Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.
Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.
Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04. Makan Malam
Bellona menancapkan sedotan plastik ke kotak susu itu. Bunyi pluk kecil menyela sunyinya malam. Ia menyesapnya pelan. Rasa manis pekat khas cokelat langsung menyapa lidahnya, memberi sedikit rasa hangat yang menjalar turun ke perutnya yang kosong sejak pagi.
Di sampingnya, Devan baru saja menyelesaikan suapan terakhir. Pria itu melipat kertas minyak pembungkus nasi gorengnya dengan rapi, membentuk segitiga kecil, lalu memasukkannya kembali ke kantong plastik.
Ia menyandar penuh ke punggung kursi, meluruskan kedua kakinya yang panjang ke depan sambil mendongak menatap langit malam yang bersih dari bintang.
“Enak, kan?” celetuk Devan tanpa menoleh.
Bellona menurunkan kotak susunya. “Biasa aja. Susu toko kelontong.”
Devan terkekeh rendah. “Yee... dibilangin, gula itu penyelamat jiwa. Lo kalau lagi kalut, yang dibikin kenyang itu perut dulu, baru pikiran. Otak kagak bakal bisa mikir bener kalau cacing di perut lo lagi ngamuk.”
Bellona diam. Matanya kembali menatap lurus ke depan, memperhatikan dedaunan yang bergoyang pelan diterpa angin. Kata-kata Devan terdengar sangat asal, tapi entah mengapa ada kebenaran absurd di dalamnya.
“Kenapa Mas pura-pura nggak lihat pas saya nangis tadi?” tanya Bellona pelan. Keformalannya yang kaku sengaja ia pertahankan untuk memberi batas.
Devan memiringkan kepalanya, menatap Bellona dari samping. “Lah, emang lo mau gue tontonin? Gue sorakin gitu? ‘Ayo mba, nangisnya yang kenceng, dikit lagi rekor!’ gitu?”
Bellona menoleh, menatap Devan dengan tatapan datar yang menusuk. “Nggak lucu.”
“Emang kagak lagi ngelucu,” Devan menyeringai tipis, merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebutir permen karet lagi. “Orang nangis tuh butuh ruang, bukan butuh penonton. Tapi kalau ditinggal sendirian di tempat gelap kaya gini, ntar lo malah ngeliat yang kagak-kagak. Kan repot kalau lo kesurupan, masa gue yang mesti melukis tanda silang di jidat lo.”
Bellona mendecak pelan, tapi sudut bibirnya lagi-lagi menolak untuk cemberut sepenuhnya. Pria ini punya cara aneh untuk membuat orang tidak bisa terus-terusan merasa sedih.
Ponsel di dalam tas Bellona kembali bergetar panjang.
Drtttttt....
Bellona bahkan tidak perlu merogoh tasnya untuk tahu siapa yang menelepon. Pasti Sarah. Ibunya pasti sedang murka karena Bellona tidak kunjung datang ke acara makan malam dengan calon suami barunya.
Bellona membiarkan getaran itu berhenti sendiri, lalu menyandarkan kepalanya ke belakang—meniru posisi duduk Devan.
“Rumah kamu jauh dari sini?” tanya Devan tiba-tiba. Kali ini nadanya santai, tidak ada ejekan di dalamnya.
“Lumayan,” sahut Bellona singkat. “Tapi lagi malas pulang.”
“Kenapa? Ada hantunya?”
“Lebih menyebalkan dari hantu.”
Devan manggut-manggut. “Paham. Orang hidup emang kadang lebih nakutin daripada yang udah mati.”
Kata-kata Devan membuat Bellona tertegun. Ia menoleh perlahan ke arah Devan. Pria di sebelahnya ini tampak sangat santai, mengetuk-ngetukkan jarinya di atas paha mengikuti irama musik yang hanya ada di dalam kepalanya sendiri.
Ada kesan berantakan, urakan, dan tidak peduli pada dunia dari penampilan Devan.
“Mas Devan tinggal sama siapa?” tanya Bellona, akhirnya memberanikan diri membuka suara lebih dulu.
Devan menaikkan sebelah alisnya, agak terkejut mendengar Bellona menyebut namanya. Ia tersenyum tipis, lalu menepuk dadanya sendiri.
“Sama Devan,” jawabnya singkat.
Bellona menunggu sambungan kalimat itu, tapi Devan hanya diam, tetap tersenyum santai.
“Cuma sendiri?” tanya Bellona memastikan.
“Yo'i. Rumah gede isi tumpukan baju kotor sama hobi yang kagak menghasilkan duit banyak,” Devan tertawa pelan, tawanya terdengar ringan tapi tak sampai ke matanya. “Bebas. Kagak ada yang ngomelin kalau gue lupa mematikan lampu teras berbulan-bulan.”
Bellona menunduk, memilin ujung gaunnya. “Enak, ya? Kagak ada yang ngatur.”
“Awalnya enak,” sahut Devan cepat. Ia menegakkan posisi duduknya, meremas kantong plastik bekas makanannya. “Lama-lama ya... sepi aja. Kaya main gim tapi kagak ada musuhnya. Menang terus, tapi kagak ada serunya.”
Ia lalu bangkit berdiri, mengibaskan bagian belakang celana jeansnya yang agak kotor oleh debu bangku taman. Pria itu berdiri menjulang di hadapan Bellona, menutupi sebagian cahaya lampu taman di belakangnya.
