NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RDBMB 26

Langkah kaki Theodore terayun santai menyusuri trotoar di pinggiran pasar malam yang mulai sepi. Keramaian pedagang kaki lima dan deretan warung tenda perlahan memudar di belakangnya, digantikan oleh sunyinya sudut permukiman tua kota yang remang-remang. Di tangan kanannya, Theodore menggenggam erat sebuah kotak karton tebal berbungkus kantong plastik rapi. Aroma manis gurih dari adonan martabak cokelat keju yang baru saja diangkat dari loyang tembaga menguar hangat, menusuk hidung di tengah embun malam yang dingin. Yevone sangat menyukai martabak manis dari kedai tua di ujung pasar itu. Theodore sengaja berjalan kaki memutar beberapa ratus meter hanya demi memberikan sedikit kejutan manis untuk istrinya yang belakangan ini terus-menerus dirundung stres pekerjaan dan tekanan keluarga.

Untuk memotong jalan menuju jalan utama kompleks apartemen mereka, Theodore berbelok masuk ke dalam sebuah gang sempit yang diapit oleh dua bangunan ruko tua tak terpakai. Gang itu terkenal sangat sepi dan minim penerangan. Hanya ada satu dua lampu jalanan kuno yang memancarkan cahaya kuning temaram, menyisakan sebagian besar lorong dalam gulita yang pekat dan lembap. Suara tetesan air dari pipa besi berkarat di atap ruko berdenting pelan secara teratur, jatuh menghantam kubangan air cokelat di atas permukaan semen yang retak-retak. Bau busuk sampah basah dan dinding bata berlumut menyengat tipis di udara.

Srettt... srettt...

Suara gesekan rantai besi yang berat dan ujung pipa baja yang diseret kasar di atas aspal mendadak terdengar merayap dari dua arah sekaligus. Langkah kaki Theodore perlahan terhenti di tengah-tengah lorong sempit itu. Dari balik kegelapan sudut gang depan, tiga sosok pria bertubuh kekar melangkah keluar satu per satu, memblokir akses menuju jalan raya. Sementara itu, dari arah jalan masuk di belakang Theodore, empat pria berbadan tinggi besar lainnya bermunculan, menutup rapat-rapat jalur kembali. Tak hanya itu, di atas tembok pembatas ruko setinggi tiga meter di sisi kiri dan kanan, tiga pria lainnya melompat turun dengan ringan, mendarat mantap di atas aspal.

Total sepuluh orang pria bersenjata tajam telah mengepung Theodore secara presisi dari segala penjuru. Gang sempit yang diapit dinding beton tebal itu kini berubah menjadi sebuah gang buntu yang kedap dan tanpa celah melarikan diri.

"Mau ke mana lo, gembel?" cibir sebuah suara berat, parau, dan dingin dari arah depan.

Marko, pemimpin kelompok tentara bayaran Serigala Hitam yang ditakuti di dunia bawah tanah pesisir, melangkah keluar dari bayang-bayang tiang listrik yang miring. Tato kepala serigala beringas yang terukir dari leher hingga rahang bawahnya terlihat menyala samar diterpa pendar cahaya redup. Di tangan kanannya yang kekar dan dipenuhi bekas luka jahitan, Marko memutar-mutar sebilah pisau taktis bertangkai hitam dengan kecepatan yang sangat terlatih. Kilatan tajam mata pisau itu memantulkan cahaya lampu jalanan secara mematikan.

Di belakang Marko, sembilan anak buahnya menyeringai buas layaknya kawanan serigala yang baru saja menyudutkan seekor kelinci terluka. Tangan-tangan mereka menggenggam erat berbagai jenis senjata tajam dan tumpul—mulai dari pipa besi padat, balok kayu tebal berpaku, pisau pemotong daging, hingga rantai kapal yang berat.

Theodore berdiri mematung di tengah-tengah lorong. Ia tidak menoleh ke belakang untuk memeriksa empat preman yang berdiri berjejer menutupi jalan keluar. Matanya yang hitam tenang hanya menatap lurus ke arah Marko. Tidak ada raut kaget, tidak ada getaran ketakutan di lututnya, dan tidak ada kebingungan di wajahnya.

"Jalan ini buntu," Theodore bersuara tenang, nada bicaranya sangat datar dan santai seolah-olah ia sedang menyapa tetangga komplek. "Dan kamu beserta anak buahmu baru saja melakukan kesalahan paling fatal dalam hidup kalian dengan berdiri memblokir jalan ini."

Gelak tawa yang riuh dan kasar langsung meledak membahana dari sepuluh preman yang mengepung gang sempit itu. Suara tawa mereka yang beringas dan penuh cemoohan memantul bertubi-tubi di sepanjang dinding batu tua, memecah kesunyian malam.

