"Briar" adalah seorang wanita muda berusia 20-an yang tengah berjuang menata kembali hidupnya. Terluka oleh trauma masa kecil dan kehilangan berbagai hal berharga, ia harus bertahan di dunia seorang diri.
Kesederhanaan, kepolosan, dan paras cantiknya tanpa sengaja mempertemukannya dengan Adrian, tetangga baru yang juga seorang CEO muda penuh kesempurnaan.
Tanpa ragu, Adrian masuk ke dalam hidup Briar, dan dalam waktu singkat, hubungan mereka berlabuh dalam ikatan pernikahan. Untuk pertama kalinya, Briar merasakan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Namun, di balik hangatnya sikap sang suami, pertanyaan-pertanyaan kelam mulai menghantui:
Mengapa pria sesempurna Adrian begitu terburu-buru menikahinya?
Rahasia gelap apa yang disimpan Adrian rapat-rapat?
Ketika takdir mulai mempermainkan segalanya, sanggupkah cinta mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ar's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema
Aku tak bisa menghentikan tangisanku, setelah membaca semua jurnal yang ada. Membuatku tak tahan untuk membaca semua isi jurnalnya, ada sekitar hampir 20 halaman yang isinya adalah apa yang terjadi di saat itu dan bagaimana mas Adrian menghabiskan waktu itu bersamaku.
Namun juga, di jurnal itu mas Adrian mengatakan bahwa ia ingin sekali bertanggung jawab dan ingin memilikiku untuk selama-lamanya ketika aku dewasa. Dan beberapa catatan tertulis mengenai bahwa ia akan tetap sendirian sampai ia menemukanku lagi di masa depan.
Haruskah aku merasa senang dengan semua itu..?
Kenyataan pahit yang harusku terima saat ini adalah bahwa ternyata.. "Pria yang begitu aku cintai sekaligus menjadi suamiku saat ini adalah pria yang pernah melecehkanku dulu..".
Aku pun menangis sesenggukan seraya menutup wajahku dengan bantal agar suara tangisku tidak terdengar sampai keluar.
Bagaimana mungkin ini terjadi kembali padaku..?
Setelah selama ini aku fikir tuhan mengirim sosok mas Adrian untuk menyembuhkan luka-lukaku dan menjadi penyelamatku. Tapi kenyatanya ia adalah seseorang yang sejak dulu selalu aku sumpahi di setiap kali aku mengenang masalaluku.
Padahal aku sudah bahagia..
Tetapi kenapa tuhan harus dia..?
Apakah ini penyebab mas Adrian memutuskan untuk menikahiku dengan begitu cepat?
Rasanya seolah-olah Tuhan sudah mempermainkanku lewat takdir..
Membuatku kehilangan satu-satunya harapan untuk hidup bahagia. Sekarang rasanya mimpi-mimpiku untuk hidup bahagia dengan suamiku mulai sirna. Aku tidak mungkin bisa hidup bersama orang yang pernah menghancurkanku.
Tuhan..
Apa yang harus aku lakukan..?
sudah terlalu banyak air mata dsn tenaga yang telah aku keluarkan.. Aku harap, semua ini hanya mimpi buruk yang kebetulan datang..
Besok, semuanya akan baik-baik saja.. dan aku akan terbangun disisi mas Adrian seperti biasanya..
-
Tok tok tok..?
"Briar..?? kamu sudah bangun? ayo sarapan?". Dwi membangunkanku untuk sarapan bersama.
"Iya sebentar lagi aku keluar.."? Jawabku pada Dwi yang masih di depan pintu.
Dwi menatap wajahku yang terlihat murung. Mungkin karena aku habis menangis semalaman. Jadi wajahku dan mataku terlihat membengkak.
"Kamu nggak apa-apa?". Tanya Dwi mengkhawatirkanku yang terlihat lemah seperti seseoarang yang tidak bersemangat untuk hidup.
"Aku baik-baik saja mbak..". Jawabku lagi, menanggung semuanya sendiri.
Aku memakan sarapanku dan Dwi sedang pergi mengantarkan suami dan anak-anaknya keluar rumah untuk berangkat ke sekolah dan pergi bekerja. Mengingatkanku pada mas Adrian yang saat ini pasti sedang bersiap untuk berangkat bekerja tanpa aku yang biasanya merawatnya.
Dwi masuk kerumah, dan kembali menemuiku di meja makan.
"Briar..? kamu mau cerita? sebenarnya ada apa..? Mbak mau bertanya sejak kemarin tapi kamu terlihat seperti tidak mau membicarakannya. Adakah yang bisa mbak bantu untuk mengurangi kesedihanmu? Atau kamu mau jalan-jalan dulu hari ini sama mbak? Lagi pula mbak tidak kemana-mana hari ini, hanya menjemput anak-anak nanti siang..". Ucap Dwi sambil merangkulku.
"Aku.. hanya lelah mbak.. itu saja.. dan tentang kemarin, sebaiknya mbak lupakan saja. Anggap bahwa kita tidak pernah menemui wanita itu..". Jawabku pada Dwi karena aku tidak mau ada lebih banyak orang yang mengetahui kejadian masa laluku.
Aku hanya khawatir Dwi akan bercerita pada Kelurgaku mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Aku akan mencoba untuk mencari jalan keluarku sendiri tanpa harus melibatkan siapapun atas sebuah kebodohanku, untuk menikahi pria yang dulu pernah melecehkanku.
Aku membuka handphoneku dan mendapat 1 pesan dari mas Adrian yang dikirimnya saat tengah malam, yang isinya..:
"Apapun masalahnya, mas yakin kamu bisa melalui semuanya.. dan mas disini akan selalu menunggu kamu untuk pulang.. Jika mas ada kesalahan, mari kita selesaikan.. Dan maafin mas, jika sebagai suami, mas tidak cukup baik untuk kamu.. Mas sangat merindukan kamu sayang.. Mas mohon pulanglah..".
Aku pun menjadi semakin dilema..
Haruskah aku pulang? Atau pergi saat ini juga meninggalkan mas Adrian untuk selamanya.
Atau.. tetap berpura-pura tidak tau sambil mencari tau siapakah Tiara itu dan memikirkan langkah-langkah apa yang selanjutnya harus aku lakukan.
Namun.. Apakah aku sanggup untuk tetap tinggal dalam satu rumah dengan pria yang sangat aku benci sekaligus sangat aku cintai itu..?
OH TUHAN.. Bantulah aku..