“Udah malam, Bocah. Susu lo udah habis, kan?” Devan menunjuk kotak susu di tangan Bellona yang sudah mengecil karena dipres.
Bellona mengangguk pelan.
“Ya udah, pulang sana. Kalau emang rumah lo lagi kaya neraka, minimal masuk kamar, pasang earphone, stel musik paling kenceng. Bikin neraka lo punya musik sendiri,” Devan melangkah pergi, membawa kantong sampahnya.
Baru melangkah tiga langkah, Devan menghentikan kakinya. Tanpa berbalik, ia melambaikan satu tangannya ke udara.
“Gue kagak mendoakan lo bahagia malam ini. Tapi minimal, tidur lo kagak kemasukan mimpi buruk lagi.”
Bellona memandangi punggung lebar berbalut kaos hitam itu yang berjalan semakin jauh, menghilang di balik belokan taman kota menuju parkiran motor.
Di tempatnya duduk, Bellona menggenggam kotak susu kosong itu sedikit lebih erat. Udara malam masih terasa dingin, tetapi untuk pertama kalinya sejak kematian Oma, rasa sesak di dadanya terasa sedikit lebih ringan.
***
Lampu gantung kristal di atas meja makan restoran fine dining itu memantulkan cahaya keemasan yang mewah. Di atas meja, sajian steak kelas atas dan deretan gelas anggur tertata rapi, tetapi suasana di sudut meja itu terasa begitu dingin.
Sarah meletakkan ponselnya di atas tapak meja kain putih dengan dentang pelan yang ditahan. Layar ponselnya baru saja meredup, menampilkan panggilan kesekian kalinya ke nomor Bellona yang kembali dialihkan ke kotak suara.
"Belum diangkat juga?"
Suara berat di depannya membuat Sarah buru-buru memamerkan senyum terbaiknya. Rizal, pria berkepala empat dengan setelan jas rapi dan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya, menatap Sarah sembari mengusap dagu. Di samping Rizal, seorang remaja laki-laki berseragam sekolah swasta tampak sibuk memainkan ponselnya tanpa memedulikan sekitar.
"Biasa, Mas. Anak muda jam segini paling masih di jalan," dalih Sarah cepat, mencoba menutupi kekesalannya. Tangannya yang dipenuhi perhiasan merapikan tatanan rambut pirangnya yang bergelombang. "Belle itu anaknya agak pemalu. Mungkin dia agak canggung karena ini makan malam pertama kita sebagai keluarga."
Rizal terkekeh pelan, lalu menyesap anggur merah dari gelasnya. "Nggak apa-apa, Rah. Saya mengerti. Tapi dipastikan dia hadir di hari H nanti, ya? Teman-teman kolega bisnis saya banyak yang datang. Saya nggak mau ada rumor aneh-aneh kalau anak tiri saya sendiri malah nggak mau kelihatan."
"Pasti, Mas! Tenang aja, aku yang urus Belle," sahut Sarah mantap, meski di dalam hatinya rasa jengkel mulai membakar.
Ia menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Rasa bersalah? Sama sekali tidak ada di dalam kepala Sarah. Bagi wanita itu, apa yang ia lakukan saat ini adalah keputusan paling rasional. Ibunya—Oma Bellona—memang baru saja dimakamkan seminggu yang lalu. Namun, untuk apa berlarut-larut dalam tangisan? Air mata tidak akan membayar tagihan rumah, dan duka tidak akan menjamin masa depannya.
Menikah dengan Rizal adalah tiket emasnya untuk tetap mempertahankan gaya hidup mewah yang selama ini ia nikmati.
"Kamu mau pesan penutup mulut lagi?" tanya Rizal ramah.
"Ah, nggak usah, Mas. Aku udah kenyang banget," jawab Sarah manis.
Namun, begitu Rizal beralih bicara dengan putranya, raut wajah manis di wajah Sarah seketika lenyap. Ia mengambil ponselnya kembali, jemarinya mengetik pesan dengan cepat dan penuh tekanan di atas layar kaca.
Bellona! Kamu di mana?! Mama udah melarang kamu bikin malu Mama di depan Om Rizal! Kalau sampai kamu nggak pulang malam ini, Mama kunci pintu depan!
Sarah mengembuskan napas kasar, menatap layar ponselnya yang kini tidak menunjukkan tanda-tanda balasan.
Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran putri tunggalnya itu. Mengapa Bellona harus serumit itu? Mengapa anak itu tidak bisa seperti dirinya yang selalu melihat ke depan? Lagipula, semua yang ia lakukan saat ini—termasuk pernikahan megah ini—juga demi masa depan Bellona sendiri.
'Anak itu benar-benar makin mirip sama mendiang ibuku,' batin Sarah sinis, mengingat betapa keras kepalanya sang ibu semasa hidup yang selalu mengkritik gaya hidupnya. 'Selalu merasa paling tersakiti.'
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi mewah restoran, memamerkan senyum palsunya kembali saat Rizal berpaling menatapnya. Di dalam hati, Sarah sudah membuat keputusan: jika Bellona tidak bisa diajak bekerja sama dengan cara halus, maka ia tidak akan segan menggunakan cara keras untuk memastikan pernikahan impiannya berjalan tanpa cela.