"Hahaha! Dengerin tuh kata si gembel, Bang Marko! Dia bilang kita ngelakuin kesalahan!" seru seorang preman bertubuh pendek padat dengan dada bertato naga dari barisan belakang. Pria itu menepuk-nepuk batang pipa besi tebal ke telapak tangan kirinya dengan gaya mengintimidasi. "Aduh, takut banget gue! Ampun, Tuan Gembel!"

Marko terkekeh geli, menghembuskan asap rokok tembakau murahnya melayang ke udara malam yang dingin. Ia maju dua langkah mendekati posisi Theodore, menatap kemeja polos lusuh dan celana bahan kusam yang dikenakan pria di hadapannya dengan pandangan penuh rasa jijik dan heran.

"Gue heran banget sama Tuan Muda Zico," Marko menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenum miring. "Dia bela-belain nyewa kelompok Serigala Hitam dan ngeluarin uang lima ratus juta rupiah tunai malam ini cuma buat ngelumpuhin gembel tak berguna kayak lo. Padahal kalau lihat bentukan lo yang kayak begini, disuruh dua bocah SMP juga lo udah nangis-nangis minta ampun di selokan."

Marko menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan Theodore. Ujung pisau taktisnya diacungkan ke arah dada Theodore. "Tapi karena bayarannya gede, gue bakal kerja profesional sesuai pesanan klien. Zico minta gue patahin kedua tangan dan kedua kaki lo sampai remuk berantakan. Setelah itu, tubuh lo yang hampir mati bakal diseret dan dibuang ke dasar jurang di luar kota."

Theodore tidak membalas ancaman kejam itu. Ia sama sekali tidak memedulikan pisau tajam yang hanya berjarak beberapa jengkal dari dadanya. Sebaliknya, mata Theodore justru menyapu pandangan ke sisi kiri gang, mencari-cari sesuatu di sekitar dinding ruko tua yang kusam.

Matanya mendadak terkunci pada sebuah ambang jendela ruko tua yang terbuat dari semen keras. Tempat itu cukup tinggi dari permukaan tanah, kering, dan bersih dari sisa air hujan atau ceceran minyak.

Di hadapan sepuluh preman yang sedang menatapnya dengan tatapan membunuh, Theodore melangkah santai ke arah jendela tersebut. Ia mengangkat kedua tangannya dengan sangat hati-hati, lalu meletakkan kotak karton martabak manisnya di atas ambang jendela semen itu. Dengan penuh ketelitian, Theodore membetulkan simpul plastik pelindungnya agar aroma hangat cokelat keju itu tidak terpapar debu atau kotoran dinding. Bagi Theodore, keselamatan makanan kesukaan istrinya jauh lebih penting daripada bahaya sepuluh bilah senjata yang mengincarnya.

Marko dan sembilan anak buahnya seketika membelalakkan mata. Mulut mereka sedikit terbuka karena terkejut melihat tingkah aneh pria yang sedang mereka kepung. Rasa tegang dan intimidasi yang berusaha mereka bangun mendadak menguap, berganti dengan rasa heran dan kebingungan yang luar biasa.

"Woi! Lo dengar gue ngomong nggak, bangsat?!" bentak Marko dengan raut wajah memerah padam gara-gara merasa diabaikan secara terang-terangan. Urat-urat di leher tato serigalanya menonjol tegang. "Lo lagi dikepung sepuluh orang pembunuh bayaran bersenjata lengkap! Lo masih sempat-sempatnya ngurusin bungkus makanan murahan itu?!"

"Ini martabak manis kesukaan istriku," Theodore menjawab pelan tanpa menoleh, jari-jarinya masih merapikan ikatan plastik di atas jendela. "Kalau dingin, rasanya bakal mengeras dan nggak enak dimakan. Sayang kalau sampai kotor kena debu."

Setelah memastikan kotak martabak itu aman di tempatnya, Theodore membalikkan badan secara perlahan. Ia menepuk-nepuk kedua telapak tangannya untuk membersihkan sisa debu tipis, lalu berdiri tegap penuh menyilangkan pandangan ke arah Marko dan kawanan Serigala Hitam.

"Sialan! Bener-bener orang gila!" maki salah satu preman berambut gondrong di sebelah kanan Marko. Pria itu menggemeretakkan giginya emosi, menggenggam erat balok kayu berpaku di tangannya. "Bang Marko, nggak usah banyak omong lagi sama orang gila ini! Langsung kita bantai dan patahin semua badannya sekarang!"

"Tahan!" Marko mengangkat tangan kanannya, menahan gerakan anak buahnya yang mulai hilang kesabaran.

