalau nanti aku pergi, kamu harus bahagia sama Gala. Kamu harus bisa senyum, dan tertawa lepas. Gak ada lagi yang boleh nyakitin kamu."
Rea masih terisak pelan, menggelengkan kepalanya dan memegang tangan Gara yang ada di pipinya.
"Jangan pergi. Nanti kalau Ayah bikin aku nangis, gimana?"
Gara tersenyum tipis. "Ada Gala, dia yang akan jagain kamu. Aku percaya, dia gak akan nyakitin kamu. Kalau itu terjadi, kamu datang ke makam aku, bayangin kalau pusara itu adalah pundak ini."
Gara menepuk pundaknya beberapa kali, pundak yang dulu selalu menjadi sandaran Rea ketika menangis.
Rea kembali meneteskan air mata, lalu merebahkan kepalanya di pundak Gara yang ditepuknya tadi.
"Jangan pergi."
Gara kembali melepas pelukan Rea. "Aku gak pergi, aku akan tetap ada di sini," tunjuk Gala di dada kiri Rea. "Aku akan selalu ada di hati kamu, sekecil apapun. Meski nanti seluruh isi hati ini hanya tentang Gala, aku akan berusaha untuk terus terselip di antaranya."
Gara beralih menatap Gala yang sejak tadi diam memperhatikan interaksi mereka.
"Gue gak minta banyak sama lo, Gal. Cukup jagain dia buat gue."
"Kenapa harus buat lo?" tanya Gala tanpa ekspresi apapun.
Gala menghela nafas, lalu menepuk pundak Gara. "Dia milik gue, tanpa lo minta pun gue akan jagain dia."
Gara mengangguk yakin. "Gue percaya sama lo."
"Gue juga percaya kalau lo kuat. Lo akan sembuh, dan bantu gue jagain cewek keras kepala ini," kata Gala seraya menepuk puncak kepala Rea.
Gara tersenyum sendu. "Gue gak tau, Gal. Semua tergantung takdir Allah. Kata dokter, umur gue gak lama lagi."
Gala terkekeh pelan, seraya menggelengkan kepalanya. "Dokter itu manusia biasa bisa salah. Gak ada yang tau kapan kematian akan datang kecuali Yang Diatas."
"Iya sih, memang. Tapi ...."
Gala dan Rea menatap Gara dengan lekat saat ucapan cowok itu tiba-tiba terhenti.
Wajah yang semula sedikit pucat, kini sudah semakin pucat. Tangan Gara bahkan sudah memegangi dadanya, dengan nafas yang tercekat.
"Gara!"
Gala segera memanggil Dokter untuk mencari pertolongan, sedangkan Rea menangis sambil memeluk Gara yang kini sudah kembali berbaring.
Rea menangkup wajah Gara, dengan air mata yang deras mengalir, bahkan hingga menetes ke pipi Gara yang ada di bawahnya.
"Gara, kamu kuat, ya?" lirihnya kemudian.
Gara memejamkan mata, berusaha menetralkan rasa sesak di dadanya. Ia kemudian kembali membuka mata, untuk menatap Rea dengan sayu.
Gara memegang pipi Rea dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain masih memegangi dadanya.
"Kamu harus bahagia di sini, biar aku ikut bahagia. Jangan pernah sedih lagi. Aku gak suka lihat air mata kamu. Aku sayang kamu."
Saat itu juga, Gara menarik nafas panjang, sebelum akhirnya menghembuskan nafas itu perlahan, bersamaan dengan tubuh yang melemas dan mata tertutup sempurna.
"GARA!"
Tak lama, Gala kembali bersama dokter dan beberapa perawat. Gala segera menghampiri Rea untuk menariknya dan membawa ke pelukannya, membiarkan Dokter memeriksa keadaan Gara.
"Gara, Kak ...."
Gala mengangguk pelan, seraya mengusap kepala Rea dengan tatapan mengarah lurus ke arah Gara yang kini sudah lelap tertidur.
"Gara ninggalin gue," kata Rea dengan isak tangis dalam dekapan Gala.
Gala tidak mampu mengatakan apapun. Yang ia lakukan hanya mengusap dan mencium puncak kepala Rea berulang kali.
Tak lama, Dokter menghampiri mereka dengan helaan nafas panjang.
"Pasien tidak dapat diselamatkan."
Tangis Rea kembali pecah, tubuhnya luruh ke lantai seperti tak lagi bertulang.
Gala ikut berjongkok dan kembali memeluk Rea, dengan tatapan tak lepas dari raga Gara yang kini mulai di tutup selimut hingga ke seluruh badan.
Gala menutup matanya sejenak, membuat air mata menetes membasahi pipi.
Ia kehilangan sahabatnya, sahabat baiknya, Elgara.
Sesak, dada Gala terasa sesak saat memori kebersamaannya terputar kembali di kepala.
Gala menarik dan membuang nafasnya perlahan, berusaha menghilangkan kesesakan di hatinya.
Ia memeluk tubuh Rea erat, memberikan kekuatan untuk dirinya dan untuk gadis itu.
Ia mencium puncak kepala Rea, menangis bersama dengan gadis itu.
Sahabat, seseorang yang sudah dianggapnya sebagai saudara. Meski bertahun mereka berpisah, tidak membuat rasa sayang Gala pada Gara berubah.
Dia tetap sahabat terbaiknya, saudara laki-lakinya.
"Selamat jalan, Elgara. Kelak, kita akan ketemu lagi di surga, Insya Allah."
.
.
.
To be continue ....