NovelToon NovelToon
Suami Instanku Ternyata CEO Yang Ku Benci

Suami Instanku Ternyata CEO Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: fikafiky

Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.

Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.

Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Ke Bogor

Sinar matahari pagi yang hangat menembus kaca depan sedan hitam yang melaju membelah Tol Jagorawi menuju arah Selatan. Dedaunan hijau di sepanjang jalur jalan tol melambai ditiup angin segar, memberikan pemandangan yang amat kontras dengan riuhnya hawa perkotaan Jakarta. Namun, di dalam kabin mobil, fokus dan ketegangan masih terasa begitu pekat.

Naya duduk di kursi samping pengemudi dengan satu tangan menopang dagu, menatap pepohonan yang berlari cepat di luar jendela. Di tangannya, selembar kunci kuningan tua berukir gajah kecil terasa begitu dingin.

Kunci itu adalah satu-satunya peninggalan yang selalu ditaruh Ibunya di dalam lipatan kain batik tua, kunci menuju gudang belakang rumah lama mereka di daerah Kedung Halang, Bogor.

Raka yang fokus mengendalikan lingkar kemudi sesekali melirik wanita di sampingnya. Pria itu telah menanggalkan pakaian dinas kepresidenannya yang kaku.

Pagi ini, Raka hanya mengenakan kaus polos berwarna hitam yang dilapisi jaket kulit cokelat tua dan celana jins gelap. Penampilan santai yang sangat jarang dilihat siapa pun itu membuat sosok CEO kejam Mahendra Group tersebut tampak jauh lebih muda dan manusiawi.

"Jalanan agak padat di dekat gerbang keluar tol," ujar Raka memecah keheningan dengan suara rendahnya yang khas. "Pintu gudang rumah lamamu itu ... apakah masih aman? Rumah itu sudah berapa tahun kosong?"

Naya mengalihkan pandangannya dari jendela, menatap Raka. "Hampir enam tahun tidak ditinggali sejak kami pindah ke kontrakan kecil di Jakarta demi menghemat biaya pengobatan Ayah. Dulu Ibu sempat menyewakannya pada orang lain, tapi tiga tahun terakhir dibiarkan kosong karena atap bagian depannya mulai bocor. Tapi gudang belakang dibuat dari struktur beton tebal, tempat Ayah menyimpan alat-alat perbengkelan dan arsip pribadinya."

"Baguslah," gumam Raka pelan. Tangannya di kemudi mengetuk-ngetuk pelan. "Artinya kemungkinan barang-barang di dalam sana tersentuh orang lain sangat kecil."

Naya menghela napas panjang, jarinya memilin-milin kunci kuningan di pangkuannya. "Raka ... kalau nanti kita benar-benar menemukan buku catatan harian dan flashdisk itu ... apa yang akan kamu lakukan?"

Raka terdiam sejenak. Mata elangnya berkilat tajam dibalik kacamata hitam yang ia kenakan. "Aku akan menyerahkan seluruh bukti itu ke tim penyidik independen dan kejaksaan agung. Aku tidak hanya ingin nama baik keluargaku dipulihkan dari kerugian belasan tahun lalu, tapi aku ingin membersihkan nama ayahmu di depan publik. Ayahmu berhak mendapatkan kembali kehormatannya sebagai korban, bukan penjahat."

Kalimat tulus yang keluar dari mulut Raka meresapkan rasa hangat yang membuncah di dalam dada Naya. Ia menatap Raka dengan binar mata yang amat dalam.

Siapa yang menyangka, pria yang beberapa hari lalu sangat ia benci dan ia anggap sebagai penindas arogan, kini menjadi satu-satunya pelindung yang bertarung di sisinya demi menegakkan kebenaran untuk ayahnya.

"Terima kasih..." bisik Naya lembut.

Raka tidak menjawab dengan kata-kata, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Tangan kirinya bergerak dari tuas transmisi, mengusap puncak kepala Naya dengan sangat pelan, sebuah gestur perhatian yang begitu alami hingga membuat pipi Naya seketika merona merah.

Satu jam kemudian, mobil mereka memasuki sebuah gang pemukiman tenang di kawasan Kedung Halang. Pepohonan rindang dan udara sejuk khas Kota Hujan menyambut kedatangan mereka.

Sedan hitam itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah bergaya era delapan puluhan dengan pagar besi yang sudah dipenuhi karat dan tanaman liar yang merambat.