Marko menatap mata Theodore lekat-lekat. Ada sesuatu yang sangat ganjil dari pria ini. Logikanya mengatakan bahwa seorang manusia biasa yang dikepung sepuluh preman sadis di gang buntu pasti akan gemetar, menangis, atau setidaknya memohon ampun. Namun mata Theodore sangat jernih dan dalam—begitu dalam hingga Marko merasa seolah sedang menatap jurang tak berdasar yang dingin dan hampa.

"Gue kasih lo satu kesempatan terakhir, gembel," Marko berucap dengan suara rendah yang menekan, mencoba merebut kembali kendali ketakutan di gang itu. "Berlutut di atas lumpur ini sekarang juga. Cium ujung sepatu gue, terus minta ampun sambil nangis. Kalau lo mau kooperatif dan penurut, gue cuma bakal patahin satu kaki lo. Tapi kalau lo coba-coba ngelawan..."

Marko memutar pisaunya dengan cepat, mengarahkan ujung runcingnya tepat ke arah mata kiri Theodore. "...gue bakal pastikan lo merangkak dan ngeregang nyawa secara perlahan-lahan di dalam lorong busuk ini sebelum subuh."

Atmosfer di dalam gang buntu itu mendadak berubah secara drastis. Tekanan udara di sekitar mereka terasa merosot tajam. Angin malam yang bertiup lembut di luar gang tiba-tiba terhenti total. Udara terasa sangat tebal, dingin, dan pengap, seolah-olah oksigen di dalam lorong sempit itu baru saja disedot keluar secara perlahan.

Beberapa anak buah Marko tanpa sadar menggeser kuda-kuda kaki mereka. Jantung mereka mulai berdetak lebih kencang dari biasanya, dan bulu kuduk di belakang leher mereka meremang hebat tanpa alasan yang jelas.

Theodore berdiri diam di tempatnya. Kedua tangannya dimasukkan dengan santai ke dalam saku celana bahannya yang kusam. Wajahnya yang setengah tertutup bayangan lampu jalanan tidak memancarkan emosi apa pun—tidak ada ketakutan, tidak ada kepanikan, dan tidak ada kebingungan.

"Kalian dibayar lima ratus juta rupiah oleh Zico untuk datang mencegatku di sini," Theodore akhirnya bersuara. Suaranya tidak keras, bahkan cenderung pelan dan tenang. Namun entah kenapa, gema vokal dari kata-katanya terdengar sangat jelas dan bergema asing di dalam gendang telinga sepuluh preman tersebut.

Marko menyipitkan matanya, mengernyitkan dahi menahan debar aneh di dadanya. "Maksud lo apa, hah?!"

"Zico lupa memberi tahu kalian satu hal yang sangat penting," Theodore melangkah satu titik ke depan, melintasi batas pendar cahaya redup menuju bayangan paling gelap di tengah gang.

"Gaji lima ratus juta itu..." Theodore menatap Marko dengan mata hitamnya yang berkilat dingin, "...sebenarnya adalah uang duka yang dikirim Zico untuk biaya pemakaman keluarga kalian masing-masing."

"Kurang ajar! Bener-bener nyari mati lo!" raung Marko yang merasa harga dirinya diinjak-injak hingga batas maksimal. Kebingungannya berubah menjadi amarah yang meledak-ledak. "Serbuuu! Patahin semua badannya!"

"Hajar!!!"

Sepuluh preman elit dari kelompok Serigala Hitam itu bergerak serempak menerjang maju. Pipa besi diayunkan membelah udara dengan suara angin yang menderu, balok kayu berpaku diarahkan perlahan mengincar kepala, dan pisau taktis Marko meluncur tajam menyasar leher Theodore dari jarak dekat. Gang buntu yang sempit itu seketika berubah menjadi arena pembantaian yang terkunci rapat dari segala arah, tanpa menyisakan satu pun sudut untuk meloloskan diri.

1
Florist
sebenernya penulisanya bagus banget, kata2 mudah dipahami, kosa kata bagus, tanda baca juga bagus. tapi jujur alur cerita terlalu lambat, ada banyak hal yg sering di ulang, dewa perang, aura dingin, penguasa, trilyunan, intinya semua itu hanya untuk menekankan sosok MC yg over power. padahal cukup di selipkan sedikit kata penekanan saja, karna dr awal juga sudah dijelaskan kalau MC ini memang penguasa yg menyamar, dan kami belum lupa tentang siapa MC ini walau sudah 30 bab, kami masih sangat ingan MC ini orang hebat. jadi gak perlu dijelaskan lagi tiap bab.
Purnama
lucu
Glastor Roy
update
Fery Oktavian: update tiap hari 5 bab
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!