NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Bayangan

Di Antara Dua Bayangan

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Bad Boy / Tamat
Popularitas:387
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Perubahan Perilaku Vino

Sejak penolakan dan ketakutan Aira di dapur sore itu, ada sesuatu yang bergeser secara permanen di dalam diri Vino Pradipta.

Gengsi yang selama ini membelenggunya perlahan-lahan runtuh, berganti dengan penyesalan yang mendalam. Vino menyadari bahwa bentakan dan perlakuan kasarnya di masa lalu telah menciptakan luka traumatik di hati Aira. Jika ia ingin memperbaiki semuanya dan melindungi Aira dari niat terselubung Darel, ia harus mengubah tindakannya secara nyata—bukan sekadar kata-kata.

Pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit sempurna, suasana dapur kediaman Pradipta sudah disibukkan oleh presensi tidak biasa.

Bibi, yang baru saja masuk ke dapur untuk menyiapkan sarapan, dibuat melongo kaget. Di depan kompor, berdiri Vino yang masih mengenakan celana abu-abu sekolah dan kaus oblong. Cowok itu tampak kikuk memegang spatula, sibuk menata nasi goreng dan telur mata sapi ke dalam dua kotak makan plastik berwarna biru dan merah pastel.

"Aduh, Mas Vino!" pekik Bibi pelan seraya mendekat panik. "Kenapa Mas Vino yang masak? Kan ada Bibi... Biar Bibi aja yang lanjutin!"

Vino tersentak, dengan cepat berdeham dan memasang raut wajah sedatar mungkin untuk menutupi rasa canggungnya. "Enggak usah, Bi. Bibi bikin teh hangat aja."

"Tapi Mas... buat siapa bekal sebanyak ini?" tanya Bibi penasaran, menatap kotak makan merah pastel yang ditata sangat rapi dengan potongan mentimun dan tomat.

Vino mengalihkan pandangannya ke samping, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Itu... buat Aira. Dia kan baru sembuh, gak usah suruh masak pagi-pagi lagi. Bikin repot kalau sakitnya kumat."

Bibi tertegun sejenak, lalu perlahan senyum hangat terukir di wajah paruh bayanya. Bibi tahu betul, di balik kalimat canggung khas anak muda itu, ada niat tulus Vino yang mulai muncul ke permukaan.

Beberapa saat kemudian, Aira berjalan pelan memasuki area dapur dengan langkah ragu. Wajahnya masih memancarkan kecemasan tiap kali harus berhadapan dengan Vino.

Saat Aira meraih sapu dan tempat sampah di sudut dapur untuk mulai membersihkan lantai seperti rutinitas biasanya, suara Vino mendadak menghentikan gerakannya.

"Taruh sapunya, Aira."

Aira mematung seketika. Tubuhnya menegang ketakutan, mengira Vino akan membentaknya lagi. "Vi—Vino... aku cuma mau nyapu sebentar sebelum berangkat—"

"Gue bilang taruh," potong Vino. Kali ini nadanya sama sekali tidak bernada tinggi atau membentak, melainkan terdengar tegas namun sarat akan kekhawatiran yang tertahan.

Vino melangkah mendekat, lalu dengan perlahan menyambar gagang sapu dari tangan Aira dan menyandarkannya ke dinding.

"Mulai hari ini, lu gak usah ngerjain tugas rumah yang berat-berat," ucap Vino seraya menatap lurus mata Aira. "Ngepel, nyuci baju, angkat barang berat... biar Bi Inah sama tukang kebun yang urus. Lu fokus sekolah aja."

Aira mendongak, menatap Vino dengan pandangan tak percaya. "Tapi Vin... aku kan di sini jaminan utang... aku harus kerja bantu-bantu Bibi—"

"Lu bukan babu di rumah ini, Aira!" tegas Vino, napasnya memburu pelan. Namun menyadari reaksi Aira yang sempat terkejut, Vino buru-buru menurunkan intonasi suaranya. "Maksud gue... utang keluarga lu itu urusan orang tua gue dan ortu lu. Bukan alasan buat lu diperlakukan semena-mena di sini."

Vino lalu menyambar kotak makan berwarna merah pastel dari meja dapur dan menyodorkannya tepat di depan dada Aira.

"Nih. Bawa buat bekal lu di sekolah," kata Vino canggung, memalingkan mukanya ke arah lain agar Aira tidak melihat rona merah tipis di pipinya. "Jangan jajan sembarangan. Makanan kantin belum tentu bersih."

Aira menerima kotak makan hangat itu dengan tangan gemetar. Kehangatan yang menjalar dari kotak makan plastik itu terasa asing sekaligus meremas dadanya dengan rasa haru yang hebat.

Kenapa Vino berubah sejauh ini? batin Aira membeku. Apa ini beneran cuma pura-pura kayak yang dikata Kak Darel... atau Vino beneran peduli?

Keraguan besar mulai bergulat hebat di dalam pikiran Aira, menggoyahkan keyakinannya atas janji manis dan tawaran kabur dari Darel.

Dari balik pilar koridor tangga lantai dua, Darel berdiri membisu menyaksikan seluruh interaksi di dapur tersebut.

Kedua tangannya terkepal amat erat di dalam saku celananya. Senyuman ramah yang biasa terpasang di wajah Darel sirna sepenuhnya, berganti dengan pandangan mata yang pekat, dingin, dan sarat akan ancaman pembunuhan yang amat pekat saat menatap punggung Vino.

Darel menyadari bahwa pergerakannya harus dipercepat sebelum Vino berhasil merebut kembali kepercayaan Aira sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!