Naya melangkah keluar dari mobil, menatap bangunan tua di hadapannya dengan rasa haru yang membuncah. Di rumah inilah ia menghabiskan masa kecilnya yang penuh tawa bersama Ayah, Ibu, dan Mbak Kania, sebelum badai kehancuran itu merenggut segalanya.

"Ayo," ajak Raka seraya berdiri tepat di belakang Naya, memberikan rasa aman yang tak terlukiskan.

Naya mendorong pintu pagar besi yang berderit nyaring. Mereka berjalan menelusuri halaman samping yang ditumbuhi rumput liar setinggi lutut, menuju ke arah bangunan kecil beratap cor beton di bagian paling belakang rumah utama.

Pintu kayu tebal gudang itu tampak dipasangi gembok tua yang sudah kecokelatan oleh karat. Naya menyusupkan kunci kuningan kecilnya ke lubang gembok, memutarnya dengan sedikit tekanan keras.

Klek!

Suara mekanisme besi tua yang terbuka berbunyi nyaring. Raka mendorong pintu kayu berat itu perlahan. Bau debu tebal, kertas tua, dan kelembapan khas ruangan yang tertutup bertahun-tahun langsung menyergap indra penciuman mereka.

Raka menyalakan lampu kilat di ponsel pintarnya, menerangi ruangan berukuran tiga kali empat meter yang dipenuhi oleh tumpukan kardus, rak-rak kayu lapuk, dan perabaian mesin tua.

"Di mana kotaknya, Naya?" tanya Raka seraya melangkah masuk dengan cermat, memperhatikan setiap sudut ruangan.

Naya menunjuk ke sebuah rak besi di sudut paling dalam ruangan, di bawah tumpukan kain terpal tebal yang tertutup debu hitam.

"Di sana. Dulu Ayah selalu menaruh kotak kayu jati berukir itu di balik terpal tempat menyimpan peralatan lasnya."

Naya dan Raka melangkah mendekat. Raka dengan sigap menarik terpal tebal berdebu itu, membuat tumpukan debu beterbangan di udara. Naya terbatuk-batuk kecil, sementara Raka menyapu bagian atas rak besi tersebut dengan senter ponselnya.

Namun... mata mereka seketika membelalak lebar.

Di atas rak besi itu, hanya ada bekas kotak persegi berbentuk garis bersih di tengah debu tebal, sebuah penanda tajam bahwa sebuah kotak baru saja dipindahkan atau diangkat dari sana belum lama ini!

"Kotaknya ... tidak ada?!" pekik Naya panik. Jarinya gemetar menyentuh area rak yang bersih dari debu itu. "Nggak mungkin! Terakhir kali Ibu mengecek rumah ini dua tahun lalu, kotaknya masih ada di sini!"

Wajah Raka seketika berubah menjadi sangat tegang dan dingin. Pria itu berlutut, mengarahkan cahaya senternya ke lantai semen gudang yang berdebu tebal.

Di atas permukaan lantai yang kotor itu, terjiplak dengan sangat jelas jejak-jejak sepatu boot berukuran besar dan segar, jejak kaki yang sama sekali bukan milik Naya ataupun Raka!

"Seseorang sudah datang lebih dulu sebelum kita," desis Raka dengan suara rendah yang amat berbahaya. "Jejak kaki ini masih baru. Paling lama baru dibuat beberapa jam yang lalu."

Naya menutup mulutnya dengan kedua tangan, rasa takut yang luar biasa merayap naik ke punggungnya. "A-apa? Artinya ... orang yang mengirim pesan ancaman semalam..."

"Dia melacak keberadaan rumah lamamu," potong Raka cepat. Pria itu berdiri, menyapu seluruh ruangan dengan tatapan waspada. "Dia tahu kita akan datang ke sini untuk mencari bukti itu."

Tiba-tiba, dari arah luar gudang, di dalam heningnya halaman belakang rumah tua itu, terdengar suara patahan ranting pohon yang diinjak oleh langkah kaki yang terburu-buru.

Krak!

Raka bergerak cepat bagaikan kilat. Pria itu menarik tubuh Naya ke belakang punggungnya, menyembunyikan wanita itu di sudut ruangan yang gelap di balik rak besi.

"Tetap di sini dan jangan keluar," bisik Raka dengan nada perintah yang tidak menerima bantahan. Matanya menyipit tajam menatap ke arah pintu gudang yang terbuka remang-remang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!